Bab 11. Pengalaman Bersentuhan

1604 Words
Masuk ke ranah 21+ yah. Setelah Adam menceritakan kejadian Ciara dan Brandon pada Brahm, ayah Adam mengijinkan putranya bekerja setengah hari di kantor dan setengah hari di rumah demi melindungi menantunya. Sedangkan Ciara enggan memberitahu Charles dan Vina mengenai kejadian tersebut juga memaksa Adam agar merahasiakannya. Adam menyetujui permintaan Ciara dengan syarat harus menuruti semua yang diperintahkannya demi keselamatan Ciara. “Sayang.” Adam memanggil Ciara saat masuk ke dalam kamar setelah makan malam di mansion keluarga Damian. “Hem?” Jawab Ciara dengan rona di wajahnya. Gadis itu masih saja terlihat malu-malu jika Adam bersikap manis pada dirinya padahal mereka sudah menikah. Tidak terasa sudah hampir satu setengah bulan liburan Adam di Jakarta, tidak sampai sebulan lagi Adam harus kembali ke Amerika. Ciara sedang libur semesteran setelah selesai dengan semua tes nya selama dua minggu kemarin. Keduanya kini tengah duduk bersandar di atas kasur sambil mengaitkan jemari mereka. “Kalau minggu depan aku ajak kamu liburan berduaan aja mau ngak?” “Kemana? Berduaan doang? Memangnya dikasih?” “Nanti aku minta ijin. Aku kepingin berduaan sama kamu jalan-jalan tanpa keluarga kita.” Adam mulai serakah dengan status hubungan mereka. Sebagai seorang laki-laki, dirinya menginginkan lebih dan lebih lagi dari penjajakan hubungan mesra yang sudah mereka lakukan hingga sekarang. Ciara sendiri sudah mulai menikmati hasrat liar Adam ketika nafsu mereka mulai terpantik. Dan hal itu membuat Adam menginginkan Ciara menjadi miliknya lebih dalam lagi. Namun Ciara juga tidak ingin mengecewakan kepercayaan yang sudah diberikan oleh kedua orang tua mereka. “Aku kok takut yah, Dam. Mendingan jangan deh. Nunggu sampai kita lulus kuliah, nanti juga punya banyak waktu berduaan.” Wajah Adam terlihat menahan kecewa dalam dengusan nafasnya karena Ciara tidak berpihak padanya. Ciara menyentuh lengan Adam sambil menyandarkan kepalanya pada bahu berotot Adam. Ada rasa bersalah mengalir dalam dirinya namun sebagai istri bukankah sudah kewajibannya memberi tahu jika suaminya mulai berpikir tidak jernih. “Aku cuma ingin hubungan kita itu dipercaya sama orang tua kita. Kalau kita sampai melanggar permintaan mereka, aku ngak sanggup lihat wajah kecewa mereka, Dam. Kita nikah muda saja harusnya belum boleh kan, karena masih ada tanggung jawab yang harus kita jalani contoh terdekatnya adalah kuliah kita. Kamu ngerti kan maksud aku?” Adam mendengus pelan lalu merangkul bahu Ciara dan mengecup keningnya. “Iyah, aku ngerti. Maaf yah kebawa suasana. Habisnya gadis cantik yang sudah jadi istri aku ini makin hari makin menggemaskan. Gimana aku ngak baperan.” Ucap Adam sambil mencubit lembut dagu Ciara. Ciara menoleh dan memberikan senyuman pada Adam kemudian mencubit balik dagu Adam sambil terkekeh. “Dam, nantinya kamu mau punya rumah tangga kayak gimana?” “Ngak tahu, pastinya istrinya kamu. Yang lain pasti aku nurut aja.” “Kalau aku suruh kamu bersikap romantis sama aku setiap hari, mau?” Pertanyaan Ciara justru membuat Adam balik bertanya mencari tahu penilaian Ciara mengenai dirinya karena bagi Adam hanya pendapat Ciara yang terpenting dalam hidupnya. “Memangnya aku ngak romantis yah?” Ciara meletakkan jari telunjuknya di dagu, bola matanya ke atas sedang berpikir. “Ehm, romantisnya kamu itu beda dari yang lain.” “Kenapa beda?” Perasaan Adam mulai melambung mendengar ucapan Ciara seperti sedang memujinya. “Kamu ngak pintar gombalin aku, tapi sikap kamu manis ke aku suasana romantisnya lebih berasa.” Betul kan Ciara nya Adam menggemaskan, dia yang memuji Adam tapi dirinya juga yang merona sedangkan Adam mengulum senyum geli. “Jadi maunya aku pintar gombalin kamu gitu?” “Ngak juga sih, lebih suka gaya kamu yang sekarang.” “Gaya yang gimana maksudnya? Nyoba satu gaya aja belom pernah.” Tanya usil Adam mulai menggoda Ciara nya dan lagi-lagi wajah gadis itu salah tingkah gelagapan. “Ish! Kok belok sih bahasnya. Aku ngak ngomongin yang ngak-ngak loh.” “Belok ke mana sih? Beneran kan, masuk aja belom pernah gimana bisa nyoba gaya lain.” “Adam!” “Apa, Sayang. Kamu tuh gemesin banget kalau kayak gini. Gimana aku ngak jatuh cinta sama kamu. Takut kalau ada yang naksir sama kamu yah karena muka kamu terlalu cantik sekaligus gemesin.” “Gombal ih.” Cibir Ciara membuat Adam tertawa. “Biarin, gombalinnya istri sendiri ini.” Masih sambil terkekeh, tawa Adam menular membuat Ciara ikut tertawa. Sesaat kemudian, keduanya terdiam giliran mata mereka saling menatap. Adam mengusap lembut pipi Ciara. “Dari dulu dimataku cuma ada satu wanita saja, satu-satunya yang mau menemani keseharianku yang nampak membosankan bagi teman-teman kita yang lain. Tapi kamu, meskipun dulu kita jarang ngobrol tapi kamu yang selalu setia disampingku. Senyuman kamu itu bonus buat aku setiap kali kita bertemu.” “Kalau seandainya waktu itu aku memilih cowok lain atau mungkin aku ngak milih kamu, bagaimana?” Pertanyaan Ciara membuat Adam menatap lekat pada istrinya kemudian menyembulkan senyumnya. “Ngakpapa, asal nikahnya tetap sama aku. Selama kamu bisa menjaga diri dan kamu bahagia, aku ngak akan cegah. Tapi siapapun yang berani nyakitin kamu, aku adalah orang pertama yang akan memberi pelajaran pada siapapun yang sudah buat ratuku menangis.” Jawaban Adam mampu menggugah perasaan Ciara dan membuat air matanya terjun begitu saja. “Hei, kok nangis. Aku salah ngomong yah.” Bukannya menjawab Ciara malahan memeluk Adam sambil melanjutkan tangisannya. “Maaf, Sayang. Apa kata-kata aku buat kamu tersinggung?” Adam bingung dengan reaksi Ciara. Gadis itu menggeleng, sambil sesenggukkan Ciara akhirnya menjawab. “Ka-mu ter-la-lu so sweet. Aku ter-ha-ru ba-nget.” Adam tertawa sambil mendesah lega. “Kirain kenapa, lumayan panik kirain nyakitin kamu.” Adam melepaskan pelukan Ciara, tersenyum sambil menghapus jejak air mata di wajah Ciara. Mata mereka saling beradu pandang, bahkan nafas keduanya begitu terasa di pipi masing-masing. “Aku cinta sama kamu, cintanya banyak banget.” Ucap Adam menyelami bola mata indah milik Ciara. “Aku juga…” “Juga apa, hem?” “Aku cin-mmpph..” Belum selesai mengungkapkan perasaan cintanya, Adam lebih dulu menyambar bibir Ciara. Desakan yang sedari tadi memaksanya bertahan kini tidak lagi kuat. Ditambah dengan cara Ciara meluapkan perasaannya pada Adam membuatnya mengerti dan tidak perlu mendengar pernyataan cinta Ciara. Sudah jelas gadis itu mencintainya seperti Adam mencintainya seperti orang gila. Bibir Adam melumat dalam merasakan benda kenyal itu atas dan bawah bergantian. Tubuh Adam menekan Ciara hingga gadis itu menurunkan posisinya berbaring dengan Adam di atasnya. “Aku cinta apapun yang ada dalam diri kamu. Jangan pernah ragukan hati aku, Sayang.” Adam mengecup kelopak mata Ciara. “Mata indah ini milik aku.” Turun ke hidung dan pipi kiri kanan Ciara. “Ini semua juga punyaku.” Melumat bibir Ciara. “Bibir ini cuma boleh dicium sama aku.” Kelakuan Adam membuat darah Ciara mendesir, nafasnya ikut memburu saat Adam melumat nakal bibirnya berkali-kali. Apalagi tangan Adam turun, masuk ke dalam kaos piyama Ciara lalu menangkup gunung kembar miliknya. Membuat Ciara memekik saat merasakan kehangatan telapak tangan Adam. “Ini hanya boleh aku yang sentuh.” Ciara dibuat mabuk kepayang dengan kelakuan Adam pada dirinya, tubuhnya seolah tidak mampu menolak bahkan mulutnya membisu tidak mampu bersuara menolak Adam agar tidak melanjutkan kegiatan yang semakin memanas ini. Tanpa Ciara sadari Adam berhasil membuka pengait yang menutupi bongkahan kembar miliknya. Piyama Ciara bahkan sudah naik sampai ke lehernya. Meskipun malu, Ciara mematung memejamkan matanya. Adam melihat kalau Ciara sudah tidak setakut dulu. Perlahan bibirnya mendekat dan mengulum puncaknya membuat tubuh Ciara bergerak reflek, terdengar desahan kecil dari bibir gadis itu. Puas bermain dan mengulum bergantian pada gunung kembar Ciara, Adam menaikkan kepalanya dan mengecup bibir Ciara yang terasa dingin kemudian menyandarkan kepalanya di d**a Ciara, terdengar jelas derap jantung Ciara yang sedang berlari-lari kencang. Adam tersenyum, dengan nakalnya melumat kembali puncak bongkahan itu sambil memainkannya dengan lidah membuat tubuh Ciara bergerak gelisah kembali. Ketika Ciara memberanikan diri membuka mata, ternyata tubuh bagian atas Adam sudah polos. Adam menaikkan kaos yang dipakai Ciara keluar dari kepalanya. Kedua tangan Ciara yang baru saja dibiarkan bebas oleh Adam langsung menyilang menutupi bagian yang sedari tadi dimanjakan Adam. “Kenapa?” “Malu.” “Nanti juga terbiasa kok. Buka, Sayang. Aku mau lihat lagi.” Ciara bukannya tidak sadar merasakan milik Adam sudah membesar di bawah sana, beberapa kali Adam membenturkan miliknya diantara kedua paha Ciara. Lagi-lagi Ciara terbuai dengan decapan mulut Adam mengulum puncak miliknya, tangan Adam mulai bergerak ke bawah membuat Ciara reflek memegang tangan Adam, kemudian menatap wajah suaminya sambil menggeleng. “Aku janji ngak akan nyakitin kamu.” “Tapi, Dam.” “Ngak dimasukkin, hanya ingin menyentuh yang jadi milikku saja. Janji ngak akan masukkin. Aku hanya ingin mengingat mala mini sebagai kenangan saat aku di Harvard nanti. Boleh yah.” Pinta Adam dengan bola mata memelas. Berat hati, Ciara menyingkirkan tangannya yang ditepis lembut oleh Adam. Merasa rasa takut mulai menyelimuti Ciara kembali, Adam menunda keinginannya dan mencium bibir Ciara kembali. Wajah mereka berdua merona terbalut hasrat. Adam mencoba kembali melakukan niatannya, tangannya sudah masuk menyelinap menyentuh milik Ciara yang menjadi hak nya. Adam sengaja menatap wajah Ciara sambil menikmati bibirnya, ingin melihat bagaimana rona istrinya ketika gelenyar nikmat tengah menghampiri. Jemari Adam di bawah sana menyelinap masuk meyentuh bagian itu secara langsung. “Kamu basah, Sayang.” Ciara malu untuk bertatapan langsung dengan Adam, sesuatu bergejolak hebar merambat mengalir berpusat pada bagian di bawah sana. Meskipun menikmati namun tubuh Ciara mulai bergetar bercampur rasa takut. Adam yang menyadari hal itu, menunda kembali dan mengangkat tangannya keluar dari bawah sana. Berganti posisi di atas tubuh Ciara, menggesek naik turun di bawah sana dengan miliknya yang sudah merekah sempurna. Sampai terdengar suara Adam memekik geram menahan pelepasannya sambil menyembunyikan kepalanya pada ceruk leher Ciara. “Seperti ini saja aku sudah puas. I love you, my queen.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD