Bab 10. Kenalan Sama TemanCiara

1612 Words
“Kuperingatkan sekali lagi, aku tidak akan membiarkanmu bahagia! Kupastikan tidak akan ada yang bahagia di sisimu.” Pesan ancaman itu masuk lagi, dari nomor yang berbeda dan seperti sebelumnya nomor tersebut tidak aktif saat aku mencoba menghubunginya kembali. Menjelang makan siang, aku menunggu daddy selesai meeting di dalam ruangannya. Ruang kerjaku kebetulan berada di lantai berbeda di divisi pemasaran. Saat masuk ke ruangannya, makan siang dari Mommy untuk Daddy dan aku sudah tiba diantar oleh supir rumah. Aku tertawa memikirkan sebucin itu orang tuaku. Daddy adalah tipe dingin dan arogan di depan rekan bisnisnya, namun siapa yang menyangka kalau makan siangnya haruslah buatan istrinya sendiri dan sebaliknya Mommy juga tidak mengijinkan Daddy makan siang di luar apalagi dengan rekan wanita. Daddy masuk bersama Papi Leon, Uncle Doni bersama anak mereka Jason dan Daniel, terlihat kekehan tawa Papi Leon melihat bekal yang tergeletak di meja kemudian menoleh padaku. Sedangkan aku menyambut Jason dan Daniel dengan melakukan fist bump sebagai salam kami bertiga ala anak muda. “Daddy mu ini, Dam. Sangar bagai singa di luaran, tapi kalau menyangkut Mommy kamu bagai anak kucing.” Aku tertawa bersama Papi Leon mendengat sindiran meledeknya pada Daddy yang memang demikian kenyataannya. Daddy yang merasa dijadikan bahan olokan Papi Leon ikut tertawa sambil memukul pelan perut sahabatnya seperjuangannya. Aku juga ingin merasakan memiliki sahabat setia seperti Papi Leon. Kebetulan teman yang bisa kuanggap sebagai sahabat yang dekat denganku hanyalah Jason anak Papi Leon dan Daniel anak dari Aunty Jane dan Uncle Doni temannya Daddy. Aku dan Jason memang sudah dekat dari kecil namun keakraban kami semakin erat saat Jason kuliah di Harvard, begitu juga dengan Daniel yang ternyata mengambil jurusan yang sama denganku. Saat ini kami bertiga sedang berlibur di Jakarta. Karena Mommy tahu kalau Daddy kedatangan tamu, ia sengaja memasak banyak untuk kami semua. “Selalu enak masakan Karina. Beruntung ada bini loe, Dam. Shierly jadi ikutan pintar masak. Ingat kan awal dia belajar masak.” Seru Papi Leon sambil terkekeh membayangkan bagaimana dulu istrinya berusaha belajar memasak demi melayani suaminya. “Fried black egg.” Ucap Daddy dan membuat kita semua tertawa lepas. Setelah makan siang, aku mengeluarkan ponsel milikku membuka chat yang baru kuterima tadi pagi setelah mengantar Ciara ke kampusnya. Lalu menyodorkannya pada Daddy. Yang lainnya menatapku penuh tanya. Daddy mengambil ponselku dan membaca pesan tersebut lalu mengembalikannya ke aku. “Lihat dong, Dam.” Seru Jason dan aku memberikannya kemudian ponselku memutar bergiliran. Aku tidak takut membagikan hal ini pada mereka karena aku mempercayai mereka semua yang ada di ruangan ini. Lagipula aku, Jason dan Daniel saat ini bergabung dalam klub kemahasiswaan di Harvard sebagai tambahan bekal mempelajari ilmu kepemimpinan kelak. “Ini sudah yang kedua kalinya.” Aku menjelaskan. “Menurut loe ini siapa, Dam? Mau gua bantu lacak?” Jiwa kepo Daniel memang yang paling tinggi. “Daddy udah nyuruh Uncle Doni, Niel. Hasilnya negatif, karena mereka pakai nomor sekali pakai.” “Gua tetep lacak, dari IP address nya gua bisa cek pemakainya ini ngirim dari mana.” Ucap Daniel. Ilmu teknologinya memang encer bahkan Daniel merupakan seorang hacker sejak masa SMP. Uncle Doni khawatir dengan kejeniusan putranya ini karena sejak Daniel mengerti ilmu coding dan pernah berhasil mengkloning ponsel teman papa temannya karena dicurigai tengah memiliki pacar berselingkuh. Dan bodohnya mama dari temannya ini keceplosan mengatakan bahwa Daniel yang membantunya memecahkan kasus perselingkuhan. Doni ditegur oleh papa temannya yang kebetulan kenal dengan Doni. “Boleh, Niel. Thanks. Sementara informasi ini jangan bocor ke keluarga dulu, Ciara, Mommy sama Nel juga belum tahu.” “Kamu hati-hati kalau ngelacak IP, Niel. Daddy ngak mau sampai ditegor lagi yah. Terakhir kamu hampir bobol sistem keamanan bank cuma buat nyari bukti kecurangan di organisasi kampus kamu di Harvard. Untung aja FBI ngak bisa lacak kamu.” Daniel menggaruk tengkuknya sambil terkekeh. Memang separah itu kenyataannya tiga bulan lalu, untung saja Daddy bertindak cepat dan meminta bantuan Doni. Hari itu Daniel habis dimarahi oleh daddy nya, untung saja mereka beda negara. “Oke, you can trust us.” Ucap Jason dengan raut serius nampak berpikir. “Loe curiga ke siapa?” “Sementara sama Brandon. Menurut Daddy seharusnya sudah tidak ada rival bisnis yang membahayakan keluarga kita. Gua sendiri ngak mungkin punya musuh kan secara baru balik juga ke sini.” Aku mendengus pelan. “Brandon satu kampus sama Ciara dan masih usaha ngejar dia. Kemarin pas jemput Ciara dari kampus, dia maksa Ciara balik sama dia. Untung gua sampai sebelum Ciara bubaran. Kejadian di sekolah dulu keulang lagi, Jas.” Jason memang tidak terkejut mendengar nama Brandon. “Gua juga ngak nyangka tuh anak sekampus sama cewek loe.” “Brandon anak yatim piatu, dia diadopsi oleh pengusaha pengembang real estate di pedesaan. Daddy kenal siapa orang tua angkatnya. Mereka tidak punya catatan criminal dan tidak pernah punya masalah dengan orang lain.” Tutur Daddy memberiku informasi terbaru. “Kemarin dia sempat bilang kalau Ciara bakalan bahaya kalau dekat-dekat sama keluarga kita. Makanya aku curiga yang ngirim pesan ancaman ini Brandon.” “Dapet!” Tiba-tiba Daniel berseru. “Nomornya memang udah ngak aktif seperti kata Daddy. Lokasi pemakaian berdasarkan IP address nya masih di kawasan Jakarta juga.” Kemudian Daniel menggeser laptopnya kepadaku memperlihatkan lokasi terakhir. “Orang ini ngirim chat dari jalan tol. Artinya rencana dia buat ngancem loe ini udah dipikirin. Nomor yang sebelumnya juga terakhir ada di pinggir tol Kebon Jeruk. Lokasi ngirimnya random nih, masih sulit buat dilacak lebih detail.” Ucap Daniel. Kami semua mendengus ketika mengalami kebuntuan memecahkan kasus ini. Masalahnya bagaimana aku dapat melindungi Ciara jika nanti aku harus berangkat balik ke Amerika. “Yang penting sekarang kamu hati-hati saja, lindungi Ciara sewajarnya, Dam.” Ucap Daddy menasehatiku dan ku balas dengan anggukan. Setelah rapat dadakan kami selesai, aku menjemput Ciara. Jason dan Daniel menebeng mobilku minta diantar pulang karena memang sejalan denganku. Kami sampai di kampus lebih cepat, Jason dan Daniel mengajakku turun untuk berkeliling melihat suasana kampus ini. Awalnya aku menolak, namun dua teman tanpa akhlak ini keluar begitu saja tanpa mendengarkan ucapanku. Mau tidak mau aku ikut keluar dan berjalan ke area kantin kampus. Tentu saja apa yang membuatku malas turun akhirnya kejadian juga. Kami bertiga menjadi bahan perhatian para mahasiswa karena kami dianugrahi dengan wajah tampan keturunan daddy kami. Bahkan ada yang bersiul mencari perhatian kami. Aku sudah mengirim chat pada Ciara sedang menunggunya di kantin kampus dan memberitahu aku datang bersama mereka berdua. Untung saja Ciara cepat datang menghampiriku bersama dua orang yang kuduga adalah temannya di kampus saat ini. Melihat kedua teman Ciara aku yakin istriku dekat dengan mereka karena keduanya nampak satu frekeunsi karena tingkah keduanya biasa saja melihatku, Jason dan Daniel. Tidak seperti mahasiswa lain yang sengaja memasang senyum pada kami bertiga meskipun tidak saling kenal. “Hai, kok tumben masuk ke dalam?” Tanya Ciara padaku. “Dua kutu ngikut maksa mau masuk lihat kampus kamu.” Ucapku sambil menaikkan dagu mengarah pada Jason dan Daniel. “Cia, kita balik dulu yah.” Ucap salah satu teman Ciara seakan tidak penasaran dengan kami bertiga. Secuek itukah teman Ciara. “Ehm bentar, Sa. Kenalin ini Adam tunangan gua. Ini sepupunya Jason dan teman Adam Daniel.” Ciara mengenalkan kami pada kedua temannya. Kami saling berkenalan satu sama lain, bahkan teman Ciara terlihat datar sekali wajahnya saat memandang wajah kami. “Kalian satu kelas?” Tanya Jason mencoba membuka percakapan karena aku memang tidak terlalu pintar berbasa-basi. “Iyah. Cuma di kelas fashion desain aja.” Ucap Lusi. “Cia, gua mau nyari Adam dulu yah.” Ucap Maria berbisik namun terdengar oleh kami bertiga membuat kami menautkan alis kami. Apa mungkin Brandon yang dimaksud adalah orang yang sama. “Yah udah sana, daripada dia nyamper ke sini, pusing gua.” Jawab Ciara menegaskan pemikiran kami. “Cih, cowok ngak bener masih dikejar aja.” Seru Daniel dengan mulut pedasnya yang tanpa filter itu. Membuat Maria melebarkan matanya menatap kesal pada Daniel. “Bukan urusan loe. Aneh banget.” Ketus Maria tidak terima menampilkan wajah sengitnya. “Ngak belajar dari pengalaman temen loe? Katanya suka tapi maksa sampai tega nyakitin perempuan itu masih dibilang bener?” “Trus yang bener itu loe gitu?” Seru Maria mulai memperlihatkan aura keributan karena Maria mempunyai lidah yang sama seperti Daniel “Brandon itu anak baik-baik. Dia memang terobsesi sama Ciara tapi bukan berarti dia ngak benar. Gua kenal sama keluarganya.” Maria masih berusaha membela Brandon dari sisi penilaiannya. Ucapan Maria barusan membuatku, Jason dan Daniel saling memandang satu sama lain. Tiba-tiba saja sebuah pemikiran terlintas dalam benakku. “Ehm, boleh minta nomor kalian, kalau gua ngak bisa hubungin Ciara setidaknya gua bisa tahu kabar Ciara dari kalian?” “Boleh.” Jawab Lusi, Maria juga ikut memberikan nomor kontaknya padaku. Daniel dan Jason ikutan menyimpan nomor kontak teman Ciara membuat Lusi dan Maria lagi-lagi merengut merasa takut dan menyesal harus menyebut nomor mereka tadi. Merasa dicurigai, Daniel lebih dulu membela diri. “Buat jaga-jaga juga soalnya Ciara itu tuan putrinya Adam. Kalau ada apa-apa kita tahu mau nyari siapa.” Kemudian Daniel sengaja menghubungi nomor keduanya. “Simpan, itu nomor gua, Daniel.” Menoleh pada Jason menaikkan alis dan dagunya seolah menyuruh Jason melakukan hal konyol yang sama. Dan bodohnya Jason juga menurut membuatku terkekeh. “Kita pulang?” Tanyaku pada Ciara. “Ngak sekalian aja nganter pulang teman Ciara? Mobil loe muat kan.” Ucap Jason dengan polosnya. “Maaf, gua dijemput. Maria biasanya barengan sama gua.” Ucap Lusi menolak dengan sopan. “Oke, kalau gitu hati-hati di jalan yah.” Jawab Jason lembut. Aku dan Daniel tersedak melihat kelakuan absurd Jason. Nampaknya sang cupid baru saja menancapkan panahnya di kampus ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD