Bab 9. Kayak Ada Manis-manisnya

1619 Words
Ucapan Brandon yang tidak dipedulikan oleh Ciara nyatanya justru mulai mengganggu pikirannya. Setelah selesai ujian, Ciara sengaja tidak beranjak dari kelasnya sengaja duduk di sana menunggu Lusi atau Maria selesai barulah ia keluar ruangan. Adam sudah mengirim pesan sepuluh menit lalu mengatakan sedang dalam perjalanan menjemputnya namun belum Ciara balas karena memang peraturannya tidak boleh bermain ponsel selama waktu ujian. Benar saja kekhawatiran Ciara. Di saat dirinya, Lusi dan Maria keluar dari kelas, Brandon sudah menunggu di depan kelasnya. Tiba-tiba Brandon menggenggam tangan Ciara dan menariknya. “Loe pulang bareng gua.” “Brandon, lepasin. Gua udah dijemput.” Namun Brandon tidak mengindahkan ucapan Ciara, meskipun para mahasiswa melihat kelakuan Brandon namun tidak ada yang berani menolong Ciara. Sedangkan Lusi yang hendak menolong temannya di dorong oleh Brandon sampai terjatuh. Membuat kedua teman Ciara harus berlari mengejar Brandon ke parkiran. “Brandon! Lepasin!!” Seru Ciara sudah merasa pergelangan tangannya kesakitan. Di tengah lapangan parkir, wajah Brandon di tonjok seseorang. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Adam. Tadinya Adam hanya berniat menunggu di dalam mobil namun emosinya naik ketika melihat istrinya tengah di tarik oleh Brandon. Adam turun dari mobil, sengaja memutar dari beakang mobilnya menunggu Brandon melewatinya kemudian ia menarik bahu Brandon dan memukul wajah pria itu. “Masuk ke mobil, Cia.” Ciara mengikuti perintah Adam, mencari mobil Adam lalu masuk. “Jangan sekali lagi gua lihat loe maksa Ciara kayak tadi. Ciara udah bilang kan gua siapanya dia, jangan jadi anak kecil yang ngak punya kuping.” Brandon mengacungkan jarinya dihadapan Adam. “Loe yang maksa dia kan pake kekuasaan bokap loe yang mafia itu!” “Kalau gua maksa trus Ciara nya mau loe mau ngapain? Mau laporin bokap gua ke polisi?” Adam mulai mencurigai Brandon adalah orang yang mengirim pesan ancaman itu, ia mencoba memancing kemarahan Brandon saat ini. Ditambah lagi karena ulah Brandon, mahasiswa yang sedang berlalu lalang kini tengah berkumpul melihat perseteruan yang tengah terjadi diantara mereka berdua tanpa ada yang berniat melerai. “Keluarga loe itu mafia semua, Ciara bahaya kalau dekat-dekat loe.” “Trus ngak akan bahaya kalau dia dekat sama loe yang tukang maksa?” “Argh! Bawel loe!” Brandon yang sudah diselimuti emaosi langsung melayangkan pukulan ke Adam. Lagi-lagi Adam bergerak cepat menghindari serangan Brandon dan kejadian yang sama terulang lagi. Brandon jatuh sendiri karena tubuhnya melayang ke depan. “Bencongg Loe! Ngak berani mukul gua, hah!” Kedua kalinya Brandon menyerang Adam, belum sempat Brandon menyentuh Adam, perutnya terkena tendangan kaki Adam hingga tubuh Brandon terpental jatuh meringis memegang perutnya. Adam menghampiri, kemudian tangannya melayang ke udara bersiap memukul wajah Brandon. Pria bringas keras kepala yang menantang Adam itu sedang menutupi wajahnya membuat Adam berdecih meledek Brandon. Siapa yang sekarang lebih pengecut. Adam berdiri meninggalkan Brandon menuju mobilnya. Merasa peluangnya besar, Brandon berdiri dan berniat menyerang Adam dari belakang tanpa bersuara. Kerumunan mahasiswa yang sedari tadi melihat membuat Adam berbalik kemudian menarik tangan Brandon yang bersiap memukul kepalanya lalu dengan mudahnya membanting tubuh Brandon. “Kalau ngak mau muka loe hancur, berhenti ganggu gua!” Adam berdiri kemudian masuk ke dalam mobil. Ciara masih menangis melihat pertengkaran antara Adam dan Brandon tadi, ditambah lagi rasa takutnya tadi masih belum reda. Adam menyalakan mesin mobil kemudian melaju keluar dari area kampus. Ciara sudah tidak menangis lagi namun tangannya masih gemetar. Ia menautkan kedua tangannya untuk menutupinya dari Adam. Adam menepikan kendaraannya tidak jauh dari kampus. Ia melepaskan sabuk pengaman kemudian menarik tubuh Ciara ke dalam pelukannya. “Badan kamu sampai gemetaran. Maaf kalau harus lihat keburukan aku tadi. Brandon mancing emosi aku.” Ciara meluapkan ketakutannya dipelukan Adam dengan menangis sejadinya, Adam diam berusaha menenangkan Ciara dengan mengusap punggungnya sambil mengecup kepala istrinya berulang-ulang. “Udah, Dam. Nanti kamu kesorean balik kantornya. Aku udah ngakpapa.” “Aku udah ngak balik kantor lagi, kerjaan bisa cek dari rumah nanti.” “Yah udah pulang sekarang.” Adam melonggarkan pelukannya sambil mendekap wajah Ciara. “Yakin udah ngakpapa? Kejadian tadi harus kasih tahu ke mommy sama daddy kamu. Aku ngak akan tenang kalau Brandon gangguin kamu kayak gini pas aku ngak ada.” “Nanti aja ngobrolnya di rumah, jalan sekarang, Dam. Pinginnya rebahan, otak aku panas, cape.” “Iyah, nanti rebahan aku pijitin pake cinta.” Ucap Adam sambil memperlihatkan seringai usilnya. “Ngak mau, bahaya dipijitin kamu.” Jawab Ciara membuat Adam tertawa geli, istrinya sudah kembali judes dan tidak ketakutan lagi. Sesampainya dikediaman orang tua Ciara, penghuni rumah belum pulang karena masih siang. Ciara dan Adam bergegas masuk kedalam kamar. Mbak Siti sudah mengetahui status anak majikannya dan membiarkan keduanya berada dalam satu kamar. Saat masuk ke dalam kamar Ciara, Adam menaruh kopernya kemudian duduk di depan meja rias. Mengeluarkan tablet miliknya sambil menunggu Ciara membersihkan diri. “Kamu mau mandi, Dam?” Tanya Ciara yang baru saja selesai mandi dan sudah memakai baju rumah bergambar karakter dua tupai nakal kesukaannya membuat Adam terkekeh. “Masih suka aja sama chip and dale.” Goda Adam. “Biarin ih. Ngak boleh memangnya.” “Boleh kok. Yah udah aku mandi dulu. Ehm, baju-baju aku boleh kamu aturin ke lemari kamu?” Ciara menganggu kemudian membuka koper Adam dan mulai menyusunnya di dalam lemari pakaian miliknya.Wajah Ciara merona saat melihat pakaian dalam milik Adam, pikirannya berkelana membayangkan seperti apa isi di dalam celana yang selalu dipakai suaminya ini. Dengan cepat Ciara mengibaskan kepalanya mengusir jauh pikiran kotor yang mulai nakal berkelana sejak mereka menikah. Ketika Adam selesai mandi, Ciara baru selesai merapikan pakaian Adam di dalam lemarinya. “Baju rumah sama pergi kamu ada di sini yah, trus kemeja kerja ada di bagian gantungan.” “Dalaman aku di mana?” Sengaja bertanya untuk menggoda Ciara yang wajahnya masih merona dan Adam tahu sekali kenapa. “Di laci baju rumah kamu.” Jawab Ciara berbalik tidak ingin wajahnya ditertawakan Adam sambil naik ke ranjangnya. Adam menghampiri Ciara dengan duduk di sisi kasur sambil tersenyum menatap wajah istrinya. “Katanya mau kerja, aku tidur dulu yah. Ngantuk sekarang.” “Iyah, aku temani.” Kemudian mengecup kening dan bibir Ciara dengan cepat. Terkejut dan merasa tidak menyangka Adam akan mengecup bibirnya, Ciara merengut seakan-akan tengah dicurangi Adam. “Kamu tahu kan aku ngak tahan lihat bibir kamu apalagi kalau cemberut gini.” “Yah kamu suka banmmphh..” Tiba-tiba saja, bibir Ciara dilumat kembali. Kali ini Adam merubah posisinya hingga ada di atasku yang setengah bersandar, lumatan Adam di bibir Ciara semakin menjadi menyesap merasakan seluruh rongga mulut Ciara. Bahkan deru nafas keduanya semakain memburu hingga tangan Ciara memukul bahu Adam karena mulai kehabisan nafas. “Udah..” “Hem, tidur yah. Aku ambil tabletku dulu kerja di sini.” Adam sengaja mematikan lampu kamar Ciara dan menyalakan lampu pijar di meja samping kasurnya. Padahal Ciara tidak keberatan tidur dengan lampu menyala. Adam yang tahu istrinya kurang tidur dan Ciara memang lebih menyukai tidur dengan suasana remang memilih mengalah meskipun Ciara memarahinya bekerja di tempat gelap. Sejam kemudian, suara ketukan pintu terdengar pelan di kamar Ciara. Perlahan Adam menggeser laptopnya dan membuka pintu. Ternyata ibu mertuanya sudah pulang. Melihat suasana remang di kamar putrinya, Vina berasumsi pasangan ini sedang tidur siang dan ia bertanya pada Adam bisik-bisik. “Kamu nginap di sini, Dam?” “Iyah, Mom. Cia lagi tidur. Dia bangun subuh buat belajar tes semester.” “Oh, maaf Mommy ganggu.” “Ngak, Mom. Aku sambil kerja nemenin Cia aja.” Vina memajukan langkahnya masuk ke dalam kamar memperhatikan putrinya yang tertidur pulas juga laptop yang berada di atas kasur, kemudian tersenyum sambil menepuk kecil lengan Adam. “Yah udah, Mommy mandi dulu trus masak. Kamu mau dibawain cemilan apa?” “Thanks, Mom. Tadi Mbak Siti bawain pisang goreng, masih kenyang sekarang.” “Oke. Mommy tinggal yah. Biasanya jam 6.30 kita makan malam.” Adam mengangguk mengerti maksud Vina kemudian menutup pintu perlahan takut membangunkan istrinya. Ciara tampak menggeliat pelan dibalik selimut yang menutupi dirinya bak kepompong. Adam menyelimuti tubuh Ciara sampai ke leher karena udara pendingin ruangan semakin dingin dan tubuh Ciara meringkuk. Adam yang baru selesai memeriksa berkas di laptopnya, meletakkan benda itu di atas meja kemudian membaringkan tubuhnya masuk ke dalam selimut saat melihat Ciara menggeliat. Merasakan sentuhan fisik, Ciara membuka kelopak mata mengerjap beberapa kali melihat wajah Adam yang sedang tersenyum menatapnya. “Udah selesai kerjaan kamu?” “Udah.” Sambil merapikan helai rambut halus di wajah Ciara. Saat Ciara hendak membuka selimut, Adam menahannya memperlihatkan seringai di wajahnya dan Ciara mengerutkan keningnya. “Aku mau pipis, Dam.” Tidak tega melihat wajah memelas Ciara, akhirnya Adam melepaskan Ciara sambil mematikan pendingin ruangan mereka. Saat Ciara keluar dari kamar mandi, Adam memberi perintah dengan tangannya menepuk memberi tanda agar Ciara duduk dipangkuannya. Ragu-ragu Ciara mendekat dengan perasaan berdebar tahu apa yang diinginkan suaminya. Benar saja, ketika jarak mereka dekat, Adam menarik tangan Ciara hingga tubuh wanita itu duduk dipangkuannya Adam mengecup kening, hidung dan bibir Ciara merasakannya lama di bagian itu. Tangan Adam mengunci tubuh Ciara dengan mendekap punggungnya. “Dam, nanti Mommy masuk.” “Sudah aku kunci barusan. Aku mau makan kamu sebelum kita turun ke bawah.” Adam berniat memberi pelajaran pada ciara perlahan-lahan tentang berhubungan seintim suami istri meskipun pada akhirnya dia sendiri harus menderita bermain solo di kamar mandi. Meskipun berusia 19 tahun, Adam sudah pernah mengalami bermain solo sejak menonton film adegan dewasa. Namun Adam tidak akan tega untuk mempraktekkannya pada Ciara sekarang, bisa di panggang jadi sate dia nanti oleh ayah mertuanya. “Adam.. Hah ..Udah.” Seru Ciara saat merasakan kepalanya memanas oleh sentuhan tangan Adam pada gunung kembar miliknya meskipun masih terhalang pakaian rumah. “Bibir kamu ini candu, kayak ada manis-manisnya. Bikin aku susah berhenti.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD