Bab 8. Brandon Memaksa

1622 Words
Meskipun Adam menghabiskan liburan mereka di Jakarta, namun tidak dengan Ciara. Kuliahnya masih berjalan dan belum memasuki masa liburan malahan sedang memasuki pekan ujian semesteran. Pagi ini, Ciara terbangun lebih dulu. Sudah dua hari dirinya disekap Adam di dalam kamarnya, tidak boleh keluar rumah. Adam selalu menempel pada Ciara sepanjang waktu, hanya beberapa jam saja pria itu masuk ke ruang kerja Brahm untuk memeriksa data, setelah selesai Adam akan mencari keberadaan Ciara lagi. Acara tidur seranjang masih tergolong aman dua hari ini. Semalam Ciara mendapatkan tamu bulanannya dan hal itu tidak jadi masalah bagi Adam, toh mereka tidak melakukan hubungan sampai memasukkan milik masing-masing. Istilah Adam bercintaa secara aman kayanya. Ciara mengernyitkan keningnya saat melihat Adam menyeret tas koper keluar dari walk in closetnya. Hari ini Ciara sudah bersiap untuk berangkat kuliah untuk mengikuti ujian. “Kamu ngapain bawa koper?” “Taruh baju aku di rumah kamu.” Ciara menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya. Meskipun mereka sudah menikah bukan berarti mereka tinggal seatap setiap hari, seperti yang sudah dibahas sebelumnya. Kalau menuruti keinginannya Ciara juga ingin menghabiskan waktu bersama selama dua bulanan ini, hanya saja dirinya takut diprotes oleh kedua orangtuanya. “Tapi, Dam. Kita ngak boleh setiap hari serumah kan, nanti kebablasan gimana?” Ucap Ciara setengah menahan rasa malu memikirkan sudah sejauh mana mereka melakukan hal-hal intim. “Ngak. Aku di sini cuma dua bulan. Trus kita jauhan lagi, maunya selalu sama kamu sampai aku berangkat lagi.” “Nanti kalau daddy aku marah gimana?” “Aku yang jelasin ke daddy kamu, dia pasti ngerti kok. Orang tua kita juga pernah muda, Sayang. Mereka pasti maklum sama kelakuan aku ini.” Ciara menghembuskan nafasnya melihat sikap keras kepala Adam. “Terserah kamu deh.” Adam menghampiri Ciara mengalungkan tangannya ke pinggang istrinya. “Kamu ngak suka berduaan sama aku?” “Bukan gitu, Dam. Cuma takut dimarahin sama daddy aja. Kamu janji kan kita harus tahu batasan. Trus aku sudah dua hari loh menginap di sini.” “Dua bulan saja aku gangguin kamu kok, habis itu kan kita misah lagi. Maunya pas libur semester depan kamu yang nyusul aku ke sana.” “Iyah, iyah nanti kita bahas lagi yah. Udah yuk turun dulu. Ngak enak sama mommy daddy kamu.” Di meja makan, Brahm dan Karina juga Nicole sudah terlihat di sana sedang menikmati sarapan mereka. Karina melihat menantunya turun bersama Adam tersenyum menghampiri Ciara. “Sini, Sayang. Duduk di seberang sana sama Adam.” “Iyah, Mi.” “Hari ini aku nginap di rumah Ciara, dua hari sekali pindah-pindah.” Brahm berdecih menyeringai mendengar ucapan putranya barusan. Sedangkan Ciara menunduk merasa malu padahal tidak ada yang meledek dirinya. “Pasti Kak Adam nih yang mepet terus.” Nicole sudah mulai menggoda sang kakak. “Biarin aja, udah jadi istri ini. Bilang aja ngiri minta dicariin jodoh tuh biar cepet nikah.” “Dih, siapa juga yang ngiri, aku masih kecil, Kak. Masih SMA woi.” “Makanya anak kecil diam aja jangan suka ngeledek orang dewasa kalau lagi ngomong.” Kesal dengan sikap Adam, Nicole merajuk pada sang mommy. “Mommy, Kak Adam tuh rese.” “Udah ih, sarapan ngak pake lagu perjuangan kalian kenapa?” Karina menoleh pada Ciara. “Harap maklum yah, Cia. Berdua memang gitu tuh ngak boleh ada celah pasti ledek-ledekkan endingnya ada yang ngambek.” “Iyah, Mom. Ngakpapa, aku sama Naira juga suka gitu kok.” Sahut Ciara sammibil tersenyum. Setelah selesai sarapan, Adam mengantar Ciara ke kampus kemudian ke kantor menunggu sampai Ciara selesai kuliah barulah Adam menjemputnya kemudian kembali ke kantor sampai sore. “Aku bisa pulang sama supir daddy, Dam. Jadi kamu ngak bolak balik kantor. Jaraknya lumayan loh.” “Ngak, aku bisa jemput kok. Sekalian taruh koper ke rumah kamu, hari ini ketemu sama daddy kamu di kantor juga sekalian aku ijin sama dia.” Ciara hanya bisa menghela nafas, memang sulit menggeser rencana Adam kalau dia sudah membuat keputusan. Sejak dulu Ciara memang selalu jadi pihak yang menuruti keinginan Adam. “Terserah kamu deh.” “Satu lagi, jangan dekat-dekat sama Brandon. Aku kesal banget pas tahu kamu itu satu kampus sama Brandon loh. Belum lagi soal dia ke rumah kamu. Kenapa ngak diselidiki dulu sih.” Ucapan Adam membuat Ciara melirikkan pandanganya pada Adam. “Aku juga ngak tahu kan, Dam. Kamu yang minta aku menjauh dan ngak berhubungan sama dia. Makanya ngak tahu dia kuliah di kampus yang sama. Jangan aku yang diocehin dong. Urusan itu udah selesai kita bahas kan, jangan diungkit lagi. Mau aku juga ungkit masalah kamu di asrama kampus?” Gerutu Ciara mulai kesal dengan ucapan Adam seakan menuduh Ciara gegabah. “Iyah, maaf, maaf. Aku kesal aja karena Brandon masih ngejar-ngejar kamu.” Sambil menggenggam tangan kanan Ciara. Adam menepikan kendaraannya di depan kampus. Ciara sudah melepaskan sabuk pengamannya lalu menatap Adam. “Aku ke kuliah dulu yah.” “Sini, cium dulu sebelum turun.” Tanpa menunggu jawaban Ciara, Adam sudah mengecup kening Cia dan juga bibirnya. “Aku juga ke kantor yah.” Ciara turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam area kampus. Setelah Ciara tidak terlihat lagi, Adam baru melajukan kendaraannya ke kantor. Sedang berjalan menuju kelas, langkah Ciara dihentikan oleh Brandon. “Cia, tunggu dulu.” Ciara mengedarkan pandangannya mencari temannya Lusi ataupun Maria yang selalu membantunya lepas dari gangguan Brandon, nampaknya mereka belum sampai. “Ada apa? Gua mau masuk kelas, ujian dah mau mulai.” “Apa benar berita yang beredar kalau loe sama Adam udah tunangan dan bakalan nikah?” “Iyah. Gua sama Adam memang udah ditunangin dari kecil.” “Loe cinta sama Adam? Mau-mauan aja nikah dipaksa perjodohan begitu?” Seru Brandon bertanya nyinyir dengan menggebu-gebu. “Ngak ada urusan sama loe, mau gua dipaksa atau ngak, mau gua cinta apa ngak sama Adam.” Lengan Ciara dicekal oleh Brandon ketika melangkah meninggalkannya. “Cia, loe tahu kan perasaan gua ke loe gimana. Gua bakalan perjuangin loe kalau memang loe dijodohin sama Adam. Gua juga bisa dan sanggup nikahin loe sekarang juga.” Sikap keras kepala Adam nyatanya sama dengan watak Brandon. Kalau sifat keras kepala Adam pasti dapat dimaklumi oleh Ciara karena rasa sayangnya pada Adam, sedangkan sifat Brandon justru membuat Ciara semakin tidak nyaman apalagi kalau hal ini diketahui oleh Adam. “Lepasin tangan gua.” “Nanti pulang gua anterin.” “Gua dijemput sama Adam. Lepasin ih!” “Ngak, loe mesti jelasin ke gua soal hubungan kalian berdua dulu. Gua yakin loe dipaksa kan sama Adam. Sejak gua lihat dia pertama kali di sekolah, orangnya itu kelihatan posesif banget. Cowok kayak gitu bahaya, Cia.” Untungnya Maria dan Lusi sampai lalu melepaskan kaitan tangan Adam yang mencengkram lengan Ciara, saking kencangnya sampai menimbulkan bekas kemarehan di sana. “Bubar, bubar. Ujian udah mulai ngak lihat dosen dah jalan kemari apa! Ganggu waktu Ciara belajar aja..” Ucap Lusi ketus ketika Maria sudah menarik Ciara masuk ke dalam kelas sambil melirik Brandon. Brandon menatap sinis pada Lusi juga Maria namun tidak berani meluapkan kekesalannya karena memang dosen kelas Ciara sudah datang. Dengan menahan geram Brandon kembali ke ruang kelasnya. Ciara sendiri terlihat menghembuskan nafas lega dengan kehadiran Maria dan Lusi yang selalu siap membelanya dari Brandon sejak dulu. Setelah masuk kelas dan menempati tempat duduk mereka, Ciara tersenyum pada dua teman dekatnya ini. “Makasih yah, Lus, Mar. Untung loe datang tepat waktu.” “Sama-sama, Cia. Andai aja Brandon ngejarnya gua.” Ucap Maria sedikir iri dan cemburu karena ia menyukai Brandon. “Gua doain yah, Mar biar gua juga ngak diganggu sama dia lagi.” “Cuma niat dia kuat banget ke loe, Cia. Tahu loe udah tunangan aja dia masih gencar, dari jaman SMA kan?” Cecar Maria seolah tahu harapannya tidak akan tercapai. “Yah kali aja dia lihat usaha loe nanti hatinya belok.” “Amin. Udah fokus sama test dulu deh.” Ciara pikir Brandon tidak akan mengganggunya lagi. Ternyata pikirannya salah. Di sela jam istirahat Brandon mencari keberadaan Ciara di kantin kampus dan duduk menibrung meskipun Lusi dan Maria menemani seolah menganggap dua orang itu tidak ada. “Cia, ayo cerita ke gua soal hubungan loe sama Adam Damian. Loe dipaksa kan.” Mata Ciara memutar jengah/ “Loe maunya gua bilang begitu kan, nyatanya memang kita sudah dijodohin dari kecil dan gua yang milih Adam lebih dulu.” “Kenapa loe masih belain dia sih, Cia. Adam itu psikopat. Loe ngak liat mata dia kalau lagi ngeliatin orang, serem banget.” Brandon masih ingat betul bagaimana Adam berhasil mengintimidasi dirinya hanya dengan tatapan saja bahkan berhasil mengalahkannya tanpa susah payah. “Lagian loe bakal dalam bahaya kalau jadi istrinya Adam, kasus dia tuh banyak, bisa-bisa nyawa loe taruhannya.” Seru Brandon meyakinkan Ciara. Lusi yang mendengar ucapan Brandom justru terpancing emosinya sedangkan Ciara malas menanggapi dan cepat-cepat menghabiskan makan siangnya. “Yang psikopat kayaknya loe deh. Udah tahu Cia punya tunangan masih aja maksain Cia. Di kampus ini banyak cewek lain, satu gugur ribuan masih jomblo. Udah deh jangan ganggu Ciara lagi kenapa.” Lusi memang gadis yang paling frontal dalam berbicara, mengucap apa adanya meskipun terkesan menusuk. Hanya saja Brandon masih bersih keras dengan pendiriannya. Ia berdiri dengan amarah di wajahnya. “Lihat saja nanti. Loe pasti bakalan nyesel sama keputusan loe, Cia.” Lusi menggebrak meja saking emosinya. “Ngancem loe? Jadi intinya mesti sama loe kan baru Cia ngak nyesel, mau sekalian gua bikin malu biar loe ngerti Cia itu ngak suka sama loe!” “Udah stop, Lus. Jangan ribut, malu dilihatin. Kita masuk kelas saja yuk.” Ciara menenangkan Lusi karena meja mereka sudah jadi tontonan. “Cia, tunggu loe masih berhutang penjelasan sama gua.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD