Bab 7. Belajar Ciuman

1542 Words
Adam Pov Sesampainya di rumah, aku bergegas menarik Ciara masuk ke dalam kamarku sebelum Mommy atau Nel merebut Ciara-ku. “Ehm, aku mau bebersih dulu boleh?” Tanya Ciara dengan rona kemerahan di pipinya malu-malu membuatku gemas. “Sini cium dulu yang sudah jadi istriku.” Tanpa menunggu aku mengecup bibirnya yang masih berbalut sisa lipstik yang menggodaku sedari tadi. “Adam!” Protes Ciara dengan wajahnya yang sudah semerah tomat. “Hem, aku bawain koper kamu ke walk in closet.” Kemudian aku meninggalkan Ciara di sana dan kembali ke kamar agar Ciara nyaman di sana. Menghirup dalam dan menghembuskan panjang nafasku sebagai tanda lega yang ku rasakan sekarang. Tidak ada pikiran macam-macam tentang malam pertama. Bahkan rasanya aku masih takut kalau harus menjalaninya malam ini. Hey! I’m only 19 years old. Rupanya apa yang diperingatkan daddy tentang kehidupan kami memang nyata kebenarannya. Ponselku bergetar karena bunyi notifikasi chat yang masuk. Nomor tidak dikenal, awalnya aku enggan untuk membacanya namun isi notifikasi di layar membuat keningku mengernyit dan membukanya. Bola mataku membelalak membaca isi chat tersebut. Menerka-nerka apa mungkin salah kirim. Segera aku menghubungi nomor tersebut namun berkali-kali di tolak lalu nomor itu tidak aktif. Jantungku berdebar tak karuan. “Argh! Apa ini!” Aku berteriak berusaha menekan suaraku sepelan mungkin, ternyata Ciara sudah ada di belakangku entah sejak kapan. “A-ada apa, Dam?” Aku berbalik dan menatap wajah khawatir Ciara. Buru-buru aku merubah raut wajahku agar tidak membuat Ciara curiga. Untuk sementara aku harus menyembunyikannya dari Ciara. “Ngakpapa. Aku lagi kesel sendiri soalnya ehm, soalnya…” “Soalnya kenapa, Dam? Ada apa, kok aku jadi khawatir.” Aku sedang memikirkan alasan yang tepat, tidak mungkin memberitahu pesan tersebut meskipun belum tahu kebenarannya. “Ehm aku kesel, soalnya meskipun kamu sudah jadi istriku, kita belum boleh melakukan malam pertama.” Haish, wajahku pasti merah menahan malu. Mau bagaimana lagi, lebih baik berbohong kecil daripada nanti Ciara dibawa dariku lagi dan kami ngak boleh bertemu. Benar saja, Ciara mencubit pinggangku rasanya perih. “Ish, sakit, Cia. Kira-kira kalau nyubit pedes banget.” “Habis kamu mikirnya sampai ke situ sih. Aku pulang ke rumahku saja deh.” “Eh, jangan dong. Masa malam pertama aku ditinggal istri. Maaf yah, makanya aku kesel sendiri pikiran aku kenapa jadi ke sana gitu loh. Jangan pulang yah, aku pingin ngerasain tidur melukin kamu.” Ciara menatapku sambil cemberut. “Oke, janji yah jangan kebablasan kayak waktu itu.” “Iyah, janji. Megang doang dikit ngakpapa kali, Cia.” “Adam!” Aku melipir menjauh sebelum Ciara menyubit pinggangku lagi, masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Malam harinya kami menikmati makan malam bersama dengan keluargaku. Ciara sudah terbiasa makan di sini dari kecil hanya saja hari ini berbeda karena pertama kalinya ia makan bersama kami sebagai istriku. “Kak Cia tidur di kamar aku kan?” Tanya Nel dengan polosnya membuat mataku membulat ingin rasanya menelan adikku ini dan melepehkannya masuk ke dalam kamar sekarang juga. “Ciara itu sudah jadi istrinya kakak kamu, Nel. Sudah boleh sekamar asal bisa jaga batasan.” Seru Mommy menjawab Nel sekaligus memberi ultimatum kepadaku karena matanya menatapku tegas saat mengatakan soal batasan. Setelah makan malam, Ciara malah menemani Nel belajar di dalam kamarnya. Jadilah aku kesal bercampur uring-uringan. Tiba-tiba aku teringat dengan pesan ancaman yang kuterima tadi siang. Tanpa pikir panjang aku memanggil daddy dan mengajaknya bicara sambil menunggu Ciara selesai. Ketika Adam masuk ke dalam kamar ternyata Ciara sudah berada di dalam kamarnya tertidur duduk di sofa. Pembicaraanku dengan daddy berakhir cukup lama dan serius karena aku melihat bagaimana cara daddy mencari tahu apa yang perlu diselidiki dan menghubungi orang-orang kepercayaannya. Sayangnya nomor ponsel yang diselidiki sudah tidak dapat dilacak karena sudah dinon aktifkan. Perlahan aku mendekat menatap wajah Ciara saat tidur. “Bahkan tidur saja kamu sudah seperti malaikat, Sayang.” Aku mencoba untuk memindahkan Ciara agar ia tidak terbangun. “Akh!” Ternyata aksiku malah mengagetkan Ciara membuatku tertawa kecil. “Kamu ngagetin, Dam. Turunin.” “Tanggung ah, kepingin ngerasain gendong kamu kayak gini kayak di film-film.” Meskipun usiaku baru 19 tahun namun postur tubuhku cukup kuat menggendong Ciara yang bertubuh mungil. Bahkan tidak ada yang percaya kalau usiaku lebih kecil dari Ciara, biasanya orang-orang mengatakan kalau aku adalah kakak Ciara setiap kita sedang pergi bersama. “Kenapa tidur di sofa, hem?” “Aku nungguin kamu, trus ketiduran.” “Maaf yah kamu jadi nungguin. Tidur yuk.” Ciara mengangguk kemudian membalikkan tubuhnya membelakangiku, membuatku menautakan kedua alisku. “Kok aku di kasih punggung.” Ciara menoleh ke belakang menampilkan wajah cemberutnya. “Ngantuk mau tidur.” Lalu menoleh kedepan lagi. “Yah ngadep sini dong, Cia sayang.” Ciara menggeleng. “Kenapa? Kamu takut sama aku?” Lalu kepala Ciara mengangguk kecil meskipun aku tidak melihatnya. “Sini dulu balik badan, aku ngak bisa lihat muka kamu. Kita ngomong dulu, aku janji ngak macem-macem.” Ciara membalikkan tubuhnya perlahan, aku meletakkan lenganku sebagai alas kepala Ciara, lalu menautkan jari-jari kami berdua. Tangannya terasa dingin dan berkeringat, ku kecup tautan tangannya mengalirkan rasa hangat untuk menenangkannya. “Kok tegang gini sih? Kemarin itu aku benar-benar nakutin kamu yah? Kamu trauma?” “Aku takut, Dam. Ngak pernah kayak gitu kan kita. Kamu cium aku di bibir baru kemarin itu terus langsung nyosor ke yang lain-lain. Kaget lah.” Ternyata separah itu efeknya pada Ciara dengan apa yang kulakukan padanya di dalam kamar ini sebelum kami menikah. “Maafin aku, Sayang. Janji ngak gitu lagi. Now give me your good night kiss.” “Cuma good night kiss aja yah ngak lebih.” Cia memberikan ultimatum padaku. “Iyah, janji.” Ucapku sambil menahan senyuman, mana mungkin tidak berlanjut. Ciuman ini pengalaman yang baru kurasakan mana mungkin Senyuman Ciara adalah tanda bahwa dia setuju, langsung ke serang bibir itu. Saat ciara menarik kepalanya, tanganku menahan tengkuknya lebih dulu. Memang aku janji tidak akan berbuat lebih tapi bukan berarti hanya meminta kecupan sesaat juga. Detik berikutnya aku melumat paksa bibir Ciara, menggigit bibir bawahnya agar memberi akses lidahku masuk dan bermain-main mencari pasangan tautannya di dalam sana. Desahan kecil Ciara terdengar di telingaku membuat sesuatu dalam tubuhku bergejolak kembali. Hanya permainan ciuman saja bisa berefek sebesar ini. Nafas kami berdua memburu menghentikan ciuman untuk meraup oksigen. “Adam! Udah!” “Dikit lagi, masih pingin.” Kali ini Ciara tidak lagi protes saat bibir kami menempel kembali, mencecap lembut dan kenyalnya bibir Ciara. Membuat kami tidak sadar kalau sekarang posisiku sudah berada di atas tubuhnya, merasakan kehangatan bibirku membasahi bibir Ciara, bahkan lidahku sudah bergerak nakal lagi menari-nari di dalam sana. Gadisku sudah pintar, ia membalas tautan lidahku sekarang mengikuti apa yang kuperbuat. Maafkan aku, Cia. Aku baru tahu kalau rasa berciuman bisa semanis ini, kalau bibirmu bisa membuatku kecanduan bahkan aku tidak rela untuk mengakhirinya sekarang namun kepalaku seolah dipukul dengan ingatan Ciara ketakutan. Sengalan nafas memburu kami masih menghiasi suara di dalam kamar, aku tersenyum sambil merapikan rambut-tambut kecil dari wajah Cia. “Kamu jago banget sih ciumannya? Udah pernah yah?” Tanya Cia dengan wajahnya yang masih memerah. “Ngak, baru sama kamu aja. Beneran.” “Tapi bisa kayak gitu, sampai aku kewalahan.” Aku tertawa mendengar ucapan polos Cia. “Hei, aku laki-laki, naluriku jalan sendiri menuntun ciuman kita. Lagian ngak perlu belajar ciuman dengan ciuman sama orang lain, dari film-film juga bisa kok. Rasa penasaran juga menuntun aku untuk mencoba lebih lagi sama bibir istriku ini.” Ucapanku langsung membuat wajah Ciara merona kembali. Kenapa mesti selucu itu sih dia. “Nonton film aja bisa langsung jago banget? Kayak udah sering gitu.” “Mau belajar? Tapi jangan deh, nanti kamu keterusan mau belajar yang lain juga.” Ucapku terkekeh memikirkan kelanjutan dari proses penyatuan suami istri di film-film biru yang pernah ku tonton diam-diam. *** Aku masih memikirkan pesan ancaman yang kuterima dua hari lalu. Siapa yang berani mengancam ku, sambil memikirkan apakah aku pernah melakukan kesalahan pada orang lain. Dari segi usia masih terolong muda bahkan bisnis saja baru aku rintis itupun masih dibimbing oleh daddy dan Papi Leo, bagaimana mungkin diri aku sudah memiliki musuh. Pesan ancaman ini hanya daddy dan aku yang tahu karena aku tidak ingin membuat khawatir keluargaku yang lain. Awalnya aku berniat menikah dengan Ciara karena takut pacarku yang cantik di rebut orang lain. Ciara juga bersikap sama kepadaku, kami sering bertengkar karena rasa cemburu di saat kami berjauhan. Pesan ancaman itu menyiratkan kalau Ciara akan berada dalam bahaya, tapi aku tidak mungkin menjauhi wanita yang kucintai. Daddy juga mengatakan kalau pesan itu hanya ancaman semata karena Daddy juga merasa sudah tidak mempunyai rival yang perlu dikhawatirkan lagi. Daddy juga mengatakan karena berita pertunanganku sudah tersebar sudah pasti Ciara akan menjadi titik kelemahanku. Dan ternyata ucapan daddy sudah mulai terbukti. “Siapapun yang berada di sisimu akan merasakan hidup menderita dan aku akan memastikan kamu menyaksikannya secara langsung.” Kalimat itu masih terus terngiang-ngiang di kepalaku memikirkan pesan ancaman tersebut. Bagaimana kalau ternyata ancaman itu benar terjadi, aku tidak akan sanggup memikirkan sesuatu yang buruk terjadi pada Ciara. Tidak, tidak. Aku harus mulai memperketat keamanan Ciara tidak boleh ada celah yang dapat membahayakan istriku. Semoga saja pesan ancaman itu hanya pesan nyasar yang tidak jelas ditujukan kepada siapa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD