Ucapan Adam tentang ajakan menikah membuat kepalaku rasanya sesak dan ingin pecah. Begitu banyak pemikiran bertubi-tubi dalam otakku. Bagaimna kuliahku, masa remajaku? Tapi kalau aku menolak Adam aku juga tidak ingin terus-terusan risau dan gelisah memikirkan apa yang dilakukannya di luar sana.
Sepanjang jalan ke rumah orang tua Adam, aku otakku terus melakukan percakapan tunggal . Aku merindukan Adam, sangat merindukannya bahkan hampir gila seperti apa yang dirasakan pacar menyebalkanku itu. Tapi kalau jalan keluarnya harus menikah, bukankah terlalu egois pemikiran Adam.
Dirinya memaksaku menikah dengannya agar hubungan kami lebih tenang. Aku baru 20 tahun meskipun usiaku sudah cukup untuk secara hukum untuk menikah. Tapi sekarang bukan lagi jamannya nikah muda. Banyak hal yang masih ingin kulakukan sebagai gadis yang berusia produktif sepertiku ini.
Apa Adam tidak berpikir kalau dia juga masih harus fokus dengan kuliah dan bisnis yang sedang ia pelajari untuk menggantikan posisis Daddy Brahm. Jujur aku sedikit kecewa dengan keputusan Adam yang tergesa-gesa ini. Akhirnya aku mengatakan kalau aku tidak ingin menikah sekarang atau lebih baik putus. Tapi saat aku berlari keluar mobil, malahan aku menangis merutuki kebodohanku sendiri.
“Argh! Adam! Turunin aku!”
Laki-laki menyebalkan itu membopong tubuhku seperti karung beras dan berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan santai.
Di sinilah aku berada sekarang, di dalam kamar Adam berduaan dengannya. Mommy Karina sedang ke kantor menjemput Daddy Brahm bersama Nicole.
Aku meronta mengamuk sambil menangis saat Adam menjatuhkanku ke sofa di dalam kamarnya lalu mengunci pintu kamar agar aku tidak kabur.
Katakanlah aku gila dan kekanak-kanakkan, tapi Adam-ku jauh lebih gila melebihi diriku. Rasa cemburu yang dirasakan kami berdua memang membuat akal sehat, pikiran dan jantung kami berdua tidak sehat. Aku sempat mengatakan pada Adam untuk menyerah dengan hubungan jarak jauh kami ini. Tapi sejujurnya itu hanya di mulut saja, bahkan hatiku mencubit jantungku karena kesal dengan kelakuanku sendiri.
Lagi-lagi aku dikalahkan kembali oleh Adam. Saat aku hendak melarikan diri, ia menarik pingganggu dan menjatuhkanku lagi di kasurnya. Kedua tanganku ditarik keatas dan ditahan dengan tangannya kemudian bibirnya memaksa mencium bibirku meskipun aku masih menangis, ampai akhirnya aku menyerah.
Terbuai menikmati aktivitas baru kami berdua yang baru saja dilakukan di rumahku tadi, kini aku berada di atas ranjang Adam. Suara cecapan dan hisapan disertai desahan kecilku memenuhi rongga ruang kamarnya. Bola mataku melebar takkala semakin merasakan ciuman panas dan menggelora Adam semakin dalam dan menuntut. Bahkan tangan Adam mulai menyusuri bagian tubuhku.
“Adam, stop. Jangan begini.”
“Kenapa?” Ia masih bertanya seperti tidak merasa bersalah dengan perbuatan yang sedang kami lakukan.
“Ini ngak baik. Kita keluar dari sini, tunggu mereka di ruang tamu.”
“Sepuluh menit lagi, aku masih kangen banget sama kamu.”
Adam membungkam mulutku kembali, nafasnya semakin berat dan tersengal hebat. Aku merasa yang dihadapanku bukanlah Adam yang ku kenal. Tatapan matanya mengabut seperti sedang kehilangan akal sehatnya.
Tidak. Ini harus dihentikan, aku mulai memberontak mendorong bahu Adam sekuat tenaga. Air mataku mengalir disertai isakan tangis kecil. Aku benar-benar merasa takut.
Untungnya Adam berhenti dan menatapku, pandangan matanya sudah kembali semula lagi, ia memeluk.
“Maafin aku, Sayang. Aku khilaf. Maafin aku.”
Adam mengecup keningku berkali-kali.
“Aku mau ke luar aja, Dam. Jangan di sini, belum boleh.”
“Iyah. Aku tahu. Maafin aku yah.”
Aku mengangguk menjawab. Adam menarik tubuhku dan duduk dipangkuan Adam, sebagai perempuan berusia 20 tahun, aku bisa merasakan milik Adam yang menyundul di bawah sana mengenai paha kakiku.
Adam merapikan rambutku yang berantakan, mengusap wajah berkeringatku. “Sisir dulu rambutnya, terus kita keluar kamar.”
Untung saja kami menyudahi kegiatan ciuman di kamar dan sudah ke ruang tamu. 10 menit kemudian mommy dan daddy Adam juga Nicole sudah tiba di rumah. Aku mencubit pinggang Adam seperti mengatakan, tuh kana apa ku bilang.
“Hallo Cia, Sayang. Anak Mommy udah di sini. Maaf yah tadi Mommy jemput daddy dulu, kalau ngak gitu bisa ditarik sama meeting lain sampai malam.”
Aku menyapa mommy dan daddy Adam juga memeluk Nicole yang sebentar lagi akan kuliah.
“Sebaiknya yang mau kamu rundingkan ini penting, Dam. Daddy sampai menunda meeting demi permintaan mommy kamu.”
Wajah Adam mendelik kesal mendengar ucapan bucin daddy-nya. “Iyah, Dad. Habis makan malam aku mau kita ngobrol ber-enam.
“Jadi gua sama Naira ngak boleh nimbrung nih.” Protes Nicole.
“Loe sama Naira masih kecil, ngak boleh dengar.” Ucap Adam mengusili Nel membuat adiknya mendecih kesal.
“Halah palingan minta dipindahin kuliah ke sini, loe kan bucin banget sama Kak Cia.”
“Nel!” Tegur Karina.
Sejam kemudian, keluargaku sudah datang. Mommy Karin mengajak seluruh keluargaku makan malam bersama. Para orang tua bercanda bernostalgia tentang masa lalu mereka. Daddy ku memang sudah lama menjalin kerja sama bisnis dengan Daddy Brahm. Mereka semua tidak tahu kalau saat ini senyumanku terasa hambar menutupi rasa gugup dengan apa yang sebentar lagi kami lakukan.
“Jangan gugup gitu, muka kamu gemesin.” Bisik Adam ditelingaku.
“Yah ampun, Dam. Lagi makan aja kamu masih bucinan gitu.” Goda Mommy Karin membuat wajahku yang merona dan menatap sengit pada Adam.
Bisa-bisanya dia bersikap biasa saja padahal apa yang akan kami bicarakan sangatlah penting.
Dan disinilah kamu berada, di ruang kerja Daddy Brahm. Kami duduk berpasangan pada sofa yang membentuk persegi.
“Oke, apa yang mau kamu sampaikan, Dam sampai Mommy kamu ke kantor maksain Daddy pulang cepat.” Ucap Daddy Brahm langsung pada intinya.
Adam mengeratkan tautan tangannya padaku, ia menoleh menatapku membuatku memberikan senyuman tipis.
“Aku mau menikah sama Ciara.”
“Adam!” Daddy Brahm nampak tidak suka dengan penyataan Adam.
“Ada alasan aku mengatakan rencana ini, Dad. Jangan marah dulu. Mommy,Mommy Vina, Daddy Charles, alasan Adam mengumpulkan kalian di sini karena aku ingin mengikat hubungan kami menjadi suami istri. Setahun ini kami sering ribut karena rasa cemburu, bukan karena tidak percaya satu sama lain tapi kami tidak percaya dengan pengganggu di sekitaran kami. Berhubungan jarak jauh membuat kami selalu khawatir, berakhir ribut dan akhirnya jadi tidak fokus dengan kuliah.”
Kulihat dua daddy duduk mencondongkan tubuh mereka ke depan mendengar jelas dengan wajah tegas mereka menatap Adam. Sungguh situasi mengerikan bagiku, bahkan aku takut daddy akan marah dan malah memaksaku menjauhi Adam. Haish, kenapa baru sekarang muncul pikiran seperti ini.
“Hanya menikah saja. Aku dan Ciara tetap fokus sama kuliah dulu, kita tetap tinggal di rumah orang tua masing-masing. Tujuannya agar aku dan Ciara lebih tenang ketika kami berjauhan.”
“Artinya kamu mau pernikahan ini diumumkan secepatnya, iya kan. Lalu bagaimana sama kamu, Cia? Kamu ngak keberatan menikah seperti ini?” Ucap Mommy Karin.
Aku menatap wajah kedua orang tuaku dan menoleh menatap mommy Karin. “Aku juga ngak tenang Adam di sana, apalagi pergaulan di sana lebih berani dari orang Indonesia. Setidaknya dengan menikah, tidak akan ada yang berani mendekatiku atau Adam lagi.”
“Kamu yakin, Cia? Pernikahan itu bukan seperti berpacaran yang kalau kalian tidak menginginkannya maka kalian bisa dengan mudah putus.” Daddy meyakinkanku lagi.
“Justru supaya tidak mudah pisah kami mau menikah, Dad.”
Para orang tua terlihat berpikir keras sambil menghela nafas mereka.
“Pikiran kalian ada benarnya. Daddy setuju saja asalkan ada peraturan dan etika yang masih harus kalian jaga sampai setidaknya kalian selesai kuliah. Dan kamu, Dam. Fokus kamu bukan hanya kuliah tapi mulai kerja keras bangun bisnis yang Daddy percayakan di sana. Sebagai laki-laki menikah itu merupakan tanggung jawab besar yang harus kamu pikul untuk menghidupi keluarga kamu kelak.”
“Aku tahu, Dad. Daddy bisa cek sendiri kinerja Adam di kantor New York sekarang ini kan.”
Daddy Brahm menatap pada orang tuaku. “Bagaimana, Charles? Vina? Kalau Kami melamar Ciara sekarang dan mengumumkan pernikahan mereka secepatnya. Apa kalian keberatan?”
“Mereka berdua memang dekat dari kecil, hanya saja aku ngak menyangka putri sulungku secepat ini menikah. Bagaimana pendapat kamu, Sayang.” Daddy menunjukkan keraguannya dan meminta pendapat mommy.
“Aku rasa pikiran Adam ada baiknya juga. Selama prioritas mereka benar, aku ngak masalah asalkan itu membuat Ciara bahagia. Meskipun nanti sudah menikah harus ingat batasan kalian, karena umur kalian masih belum matang secara mental.” Mommy menyiratkan persetujuannya dalam kata-kata yang terucap.
“Satu hal lagi, Cia.” Tiba-tiba Daddy Brahm berucap. “Adam nantinya akan terjun dalam bisnis besar, apa kamu siap menghadapi masalah yang akan hadir. Dengan menjadi istri Adam, pewaris Damian Corp dan perusahaan lainnya, maka kamu akan menjadi kelemahan Adam sama seperti Karina yang menjadi kelemahan Daddy. Kehidupan kamu kedepannya akan mulai terbatas berbeda dari teman-teman kamu yang lainnya. Apa kamu mampu hidup seperti itu kelak?”
Aku menoleh menatap Adam. “Aku siap. Aku yakin Adam bisa melindungi Cia.”
Daddy Brahm menatap pada Daddy Charles. “Kita memang sudah pernah membahas masalah ini dan ternyata jadi kenyataan. Baiklah kalau gitu. Secara resmi aku dan Karina mewakili Adam putra kami melamar Ciara sebagai bagian dari keluarga Damian. Apakah lamaran kami diterima?”
“Tentu saja. Aku serahkan putri sulungku menjadi anakmu dan mengambil Adam menjadi putraku.”
Keesokkan harinya, Daddy Brahm mengumumkan pertunangan kami di media. Banyak komentar baik yang memberikan selamat atas pertunangan kami, banyak juga yang mencibir mengingat usia kami masih tergolong muda.
Media hanya menyebarkan berita pertunangan kami saja, sebenarnya aku dan Adam akan menikah di gereja tempat mommy dan daddy menikah dulu. Tanpa gaun heboh hanya dres putih selutut dan Adam memakai kemeja lengan panjang putih tanpa memakai jas. Dua hari setelah pemberitaan itu kami mengikat janji sekaligus mensahkan hubungan kami secara hukum.
Dan hari ini aku dan Adam resmi menjadi suami istri. Setelah kembali dari kantor catatan sipil. Dua keluarga inti dengan keluarga terdekat menikmati makan siang bersama. Daddy Brahm memesan ruang pribadi untuk keluarga dekat. Keluarga Mommy Vina, dan juga keluarga dari Adam hadir semua bersama anak-anak mereka.
Aku dan Adam pulang ke rumah Adam. Mommy mengijinkanku menginap di rumah Adam selama dua hari lalu aku pulang ke rumah. Adam diijinkan menginap di rumahku juga. Intinya kami belum boleh tinggal berduaan saja.
Saat berada dalam kamar Adam, aku memutuskan untuk mandi lebih dulu. Saat keluar dari kamar mandi aku melihat keanehan di wajah Adam. Rahangnya mengeras seperti menahan emosi bahkan tangannya mengepal kencang sekali. Bukankah kami baru saja menikah, tapi kenapa sikap Adam jadi semarah ini. Bahkan Adam tidak menyadari kalau aku sudah keluar dari kamar mandi.
“Argh! Apa ini!” Umpatan Adam membuatku berjengkit.
“A-ada apa, Dam?”