Aku memang sengaja tidak memberitahu Ciara tentang kepulanganku kali ini. Berniat untuk memberi kejutan kepadanya. Baik orang tua ku dan orang tua Ciara sudah mengetahui kalau aku akan pulang ke Jakarta.
Tiba di bandara aku segera meminta supir untuk mengantarku ke rumah Ciara kemudian menyuruh supir untuk membawa barang-barangku ke rumah dulu. Hanya Mbak Siti yang menyambutku karena memang semua anggota keluarga masih beraktifitas.
“Diminum dulu, Den. Sambil nungguin Non Ciara.”
“Makasih, Mbak Siti.”
Mommy menghubungiku terdengar suara kecewanya karena tidak mendapati kehadiranku di rumah.
“Kamu gimana sih, Dam. Kok yang balik cuma koper doang. Orangnya nyangkut.”
Aku terkekeh mendengar suara merajuk mommy ku. “Sori, Mom. Aku kangen banget sama Cia. Pingin kasih kejutan dulu, trus rencananya aku bakalan ajak Cia makan malam ke rumah.”
“Good idea, kalau gitu Mommy masakin makanan kesukaan kamu sama Cia yah.”
“Thanks, Mom. You are the best.”
Jam di tanganku menunjuk pukul 3 siang, seharusnya Ciara sudah sampai di rumah, tapi ngak mungkin aku menghubunginya. Aku memberanikan diri menghubungi Daddy Charles.
“Halo, Dad.”
“Yah, Dam. Kamu sudah di Jakarta?”
“Sudah, Dad. Lagi di rumah Daddy nih nungguin Ciara pulang, sekalian mau ijin ajak Cia ke rumah buat makan malam bareng.”
“Anak Daddy udah diculik aja sama kamu, Dam.” Goda Charles sambil terkekeh. “Oh iyah, tadi Cia bilang dia pulang naik taksi. Belum sampai yah? Kuliahnya hari ini selesai jam 2.”
Inilah yang ku suka dari calon mertuaku, dia mengerti jalan pikiranku sebelum aku bertanya Daddy Charles sudah memberitahu lebih dulu.
“Belum, Dad. Yah sudah Adam tungguin.”
“Oke, jam 10 Cia sudah harus diantar pulang yah, Dam.”
“Siap, Dad. Thanks.”
Tujuanku semakin sempurna setelah mendapat persetujuan dari papa Ciara untuk membawanya ke rumahku. Bayangan memeluk Ciara dan menghabiskan hari ini melepas kerinduanku berpisah darinya selama setahun ini membuatku tidak sabar untuk menculik Ciara dari sini secepatnya.
Setelah menunggu hampir sejam, ku dengar suara klakson mobil di depan. Cepat-cepat aku keluar namun tidak sampai menunjukkan wajahku. Aku berdiri di jendela dalam rumah namun keningku mengerut ketika melihat mobil yang masuk bukan taxi, lagipula kalau Ciara naik taksi harusnya berhenti sampai di depan gerbang saja.
Mobil siapa yang datang, karena aku tidak mengenali mobil yang masuk ini. Bukan koleksi mobil milik Daddy Charles. Kulihat dari jendela, Ciara-ku turun dari kursi depan penumpang, segera ku keluar untuk menyambut Ciara sambil tersenyum.
Namun senyuman ku berubah menjadi rasa kecewa melihat seseorang keluar dari mobil tersebut kemudian menopang dang memeluk pacarku. Bahkan wajah mereka begitu dekat membuat emosiku naik kembali.
“Cia!” Tanpa sadar aku setengah berteriak memanggil namanya.
Pikiran buruk ku tentang kecurigaanku pada Ciara timbul lagi. Aku berjalan keluar menatap keduanya, raut wajahku sungguh-sungguh berbanding terbalik ketika aku baru sampai di sini.
Wajah Ciara memucat berdiri membernarkan posisinya dengan mendorong pria yang mengantarnya tadi.
“A-Adam.”
“Hallo, Kids. Long time no see. Ternyata loe masih deketin Ciara juga.” Sapa Brandon memberikan seringainya tidak merasa bersalah.
Adam tidak menjawab Brandon kedua tangannya mengepal ingin memukul wajah sombong menyebalkan yang masih saja berusaha mendekati kekasihnya..
Ciara yang mengetahui wajah emosi Adam menoleh pada Brandon. “Tolong tinggalin rumah gua, Don. Thanks sudah nganterin.”
“Kenapa aku harus diusir sedangkan anak ingusan ini di sini? Dia siapanya kamu, takut amat.”
Emosiku semakin menjadi, kakiku baru maju selangkah Ciara membentak Brandon.
“Adam pacar gua, tolong jangan cari ribut di rumah gua. Jadi gua mohon tinggalin rumah ini.”
Ada rasa senang disela rasa marahku mendengar pengakuan Ciara tentang siapa diriku di hadapan Brandon. Setidaknya Ciara-ku tidak sedang menutupi hubungan kami.
Satpam yang menjaga rumah Ciara mendengar suara Ciara cukup kencang hingga menghampiri dan meminta Brandon untuk pergi sesuai ucapan Ciara.
Wajah Brandon kelihatan marah setelah mendengar Ciara mengakuiku sebagai pacarnya kemudian ia masuk ke dalam mobil dan keluar dari rumah Ciara dengan emosi.
Setelah Brandon menghilang, Ciara menatap diriku dengan perasaan takut.
“Masuk.” Aku berseru sambil berbalik masuk ke dalam rumah karena tidak ingin orang lain melihatku marah.
Untungnya Ciara mengikutiku masuk, aku sengaja berjalan menuju ruang keluarga dimana tidak ada orang yang akan mendengar percakapan mereka.
Ketika kami berada di ruangan itu, aku merasakan tubuh Ciara menempel kedua tangannya memeluk pinggangku.
“Adam, jangan marah. Aku bisa jelasin soal tadi, kamu jangan salah paham dulu sama aku. Kita baru ketemuan setelah setahun masa udah berantem lagi. Please jangan marah.”
Aku mendengus meskipun kesal melihat kejadian tadi, namun ucapan Ciara benar dan mengingatkanku tentang tujuan awal datang kemari. Aku melepaskan kedua tangan Ciara dan membalas memeluknya.
“Aku kangen banget sama kamu, Cia. Kangen setengah mati. Kamu ngak tahu seberapa gilanya aku menahan diri tiga hari ini nurutin kemauan kamu. Tadinya mau kasih kejutan ke kamu, tapi malah kamu yang ngasih kejutan.”
“Ngak gitu. Aku memang mau pulang naik taxi, tapi Brandon maksain alasannya dia mau ke daerah dekat sini juga.”
“Apa aku bisa percaya sama pacarku kalau yang aku lihat tadi berbeda situasinya?”
“Kalau aku bohongin kamu buat apa aku bilang ke Brandon kamu itu pacar aku, Dam. Kamu mesti percaya kalau apa yang dilihat kadang ngak selalu benar kenyataannya.”
Aku terkekeh mendengar pembelaan Ciara. “Sekarang kata-kata itu kamu pakai juga. Jadi percaya kan kalau cewek yang kamu lihat masuk ke kamar waktu itu pacarnya Chris.”
Ciara melepaskan pelukan kami sambil cemberut. “Jadi balas dendam nih.” Membuatku tertawa dan memeluknya lagi kali ini lebih erat dan memutar tubuh mungil Cia-ku.
“Adam!! Nanti aku jatuh.”
Aku tertawa lepas, Ciara ikut tertawa. Kemarahan dan kecemburuanku meluap sudah setelah mendengar suara tawa Ciara-ku.
Tawaku membuat gerakkanku tidak stabil sampai keseimbanganku goyah.
“Adam!!”
Dengan cepat aku berusaha menyeimbangkan gerakan kami dan berakhir jatuh di sofa dengan posisi Ciara di bawah dan aku menimpa tubuhnya. Nafas kami tersengal-sengal kelelahan, sisa tawa kami masih terus terdengar entah menertawakan apa. Hanya meluapkan rasa bahagia dan mengeluarkan rasa rindu kami berdua.
Aku mengecup kening Ciara lalu menatap bola matanya. Sesuatu dalam diriku bergejolak mengalirkan perintah ke otakku untuk melakukan sesuatu.
“Aku ingin merasakan milikku yang lain, boleh?”
“Apa?”
Aku mengusap bibir Ciara dengan lembut, nafasku rasanya masih belum mau normal. Tuntutan lain dalam darahku seolah membuat jantungku berdebar-debar.
Tiba-tiba Ciara mengangkat kepalanya dan mengecup cepat bibirku, mataku membelalak terkejut dan Ciara menutup wajah dengan kedua tangannya.
Kemudian aku membuka telapak tangan Ciara, mata kami bertemu kembali. Aku memberanikan diri mendekat dan menempelkan bibirku pada bibir Ciara, merasakan kembali benda kenyal yang sudah sah menjadi milikku karena aku percaya Ciara-ku menjaganya hanya untuk diberikan padaku. Sama-sama merasakan ciuman pertama kami, belajar secara naluri ilmu cecap-mencecap. Ciuman kaku kami lama-kelamaan mulai menjadi agresif.
Melepaskan tautan ciuman kami, Ciara membuka mata memandang padaku. “Ciuman pertamaku milikmu dan bibir ini milikku.”
Ciara tersenyum dengan wajah memerahnya. Bak candu, aku mengecup bibir merah muda Ciara kali ini memberanikan diri menggerakkan kepalaku menyusuri bibirnya atas dan bawah. Mencoba hal baru dengan memainkan lidahku keluar dan merasakan apa yang pernah ku tonton pada film-film delapan belas tahun ke atas tentang berciuman.
Rasa sesak karena melihat Ciara dengan Brandon kini berubah menjadi rasa sesak menahan gejolak lain yang kini timbul akibat dari ciuman kamu berdua yang semakin memanas. Darah dalam kepalaku rasanya menghangat mengalir di sekujur tubuhku dan membuat sesuatu yang biasanya terbangun di saat pagi hari kini mulai mengepak memaksa bangun di balik kain.
“Dam, stop..” Ciara mendorong kecil tubuhku untuk mengambil udara karena aku tidak melepaskan tautan bibir kami sedari tadi.
Aku tertawa kecil mengusap pipinya dengan jemari. “Muka kamu lucu banget merah gini.”
“Kamu mesti ngaca, Dam.” Jawab Ciara tidak mau kalah.
Tawaku makin menjadi kemudian mengecupi bibirnya berkali-kali seakan tidak puas karena dihentikan Ciara. Wajah malu-malu Ciara membuatku gemas membuat hasrat dalam tubuhku semakin membara. Tiba-tiba Ciara memelukku menyembunyikan wajahnya didadaku.
“Udahan ciumnya, nanti keterusan.” Suara Ciara masih terdengar serak bahkan aku masih dapat merasakan bahunya naik turun berusaha menetralkan nafasnya.
Aku beranjak sambil menarik tubuh Ciara duduk dan memeluknya kembali.
“Kamu tahu, malam ini juga aku akan mengatakan sama orang tua kita agar kita segera menikah.” Tiba-tiba saja otakku kembali pada peristiwa setengah jam lalu.
“Dam.”
“Kamu cinta sama aku kan, Cia?”
“Iyah.”
“Kalau gitu kita nikah dulu. Biar aku tenang di Amerika, kamu juga tenang di sini waktu kita berjauhan. Setidaknya aku tahu kamu milik secara hukum.”
“Kamu yakin mommy sama daddy kita bakalan ngasih?”
“Aku akan mengajak mereka makan malam bersama.”
Tidak menunggu lama, aku menghubungi orang tua kami untuk makan malam bersama malam ini di kediaman orang tuaku dan mereka menyambut baik keinginanku.
Ciara hanya diam melihat apa yang kulakukan, seperti ada yang di pikirkan dalam benaknya sambil menatapku.
“Kenapa? Kamu ngak suka kita nikah?” Tanyaku menatap dalam Ciara.
Gadisku menggelengkan kepalanya dan tersenyum. “Cuma takut aja, Dam.”
“Tenang saja, aku akan selalu di sisi kamu.”
Aku menunggu Ciara berganti pakaian sebentar kemudian kami berangkat ke rumahku.
Sejak dalam perjalanan aku merasakan tangan Ciara dalam genggamanku basah dan dingin. Jangankan dia, jantungku saja saat ini tengah berdegub memikirkan bagaimana caranya mengatakan pada orang tua Ciara tentang niatanku. Niatan gila pemuda berumur 19 tahun yang ingin menikahi putri mereka dan kami masih sama-sama kuliah.
Saat sampai di depan gerbang rumah, aku merasakan pacarku menangis.
“Maaf, Dam. Aku ngak bisa nikah sekarang. Kalau kamu maksa lebih baik kita putus saja.”
Pacarku yang keras kepala itu keluar dari mobil setengah berlari meninggalkanku.
“Cia!”