“Sepertinya ancamanku tidak berarti. Jangan menyesal!”
Lagi-lagi pesan ancaman ketiga diterima Adam. Nalarnya mulai menilai kalau pesan ini memang ditujukan kepada dirinya. Tidak mungkin pesan dari nomor sekali pakai ini selalu ditujukan kepada dirinya.
Malam hari itu, Adam tidak dapat tidur nyenyak memikirkan pesan tersebut sambil mencari tahu kira-kira siapa yang melakukan hal ini.
Pagi-pagi sekali Adam bangun dan berangkat ke rumah orang tuanya sebelum Ciara dan yang lainnya bangun. Ia hanya mengirim pesan di ponsel Ciara memberitahu kalau ia sedang ada urusan di rumah Brahm dan akan mengantar Ciara ke tempat kursus hari ini.
Sementara Brahm dan Karina cukup terkejut melihat kedatangan putra mereka pagi ini apalagi Adam sengaja mengajak daddy nya bicara di kantor setelah sarapan bersama.
“Adam yakin pesan ini memang untuk aku, Dad. Ngak mungkin sampai ngirim tiga kali.”
“Masih belum meyakinkan, bisa saja orang itu ngancam orang lain dan ngak sadar nomor tujuannya salah.”
Adam mendengus kasar, ia yakin sekali pesan ini benar-benar ditujukan pada dirinya.
“Aku yakin banget, Dad, karena setiap kali aku dan Ciara keluar berduaan di tempat umum, pesan ini pasti dikirim. Awalnya aku ngak curiga ke situ, tapi pesan ini datang waktu aku sama Cia baru balik dari mall. Pesan kedua juga sama pas aku berantem sama Brandon di parkiran kampus Cia.”
“Trus kamu curiga sama Brandon ini?”
“Yang paling gencar dekatin Cia sekarang ini Brandon, Dad. Dan sudah sampai taraf mengganggu dan maksa.”
Brahm nampak berpikir menelaah, menimbang opini putranya. “Kamu boleh mencurigai dan menyelidiki Brandon. Tapi jangan sampai melakukan kesalahan. Ingat kamu itu anak Brahm Damian, banyak orang yang ingin melihat kamu jatuh ataupun Daddy jatuh. Daddy akan suruh orang menyelidiki Brandon ini.”
“Oke thanks, Dad. You are the best.”
“Ngak ada yang gratis di dunia ini, Dam. Daddy melakukan ini dengan syarat kamu harus megang perusahaan Daddy di New York dan kamu harus lebih serius lagi. Jangan terlalu fokus dengan Ciara. Dia juga harus kamu beri kesempatan untuk berkembang menyambut cita-citanya. Bukan karena jadi istri kamu trus kamu bisa seenaknya ngatur Ciara apalagi mengekang dia dengan tidak melakukan apapun.”
Adam menyeringai seakan tengah meledek ucapan ayahnya. “Kayak Daddy ngak gitu aja ke Mommy.”
Brahm sudah tahu kalau bicara dengan putranya ini tidak akan pernah mulus dan lancar. “Situasi Mommy kamu saat sekarang beda, Dam. Apalagi dulu Mommy pernah mengalami kejadian buruk dan Daddy ngak mau hal itu terulang lagi. Mommy kamu juga mengerti dan ngak keberatan hidup seperti sekarang toh dia masih megang perusahaan bantu Daddy meskipun dari rumah.”
“Oke, Dad. Paham, ngak usah panjang lebar ngebela diri gitu.” Jawab Adam masih meledek.
Setelah selesai bicara dengan ayahnya Adam masih merasa belum tenang. Dalam perjalanan ia menyambungkan pesan itu dikirimkan pada Daniel. Senyuman di bibir Adam terukir ketika Daniel dengan cepat menghubunginya langsung. Ia segera menekan tombol Bluetooth di telinganya untuk menjawab panggilan tersebut.
“Menurut loe ancaman itu benaran ke loe?” Tanya Daniel tanpa berbasa-basi.
“Gua curiga, Niel. Tiap kali gua sama Cia jalan-jalan berdua atau terlihat berduaan di luar ngak lama pesan itu datang. Kejadian kayak gini gua perhatiin selalu sama urutannya. Yang pertama waktu berita pertunangan gua sama Cia diumumin di media, pesan itu masuk malam harinya. Yang kedua waktu gua habis nolongin Cia di parkiran kampus dari Brandon ngak lama dia ngirim pesan lagi ke gua dan terakhir pas kemarin gua nemenin Cia nyari peralatan kursus dia di mall, malemnya gua dikirimin lagi. Menurut loe logika gua salah ngak?”
Terdengar suara ketikan tuts keyboard di seberang sana menandakan Daniel sedang mengerjaan sesuatu.
“Orang ini mainnya halus banget. Nomornya selalu ngak aktif tiap kali dia ngirim pesan ke loe. Status terakhir memang masih sekitaran Jakarta.” Tutur Daniel yang ternyata tengah melacak nomor tersebut.
“Gua minta bokap buat nyelidikin Brandon, kecurigaan gua sementara masih sama dia. Moga aja bener.” Adam terdengar mendeguskan nafasnya dengan kasar. “Gua udah mau berangkat beberapa minggu lagi tapi kalau situasinya begini mana tenang ninggalin Cia sendiri di sini.”
Daniel tertawa mendengar gerutuan sahabatnya itu.
“Loe jangan ngetawain gua, Niel. Kepincut cewek trus LDR baru tahu rasa loe.”
“Kayaknya mulai ketularan loe nih. Bisa jadi gua LDR an juga.”
“Jangan bilang loe udah..”
“Ngak secepat itulah, target kali ini rada susah. Saingan kita sama, Dam.” Kemudian tawa Daniel terdengar seakan sedang menertawakan dirinya sendiri.
“Jadi loe beneran?”
“Awalnya gua kasihan aja sama dia, yah lihat aja nanti gimana. Yang penting sekarang gua bisa punya gebetan dulu lah.”
“Nyokap loe pasti senang banget tuh anaknya jatuh cinta.”
“Njrit, diem loe! Udah ah, gua mesti balik kerja bentar lagi mesti nemenin bokap meeting.”
Setelah menutup sambungan telepon dengan Daniel. Adam terkekeh sendiri memikirkan sahabatnya bisa menyukai teman-teman istrinya. Kalau Daniel masih belum jelas arah hubungan mereka, sedangkan Jason sudah kelihatan bucin nya sejak awal berkenalan. Benar-benar mirip dengan orang tua Jason yang adalah tante dari Adam sendiri.
Adam sampai ke kediaman mertuanya untuk menjemput Ciara. Saat sampai di sana, Ciara sudah selesai mandi dan sedang berada di depan kamarnya sedang menggambar beberapa ide desain baju pesta yang cocok dengan bahan-bahan yang sudah dibelinya.
Saking serius menggambar, Ciara sampai tidak tahu kalau Adam sudah tiba di rumah. Melangkah dengan menjinjintkan kaki agar tidak terdengar derap kakinya dan ketika sampai di belakang Ciara, pria itu membungkuk lalu menutup mata gadis itu dengan telapak tangannya.
“Kamarmu tidak dikunci, bagaimana kalau pria lain masuk tanpa sepengetahuanmu, hem?”
Ciara yang awalnya memekik akhirnya tersenyum saat mendengar bisikan di telinganya. “Aku akan menyambut pria itu dengan senyuman manis biar pria lain itu kasihan dan jatuh cinta sama aku.”
Dengan cepat Adam mengangkat tubuh Ciara lalu memangkunya duduk di atas kasur.
“Siapa yang ngajarin kayak gitu. Ngak ensitiv yang boleh masuk kemari kecuali aku. Siapapun dia bakalan aku cincang dan kubuang abunya ke laut.” Berucap sambil memberikan tatapan menyeramkan versi Adam.
Namun Ciara malah tertawa geli sambil mencubit pipi Adam. “Ih, lucu banget sih kamu kalau cemburuan.” Tiba-tiba Ciara merengutkan bibirnya. “Kok aku di tinggal sih tadi pagi? Kalau cuma mau ketemu Daddy Brahm harusnya kamu bangunin aku, kita sarapan di sana bareng-bareng. Jadi kamu ngak bolak-balik.”
“Aku ngak tega bangunin kamu. Besok dan lusa sepertinya kamu harus berangkat dan pulang sama supir daddy kamu. Besok daddy ku meminta untuk ikut meeting penting dan mengerjakan urusan lain menyangkut bisnis yang aku pegang di New York. Kamu ngakpapa kan?” Adam menjawab sambil mengecup pipi istrinya, tatapannya terlihat merasa bersalah.
Ciara membalas sambil tersenyum dengan menangkup dua pipi Adam. “Lagian udah dari kapan tahu aku minta supaya supir daddy aja yang antar emput, kamu nya aja bandel alasannya mau manfaatin waktu sebanyak-banyaknya sama aku.”
Adam mendengus. “Kayaknya memang aku doang sih yang cinta kamu sendiri, kamunya ngak peka.”
“Siapa yang bilang aku ngak peka, justru aku tuh lebih peka dari kamu. Mikirin suami aku, kasihan sama kamu harus bolak balik tua di jalan. Waktu kerja kamu di kantor jadi lebih sedikit karena kepotong anter jemput. Aku tuh lebih sayang kamu, duluan cinta kamu. Kamunya tuh yang lama sadarnya buat cinta sama aku.”
“Masa sih?”
“Iyah, dari kecil aku selalu dekat sama kamu aja kan?”
Adam menatap mata Ciara mencari kejujuran pada sinar tatapannya yang menunjukkan ketulusan. Detak jantungnya perlahan berlari kecil hanya karena ucapan rasa sayang Ciara padanya.
Adam menatap jam di tangannya mengalihkan wajahnya yang meremang. “Mau berangkat jam berapa?”
“Kursus masih dua jam lagi. Kamu mau ke kantor? Aku bisa dianterin sama supir kok.”
“Bukan begitu, tetap aku yang antar.”
“Oh, yah sudah.”
“Kalau masih lama, artinya masih bisa cium-cium kamu dulu.”
“Aku mau gambar desain dari bahan-bahan yang kemarin aku beli, masih dua bahan lagi ini.”
Adam mendengus karena rencananya untuk bersenang-senang dengan istrinya gagal.
“Oke, kalau gitu aku ambil laptop sambil nungguin kamu.”
Ketika Adam berdiri untuk mengambil tas kerjanya, tiba-tiba Ciara memegang lengan Adam membuat pria itu berbalik. Sambil berjinjit Ciara memajukan wajahnya lalu mengecup bibir Adam dan disambut Adam dengan menarik tengkuk Ciara kembali menahannya bahkan tubuh Ciara diangkat Adam terduduk di pangkuan Adam kembali.
Kini bibir Adam lah yang mendominasi ciuman mereka semakin dalam, melumatnya penuh hasrat menautkan lidahnya dengan milik Ciara. Tangan Adam sudah mulai ramah menelusuri sisi-sisi sensitif tubuh Ciara.
“Dam…”
“Hem…”
“Udah, jangan keterusan.” Protes Ciara dengan lembutnya dan ditanggapi dengan kekehan Adam sambil mengusap bibir istrinya yang basah dan sedikit membengkak karena ulahnya.
Adam memeluk Ciara merekatkan kedua tangannya seakan mengunci tubuh Ciara dalam genggamannya. “Aku cinta mati sama kamu. Kalau ada yang mau misahin kita, sampai ke neraka pun bakalan aku lawan.”
“Berat banget mainnya sampai ke neraka segala sih.” Jawab Ciara sambil tertawa membalas pelukan Adam menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.
Adam merenggangkan pelukan mereka, satu kecupan mendarat di kening lalu bibir Ciara lagi.
“Weekend ini aku sudah minta ijin sama mommy dan daddy kamu.”
“Ijin?”
“Kita nginap di hotel.”