Ciara sempat tidak menyetujui keinginan Adam. Isi kepalanya langsung memikirkan hak yang enak-enak ketika mendengar kata hotel. Meskipun mereka sudah memiliki kartu identitas bahkan surat nikah yang sah, tetap saja Ciara merasa rencana Adam membuatnya gelisah bukan main. Apalagi Adam mengatakan sudah memesan suite room selama 2 hari.
“Mau ngapain di hotel sih, Dam?”
“Biar bebas aja berduaan sama kamu, mau ngapain juga ngak takut ngak enakan sama orang tua kita.”
“Yah kenapa ngak enakan sama mereka, memangnya mau ngapain? Kamu janji kan kita ngak boleh punya anak sebelum aku sama kamu lulus kuliah.”
“Siapa yang bilang juga mau bikin anak. Aku cuma mau berduaan sama kamu aja seharian tanpa ada gangguan, ingin buat memori sebelum kita LDR an.”
“Yah kalau gitu tinggal bilang saja sama orang rumah jangan ganggu kita berdua. Makan bisa minta mbak buat bawain ke kamar.” Seru Ciara masih berusaha menolak ajakan Adam.
“Ngak mau, pokoknya beda kalau di hotel. Aku maunya kita benar-benar berdua aja. Please mumpung daddy udah kasih aku ijin. Dia malah nyuruh aku beli merk sutra segala, padahal aku ngak niat kesitu loh.”
Wajah Ciara sontak bersemu, tidak percaya daddy nya akan menyarankan hal menuju sesuatu yang intim.
“Kata daddy kamu, dia maklum kok kalau sampai kita ngak kuat. Tapi aku beneran ngak mikir sampai jebolin kamu. Beneran percaya sama aku, Sayang. Palingan make out kayak biasa.”
Belum sirna guratan merah di pipi Ciara, lagi-lagi ucapan Adam membuat otak dan pipi Ciara seakan sedang mengeluarkan hawa panas dari dalam tubuh. Dalam hatinya merutuki pemikiran sang ayah bisa-bisanya memberi ijin pada menantunya itu daripada ultimatum keras.
“Bu-bukannya kita sekarang kayak gitu?” Tutur Ciara malu-malu.
Adam mulai kesal bercampur gemas dengan sikap keras kepala istrinya. Ia mengecup kening Ciara sambil mencubit hidungnya yang mancung.
“Tapi kamu selalu tutupin mulut kamu kamu takut kedengaran padahal kamar aku atau kamu kedap suara. Seperti ada beban perasaan bersalah kan? Lagipula kalau di rumah pasti diledekin sama adik kamu atau adik aku misalnya kita seharian di kamar. Kalau di hotel ngak akan ada yang protes. Aku kepingin males-malesan seharian sama kamu, cuma nonton TV, make out, makan, make out lagi, mandi bareng trus make out lagi, istira-”
“Adam!!”
Bagaimana Ciara tidak merasa kepalanya panas kalau rencana Adam selalu diselingi dengan kata-kata make out itu bahkan lebih banyak disebutkan dari kegiatan yang katanya berduaan lainnya itu.
Keduanya kini bersitatap dengan pikiran masing-masing. Dalam hati Adam merasa kecewa karena Ciara tidak mengerti keinginannya yang hanya ingin berduaan saja meskipun ia sudah menjelaskan tidak akan meminta hak nya penuh dan merengut kesucian Ciara.
Sedangkan di pikiran Ciara ia takut kalau Adam akan melanggar perkataannya kalau hasrat sudah mengepul di ubun-ubun. Dirinya juga takut tidak bisa mencegah Adam malahan ingin merasakan pengalaman yang belum boleh mereka lalui.
Meskipun status mereka suami istri namun Ciara merasa seakan sedang melakukan hubungan terlarang dengan Adam dan takut ketahuan oleh orang tua mereka.
Ciara menunduk sambil menempelkan kepalanya di d**a Adam. “Aku cuma takut kebablasan dan ngecewain orang tua.”
“Aku janji ngak akan sampai ke situ. Intinya hanya ingin berduaan seharian sama kamu, soal hal itu let it flow with the situation. Aku bukan laki-laki seburuk pikiran kamu, Cia.”
Ciara mengangkat wajahnya menatap manik Adam yang juga membalas menatapnya dalam sambil berpikir haruskah ia menyetujui permintaan Adam.
“Aku cinta kamu. Kalau kamu memang takut, ngakpapa aku batalin saja.” Adam tersenyum menyembunyikan perasaan kecewanya.
Sikap Adam justru membangkitkan rasa bersalah dalam diri Ciara, seakan-akan dirinya terlalu berlebihan menanggapi tentang kegiatan panas yang selama ini selalu Adam lakukan tanpa memaksanya untuk masuk di dalam. Perlahan-lahan Ciara mengangguk.
“Yah udah kita nginap di hotel dua hari.”
***
Akhirnya besok Adam dan Ciara akan berlibur ke private hotel sedikit menjauh dari Jakarta. Tidak tanggung-tanggung Adam memesan presidential suite di kawasan puncak agar tidak terganggu waktu mereka berduaan. Malam ini Ciara dan Adam makan malam di kediaman orang tua Ciara, entah bagaimana orang tua Adam menjambangi kediaman Charles karena diundang Vina untuk makan malam bersama.
Setelah makan malam selesai, Charles, Brahm dan Adam berpindah duduk ke ruang tamu. Vina dan Karina mengajak Ciara berkemas. Sedangkan Naira mengajak Natalie bermain di dalam kamarnya.
“Cia, kamu bulan madu bawa lingerie ngak?” Tanya Vina pada putrinya sambil tersenyum.
Ciara yang mendengar ucapan frontal sang ibu sontak membelalak dengan wajah merona. “Mommy ih! Kita ngak bulan madu. Adam ngajak liburan aja tapi bukan bulan madu.”
Vina dan Karina tertawa kecil melihat wajah salah tingkah Ciara.
“Yah kalau bulan madu juga ngakpapa kok. Perjanjiannya itu kan ngak boleh hamil sebelum kalian lulus. Kalian sudah nikah, sudah boleh juga melakukan hal-hal yang kalian inginkan asalkan mengerti batasannya.” Tutur Vina mencoba mengedukasi Cia.
“Mom, kita liburan doang. Aku juga masih takut mikirin hal itu.” Cia mengakui kegalauannya.
Ucapan Cia membuat Karina bertambah penasaran, ia dan Vina saling menatap kemudian mengulum senyuman berusaha tidak terlihat sedang merasa lucu dengan anak-anak mereka.
“Memangnya Adam ngak pernah minta kamu buat melakukan hubungan itu?”
Cia menggeleng tidak mampu bicara, tenggorokannya terasa berat. ‘Kenapa mesti bahas ginian sih.’
“Kamu belum di jebol sama Adam?” Tanya Karina lagi karena penasaran.
Cia menggeleng kembali. “Memangnya dosa yah kalau aku belum mau?” Akhirnya Ciara bertanya karena merasa pertanyaan mertuanya seolah sedang menyalahkan dirinya.
Karina dan Vina saling bertatapan kembali kemudian tertawa kecil sambil mencubit pipi Ciara berbarengan membuat gadis itu mengaduh merengut kesal.
“Ngak dosa, tapi apa kamu ngak kasihan sama Adam kalau dia kepingin banget, kamu juga pasti penasaran kan. Menurut Mommy ngak salah kok kalau udah kepingin banget asal jangan lupa pakai pengaman.” Lagi-lagi Vina meyakinkan putrinya tentang hubungan yang tidak di larang lagi karena Ciara dan Adam sudah berstatus suami istri.
“Tapi Cia masih takut, Mom. Kata orang rasanya sakit banget, belum lagi rasa malunya.” Tutur Cia jujur, sudah kepalang basah di bahas yah sekalian saja ia memberitahu apa yang tengah dirasakannya kini.
Karina dan Vina terkekeh pelan tanpa maksud meledek putri mereka. Karina mengusap tangan Ciara sambil tersenyum.
“Kalian sudah menikah, entah sekarang atau nanti pastinya hubungan itu pasti akan kalian jalani juga. Rasa takut kamu itu wajar kok, kami juga pernah mengalami hal itu. Kalau saatnya tiba dan memang kalian saling menginginkannya adalah hal wajar. Justru kalau Adam ngak pernah gangguin kamu di atas ranjang itu yang perlu dikhawatirkan.” Seru Karina menasehati diselingi candaan agar percakapan mereka bertiga tidak memberatkan pikiran Cia.
“Ehm, Cia pikir-pikir dulu.” Kemudian Ciara menghembus panjang nafasnya. “Pokoknya besok kita cuma mau berduaan saja seharian gitu sebelum Adam balik ke Harvard lagi.”
“Iyah, Sayang. Mommy ngerti.” Kemudian Vina memberikan sebuah pakaian dan di letakkan dalam koper Ciara. “Pakai ini, biar Adam punya memori indah sama kamu di sana.”
“Ish! Mommy… Aku ngak mungkin pake ini di depan Adam.” Ciara merajuk wajahnya benar-benar merah sekarang dan kedua ibu itu malahan tertawa.
“Udah simpan aja. Mau kamu pake yah syukur, ngak mau pake juga ngakpapa.” Vina memaksa sambil menekan gaun satin bertali tipi situ ke dalam koper Ciara.
Sedangkan di ruang tamu, Charles dan Brahm melakukan hal yang sama pada Adam. Setelah berbasa-basi membahas proyek perumahan yang sedang mereka garap, Charles dan Brahm memandang Adam.
“Kamu yakin ngak perlu bawa pengaman, Dam?” Brahm langsung menuturkan pemikirannya.
“Kalau mau aku bisa beli, Dad.” Adam menjawab dingin merasa tidak nyaman apalagi dihadapan ayah Ciara.
Charles terkekeh melihat wajah merona Adam sambil menunduk tidak berani menatapnya langsung. Bocah pendiam suami anaknya yang terkenal sikapnya sedingin sang ayah merasa malu berhadapan dengannya.
“Jangan kayak kucing gitu, Dam. Malu-malu depan Daddy. Ngak bakal ada yang marahin kamu kok, asal yah pake pengaman dulu biar ngak bablas hamil. Sebagai sesama laki-laki kami mengerti apa yang kamu rasakan setiap kali tidur berduaan sama perempuan yang sudah halal buat kamu. Beratnya mendidik jagoan kecil kamu di bawah sana agar tidak mudah bangun.” Ucap Charles seakan omongannya tidak disaring lebih dulu.
Adam mendengus merasa jengah dengan obrolan intim seperti ini.
“Ayolah, Dam. Lebih baik kamu jujur sama kami daripada disimpan sendiri. Daddy bisa kasih tips buat kamu juga supaya Cia ngak sampai hamil.” Kali ini Brahm yang berucap.
“Dad! Please.. Kita ngak berencana sampai begitu, sampai sekarang Cia masih suci dan aku mau menjaga Cia tetap seperti itu sampai waktunya sudah tepat.”
“Jadi sebulanan ini kamu belum nidurin istri kamu?” Tanya Brahm semakin tidak habis pikir putranya belum menjebol gawang menantunya.
“Dad!”
“Oke, oke. Sori.” Brahm menaikan kedua tangannya seperti tanda menyerah.
Charles yang kebetulan duduk di sebelah Adam, menepuk lengan Adam sambil tersenyum.
“Terima kasih kamu melindungi dan menjaga Ciara seperti permata. Tapi kalau kamu menunda hal ini karena takut Daddy dan Mommy marah, sekarang Daddy perjelas. Kami mendukung apapun keinginan yang timbul mengenai hubungan di atas kasur. Berhasrat itu normal apalagi menginginkan dan memiliki seutuhnya ketika sudah menikah.”
Andai saja tidak ada para ibu di kamarnya, mungkin Adam sudah berlari kabur dari ruangan ini. Bayangkan saja pikirannya yang hanya ingin menghabiskan waktu berduaan dengan Ciara walaupun memang diselingi dengan make out, kini membuat otaknya melayang untuk mencoba apa yang di katakan para orang tua.
‘Ngak mau dosa dipaksa bikin dosa. Edan nih orang tua.’ Adam merutuk dalam batinnya. Entahlah dirinya harus senang atau kesal dengan ucapan para ayah.