Bab 15. Suara Kamu Memabukkan Pikiranku

1547 Words
‘Argh! Gara-gara Daddy gua malah ngeres sendiri.’ Gerutu Adam yang hanya mampu diucapkan dalam hatinya saja. Setelah melalui malam panjang dengan nasihat dari para orang tua di ruang berlainan, hari yang di nanti tiba. Adam keluar dari kamar tidur membawa koper mereka berdua dan menyuruh mbak Siti memasukkannya ke dalam mobil Adam. Awalnya hanya niatan untuk berduaan saja kini derap jantung keduanya semakin menderu hanya karena wejangan-wejangan mengenai hubungan suami istri yang dibicarakan kepada mereka semalam. Bahkan Ciara sempat sulit tidur memikirkan persoalan kegiatan intim itu. Hal serupa dirasakan oleh Adam juga. Alhasil semalam Adam berusaha menghenyakkan pikiran kotor yang timbul dalam bayangannya memikirkan perbuatan enak-enak bersama Ciara. Kemudian mengumpat dalam hati menyalahkan para ayah. Dan akhirnya pagi ini keduanya melewwatkan sarapan karena bangun kesiangan. Saat mereka bangun orang tua Ciara dan adiknya sudah tidak di rumah. Adam memang sengaja memesan hotel di hari kerja, selain lebih murah mereka tidak akan terganggu dengan kemacetan kendaraan ataupun keramaian pengunjung jika ingin pergi mengunjungi tempat wisata. Setelah selesai sarapan menuju makan siang, keduanya berangkat. Ciara yang memberitahu orang tua mereka kalau mereka sudah berangkat. “Di dashboard ada kacamata buat kamu juga. Pakai kalau silau yah.” Ucap Adam mengingatkan istrinya berhubung mereka berangkat siang hari. “Iya, Dam. Mommy kamu bilang jangan ngebut, di sini bukan LA katanya.” Tutur Ciara sambil terkekeh. “Mana pernah aku ngebut di sini.” “Memangnya kalau di sana kamu suka ngebut yah?” Suara Ciara mulai menekan sedikit mencecar. “Tergantung perginya ke mana juga. Lagian aku jarang ke luar kalau di Harvard. Kemana-mana jauh. Palingan olah raga di gym sana.” Adam mengendarai sendiri mobilnya ke puncak sambil memakai kaca mata hitam. Sungguh ketampanannya terlihat berkali lipat di mata Ciara. Tidak dipungkiri, Ciara merasa beruntung menjadi istri seorang Adam. Bagi Ciara Adam seperti pangeran tampan seperti dalam dongeng khayalannya. Tampan, pintar, calon penerus Damian grup, tubuhnya sempurna, jago bela diri bahkan jika tertawa kadar ketampanannya meningkat seratus persen. Tidak heran jika kemanapun mereka pergi, Adam akan selalu menjadi pusat perhatian. Tapi kriteria di atas hanyalah bonus bagi Ciara. Dirinya jatuh cinta pada Adam karena hanya Adam yang selalu ada di matanya, hanya Adam yang selalu menemani sekaligus melindunginya sejak kecil. Meskipun mereka terpisah beberapa tahun namun api cinta itu selalu menyala setiap kali mereka bertemu lagi. Beberapa saat dalam perjalanan, rasa kantuk menyerang Ciara. Gadis itu menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata. Adam menoleh ke samping dan mendapati istrinya tengah tidur, ia mengusap kepala Ciara sambil tersenyum. Jalan bebas hambatan menuju puncak sedang sepi membuatnya bebas melajukan kecepatan mobilnya. Ketika menoleh kembali, tatapan Adam tertuju pada pemandangan di dalam pakaian Ciara yang terbuka diantara kancing kemeja yang dipakainya. Meskipun Adam sudah pernah melihat isi dalam milik Ciara, namun saat melihat lekukan kulit mulus putih itu membuat tenggorokkan Adam seketika mongering. Meskipun ia pernah merasakan puncak lekukan bulat di dalam sana, tetap saja melihatnya lagi tanpa sepengetahuan pemiliknya bagai eupforia tersendiri dalam benak Adam. Selama ini Adam bisa menahan diri tidak kebablasan setiap kali mereka sedang make out di malam hari. Namun setelah wejangan semalam, rasanya kadar kemesumman Adam semakin bertambah. Keinginannya untuk melalukan lebih seakan mendapat lampu hijau dari orang tua mereka membuat otak Adam semakin memanas. Dengan cepat ia mengibaskan kepalanya lalu membanting setir menuju rest area di depannya. Cara Adam menepi ke rest area membangunkan Ciara. “Kenapa, Dam?” Tanya Ciara membuat wajah Adam menegang kembali. Sebelum menjawab, Adam membasahi kerongkongannya sejenak sambil berdeham. “Aku mesti ke kamar mandi sebentar trus beli kopi.” “Oh yah udah. Aku beliin kopinya saja, kamu ke toilet.” “Hem.” Lagi-lagi Adam berdeham saat turun dari mobil. Ciara yang mengira Adam kehausan, keluar dari mobil sambil membawa sebotol air mineral. “Minum dulu, tenggorokan kamu seret tuh dari tadi kayak gitu.” Tanpa banyak bicara, Adam mengambil botol mineral dari tangan Ciara kemudian berlari kecil menuju toilet yang kebetulan berada di dalam kedai kopi berlogo medusa itu. Ciara tidak menyadari akan sikap Adam, terlihat biasa saja tidak ada keanehan. Ia menuju kasir dan memesan kopi yang biasa dipesan suaminya setiap kali mereka ngafe. “Dua ice caffe latte size venti, original syrup three pump.” Ucap Ciara memesan. “Baik, Kak. Saya ulangi lagi pesanannya…” Setelah membayar, Ciara menunggu pesanannya duduk di meja kosong. Sepuluh menit berlalu, bahkan pesanannya sudah siap namun Adam masih belum keluar dari toilet. Kening Ciara mengerut berpikir mungkin Adam kekenyangan waktu makan di rumah tadi dan sekarang sakit perut. Setelah lima belas menit menunggu akhirnya Adam keluar dari kamar mandi membuat Ciara menghela nafas lega melihat kehadiran suaminya. Wajahnya cemberut menatap Adam karena kesal menunggu ia berdiri sambil memegang dua gelas plastik kopi pesanan mereka , Adam sendiri menggaruk tengkuknya merasa salah tingkah sambil mengikuti langkah Ciara menuju mobil. “Kamu sakit perut? Mau aku gantiin dulu?” Tawar Ciara sedikit mengkhawatirkan dalam pikirannya karena Adam lama di dalam kamar mandi. “Ngak, aku ngakpapa. Aman kok. Yuk lanjut biar ngak kesiangan sampai sana.” Ciara tidak protes meskipun matanya terus memperhatikan Adam saat mereka sudah di dalam mobil. “Kalau sakit atau ngantuk bilang yah, Dam.” “Iyah, Sayang. Tadi aku sakit perut sedikit, sekarang sudah ngak kok.” Bagaimana Adam tidak mencintai wanita yang seharusnya dipanggilnya kakak itu. Sikap perhatian Ciara yang selalu bertutur kata lembut padanya ini yang selalu membuat Adam luluh. Satu jam kemudian, mereka sudah sampai di hotel yang dituju. Mata Ciara melebar dengan bibir terbuka merasa takjub dengan ruangan yang akan mereka tempati selama dua hari kedepan. Adam baru saja menutup pintu setelah memberikan tip pada pelayan hotel, saat berbalik ia mendapati Ciara tengah menatap sinis kepadanya. “Kenapa? Galak banget.” “Kenapa ngak pesan kamar biasa aja sih. Kamar ini kebesaran, Dam.” “Ngak, sengaja aku pesan ini.” “Jangan ngabisin uang orang tua, Dam. Mubazir banget ini.” Adam tersenyum menghampiri istrinya lalu memeluk pinggang Ciara. “Siapa bilang aku pakai uang daddy. Suami kamu ini punya penghasilan sendiri sejak masih di bangku SMA. Tabunganku bahkan mampu sewa kamar ini setahun penuh.” “Sombongnya.” Keduanya beristirahat sejenak setelah mandi bergantian agar lebih segar. Keluar dari kamar mandi Ciara melangkah mendekati kasur di mana Adam sudah lebih dulu merebahkan tubuhnya di sana. Hanya saja langkah Ciara terlihat berhati-hati seakan memikirkan hal iya-iya yang dibahas para ibu semalam, membuat jantungnya berderap kencang. “Sini, Yang.” Panggil Adam melihat Ciara sambil menepuk kasur di sebelahnya. Ciara menurut dan naik ke atas kasur, merebahkan diri pada bahu Adam sambil menonton acara TV di hadapan mereka. “Malam mau makan keluar atau di hotel aja?” Tanya Adam “Di luar lah, nikmatin angin dingin malam di sini biar seru.” “Oke, Bos.” Keduanya menghabiskan makan malam di restoran dengan pemandangan perbukitan, nuansa malam semakin indah saat bintang-bintang terlihat berkelip di ufuk sana. Adam sengaja memesan tempat makan mereka langsung menatap pemandangan malam dengan kerlipan lampu natural menjadi dekorasi alaminya. “Cantik banget yah suasananya, Dam.” “Cantik, hem cantik banget.” Saat Ciara memuji kecantikan karya sang pencipta, Adam tengah memuji kecantikan wajah ciptaan Tuhan yang digariskan menjadi jodohnya. Merasa janggal dengan nada suara Adam, ia menoleh ke samping. “Cantik kan.” Senyuman dan tatapan Adam serta ucapannya berhasil membuat wajah Ciara merona. “Ish, aku muji pemandangan alam, Dam.” “Aku muji istri sendiri memangnya salah?” “Tau ah.” Tawa Adam akhirnya terdengar setelah puas membuat Ciara salah tingkah. Kemudian mengecup pipi yang sedang merona itu membuat Adam mendapat pelototan serta cubitan di pingganggnya. “Dilihat orang, Dam. Malu ih.” “Biarin, asal kamu tahu aku bahagia banget hari ini. Menghabiskan waktu berduaan sama kamu seperti sekarang, menggandeng tangan saat kita jalan berdua dan merangkul kamu seperti ini, sudah membuat aku bahagia. Aku ngak perlu kamu kamu tampil sempurna dengan riasan ala cewek jaman sekarang. Kamu seperti ini apa adanya terlihat berlipat-lipat cantiknya dari gadis-gadis di luar sana.” Bagaimana hati Ciara tidak meleleh jika dipuji sespesial ini oleh pria dambaannya sejak remaja. Bahkan terkadang Ciara masih tidak percaya kalau dirinya berstatus istri seorang Adam Damian. Pemuda berkepribadian dingin namun akan menjadi sangat peduli dan hangat jika hanya berduaan dengan dirinya. Mirip sekali dengan pangeran khayalan dongeng masa remajanya. “Kamu gombal banget sih, pangeran Adam.” Ciara mencoba memuji Adam meskipun tidak segombal suaminya. “Hah! Pangeran? Hei, aku ini raja dan kamu ratu di hatiku.” “Apa aku harus bilang kalau aku beruntung jadi istri seorang Raja Adam?” Goda Ciara sambil menyeringai. “Sangat beruntung karena aku yang memilih kamu menjadi ratu ku.” Keduanya tertawa kembali, ternyata saling memuji dengan candaan tidak seaneh pemikiran Ciara, bahkan ia merasa apa yang mereka lakukan malam ini akan menjadi satu kenangan manis dalam buku catatan perjalanan hidup mereka berdua. “Kenapa kamu memilih aku, Dam. Banyak gadis di luar sana yang lebih cantik dan lebih muda yang bisa kamu pilih. Bahkan anak-anak partner bisnis daddy kamu banyak yang mengagumi dan menginginkan kamu jadi suami mereka.” Adam menggelengkan kepalanya seakan menjawab pemikiran Ciara salah. “Suara kamu memabukkan pikiranku.” Tangan Adam terulur mengusap bibir Ciara, tatapan mata mereka bertemu terasa begitu dalam. “Sejak dulu hanya wajah ini dan suaramu yang mengalir dalam tiap detak jantungku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD