4. Problema hidup.

1444 Words
"Ehem! Ehem! Ehem!" Kegiatan Anna yang sedang menatap langit gelap di atas sana terpaksa terhenti. "Keselek sendok lo, Sin?" cibirnya sembari menoleh ke arah Sinta. Seperti biasa, Sinta tergelak sembari duduk di kusen jendela. Melakukan hal yang sama seperti Anna. Menatap langit gelap yang tidak memunculkan bintang satupun. Seperti hati kedua gadis ini yang memang sering mendung, semenjak hidup bergulir pada poros yang tidak menyenangkan bagi mereka. "Ada yang lagi berbunga-bunga kayaknya, nih!" godanya lagi. Anna yang mengerti maksud dari godaan itu hanya menahan senyuman. "Nggak mau cerita-cerita, Na?" Anna hanya tersenyum, lalu kembali menikmati gelap di atas sana. Langit terlihat seperti kanvas hitam yang membentang luas. Sesekali angin malam mengibarkan rambut lurus sepunggungnya yang tergerai. "Nyokap lo udah tidur, Sin?" Itu bukan pertanyaan basa-basi. Ataupun pengalihan topik. Anna memang selalu menanyakan pertanyaan yang sama setiap hari. Apalagi seharian ini dia tidak sempat menjenguk ibu sahabatnya itu. Wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri, karena memang kedua orang tuanya sudah meninggal. Sekitar tujuh tahun yang lalu keluarga Anna dan Sinta mengalami kecelakaan. Kedua keluarga itu menjadi korban kecelakaan beruntun setelah merayakan hari kelulusan Anna dan juga Sinta. Tentu saja hari itu tidak akan pernah terlupa. Di mana Anna harus menjadi yatim piatu, karena kedua orang tuanya meninggal di tempat. Ayah Sinta sempat dilarikan ke rumah sakit, namun meninggal beberapa jam kemudian. Sementara ibu Sinta sempat mengalami kondisi kritis. Dan meskipun akhirnya berhasil melawan maut, kondisi Dini lumpuh hampir delapan puluh persen. Anna dan Sinta selamat karena memang tidak pulang dengan mobil yang sama dengan kedua orang tua mereka. Baik Anna ataupun Sinta tidak tahu, apakah selamat dari kecelakaan itu sebuah keberuntungan, atau malah petaka. Karena faktanya, hidup keduanya tidak bisa dikatakan baik-baik saja semenjak orang-orang yang mereka sayangi pergi tanpa pamit. Anna gagal kuliah karena om, adik papanya yang diberi amanat mengelola perusahaan peninggalan papanya malah menyelewengkan banyak dana. Hanya tinggal rumah ini yang tersisa. Sementara Sinta juga tidak jauh berbeda. Pengobatan ibunya yang sampai sekarang terus berlanjut juga membuat gadis itu harus memupus harap untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Keduanya memang terlihat baik-baik saja saat berada di luar. Namun di dalam sana, di sudut hati masing-masing, masih ada luka menganga yang terasa tidak juga mengering meski waktu sudah berlalu begitu lama. Entah apakah suatu saat luka itu akan terobati. Atau akan tertimbun dan mengakibatkan sesak yang tidak kunjung reda. "Udah. Tadi abis makan bubur ayam. Katanya lagi pengin makan bubur ayam yang sering dibeliin ayah." Meski berusaha ditutupi dengan nada ceria, namun Anna tahu ada getir dalam nada suara itu. Mungkin karena mereka sudah lama saling mengenal, sehingga Anna akan makin peka. Faktanya bukan hanya dia yang merindukan sosok yang telah pergi. Sinta pun pasti sangat merindukan kehadiran ayahnya. "Kapan Tante Dini terapi lagi, Sin?" tanya Anna sembari menoleh, Sinta pun melakukan hal yang sama dari seberang sana. Mereka memang sering mengobrol sembari duduk di tepi jendela masing-masing seperti ini. "Minggu depan, Na." "Ngomong aja ya. Sin. Kalau lo nggak cukup." Sinta hanya mengangguk. Walaupun seringnya tidak akan mau merepotkan Anna jika memang dia sedang membutuhkan tambahan uang. Lebih baik jika dia banting tulang sendiri. Hidup Anna sudah kacau, ia tidak mau tambah mengacaukannya. Walaupun sebenarnya, Anna merasa senang saat ia bisa membantu. Setidaknya, ia merasa jika masih dibutuhkan. Dan hidupnya masih berguna untuk orang lain. Karena kadang "Pada nangkring di situ, si! Buruan pada turun!" Keduanya sontak menoleh ke sumber suara. Di mana seorang pria dengan rambut sebahu kini tengah berdiri di antara rumah Anna dan Sinta yang tidak bersekat. "Woi! Abang cantik, bawa apaan, Bang?" yang dipanggil abang cantik tidak menoleh. Sinta memang sering menggodanya seperti itu karena pria bernama Bima itu memang memiliki wajah babyface, yang lebih terlihat cantik daripada ganteng. Rambut gondrong yang ia miliki juga menambah penampilannya kian seperti perempuan. "Cepetan! Yang mau turun! Gue abis dapet bonus, ni. Bawa pizza!" Sinta langsung melompat dari jendela kamarnya dengan antusias. Bukan melompat ke luar, karena dia berada di lantai dua. Tapi berlari melalui pintu. "Ayo, Na! Turun juga," ajak Bima saat gadis itu masih bergeming di tempatnya. "Beneran Abang abis dapet bonus?" tanya Anna sangsi. Dari cara Bima yang terlihat salah tingkah, Anna tahu jika pria itu berbohong. Bima memang sering membeli makanan untuk dimakan bersama. Dan alasannya selalu saja karena mendapat bonus. Padahal Anna tahu, Bima seperti itu karena merasa kasihan pada nasib dirinya dan juga Sinta. Satu hal yang tidak Anna sukai, adalah dikasihani. "Nangkring aja, si, Na! Buruan turun kenapa!" teriak Sinta yang sudah duduk di teras rumahnya dengan Bima yang juga sudah menyusul ke sana tanpa menjawab pertanyaan Anna. "Buruan, Na!" Bima ikut menginterupsi, mengabaikan pertanyaan yang Anna lontarkan tadi. Mau tidak mau, Anna pun ikut bergabung dengan mereka. Meski masih menyimpan kesal pada Bima yang sering tidak mengindahkan protesannya. "Ngomong-ngomong, kenapa bisa dianter Mas Andre tadi?" Sinta menyuarakan pertanyaan yang sejak tadi bersarang di kepalanya. Anna yang baru duduk pun menoleh. "Ban gue bocor," jawab Anna malas, apalagi ada Bima di tengah-tengah mereka. "Kok Bisa Mas Andre yang nolongin lo?" "Ceritanya panjang Sinta," jawab Anna tanpa minat. Tapi Sinta seperti tidak tahu jika ia sedang tidak ingin membahas tentang Andre untuk saat ini. Karena memang waktu dan kondisinya tidak tepat. "Gue siap ngedengerin, kok. Sepanjang apapun itu," ujar Sinta sembari menyomot sepotong pizza. "Andre siapa?" Keduanya menoleh ke arah Bima. Seakan baru menyadari jika sejak tadi ada orang lain di sana. "Mantan gebetannya, Anna," bisik Sinta sambil melirik ke arah Anna yang kini melotot sebal. "Eh bukan mantan, tapi masih gebetan." "Sinta ...." Sinta hanya terkikik mendengar nada peringatan itu. "Anna punya gebetan?" Entah kenapa Bima sangat penasaran dengan sosok Andre itu. "Gimana, ya. Gue bingung si nyebut Andre itu siapa sebenernya." Anna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengat obrolan dua orang di sampingnya. Mereka seolah tidak menganggap dirinya ada. "Maksudnya?" "Dia itu kakak kelas kita dulu." Sinta sempat melirik Anna. Dan saat gadis itu terlihat tidak keberatan dengan kalimat yang ia ucapkan, Sinta semakin semangat untuk bercerita. "Yang diidolakan Anna." Sinta sempat berhenti saat terdengar decakan dari samping. Namun nyatanya, bibirnya tidak lagi bisa direm. "Dan setelah sekian lama nggak ketemu semenjak lulus. Mereka dipertemukan lagi secara nggak sengaja hari ini." Anna memalingkan wajah saat kini mata Bima mengarah ke arahnya. Ia tahu apa arti tatapan itu. Bima ingin memastikan apakah cerita Sinta benar adanya. Dan menurut Anna, dia berhak untuk tidak menjelaskan. "Jadi, Na. Kalian tadi ngobrol apa aja?" "Nggak ngobrolin apa-apa." Sinta berdecak mendengar penjelasan itu. "Masak sepanjang perjalan diem-dieman." "Ya ngobrol. Tapi masak iya perlu gue jelasin ngobrol apaan ke lo!" "Ya kan gue penasaran." "Simpen aja lah itu penasaran. Gue mau tidur!" Anna berdiri dan melangkah pergi. "Eh pizzanya belum habis!" "Buat lo aja, gue kenyang." "Ih nggak asik, deh lo, Na!" Sementara Bima yang sedari tadi diam juga memilih berdiri. "Ih kalian nggak pada asik, deh. Ini pizzanya masih banyak, Bang!" "Buat lo aja!" ujar Bima tanpa menoleh. Pria itu terus melangkah ke arah rumah yang berada tepat di depan rumah Anna. Anna yang sudah masuk ke dalam rumahnya segera merebahkan diri ke atas kasur. Kadang ia berpikir untuk menjual rumah ini dan pindah ke rumah yang lebih kecil. Selain karena ia sering merasa takut saat sendirian, karena rumah ini juga terlalu bersar untuknya. Juga karena biaya perawatan rumah yang tidak sedikit. Belum lagi banyak t***k bengek yang harus ia bayar. Dari uang sampah, keamanan, yang tentu saja menguras gajinya yang tidak seberapa itu. Tapi setiap kali niat itu muncul. Bayangan ayah dan bundanya yang terlihat sedih mengurungkan semuanya. Ia tidak mau semua kenangan lalu terkubur dan hilang begitu saja. Padahal dengan tetap di sini, segala kenangan bersama orangtuanya juga sering menyiksa batinnya. Ia selalu merindukan momen yang pernah terjadi dulu. Saat hidupnya masih sempurna. Saat hidupnya masih baik-baik saja. Saat Anna memiliki sebuah mimpi akan hidup. Ponselnya berdenting saat satu pesan muncul. Membuyarkan sejenak banyak kata andai yang sering menemaninya setiap kali sendiri seperti ini. Andre yang dimaksud, sama dengan andre yang itu? Anna memilih tidak membalas pesan tersebut. Ia mematikan ponselnya dan beranjak tidur. Meski untuk sekedar memejamkan mata terkadang sulit. Namun ia perlu istirahat untuk telihat baik-baik saja esok hari. * Pria dengan rambut sebahu itu meremas ponselnya. Ada decakan kesal yang keluar dari bibirnya karena pesan yang ia kirim tidak terbalas. Tangannya meraih map yang tersimpan di dalam laci nakas. Melihat kembali catatan yang ia buat beberapa bulan yang lalu. "Rahadi andrean. Andre? Mungkinkah mereka orang yang sama?" gumamnya dengan kening mengerut. Lalu saat rasa penasaran itu kian menggerogoti hatinya. Ia memilih untuk menyelidikinya besok. Mungkin ia akan menemukan jawaban untuk memuaskan rasa penasaran yang kini bercokol dalam hatinya. ----"""----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD