5. Teror

1453 Words
"Pembunuh!" Pria itu mencoba mengedar pandang, mencari sumber suara yang berteriak. Namun tidak ia dapati apa-apa selain ruang gelap yang terasa pengap. "Kamu pembunuh!" Lagi, suara itu makin jelas terdengar. Bahkan seperti berteriak tepat di samping telinganya. Namun tidak ada siapa-siapa di tempat ini selain dirinya. "Pembunuh!" Pria itu menutup kedua telinganya saat suara itu kian terasa memekakkan telinganya. Awalnya seperti teriakan seorang pria, lalu berubah menjadi suara wanita, lalu suara lain terdengar bersahut-sahutan. Ada suara tangis bayi, teriakan orang tua, suara decit ban, suara sirine ambulance. Pria itu menundukkan badannya, berusaha meredam kengerian yang tercipta. Dan saat suara itu tidak lagi terdengar, pria dengan tubuh tegap itu mencoba membuka kedua tangannya. Mata yang tanpa sadar ikut terpejam, perlahan terbuka. Lalu, saat ia pikir semuanya sudah berakhir, kengerian lain terpampang jelas di depan matanya. Pria itu melangkah mundur dengan mata melebar, saat di sekitarnya tergeletak beberapa tubuh bersimbah darah. Ada yang diam seolah tidak bernyawa, ada pula yang terlihat kejang-kejang seperti sedang bertaruh antara hidup dan juga mati. Napas pria itu semakin memburu dengan degup jantung yang kian meronta. Dan dengan itu suara ribut tadi kembali terdengar, kian riuh mengganggu. Yang lebih mengerikan lagi, tubuh bersimbah darah yang ada di hadapannya, satu persatu membuka mata, dan membelalak ke arahnya. Pria itu berusaha lari saat satu persatu dari tubuh itu bangkit, dan seperti akan menyerangnya. Namun kakinya seperti dipaku, tidak bisa bergerak ke manapun. Andre terbangun tepat saat beberapa mayat tadi sudah hampir menjamah tubuhnya. Ditatapnya sekeliling dengan tatapan nanar. Lalu saat sadar jika semua yang terjadi adalah mimpi, ia berusaha untuk mengembus napas lega. Diraihnya segelas air bening yang berada di atas nakas, lalu menenggaknya sampai habis. Pria itu memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi. Rasa lelah selalu menemani setiap kali mimpi buruk itu datang. Dan sayangnya rasa lelah itu harus ia rasakan setiap hari, karena memang mimpi itu terus menghantui malam-malamnya. Andre bahkan terkadang takut untuk sekedar memejamkan mata. Ia sudah berkonsultasi pada psikiater, namun hasilnya belum terlihat. Mimpi itu masih saja terus berdatangan. Entah apa yang sebenarnya harus ia lakukan. * Andre memutuskan untuk tinggal sendiri semenjak dua tahun belakangan terakhir ini. Tentu saja hal itu ditentang keras oleh kedua orang tuanya karena memang kondisi mental pria ini pernah mengalami gangguan. Tragedi kecelakaan yang pernah ia lalui tujuh tahun lalu, menjadi penyebab hari-harinya terus dihantui oleh bayang-bayang rasa bersalah. Apalagi saat itu terjadi, dia dalam kondisi rusak, satu hal yang sempat memaksa dirinya mendekam di RSKO. Bukan hal yang mudah untuknya bisa melewati segala hal yang pernah terjadi, dan bisa berdiri sendiri seperti saat ini. Bisa hidup normal dengan bisnis yang ia rintis meski dari bantuan orang tua. Namun Andre menganggap modal yang ayahnya beri itu sebagai hutang yang harus ia bayar. Dan meski papanya tidak mau menerima uang cicilan yang ia berikan, nyatanya Andre terus mengirim cicilan itu setiap bulannya. Ia hanya tidak mau terus bergantung pada kedua orang tuanya. Ia ingin membuktikan entah kepada siapa, jika dirinya bisa lepas dari bayang-bayang keluarganya yang memang cukup terpandang. Rumah yang kini Andre tempati adalah milik kakaknya yang kini memilih tinggal di Eropa, ikut dengan suaminya yang kebetulan berkarir di sana. Tentu saja ia tidak akan selamanya tinggal di sini. Andre sedang menyiapkan dana untuk membangun huniannya sendiri. Setidaknya, dia bisa membeli dengan jerih payahnya sendiri tempat yang akan ia jadikan hunian bersama keluarganya nanti. Anna, entah mengapa nama itu tiba-tiba saja muncul saat bayangan akan masa depan tengah menjadi hal yang ia pikirkan. Gadis polos itu, sesungguhnya mengingatkannya pada seseorang. Yang sayang tidak pernah ia ketahui namanya. Adik kelas yang dulu pernah terkena lemparan bola saat ia bermain basket. Kejadian yang seharusnya ia lupakan, karena kenangan itu pasti tidak akan berkesan untuk gadis itu. Bahkan setelah ia menolong gadis itu ke Uks, sejak saat itu dia tidak pernah lagi muncul di hadapannya. Yah, Andre sadar, siapalah dia dulu. Seorang pemuda yang merusak dirinya sendiri karena kesombongan. Jika ada yang memujanya, kebanyakan hanya memanfaatkannya, karena ia adalah anak pemilik sekolah bergengsi pada masanya dulu. Dan untuk gadis baik-baik seperti gadis yang tidak ia ketahui namanya itu, dia pastilah bukan pemuda yang diminati. Andre memutuskan untuk melanjutkan sarapan sederhananya. Sepi memang, namun ini konsekuensi yang ia ambil. Lagipula, di rumahnya dulu juga tidak pernah ada suasana hangat. Karena mama dan papanya memang selalu sibuk dengan urusannya sendiri. Jadi, kondisi sepi seperti saat ini, sudah terbiasa ia rasakan. Di rumah ini, Andre hanya tinggal bersama dua asistan rumah tangga. Satu menginap, dan satu datang pagi pulang sore. Ada dua satpam yang berjaga siang malam semenjak beberapa bulan terakhir ini. "Mas Andre!" Pria itu menoleh ke arah Mbak Siti, asistan rumah tangga berusia empat puluhtahunan yang tinggal di rumah ini. "Kenapa, Mbak?" "Ini, ada paket, Mas!" Mbak Siti menyorongkan sebuah kotak berwarna merah. Bukannya menerima kotak itu, Andre malah mematung dengan tatapan ngeri. "Dari siapa Mbak?" Andre patut waspada karena ia merasa tidak memesan apapun, dan papanya juga tidak mengabari jika telah mengirim sesuatu. "Katanya Mas Andre yang pesen, makanya Mbak ambil." Andre mengernyit, masih enggan menerima benda itu. "Pak satpam ada?" "Lagi sarapan di pos, Mas." "Mbak bawa ke sana!" "Mbak yang bawa ini?" Andre mengangguk kaku dengan wajah pucat. Entah mengapa ia yakin isi dari kotak itu bukan sesuatu yang bagus. Kedua orang itu pun segera berjalan ke arah luar. "Ada apa, Mas?" Security yang melihat kedatangan majikannya pun meninggalkan sejenak sarapan yang belum selesai ia makan. "Bapak buka! Coba lihat isinya apa!" Security dengan nama Adam itu mengangguk, lalu dengan hati-hati membuka kotak yang tidak terikat itu. Ketiganya saling pandang dengan tatapan bingung saat melihat apa isi kotak tersebut. Bukan benda mengerikan seperti yang sudah-sudah. Isinya adalah sebuah boneka beruang biasa. Tampak lucu, namun saat boneka itu diangkat, kepala boneka tersebut menggelinding ke bawah. Andre yang melihat itu langsung terhuyung. Kepalanya mendadak pening. Padahal hanya terlihat benang yang mencuat. Tidak ada jejak semacam darah atau hal mengerikan lainnya. Mungkin ini efek dari mimpinya semalam. "Ada suratnya, Mas," ujar sang security. Menyodorkan sebuah tulisan tangan yang langsung diterima oleh Andre. Apa yang aku mau masih sama. Membuat hidupmu tidak akan pernah baik-baik saja. Hanya itu, namun ternyata ada semacam flashdisk juga di sana. Andre memutuskan masuk ke dalam rumah saat merasakan kepalanya makin berdenyut. Ia perlu memejamkan matanya barang sejenak. Namun saat satu pertanyaan melintas, pria itu menghentikan langkah. "Mbak! Tadi yang nganter paketnya cowok apa cewek?" tanyanya pada Mbak Siti yang masih mengobrol dengan satpam. "Cowok, Mas!" jawab Mbak Siti yakin. Andrepun mengangguk dan meneruskan langkah. Ia segera memeriksa CCTV. Mungkin saja dari sana akan terkuak. Namun nyatanya tidak ada yang bisa ia temukan. Di layar kamera pengawas itu hanya memunculkan punggung pria dengan rambut gondrong. Dan Andre yakin tidak mengenalinya sama sekali. Bahkan mungkin pria itu hanyalah kurir. Andre mendesah lelah. Sebenarnya jika dia mau meminta bantuan sang ayah, pelaku teror ini pasti akan mudah tertangkap. Namun entah mengapa Andre merasa itu bukan keputusan yang baik. Dulu, karena bantuan dari ayahnya dia terpaksa menanggung rasa bersalah yang ia simpan hingga sekarang. Dan mungkin karena bantuan papanya juga teror ini akhirnya terjadi. Pria itu menghela napas panjang, lalu melirik falshdisk yang tadi ia ambil dari kotak merah itu. Penasaran, pria itu pun bangkit untuk mengambil laptopnya. Dibukanya file yang ada di dalam benda kecil berwarna merah tersebut. Andre sempat menahan napas saat layar yang menyala menunjukkan berita kecelakaan yang terjadi tujuh tahun lalu. Di mana, kecelakaan beruntun terjadi, dan banyak yang menjadi korban. Namun berita itu lenyap dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Dan sampai sekarang, jejak digitalnya pun tidak pernah ada. Tidak usah bertanya, siapa yang memanipulasi semua berita itu hingga menghilang, dan seolah tidak pernah terjadi. Napas Andre kian sesak, saat video selanjutnya memunculkan beberapa korban yang ditinggal pergi oleh anggota keluarganya. Mereka semua memaki ke arah mobil, di mana ada dirinya berada saat itu. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Andai saja waktu bisa diputar, ia ingin kembali pada sepuluh atau dua belas tahun yang lalu. Andai tahun bisa berputar ke masa lalu, ia akan perbaiki semua masalah yang ia timbulkan tanpa menyisakan sebuah dendam. Andai tahun bisa diputar ke masa lalu, ia akan menjadi pemuda baik. tidak membanggakan harta ayahnya yang seorang pejabat negara. Andai waktu bisa diputar .... Namun faktanya waktu tidak bisa diputar. Dan sampai sekarang ia pun bingung bagaimana cara memperbaiki semuanya. Entah berapa korban yang ia buat menderita dalam hidupnya. Bahkan ia yakin, salah satu dari merekalah yang kini menjadi pelaku teror terhadapnya. Itu kenapa, Andre masih memilih untuk tidak melaporkan hal ini pada polisi. Karena ada satu titik dalam hatinya yang mengatakan jika ia pantas untuk mendapatkan ini semua. ----"""----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD