6. Binar Bahagia

1534 Words
Tidak seperti biasa, karyawan kantor notaris Mila Rosdiana, yang terdiri dari empat orang kini semuanya berada di kantor. Selain karena hari ini adalah akhir bulan, jadwal yang biasa dijadikan hari untuk merekap pekerjaan mereka satu bulan ini, juga karena hari ini bertempatan dengan hari berdirinya kantor ini. Ada acara syukuran kecil-keculan yang big bos lakukan nanti saat makan siang. Dan tentunya setelah meeting hari ini selesai. "Pt. Samudra udah siap untuk dibawa ke kehakiman, Bu. Berkas udah di tangan Bang Edo," ujar Sinta memberi laporan yang dibalas anggukan oleh Edo saat Bu Mila berganti dari menatap Sinta lalu menatap laki-laki itu. "Anna, yang urusan jual beli tanah Pak Erik progresnya sampai mana?" Yang ditanya mengangguk, lalu menjelaskan secara rinci laporan yang harus ia berikan pada big bos. Meeting pagi itu berjalan lancar seperti biasa. Dan hasil meeting sudah direkap lengkap oleh Dewi sebagai asistan Bu Mila. Meski hanya kantor kecil yang berisikan empat karyawan, namun Bu Mila mengatur pekerjaan mereka dengan terperinci. Dan setiap karyawan memang diberi tanggung jawab yang berbeda agar apa yang dikerjakan tidak campur aduk. Namun meski begitu, satu sama lain juga saling membantu jika ada pekerjaan di salah satu bagian yang terasa lebih banyak. Jadi, meski memiliki bagian masing-masing, semua harus ikut belajar menghandle pekerjaan lainnya. Jadi saat yang diberi tugas sedang tidak ada, tidak ada kebingungan yang terjadi. Selepas meeting yang berjalan sekitar dua jam itu keempat orang tadi kembali ke meja masing-masing, karena waktu makan siang memang masih akan berlangsung beberapa jam lagi. "Na, entar jadi suruh nganter ke bengkel?" tanya Edo sembari memasukkan beberapa berkas yang akan ia ajukan ke kantor kehakiman dan juga pertanahan besok. "Jadi, Bang. Tadi orangnya udah ngasih tahu kalau motor gue udah beres," jawab Anna. Edo memang lebih tua tiga tahun di atas Anna dan Sinta yang saat ini berusia 25 tahun. Itu kenapa, dua gadis itu memanggil Edo abang. "Terus jadinya gratis apa bayar, Na?" Bukannya menjawab, Anna malah menoyor kepala Sinta yang ikutan nimbrung percakapannya dengan Edo. "Bayar lah, emang bengkel punya nenek gue?" Sinta terkikik, "Ya kali. Jadi gratis gitu karena pake nama Andre." "Emang gue siapanya Andre?" "Calon bini," bisik Sinta yang langsung mengaduh karena tangan Anna kembali menyasar kepalanya. "Na, gue bisa tambah bego!" desis Sinta kesal, tapi selnjutnya tertawa kecil saat melihat wajah jengkel yang Anna tunjukkan. "Emang Andre siapa?" tanya Edo kepo. Sedari tadi ia memasang telinga dengan baik dan mendengar jelas nama Andre terus saja disebut-sebut. "Mau tahu?" tanya Sinta dengan wajah sok misterius. Anna yang melihat itu memilih menyingkir. Mencoba tidak mempedulikan dua orang yang memiliki kepribadian hampir sama itu saling bergosip. "Siapa?" Edo tampak serius mendengarkan. "Mau tahu banget, apa mau tahu aja?" goda sinta sambil cekikikan. "Cepetan kasih tahu, Oneng!" Sinta tergelak, namun segera mengatupkan bibir saat Anna memperingatkan. Gadis itu lupa jika bu bos sedang berdiskudi penting di dalam ruangannya dengan Dewi. "Entar juga lo liat, Bang. Tenang aja." Edo berdecak kesal karena Sinta sengaja mempermainkannya. "Masa bodo sama Andre, yang penting bukan pacar Anna, kan?" "Sekarang si bukan, nggak tahu ya entar-entar," jawab Snta sembari membuka laptopnya. "Yah, gue patah hati, Na, kalau lo punya pacar." "Bodo amat Bang Edo!" ujar Anna sekenanya. Dia memang sedang konsentrasi dengan pekerjaan di depannya. Edo yang melihat wajah kesal itu malah tertawa. "Lo itu cantik kalau cemberut gitu, Na! jangan kayak gitu terus, nanti gue beneran jatuh cinta!" seloroh Edo sembari masuk ke dalam toilet. Anna yang biasa mendengar kalimat receh dari Edo memilih tidak menggubris. "Masih nggak percaya, kalau Bang Edo itu naksir elo?" Anna mengembus bapas kasar, lalu menggeleng. Karena baginya, perkataan Edo memang hanya serupa candaan. "Kapan si lo peka, Na, Na," ujar Sinta memilih melanjutkan pekerjaannya. Meninggalkan Anna yang pada akhirnya memikirkan ucapan tersebut. Namun saat satu pemikiran yang lebih penting melintas, Anna memutuskan untuk membuang jauh apa yang selalu Sinta katakan. Edo tidak mungkin tertarik padanya. * "Mau tahu yang namanya, Andre?" bisik Sinta pada Edo yang kebetulan duduk di sisi kanannya. Sementara Anna yang duduk di sisi kirinya, memilih diam walaupun bisikan Sinta masih terdengar. "Yang mana?" tanya Edo penasaran, pria berkulit sawo matang sedikit gosong karena sering kepanasan itu mengedar pandang. "Yang lagi berdiri di kasir, pake kaos item, lagi ngobrol sama bu bos" bisik sinta lagi. Edopun mengarahkan matanya ke arah Sinta menggedik. "Itu bukannya yang punya resto ini?" Sinta mengangguk. Edo yang melihat itu langsung melongok ke arah Anna melalui punggung Sinta. "Na, saingan gue kok berat banget, si, Na?" ujar Edo sembari nyengir kuda. Anna yang tidak ingin ikut ke dalam obrolan absurd kedua temannya itu hanya mencibir. Dan hal itu tentu saja membuat Edo tertawa. Bu Mila memang mengadakan syukuran di rumah makan milik Andre. wanita pemilik kantor notaris itu terlihat sedang mengobrol santai dengan Andre, sebelum akhirnya melangkah ke meja para karyawan. "Kalian pesen aja, ya. Saya nggak bisa ikutan, ada janji sama Pak Ridwan soalnya." "Saya, Bu?" Dewi yang semenjak tadi tidak bersuara akhirnya mengeluarkan suara emasnya. "Kamu di sini aja, makan sama temen-temen kamu." Dewi mengangguk, Mila pun segera pamit. Tidak lupa melambaikan tangan ke arah Andre. Terlihat akrab dan hal itu membuat Anna dan kedua teman lainnya penasaran. "Bu Mila itu temen kakaknya Mas Andre." Ketiga mata yang sedari tadi tidak lepas dari kepergian Mila pun menoleh ke arah yang sama. Dewi tengah berbicara selain pekerjaan itu sungguh hal yang luar biasa. "Muka kalian itu keliatan penasaran, makanya saya jelasin," ujar wanita itu lagi tanpa mengalihkan tatapan pada buku menu, lalu terlihat memanggil pelayan. "Udah cepetan kalian pesen, kata Bu Mila boleh pesen sepuasnya." Edo dan Sinta yang memang dasarnya tidak tahu malu langsung bersorak girang. Anna yang kalem hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Anna!" Gadis itu mendongak saat mendengar panggilan dari seseorang. Saat itu juga, dadanya teras bertalu. Apalagi Andre terlihat melangkah ke arah mejanya dengan senyuman manis. "Udah pada pesen?" tanya pria itu pada semua yang ada di meja itu, walaupun tatapan dan senyum itu kembali menatap Anna yang terlihat salah tingkah. "Ini lagi milih, Mas," jawab Sinta. Andre mengangguk, lalu matanya yang sempat beralih pada Sinta, kembali tertuju ke arah Anna. "Iwan udah ngabarin kamu?" Anna yang tidak paham siapa Iwan mengerutkan kening bingung. "Motor kamu," jelas Andre yang dijawab oh panjang oleh gadis itu. "Udah selesai katanya, nanti mau saya ambil." "Mau saya antar?" "Saya yang antar, Pak!" semua mata langsung beralih ke arah Edo yang memasang tampang tidak berdosa. Padahal jelas sejak tadi semua yang ada di meja itu memanggil Andre dengan sebutan mas, tapi seolah tidak merasa salah, dia masih saja meneruskan panggilan pak. "Kebetulan motor saya juga bermasalah, Pak." Edo hanya berdecak saat Sinta menendang kakinya. Sementara Andre hanya mengangguk-angguk dengan raut kecewa. Selanjutnya pria itu memilih pamit dan mempersilahkan mereka untuk memesan makanan. "Mepet si mepet, Bang! Tapi nggak gitu juga," protes Sinta yang tahu maksud dari panggilan Edo tadi. "Nggak ngerti gue lo ngomong apa, Sin," ujar Edo tidak peduli. Selanjutnya pria dengan rambut cepak itu memilih untuk mengatakan pesanannya pada pelayan. Sementara Anna hanya mengembus napas pendek dan mengikuti Edo menyebutkan pesanannya. Lalu dewi? Tidak perlu ditanya, wanita itu sudah sibuk dengan dunianya sendiri. Tenggelam dengan sebuah buku tebal yang sering dibawa ke mana-mana, entah apa isinya, yang jels ada tulisan hukum di bagian judulnya. * Rencana Edo untuk mengantar Anna ke bengkel gagal, karena pria itu mendapat tugas dadakan dari Bu Mila untuk mendatangi tempat yang jalurnya berbeda jauh dengan arah bengkel tempat Anna akan mengambil motor. "Sorry banget ya, Na. Apa motornya ambil besok aja, ya. Biar gue anterin," ujar Edo yang terlihat kecewa sebelum pergi tadi. "Ngaco lo, Bang. Udah nggak pa-pa, gue bisa naik ojol kok." "Beneran nggak pa-pa?" Anna mengangguk yakin, karena memang dia benar-benar tidak masalah. "Ya udah, deh. Sin, pastikan masa depan gue baik-baik aja, ya." "Ngegembel terus lo, Bang!" Edo tergelak sambil berjalan keluar kantor, dan Anna seperti biasa, bersikap tidak peduli. Tentu saja ketidak pedulian Anna hanya berjalan beberapa waktu lalu. Karena saat ini gadis itu sedang bingung karena tidak berhasil mendapatkan driver ojek online. Aplikasi di ponselnya terus berputar dengan menyebalkan. "Nggak jadi dianter temen kamu?" Anna hampir melonjak karena Andre tiba-tiba saja sudah berdiri di depannya. Pria itu terkekeh, "Maaf," lirihnya sembari mengelus tengkuk. Anna yang sebenarnya sudah hampir jantungan hanya bisa mengangguk. "Saya antar aja, yuk!" "Eh, tapi ...." protesan Anna tidak pernah tuntas, karena Andre menarik tangannya begitu saja. Membuat jantung Anna tidak hanya berdetag lebih cepat, tapi juga beribu kupu-kupu seperti tengah menggelitiki perutnya. "Udah nggak apa-apa. Saya juga lagi nggak sibuk, kok," jawab Andre tanpa menyadari sikap gugup yang kini Anna tunjukkan. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil milik laki-laki itu. Anna yang tidak memiliki kalimat apapun untuk membantah, hanya bisa mengikuti apa kata pria ini. Tidak seperti sebelumnya. Kali ini suasana mobil sedikit terlihat bernyawa dengan obrolan ringan yang berjalan dua arah. Anna tidak lagi terlihat kaku. Mungkin karena Andre yang terus mencoba mengakrabkan diri, atau Anna yang mulai bisa menekan perasaannya. Yang jelas, bukan hanya Anna yang terlihat bahagia dengan keadaan ini. Tapi, ada binar lain yang terasa lebih kentara, yaitu di dalam mata Andre. ----"""----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD