Andre tidak mengerti apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini. Hanya melihat wajah polos Anna dari kejauhan saja, mampu membuat hatinya terasa bergetar. Beberapa hari yang lalu, Mila, atau pemilik kantor notaris tempat Anna bekerja, menghubunginya. Wanita yang tidak lain adalah teman kakaknya itu meminta satu tempat untuk di booking pada hari ulang tahun berdirinya kantor notaris itu. Saat telepon itu ia terima, semuanya masih terasa biasa karena memang dia belum mengenal nama Anna.
Tapi hari ini terasa lain. Bahkan tanpa sadar, sejak pagi Andre terus melirik ke arah jam untuk memastikan waktu makan siang segera tiba. Andre tahu ini gila, bahkan beberapa karyawannya bingung karena Andre terus saja menanyakan jam pada mereka. Padahal pria itu memiliki jam yang menempel di dinding kantor kecil tempat ia biasa singgah saat sedang berada di resto. Juga ada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dan lagi, di ponsel yang selalu ia pegang juga terdapat jam yang bisa ia lihat sewaktu-waktu. Namun Andre seperti tidak mempercayai waktu yang terasa berputar begitu lambat.
Dan saat pada akhirnya jarum jam menunjuk angka dua belas, jantung Andre berderab tak tahu malu tanpa alasan yang jelas. Apalagi saat sosok Mila datang, Andre terus saja melongok ke belakang wanita itu. Bibirnya merekah sempurna saat pada akhirnya empat orang karyawan itu terlihat. Yang tiga tentu saja tidak penting, karena fokus Andre hanya tertuju pada Anna yang terlihat manis dengan rambut yang hanya diikat setengah seperti itu. Meski hanya memakai seragam kantor yang sama dengan karyawan lainnya, entah mengapa di matanya Anna tampak lebih menonjol.
"Ndre!" Panggilan itu mau tidak mau membuatnya mengalihkan fokus. Mila terlihat berjalan ke arahnya dengan senyuman. "Itu karyawan aku, nanti biar mereka pesan apa aja. Tagihannya langsung kirim ke aku aja, ya!"
"Loh! Kak Mila nggak ikutan gabung?" Keduanya memang sempat akrab dulu, karena Mila memang sering main ke rumah Andre.
"Penginnya si ikut, tapi nggak kekejar. Aku ada janjian sama orang soalnya."
"Percaya yang orang sibuk," kelakar Andre namun tidak terdengar lucu, karena mata pria itu terus melirik ke arah Anna dan teman-temannya. Mila yang menyadari itu ikut menoleh ke arah mata Andre melirik.
"Anna apa Sinta?" Andre tersentak saat mendengar pertanyaan itu. Ia mengangkat alis bingung.
"Yang bikin kamu penasaran. Anna apa Sinta?" goda Mila dengan senyum lebar.
Andre yang sadar jika sudah tertangkap basah, hanya tertawa canggung sembari mengusap tengkuknya.
"Kalau tipe kamu kayaknya, si, Anna. Yang kalem-kalem gitu, kan?" tebak Mila, dan memang tepat sasaran.
Andre hanya tertawa malu.
"Nanti disampein, deh, salamnya," goda Mila lagi, lalu tertawa saat melihat pria di depannya salah tingkah.
"Ya udah, Ndre, aku pamit dulu. Titip mereka, ya!"
Andrepun mengangguk dan segera mendekat ke meja Anna saat sosok Mila sudah pergi.
*
Andre sempat kecewa saat mendengar rekan kerja Anna mengatakan jika dia yang akan mengantar Anna ke bengkel. Padahal sejak tadi pagi, tepatnya sejak Iwan memberi kabar jika motor gadis itu bisa diambil, dia sudah membayangkan untuk bisa mengantar Anna. Apalagi jika mengingat tatapan yang pria tadi tunjukkan, juga panggilan 'pak' yang tersemat untuknya.
Andre hanya bisa menyimpan kejengkelannya, karena tidak mungkin bersikap buruk pada pelanggannya. Ia tahu, dari cara pria tadi menatap Anna, ada rasa yang pria itu simpan untuk Anna. Tapi melihat respon datar dari Anna saat berbicara dengan pria itu, sepertinya Andre bisa menyimpulkan jika perasaan pria itu tidak berbalas. Dan entah mengapa fakta itu membuat Andre bersorak senang.
Tapi mungkin takdir memang sedang berbaik hati padanya. Atau, bisakah dibilang jika ini pertanda jodoh? Rasanya Andre ingin menertawakan pemikiran konyol itu. Padahal perkenalan mereka saja baru sebentar. Tapi dia sudah memikirkan hal sejauh itu.
"Woi! Mas Edo! Mau ke mana?" Andre yang memang sedang ada perlu di pos satpam, ikut menoleh ke sumber suara. Di mana seorang pria tengah berbicara pada Edo, yang kini tengah melangkah ke arah parkiran motor.
"Biasa, Pak, tugas negara," jawab pria itu sembari naik ke atas motor.
"Balik lagi nggak nanti, Mas? Saya mau minta tolong soalnya."
"Yah, enggak kayaknya, Pak. tapi besok pagi saya ada di kantor, gimana kalau besok pagi aja? Sekarang buru-buru banget soalnya."
Andre yang memasang telinganya dengan baik, tersenyum saat mendengarkan percakapan itu. Dan itu artinya, dia bisa kembali pada rencana awal, yaitu mengantar Anna ke bengkel.
Dan di sini lah akhirnya ia berada. Menunggu sosok Anna keluar dari kantornya dari dalam mobil. Dan saat akhirnya sosok yang ia nanti-nanti keluar seorang diri, Andre pun segera mendekati gadis itu. Andre tersenyum saat melihat wajah serius Anna. Sepertinya gadis itu sedang memesan ojek online. Pria itupun mempercepat langkah, agar Anna tidak sempat memesan ojek online melalui aplikasi di ponselnya.
"Nggak jadi dianter temen kamu?" Andre hanya bisa menahan senyum saat melihat Anna yang begitu terkejut saat melihat kehadirannya. Salahnya juga yang muncul tiba-tiba seperti ini. Padahal ia tahu Anna sedang begitu serius dan tidak fokus pada sekitar.
"Maaf," ujar pria itu pada akhirnya saat Anna tidak juga memberi respon. Namun anggukan yang gadis itu berikan, membuat Andre bisa mengembus napas lega. Ia pikir Anna akan marah padanya.
"Saya antar aja, yuk!" ujar Andre tanpa basa-basi, karena tidak mau kehilangan kesempatan untuk semakin dekat dengan gadis ini.
"Eh tapi ...." Andre yang tidak mau mendengar penolakan, dengan berani mengandeng tangan gadis itu dengan lembut.
"Udah nggak pa-pa, saya juga lagi nggak sibuk." Kali ini Andre memang tidak berbohong. Ia memang sudah menyelesaikan urusannya sejak tadi siang. Keduanya pun masuk ke dalam mobil, dan Andre bersyukur karena Anna tidak mengatakan apapun. Gadis itu duduk dengan tenang di bangku penumpang.
*
"Jadi ngrepotin Mas andre lagi," ujar Anna sungkan. Sementara Andre yang sudah menjalankan mobil menjauh dari area rumah makan dan juga kantor tempat Anna bekerja menunjukkan senyuman.
"Kan sudah saya bilang nggak pa-pa, saya juga lagi nggak sibuk. Lagi pula, itu kan bengkel temen saya."
Anna yang sesungguhnya tidak paham dengan maksud Andre mengatakan 'itu bengkel temen saya' hanya memilih mengangguk.
"Cari ojek online juga susah kan di jam-jam sibuk seperti sekarang."
Anna tertawa sungkan karena memang tebakan Andre benar. "Iya, si. Dari tadi memang cuma muter aja aplikasinya," jawab Anna dengan sikap yang mulai santai. Tidak lagi ada kegugupan seperti kemarin.
"Oh iya. Nanti kalau temen saya ngomong aneh-aneh, kamu nggak usah dengerin, ya!"
Anna mengerutkan kening, "Maksudnya?"
Andre terkekeh mendengar pertanyaan itu, "Nanti kamu juga bakalan tahu sendiri."
Anna yang masih belum mengerti maksud Andre hanya meringis dengan rasa penasaran. Namun rasa penasaran itu segera terjawab sesaat setelah mereka turun dari mobil, dan melangkah ke arah bengkel yang sepertinya sudah akan tutup. Anna sedikit merasa beruntung karena Andre yang mengantarnya.
"Wan! Mana motor Anna?"
Yang dipanggil segera menoleh dengan senyum jahil. "Mobil lo mau ditinggal di sini?" goda Iwan sembari cengengesan. Sementara Anna memilih diam dan menghampiri motornya, saat salah satu montir meminta surat bukti pengambilan motor yang waktu itu ia simpan.
"Nggak usah kebanyakan ngomong lo, dia itu temen gue."
"Percaya Ndre, percaya," ujar Iwan Padahal Andre tahu maksud dari kata-kata itu adalah sebaliknya.
"Mbak Anna sudah kenal berapa lama sama Andre?"
Yang ditanya langsung menoleh, memandang Andre dan pemilik bengkel bernama Iwan itu dengan tatapan bingung. "Baru kemarin."
Iwan yang mendengar itu seperti terkejut. "Masak, Mbak? Bukannya Mbak ini pacarnya Andre?"
Tentu saja pertanyaan blak-blakan itu membuat Anna terkejut dan juga bingung harus menjawab apa.
"Nggak usah didengerin, Na."
Anna hanya meringis ke arah Iwan yang malah tergelak padahal tidak ada yang lucu dari percakapan mereka ini.
"Jadi semuanya berap ...." Ucapan Anna terhenti saat Andre menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah, sudah saya bayar."
"Loh! nggak bisa gitu dong, Mas!" Anna tidak mau berhutang pada Andre. Dia sudah cukup merepotkan pria ini.
"Udah Mbak, nggak pa-pa. Dia memang suka loyal kalau sama cewek yang disuka." Kali ini Andre berdecak dan melempar Iwan yang sedang tergelak dengan ban bekas.
"Lebih baik kita segera pergi dari sini." Anna mengangguk setuju karena pipinya mulai memanas karena candaan yang terus Iwan lontarkan untuk menggodanya dan juga Andre.
Anna pikir, dari tempat ini mereka akan pulang sendiri-sendiri, tapi ternyata tidak.
"Saya ikutin kamu dari belakang." Itu kalimat yang Andre ucapkan sebelum masuk ke dalam mobil.
Anna tidak sempat memprotes, karena pria itu langsung memutar badan dan tidak menoleh lagi. Dan saat Andre memberi klakson sebagai tanda untuk mereka jalan, Anna pun segera melajukan motornya.
Ada senyuman yang terus membingkai wajah ayu gadis itu. Perasan hangat menjalar perlahan dan membuat hatinya seperti dipenuhi bunga. Andre benar-benar memastikan keselamatannya. Dan ini adalah perlakuan manis yang membuatnya merasa diinginkan.
"Sampai sini aja, Mas," ujar Anna saat sudah sampai di pintu gerbang komplek perumahannya.
"Beneran nggak pa-pa, saya kan pakai motor, mau lewat jalan tembus," ujar Anna cepat saat melihat Andre seperti ingin membantah.
"Ya udah kamu jalan dulu! Baru saya jalan."
Anna sempat menggigit bibir mendengar kalimat itu. "Ya udah Mas Andre hati-hati ya nanti."
Andre mengangguk dengan senyuman lembut, yang sepertinya akan membuat Anna kesulitan untuk tidur malam ini. Sesekali gadis itu melirik ke arah spion. Dan senyuman manis itu kian merekah saat mobil Andre tidak juga melaju. Andre memastikan dia baik-baik saja, dan itu adalah perlakuan manis yang membuat Anna sungguh-sungguh bahagia.
----"""----