Anna kembali ke Bandung tiga hari kemudian, karena Sinta sudah pergi bulan madu ke Bali untuk beberapa hari. Gadis itu mengembus napas kecil sembari menatap mendung yang mulai berarak di atas langit. Apa yang ia lakukan setelah ini? Bahkan Sinta pun sudah menemukan langkah pasti akan kehidupannya. Anna bingung hanya untuk sekadar menjalani hari ke depannya. Mengurus vila sejujurnya sangat menjenuhkan, atau, mungkin seharusnya ia mencari pekerjaan? Lamunannya terganggu saat satu panggilan masuk. Nama Bima tertera di sana, dan sebenarnya Anna malas mengangkatnya. Tapi, saat mengingat kembali janji Bima untuk memperbaiki hubungan mereka hingga pada titik ‘teman saja’. Anna memilih untuk memberi pria itu kesempatan. “Iya, Bang?” jawab Anna malas. “Na, gue punya tawaran bagus.”

