3. Hari tak terduga

1712 Words
Pukul 06.30 Nesya sudah sampai di kantor, tepatnya di meja sekertaris yang ada di depan ruangan Kavin. Mungkin ia staff yang datangnya paling pertama setelah Cleaning Service dan Satpam, itupun shift 3 yang menunggu pergantian shift. Nesya tak biasa hanya duduk menunggu, itu akan membuatnya mengantuk. Untuk menghindarinya ia pun berinisiatif untuk melakukan preventif. Selagi ada waktu senggang, ia bisa melakukannya sendiri tanpa perlu menunggu petugas kebersihan untuk melakukannya. Dengan melakukan pergerakan membuat waktu terasa bergulir cepat, buktinya sekarang 30 menit telah berlalu. Dan bersamaan dengan itu Kavin pun menampakkan batang hidungnya. Sebenarnya Nesya masih sangat gugup, ia takut kejadian kemarin akan membuat pria itu mempersulitnya. "Pagi, Pak!" sapa Nesya. "Apa Ac di sini kurang dingin? kenapa sepagi ini kamu keringetan?" kalimat pertama yang Kavin ucapkan pada Nesya, bahkan ia tak membalas sapaannya. "Ah, ini, tadi, ..." "Saya nggak mau client saya nanti kabur karena bau keringet kamu," potong Kavin, menyodorkan sekotak tisu yang ia ambil dari atas meja Nesya. "Mengerti?" Nesya mengangguk pelan lalu mengambil alih benda yang memang miliknya itu, namin kemudian dagunya terangkat, Kavin yang melakukannya. "Saya yang nggak denger jawaban kamu, atau kamu memang nggak ngejawab?!" Mata Nesya mengerjap cepat. Apa yang Kavin lakukan justru malah membuat mulutnya tak mampu bersuara. Seolah mengerti dengan apa yang Nesya rasakan, Kavin pun menarik kembali lengannya. "Saya nggak terima jawaban yang seperti itu. Lain kali jangan ulangi." "Baik, Pak!" "Bagus!" Kavin menyodorkan beberapa lembar kertas pada Nesya, "masukan ke data pengeluaran, lalu print sebanyak jumlah divisi." Nesya mengangguk paham lalu hendak mengambil lembaran kertas itu dari Kavin, namun pria itu menahannya, membuat Nesya tak bisa dengan mudah mendapatkannya. "Nggak ada jawaban, saya anggap kamu nggak ngerti apa yang saya katakan." "Eh," Nesya lupa, butuh waktu untuknya bisa terbiasa. "Baik, Pak. Akan saya buatkan." Setelah mendengar jawaban Nesya, Kavin pun membiarkan Nesya mendapatkan tugas pertamanya. Tanpa berucap hal lain lagi, ia melanjutkan langkahnya menuju ruangan miliknya. "Puas?!" gumam Nesya, menatap kesal punggung milik Kavin. Seolah mendengar apa yang Nesya katakan, kaki Kavin berhenti bergerak lalu kembali memutar tubuhnya, melihat gadis yang sudah betkeringat dingin karena kekhawatirannya. "Kamu bilang sesuatu?" tanya Kavin. "Nggak, Pak!" Nesya segera menggelengkan kepalanya. "Saya nggak bilang apa-apa. Baru aja saya mau balik ke.." belum selesai mulutnya berkata, Kavin sudah masuk ke dalam ruangannya. "..meja!!" lanjut Nesya, menyelesaikan kalimatnya. Nesya menatap cermin yang ada pada penutup bedak padat miliknya, bahkan pria itu sama sekali tidak membahas penampilan Nesya yang berubah sesuai inginnya, setidaknya beri tanda kalau perubahannya ini tepat, bukannya malah menemukan kekurangannya yang lain. "Ini Teh nya, Bu!" kedatangan seseorang membuat Nesya menyidahi hatinya yang masih menggerutu. "Eh, iya, makasih," sahut Nesya. "Tapi ngomong-ngomong, panggil Nesya aja," tambahnya sambil mengulurkan tangan. "Aku baru mulai kerja hari ini, kita bakal sering ketemu, jadi nggak usah formal." "Dion!" pria itu menjabat tangan Nesya. "Oke, tapi aku panggil Nesya aja nggak apa-apa, nih?" Nesya tertawa kecil, "nggak apa-apa, dong. Lagian aku belum cukup umur buat dipanggil Ibu." "Yaudah, deh. Kalo gitu aku permisi ke belakang dulu." "Boleh minta tolong nggak?" ucap Nesya lagi. "Apa?" "Tolong bikinin kopi, aku nggak suka Teh." "Kopi?" Nesya mengangguk. "Kopi s**u?" "Nggak, bukan. Kopi bubuk biasa, terus gulanya dikit aja." "Ehmm, oke. Kalo gitu Teh nya aku ambil lagi." Bruk! Tangan Dion menyenggol tas Nesya. "Eh, maaf!" Dion hendak mengimpan kembali Teh nya untuk membereskan isi tas Nesya yang berhamburan keluar, namun Nesya tidak membiarkannya. "Nggak apa-apa, biar aku aja." "Tapi.." "Aku haus banget!" tambah Nesya, memasang wajah memelas. "Eh, yaudah. Tunggu sebentar. Aku bikin cepet, kok." *** Tok! Tok! Dimas mengetuk pintu kamar Nesya. "Nesya?" Dimas membuka pintu kamar Nesya, tapi pemilik kamar sudah tak ada di sana. "Mah!" panggil Dimas. "Mah, liat.." "Nesya udah berangkat dari tadi." "Eh? kok Mama tau, Dimas nyari Nesya?" "Memangnya siapa lagi? ini pertama kali kamu nggak nemuin Nesya di kamarnya, kan?" "Kok, anak itu nggak bilang mau berangkat pagi?!" gumam Dimas. "Tadi.." "Naik taksi, Mama yang pesenin juga, tadi." "Yaudah kalau gitu, Dimas mau mandi dulu." Nela menggelengkan kepalanya, ia tak percaya kalau anak yang awalnya ia kira tak memiliki kehangatan akan menjadi sosok yang penuh perhatian seperti ini. Sebagaimana Sikap anak tunggalnya itu pada Nesya, sudah seperti keharusan seorang Kakak pada adiknya. Kehadiran Nesya mampu melengkapi banyaknya kekurangan yang ada dalam kehidupan Nela. Ia sangat mensyukuri keberadaannya. Kalau saja suaminya masih ada di tengah-tengah keluarga kecilnya ini, maka ia pun akan merasakan hal yang sama. Ting! Tong! Bunyi bel menyadarkan Nela dari lamunannya. "Tunggu sebentar!" sahut Nesya, segera mengusap setitik air matanya yang berhasil lolos. "Dimasnya ada, Tante?" "Ada, tapi Dimas lagi mandi. Ke toiletnya aja baru masuk. Masih lama, pasti." "Aku tungguin, deh. Nggak apa-apa, kan, Tante?" "Yaudah kalau gitu, silakan duduk. Mau minum apa?" "Nggak usah, Mah!" Dimas menghampiri. "Mau apa lo ke sini?" "Aku mau jelasin.." "Gue nggak butuh penjelasan apa pun." Dimas membuka pintu, "sebaiknya lo pulang!" "Aku nggak pernah dorong adik kamu, Dimas! kenapa kamu nggak percaya, sih?" "Malsud lo, Nesya bohong?" "Emm, a-aku nggak bilang gitu, tapi .." "Gue nggak mau telat ke kantor gara-gara lo!" Dimas meraih lengan gadis itu lalu menyeretnya keluar. "Kalau seandainya adik lo emang bohong, apa lo tetep bakal memperlakukan gue kayak gini?!" Bruk! Dimas menutup pintu, tak lagi mau mendengar apapun. Mengetahui kalau Nesya tak menyukai gadis yang sedang dekat dengannya pun sudah cukup sebagai alasan untuk Dimas menyudahi hubungannya. Meski selama ini belum satu pun gadis yang berhasil menembus hati adiknya itu, bagi Dimas, Nesya tetap orang pertama yang dapat mempertimbangkannya. "Eh, temen kamu udah pulang?" ujar Nela yang baru saja kembali dengan membawa air minum. Dimas mengangguk, "udah!" "Dim! Dimas?!" panggil seseorang di balik pintu yang bekum juga menyerah, membuat Nela menyadari ada yang salah. "Dimas?" Nela meminta penjelasan. "Udah Dimas omongin baik-baik, Mah. Tapi dia nggak mau ngerti juga." "Kalau gitu, biar Mama yang ngomong." "Nggak usah!" tahan Dimas, "biar Dimas aja." *** "Sudah selesai?" Nesya menyodorkan sekumpulan kertas yang sudah siap edar. "Sudah, Pak!" "Bawa ke ruang meeting! tunggu saya di sana." Nesya kembali mengangguk, "baik, Pak." Ia pun segera melaksanakan perintah, tanpa tahu di mana ruangan yang dimaksudkan berada, ia baru mwngingatnya setelah menemui lorong panjanh tak berujung. "Aku ada di mana?!" gumam Nesya sambil mengedarkan pandangannya. Area yang kurang penerangan dan juga tak ada satu orang pun di sini, hanya suara denting jam yang terdengar. Nesya sudah berputar arah, namun ia lupa di belokan mana tadi ia muncul. Apa maksudnya semua ini? Apa Nesya telah tersesat di kantornya sendiri? sangat memalukan! Semakin lama Nesya mengira-ngira, ia semakin khawatir. Bukan hanya waktu yang terus berjalan, tapi ia juga takut tidak ditemukan. Di tengah keributan dalam batinnya, tiba-tiba ia mendengar sesuatu di ujung sana, seperti ada kehidupan. "Kalau nggak tau ruangannya di mana, kenapa nggak tanya?!" ujar seseorang dari arah belakang, membuat Nesya terhenyak. "Pak Kavin?" lenguhnya sambil mengelus-elus dadanya. Namun, bukannya menghampiri di mana kehidupan sebenarnya berada, Nesya malah kembali melihat ke arah yang ada di depannya, ia masih dibuat penasaran dengan apa yang ada di ujung sana. "Ck!" Kavin tak punya pilihan lain selain ia yang perlu menghampiri gadis yang tak berniat menghampirinya itu. "Jangan buang waktu saya!" Kavin meraih lengan Nesya, membuat gadis itu tak punya pilihan selain hanya langkahnya yang mengikuti ke mana Kavin berjalan. Sesampainya di ruangan, Nesya pun segera membagikan lembaran yang di bawanya ke tiap kursi yang belum terisi. Ya, waktu yang atasannya maksud adalah seperti ini. Belum satu pun orang ada di sini, bahkan bosnya sendiri kembali keluar. Daripada mengantuk karena dibuat menunggu, Nesya pun memilih kembali keluar. Di sebelah kanannya, terdapat satu divisi, meski tak banyak suara yang terdengar namun dengan melihatnya saja sudah membuat suasana cukup hangat. Namun sisi satunya lagi sangat sepi, sepetak ruangan kosong tak berpenghuni. Namun saat melihat ujungnya, Nesya seperti mengenalinya. "Eh, ini, kan?" gumam Nesya setelah sampai di persimpangan. Ini adalah ujung yang ia lihat tadi. Kalau seandainya Nesya terus berjalan, maka ia akan menemui ruangan ini. Dan kalau sedekat ini, kenapa Kavin malah membawanya berputar arah dan memilih jalan yang jauh? *** Sekembalinya Kavin ke ruang meeting, sekertarisnya itu sudah tak ada lagi di sana. Apa gadis itu menelusuri gedung perusahaannya lagi? Sementara semua perwakilan divisi sudah siap sedia, dan meeting pun harus segera dimulai. "Maaf, Pak? apa bisa kita mulai?" ujar perwakilan dari divisi finance, bagian yang akan menjadi topik pembahasan. "Silakan!" sahut Kavin, mengijinkan. "Baik, kita langsung saja pada intinya. Untuk proyek baru kita, kami, tim Finance sudah melakukan pembelanjaan bahan-bahan yang dibutuhkan. Secara terperincinya, kalian bisa membuka lembaran yang ada di atas meja, tapi saya juga akan membacakannya, jadi jika hanya mendengarkan pun boleh," ucap pria betkacamata itu panjang lebar. "Minggu lalu, kami membeli kebutuhan batu bata sebanyak 10 kontener dengan biaya 50 juta, besi besar dan besi kecil 3 kontener dengan biaya 20 juta, granit 6 setel dengan biaya 5 juta, semen 2 pasang dengan--dengan..." ucapannya terhenti, "3 juta?" gumamnya kemudian, mulai merasakan kejanggalan. "Kamu belanja bahan bangunan, atau bahan pakaian?" ujar seseorang, Kavin sudah menatapnya sejak tadi, ia hanya menunggu kesadaran dari yang melakukan kesalahan. "Saya belanja ke toko bangunan, Pak. Tapi kayaknya yang bikin data belanja ke Mall." "Siapa yang bikin data?" "Bapak," sahut pria itu sambil menunjukkan kertas yang dipegangnya. Kavin pun meraih kertas milik seseorang yang duduk di dekatnya. Ia tak kebagian, mungkin sekertarisnya tak memasukannya ke dalam jumlah divisi. Dan benar saja, data yang ia lihat sekarang adalah rincian belanjaan barang-barang milkk perempuan. Siapa lagi kalau bukan sekertarisnya?! "Maaf, saya telat!" ucap seseorang yang baru datang. "Kebetulan sekali, pemilik nota belanjaannya ada di sini!" ujar Kavin, "sejak kapan harga 1 ton semen jadi seharga sepatu yang kamu pakek itu?" "Eh?" Nesya melihat sepatunya dengan kebingungan, "mungkin semennya cuma satu bungkus, tapi dianternya pakek mobil gede, Pak." "Satu bungkus, emangnya mie instan," sahut yang lain, terkekeh. "Mie instan isi semen kali," balas yang lainnya lagi, menambah bahan tertawaan. "Saya kira ini ruang meeting, kalau mau bercanda, silakan keluar!" Kavin bersuara, menghentikan saling sahut karyawannya. "Kalian itu pekerja yang seharusnya terpelajar, bukan lagi anak sekolahan yang nggak tau waktu kapan untuk serius, kapan untuk main-main," tambahnya lagi, menambah kebungkaman. "Dan kamu," tunjuknya pada Nesya, "ikut saya sekarang!" Bersambung... Jangan lupa like dan komentarnya ya❤❤ Tap love juga biar tau update bab terbarunya❤❤
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD