"Mana kertas tadi?" tanya Kavin pada Nesya.
"Kertas?" gumam Nesya mengingat-ingat.
"Kertas yang tadi pagi saya kasih ke kamu. Mana?"
"Oh, ada, Pak. Di meja."
"Ambil!"
Tak perlu waktu lama untuk Nesya mengambilnya, lalu menyerahkan apa yang atasannya minta. Ia memang cukup bisa diandalkan dalam hal ini.
Brak!
"Ini bukan nota yang saya kasih!" Kavin menyimpan satu lembar kertas yang menjadi sumber masalah.
"Masa, sih, Pak?" Nesya kembali memastikan.
Sudah tertangkap basah, bukannya langsung menyadari kesalahan, Nesya malah sempat-sempatnya meragukan tuduhan yang sudah jelas.
"Eh, ini, kan?" kedua mata Nesya melebar. Ia segera meremas kertas yang seharusnya telah ia buang itu. Tunggu, berarti kertas yang ia buang tadi itu?
"Jadi, masih mikir kalau 1 ton semen seharga sepatu kamu itu, cuma karena 1 sak semen yang dianter mobil gede?"
Nesya menelan salivanya berat. Ia dalam masalah. Tanpa membuang waktu lagi, Nesya pun bergegas untuk mengecek tong sampah yang tak jauh dari mejanya, tapi ternyata tempat itu sudah kosong. Isinya sudah dibuang. Dan itu artinya?
"Kamu lagi ngapain di situ?"
"Eh, Dion, sampah yang di sini dibuang ke mana?"
"Pembuangan di belakang, itu pun kalau belum diangkut."
Nesya meraih lengan Dion, lalu menatapnya serius. "Bisa bantuin aku, nggak? please!"
Dion mengangguk, ia pun segera membawa Nesya ke tempat sampah yang menumpuk di belakang gedung perusahaan. Kedatangannya masih belum terlambat, meski mobil sampah sudah mengangkutnya sebagian, tapi ini jauh lebih beruntung daripada harus mencarinya sampai ke bank sampah yang sudah pasti jumlahnya bergunung-gunung.
"Sebentar!" cegah Dion pada Nesya yang tak sabar dengan aksinya. "Cari plastik yang warna merah, tiap divisi punya ciri khas warnanya sendiri."
Nesya menangguk paham. Ia pun hanya fokus pada benda-benda yang hanya berwarna merah saja. Ya, ia tak begitu menangkap maksud Dion yang sebenarnya. Oleh karena itu, kinerjanya pun tetap bersusah payah. Berbeda dengan Dion, ia yang sudah berpengalaman hanya perlu mengedarkan pandangannya lalu kemudian menemukan apa yang sedang dicarinya.
"Ketemu!" ujar Dion.
Dengan sigap, Nesya pun menghampiri pusat suara.
"Kertasnya pasti ada di dalem sini!" terang Dion kemudian.
"Plastik sebesar ini?" gumam Nesya yang tenaganya sudah habis duluan, tapi dengan segala sisa semangatnya Nesya pun melanjutkan pencariannya.
"Akhirnya!" Nesya meraih gulungan kertas yang secuil dari banyaknya benda-benda terbuang lainnya.
***
"Ini kertasnya, Pak!" dengan napas yang masih terengah, Nesya menyodorkan kertas yang sudah tak jelas bentuknya. "Maaf! tapi tulisannya masih jelas, kok, bisa saya salin ulang lagi.
"Siapa yang suruh kamu sampai ngubek-ngubek sampah?" lontar Kavin.
"Eh?"
"Saya masih punya banyak salinannya," Kavin membuka map yang ada di depannya, menunjukkan lembaran yang sama dengan yang kini Nesya pegang.
"Kamu tahu, salah kamu di mana?"
Nesya mengangguk, "harusnya yang saya buang itu nota belanjaan saya, tapi malah nota yang Pak Kavin kasih."
"Cuma itu?"
"Data yang saya rekap juga jadi salah."
"Yang mengherankan, kenapa kamu bisa nggak sadar sama apa yang kamu ketik? kamu tahu, satu kesalahan kecil, bisa jadi akar kesalahan besar."
"Soalnya kemarin, .."
"Saya nggak butuh penjelasan. Saya hanya mau, jangan sampai hal ini terjadi lagi."
Nesya melenguh, ia tahu penjelasannya memang tidak akan membantu apa-apa, tapi apa salahnya untuk mendengarkan? setidaknya dapat mengurangi rasa bersalahnya dan kecanggungan yang sedang terjadi saat ini.
"Sampai kapan kamu mau di sini?" Kavin kembali bersuara, menyadarkan Nesya yang otak dan hatinya sedang saling bersahutan. "Sudah waktunya pulang."
"Eh?" Nesya melihat arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya. "Masih ada satu jam lagi, saya bisa memperbaiki data yang saya buat tadi."
"Kamu sudah melewatkan makan siang, kamu boleh pulang 1 jam lebih awal."
"Tapi.."
"Apa lagi?" sela Kavin, "kamu nggak perlu membantah."
***
Sepanjang jalan menuju pulang, batin Nesya tak berhentinya berargumen. Ketika sering kali otak dan hatinya selalu bertolak belakang, kali ini keduanya mendadak satu suara.
"Kenapa nggak bilang, coba, kalau kertasnya masih banyak salinan? tahu gitu, aku nggak usah nyari-nyari sampe ke pembuangan sampah, tadi!" gerutu Nesya. "Tuh, kan, bau?!" tambahnya setelah mencium aromanya sendiri.
Nesya sudah memasuki rumah, ia hanya mengecup punggung tangan sang Bunda lalu kemudian masuk ke kamarnya begitu saja. Ini hari pertama gadis itu masuk kerja, sangat mustahil kalau tidak ada cerita dalam dunia barunya. Nela merasa sedikit khawatir, karena biasanya Nesya akan menyempatlan diri untuk sekadar mengobrol dengannya, meski selelah apapun ia sepulang kuliah. Apa ada orang yang menyulitkannya di tempat kerja? budaya senioritas memang mustahil dihilangkan.
"Dimas pulang," suara Dimas terdengar.
"Mah?" panggil Dimas pada seseorang yang tidak menyadari kepulangannya, padahal suaranya begitu lantang.
"Eh, udah pulang? kok, cepet?"
"Udah dari tadi Dimas di sini dan Mama baru sadar?" lenguh Dimas, "kenapa, sih? hemm? mikirin apa?" tanya Dimas bertubi-tubi, ia menggenggam tangan ibunya erat.
Nela terkekeh dengan perlakuan Dimas yang begitu manja, alih-alih terlihat manis, bagi Nela justru lucu. Sikapnya tegasnya pada gadis yang datang pagi tadi, berbanding terbalik dengan kepribadiannya yang satu ini. Terkadang Nela seakan melihat orang yang berbeda dari satu tubuh.
"Mah? ck! malah senyum-senyum gitu. Aku nunggu jawaban Mama, loh, ini!?"
"I am fine, Honey! udah sana, mandi dulu."
Brak!
Kaki Dimas yang baru menginjak lantai kamarnya, kembali memilih keluar.
"Suara apa, Mah?"
"Nesya?" gumam Nela yang masih dilanda kejut.
Tanpa perlu bertanya lagi, Dimas pun segera bergegas ke tempat di mana sumber suara berasal. Ia tak menemukan siapa pun di dalam kamar Nesya, tapi tidak dengan toiletnya yang berantakan.
"Lo ngapain?" Dimas menunjukkan kehadirannya.
Nesya yang tak mengira dengan keberadaan Dimas pun sebisa mungkin menyembunyikan aktifitasnya. Seharusnya Dimas belum pulang, makanya ia tak khawatir dengan keributan yang ia buat tanpa sengaja.
"Nggak, kok!" Nesya segera membasuh bersih tangannya yang penuh sabun, lalu keluar dari toilet, tak mau membiarkan Dimas tahu dengan apa yang sedang dilakukannya.
"Tadi suara apa? Lo nggak apa-apa, kan?" Dimas mengabsen tubuh Nesya, dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.
"Emm, tadi cumaa.." Nesya sibuk mencari jawaban yang tepat, sedangkan Dimas sibuk mencari tahu apa yang gadis itu ingin sembunyikan darinya. "Eh, jangan masuk.."
"Ngapain nyuci sendiri? kan ada mesin cuci di bawah."
"Emm," Tidak mungkin Nesya bilang, kalau ia baru saja bergaul dengan sampah, nanti apa yang Dimas pikirkan tentangnya? tidak menghargai pemberiannya? ah, tidak. Jangan sampai.
"Nes?" panggil Dimas lagi, menagih jawaban. "Jangan aneh gini, ah."
"Aku cuma mau nyuci manual. Ada yang salah?" balas Nesya kemudian. Percuma. Pria itu tak akan pernah berhenti bertanya kalau belum mendapat jawaban dari orang yang ia pertanyakan.
"Sepengen itu?"
"He,em!" Nesya mengangguk cepat.
"Kayaknya lo capek banget," Dimas mengelus puncak kepala Nesya, "selesai ini, kamu mandi, terus makan, habis itu langsung istirahat, ya?"
Cup!
Sebuah kecupan mendarat pada pelipis Nesya. Begitu lembut dan penuh perasaan. Kalau Nesya bisa mengekspresikannya sekarang, maka ia akan meloncat-loncat kesenangan detik ini juga.
"Gue juga mau mandi, nanti ketemu di meja makan, ya?" ucap Dimas sebelum akhirnya pergi.
Nesya bersansar punggung di balik pintu. Seolah telah mendapatkan asupan energi baru yang sebelumnya terkuras habis. Begitu luar biasa efek dari ciumannya, padahal itu hanya ia dapatkan di pelipisnya saja, apalagi kalau.. Nesya tersenyum, ia merasa malu sendiri dengan pikirannya yang mulai keluar jalur.
Kekurangan Nesya hanya satu. Menjadi adiknya. Kalau saja ia adalah gadis lain, maka ia akan mendapatkan perlakuan yang lebih manis dari Dimas. Tapi tak apa, toh ia selalu bisa ikut campur dengan hubungan percintaannya. Jadi, tak ada satu pun yang akan Nesya biarkan berhasil. Karena satu-satunya yang akan memiliki Dimas adalah dirinya sendiri. ia hanya butuh waktu lebih banyak.
***
"Gimana hari pertama kerjanya?" lontar Dimas, setelah Nesya terduduk di samping kursinya.
"Bagus, kok," sahut Nesya, "Enak."
"Ngapain aja tadi?" tanya Dimas lagi, ia mendengarkan obrolan Nesya sambil mengambilkan Nasi untuk Nesya, juga lauk-pauknya.
"Banyak, kok. Seru."
"Banyak? hari pertama udah dikasih banyak kerjaan?"
"Maksudnya banyak temen."
"Yaudah, kalau gitu. Makan yang banyak. Biar kuat."
Nesya hanya menarik ujung bibirnya. Perlakuan Dimas selalu membuatnya seperti anak kecil. Sebenarnya Nesya tidak suka. Kalau begini caranya, kapan ia akan dianggap dewasa? padahal umurnya sudah memadai untuk itu.
"Udah makannya?"
Nesya mengangguk, "udah kenyang."
"Habisin susunya," Dimas mendekatkan segelas s**u milik Nesya yang belum tersentuh, "biar tidurnya nyenyak."
"Tinggi badan aku udah nggak akan nambah lagi, jadi nggak perlu minum s**u lagi," terang Nesya, membuat Dimas tertawa karenanya. Sebab sejak kecil ia sering kali memakai alasan itu agar Nesya mau meminum susunya.
"Sekarang bukan buat tinggi lagi," balas Dimas.
"Terus?"
"Biar tulang kamu kuat, nggak gampang rapuh."
"Kak Dimas pikir, aku setua apa, sampe bisa tulangnya rapuh segala?!"
Dimas kelabakan, ia cukup sulit meluruskan kata-katanya yang sudah Nesya salah pahami.
"Kenapa diem? humm?"
Dimas melempar tatapnya pada gelas s**u Nesya, lalu ia pun menghela napasnya panjang. "Padahal gue udah bikin ini susah payah, tapi yang dibuatin malah..." belum tuntas perkataan Dimas terlontar, Nesya sudah menandaskan segelas s**u penuh yang diperuntukkan padanya itu.
"Anak pinter!" Dimas bangkit dari duduknya, "habis ini langsung tidur, ya? gue duluan, masih ada kerjaan."
Hening.
"Udah? gitu doang?" gumam Nesya setelah kepergian Dimas. "Nggak ada ciuman lagi?"
Bersambung...
Jangan lupa tap love nya?