Kavin memijat kepalanya yang sedikit pening, bekerja semalaman tanpa beristirahat membuatnya tak memungkinkan untuk menyetir mobil sendiri ke lokasi meeting pagi ini. Hampir saja Kavin meraih ponselnya untuk memesan taksi online, ekor matanya menangkap kemunculan seseorang. Ya, Kavin lupa kalau sekarang ia memiliki seseorang yang dapat ia andalkan.
"Kamu bisa nyetir, kan?" tanya Kavin to the point pada gadis yang baru saja menjatuhkan bokongnya di atas kursi.
Nesya mengangguk, namun belum sempat ia kembali berbicara, pria itu sudah melengang pergi dengan meninggalkan sebuah kunci di atas mejanya. Tanpa diberi waktu untuk menetralkan napasnya yang masih ngos-ngosan, mau tak mau Nesya pun segera mengikuti ke mana Kavin pergi.
Sebuah mobil yang bentukannya tak pernah Nesya lihat secara langsung selain hanya di serial televisi langganannya, kini bukan hanya sekadar menyentuh tapi Nesya bisa mengitarinya tanpa terlewat sejengkal pun.
"Kamu bisa sentuh-sentuh mobil saya nanti, sekarang saya nggak punya banyak waktu," ujar Kavin, membuat Nesya sedikit tersipu malu atas perilakunya yang sedikit berlebihan.
Nesya sudah duduk di bangku kemudi dan telah bersiap-siap untuk memulai perjalanan, tapi yang seharusnya menjadi penumpang belum juga masuk ke dalam mobil. Entah apa yang pria itu tunggu, padahal tadi dia sendiri yang memintanya untuk buru-buru.
Tok! tok!
Tangan Kavin mengetuk jendela mobil.
Dengan sigap, Nesya pun menurunkan kaca jendela, sesuai yang diaba-abakan bosnya. Namun tidak berhenti di situ, ternyata Kavin juga meminta Nesya kembali keluar, dan apa lagi yang pria itu minta selain hanya Nesya harus membukakan pintu mobil untuknya.
Kebingungan Nesya masih berlanjut. Ia tak bisa menemukan lubang kunci, kalau begini caranya bagaimana ia bisa membawa bosnya sampai ke lokasi, bahkan menyalakan mesin mobilnya saja sudah tidak bisa.
"Kenapa masih belum jalan?" tegur Kavin.
"Emm.." Nesya mengangkat tangannya yang sedang memegang kunci mobil.
Kavin meraih tangan Nesya lalu membawanya ke sebuah tombol yang berada di bawah setir dan kemudian membuatnya menekan, sampai akhirnya mesin mobil menyala tanpa perlu mengeluarkan tenaga seperti memasukkan kunci ke dalam sebuah lubang kecil lalu kemudian menggerakkannya dengan gerakan memutar.
Sekarang Nesya benar-benar merasa sebagai sopir sungguhan. Sebelumnya ia pikir pekerjaan sekertaris yang ia jalankan hanya akan seputar data-data dan layar komputer saja, namun ternyata ia juga dihadapkan dengan pekerjaan lapangan seperti ini. Untung saja beberapa minggu lalu ia sempat minta diajarkan menyetir mobil pada kakaknya, meski belum menjadi ahli setidaknya ia bisa mengantarkan bosnya ini sampai tujuan, namun ia tidak bisa berjanji untuk tetap selamat karena terakhir kali ia membuat body samping mobil Dimas dihiasi goresan memanjang.
"Kita mau ke mana nih, Pak?"
"Kuningan."
"Dari sini ke arah mana?"
"Sana!" Kavin mengarahkan telunjuknya.
Nesya mengangguk, ia mengikuti petunjuk bosnya. "Terus di sini belok ke mana?"
Mata Kavin yang hampir mengatup harus kembali terbuka akibat pertanyaan Nesya. "Belok Kanan."
"Serius, Pak? bukan belok kiri?"
Kavin menoleh, "kalau belum nemu kanan ya berarti masih lurus," desahnya. "Kamu ini sebenarnya tau jalan nggak, sih?"
Nesya menggelengkan kepalanya tanpa sedikit pun keraguan. "Kalau saya tau, saya nggak akan nanya, Pak."
Tanpa berucap lagi Kavin pun mengutak-atik layar i-pad yang ada di hadapannya. "Ikutin jalannya!" ujarnya setelah mengatur google maps yang sudah terarah. "Saya mau tidur sebentar, jangan ganggu saya sama pertanyaan-pertanyaan kamu lagi."
Belum sempat Nesya berucap, kedua mata Kavin sudah menutup sempurna. Sepertinya pria itu memang sengaja melakukannya agar Nesya tidak tega untuk kembali bersuara. Nesya tidak pernah menggunakan hal semacam ini, karena seumur-umur ia hanya tahu sampai tanpa pernah melalui prosesnya. Lalu sekarang apa yang harus Nesya lakukan dengan tanda hijau yang tergambar melintang pada layar di depannya itu?
Detik demi detik kian berlalu, 1 menit, 5 menit, kemudian 10 menit jalan yang Nesya tempuh kini bukan lagi jalan raya, melainkan bebatuan kerikil yang membuat Kavin tersadar dari tidurnya akibat getaran yang berbeda dari jalanan yang mobilnya tempuh.
Benar saja. Kavin terhenyak dalam tidurnya lalu kemudian mengedarkan pandangannya. Ia sama sekali tidak mengenali di mana keberadaannya saat ini, bahkan si pelaku sudah tidak ada di tempatnya.
"Ngapain dia di sana?" gumam Kavin, melihat Nesya di warung sebrang jalan.
Sejak tadi jawaban yang Nesya dapatkan hanya lurus dan terus lurus, harus berapa jauh lagi Nesya lurus kalau sejak tadi ia tak kunjung menemukannya? apa harus sampai bosnya itu bangun dan menyadari apa yang sedang terjadi?
Deg!
O ow. Terlambat. Nesya sudah ketahuan. Kursi kemudi telah ditempati sosok yang ia takutkan.
"Emm, Pak, ini.. tadi.."
"Masuk!" titah Kavin.
Tanpa berusaha untuk menjelaskan, Nesya pun hanya menurut saja. Toh tanpa diberi tahu saja, pria itu sudah pasti sadar sendiri. Lagipula tadi Nesya hanya salah belok, dan kesalahannya yang tak seberapa itu malah membuatnya terjebak di jalan terpencil begini.
Kavin melihat arlojinya, waktu yang ia punya hanya tinggal setengah jam lagi. Dan tanpa aba-aba sebelumnya, ia pun langsung tancap gas dengan kecepatan di atas rata-rata, membuat rasa bersalah yang Nesya miliki berganti menjadi rasa gelisah akan waktu kematiannya yang sepertinya sudah menjadi dekat.
Ckiittt!
Kavin menginjak rem tepat di depan pintu masuk.
"Parkir mobilnya!" ujar Kavin segera keluar dari mobil, meninggalkan Nesya yang jantungnya masih bergetar hebat.
"Pa-parkir di mana?" gumam Nesya sambil melap keringat dinginnya yang telah bercucuran banyak.
"Tempat parkirnya di sana, Mbak. Lurus aja," imbuh seseorang berseragam satpam.
"Lurus?" ulang Nesya.
Satpam itu mengangguk.
Nesya mengulas senyumnya tipis. Sepertinya ia sedikit trauma dengan kata lurus. Ia tidak mau kalau harus berakhir di perkebunan lagi. Tapi mungkin tidak akan terjadi kali ini karena di sekelilingnya sekarang hanyalah gedung-gedung pencakar langit. Jadi, hal yang tidak mungkin kalau ia harus dihadapkan bebatuan kerikil lagi.
Tempat parkirnya lumayan besar, tapi yang Nesya heran kenapa bisa sampai sepenuh ini? kalau penggunanya banyak, seharusnya tempat ini dibuat lebih besar lagi. Mengingat kalau skill memarkirnya belum mumpuni, maka 2 atau 3 slot yang kosong tidak cukup membuat Nesya leluasa.
Bruk!
Kedua mata Nesya membulat sempurna. Ia menabrak mobil yang hendak melintas di belakangnya. Tanpa bisa bergerak lagi, tubuh Nesya pun kembali bergetar, tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini.
Prak! prak!
Seseorang dari luar menggebrak jendela mobil Nesya.
"Keluar!"
Nesya melenguh, dengan penuh kepasrahan akhirnya ia pun keluar dari mobilnya. Entah harus mati sekarang atau pun tidak, ia sudah berserah diri.
"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya pria itu.
"Huh?" Nesya mendongak, kesan yang pria itu berikan sebelum dengan sesudah melihatnya sangat berbeda. Apa mungkin ini arti dari sebuah larangan "jangan lari dari tanggung jawab?" karena apa yang akan dihadapi belum tentu semenakutkan yang dibayangkan.
"Maaf, Pak. Saya nggak sengaja."
Pria dewasa itu mengangguk, "saya tau, nggak mungkin kalau kamu sengaja nabrakin diri, kan?" kekehnya.
"Ehehe, iya," Nesya ikut tertawa kecil. Meski tak ada yang lucu, hanya saja Nesya berusaha menjadi asik juga, tidak baik kalau membiarkan orang lain tertawa sendirian.
"Kamu ngapain sih? lama banget!" tegur seseorang pada pria itu, dapat dipastikan kalau wanita itu adalah yang pria itu bawa di dalam mobilnya.
"Ya ampun, mobil kita sampe penyok gini!?" desah sang wanita begitu frustasi. "Tanggung jawab, nggak? atau saya hubungin polisi?"
"Jangan berlebihan begitu, kasian Nona ini, kayaknya masih baru belajar nyetir "
"Terus urusan kamu apa? huh?" desaknya, "maksud kamu, kamu nggak akan minta ganti rugi? iya? ini mobil aku juga, ya! uang buat make up aku juga ada di sini. Ohhh, apa karena cewek ini cantik, terus kamu? ohhh oke, aku bisa hubungin pengacara buat urus perceraian kita."
"Eh, eh, jangan, Mih!" cegah sang pria. "Tanggung jawab, atau saya laporkan polisi!" tegasnya kemudian, beralih pada Nesya yang masih menatap keduanya intens.
"Malah bengong!" wanita itu menyenggol Nesya, membuat fokus Nesya kembali. "Mana?" tangannya sudah terulur untuk meminta uang ganti rugi.
Nesya membuka dompetnya, uang di dalamnya hanya tinggal puluhan ribu saja yang dikawal dengan beberapa lembaran berlogo Patimura juga koin lima ratusan. Sebenarnya Nesya sudah sangat tahu hal ini, uangnya sudah habis dipakai untuk modal agar membuat atasannya itu terkesan.
"Lama banget, sih?!" wanita itu merebut dompet milik Nesya, dan sontak saja mimik wajahnya berubah drastis ketika mengetahui benda apa yang ia lihat di dalamnya. "Ini apaan? jangan main-main ya kamu! masa mobilnya segini mahal tapi isi dompet sampah semua?!" keluhnya sembari membuat semua isi dompet Nesya berhamburan.
"Ini mobil atasan saya," ucap Nesya, meluruskan tuduhan.
"Oh. Pantes nggak ada tampang-tampangnya. Tapi saya nggak mau tau, kamu harus tetep tanggung jawab, ya!"
Nesya mengangguk, "saya nggak akan lari."
"Kalau begitu, ini!" wanita itu menyodorkan kunci mobil miliknya pada Nesya. "Bawa mobil saya ke bengkel, sekarang!"
Bersambung ...
Jangan lupa klik ❤ nya yaa thxuu♡♡