6. Kebiasaan tak terhindarkan

1262 Words
Pertemuan sudah hampir selesai tapi Kavin belum juga melihat batang hidung sekertarisnya itu. Apa Nesya tidak tahu di mana pertemuannya berlangsung? padahal ia bisa menyebutkan namanya saja dan seseorang pasti sudah mengantarkannya kemari. Kalau bukan karena itu, apa lagi yang terjadi kali ini? "Om Ray bilang, sekarang lo udah punya seseorang yang dampingin lo kerja. Mana? gue nggak liat siapa-siapa," ujar seseorang. "Pendamping?" Kavin berdecih, "pertemuan belum selesai, belum saatnya kamu berbicara non formal, saya atasanmu, kalau kamu lupa biar saya ingatkan." Setya menelan ludahnya susah payah, ia tak bisa lagi menyahuti Kavin. Pria itu selalu mengungkit masalah jabatan untuk seketika membuatnya kalah tanpa bisa berkutik lagi. 2 jam telah berlalu dan meeting pun sudah menemui akhirnya, tapi Nesya masih belum terlihat. Baiklah, biar Kavin yang mencarinya. Ia tidak pernah melakukan hal yang seperti ini, dan gadis itu membuat Kavin melakukannya. "Meeting sudah selesai, bisakah saya mengobrol dengan bahasa yang non formal sekarang?" Setya muncul lagi di hadapan Kavin, padahal tadi Kavin sudah memastikan agar pria itu jangan sampai mengikutinya. "Gue cuma mau ngajak lo lunch bareng," "Kita?" Setya mengangguk, "emangnya siapa lagi?" "Lo sama gue?" "Emang kenapa sih? nggak akan ada yang nganggep lo gay cuma karena makan bareng doang, beda hal nya kalo bobo..." "Sssttt!" Kavin segera membungkam mulut temannya yang tak hanya berkata asal, tapi juga suaranya yang sudah seperti spiker. "Oke, oke, sorry, Bos! kelepasan." Setya meyakinkan temannya, "sekarang lo yang bikin gue takut! nggak usah kedeketan juga." Kavin yang tak menyadarinya pun segera menjauhkan diri. "Sekali lagi mulut lo nyampah, gue bakal bener-bener jejelin mulut lo sampah." "Ck! iye, iyee, galak amat, sih," lenguh Setya. "Jadi mau makan bareng nggak? kalo nggak, gue mau cabut, nih." "Asalkan gue yang pilih tempat," ujar Kavin. Tanpa banyak berpikir, Setya pun menyetujuinya. Padahal Kavin hanya mengambil keuntungan darinya, ia sengaja memilih tempat yang dekat dengan kantornya agar sekalian diantarkan. Kavin sudah memiliki firasat kalau ia tidak bisa menemukan sekertarisnya dalam waktu dekat, ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi. Apa jangan-jangan gadis itu membawa kabur mobilnya? "Apaan, nih?! kok dihambur-hambur gini." Setya memungut beberapa lembar uang dari lantai. "Lumayan buat parkir." "Udah sekaya ini, lo masih ngambil uang yang nggak seberapa yang bahkan bukan hak lo?" "Nggak seberapa lo bilang?" Setya menggeleng-geleng kepalanya tak habis pikir, "coba lo bayangin, uang sepuluh ribu ini bakal amat sangat betharga saat lo cuma punya uang Rp.499.990.000 sedangkan yang klien minta Rp.500.000.000." Krik! krik! "Oke. Terserah." Kavin menyerah. Temannya ini memang tidak pernah berubah. Entah benar atau tidak alasannya yang selalu dipakainya atau memang ia hanya mencintai uang saja. "Eh," Setya mengambil benda yang lainnya. "Ini punya siapa?" "Gue nggak punya banyak waktu kayak lo, jadi.." "Gue nemuin ini," Setya mengacungkan sebuah Ktp yang ditemukannya. "Terus?" "Kemungkinan besar uang-uang yang gue temuin punya cewek ini, dan dia nggak sengaja ngejatuhin semuanya. Nggak mungkin kan ada orang yang buang kartu identitasnya sendiri?" "Terus?" Setya mengangkat bahunya singkat, "gue laper." Ia berjalan mendahului Kavin, namun ketika hendak membuka pintu penumpang, Kavin sudah lebih dulu masuk ke dalamnya. "Gue kurang tidur, gue mau tidur sebentar." Sebenernya Setya ingin protes, tapi akhirnya ia pun mengalah. Kavin memang kelihatan kurang tidur, tadinya ia pikir pria itu bisa menahannya seperti biasa. Sebab, kalau keadaannya ternyata Kavin meminta tolong maka pria itu benar-benar sedang tidak bisa melakukannya. Kavin sudah damai dengan tidurnya, sedangkan Setya sudah anteng dengan setirnya sambil sesekali melihat foto dari benda yang telah ia temukan. "Cantik juga," Setya mengulum senyumnya. Apa ia benar-benar harus mencari gadis ini? "Nesya Lituhayu," ucapnya lagi, mengeja nama yang tertera di sana. "Siapa?" suara Kavin mencuat. Kebiasaan, mata Kavin memang tertidur tapi tidak dengan kesadarannya. "Siapa apanya?" tanya Setya bersamaan dengan sampainya mereka di lokasi yang sesuai Kavin minta. "Lo nyebut nama siapa tadi?" Setya kembali melihat benda yang baru saja ia simpan, ia tidak bisa mengingatnya hanya dengan satu kali mengucapkan. "Nesya Lituhayu," baca Setya lagi. "Nesya?" gumam Kavin, ia meraih kartu yang sudah temannya simpan di atas dashboard untuk lebih memastikan kebenarannya. Saat Setya sudah turun dari mobil, Kavin malah berpindah posisi ke kursi kemudi lalu kemudian kembali menyalakan mesin mobilnya. "Gue pinjem mobil lo. Lo makan duluan aja. Kalau keburu ntar gue ke sini lagi. Kalau nggak, gue anterin mobil lo ke rumah." "Eh, eh, mau ke mana?!" teriak Setya yang ditinggalkan. "Woy! Maksud lo gue pulang harus naek taksi?" gusarnya. *** 5x panggilan tak terjawab dari Bungsu. Sudah 2 jam berlalu. Dimas yang baru mengecek ponselnya pun berusaha menelpon Nesya kembali, tapi gadis itu tak kunjung mengangkatnya. Kalau bukan hal penting, maka Nesya tidak akan menelponnya sebanyak ini. Dimas mulai khawatir, apa yang telah ia lewatkan? Dimas melacak keberadaan Nesya melalui ponselnya. Ia tidak sedang merecoki hal pribadi Nesya, ia melakukannya hanya ketika hal-hal yang semacam ini terjadi saja. "Mall? ngapain Nesya di situ?" gumam Dimas setelah melihat petunjuk dari yang layar ponselnya perlihatkan. Tak mau banyak berspekulasi, Dimas pun segera meninggalkan kantornya, meski keberadaannya saat ini dibutuhkan, tapi yang ia butuhkan saat ini adalah kabar dari keberadaan adiknya. Keberadaan Dimas sudah sangat dekat dengan tanda hijau, seharusnya keberadaan ponsel Nesya ada di dua orang yang berjalan di depannya itu. Tapi bagaimana bisa? jelas-jelas orang di hadapannya bukanlah Nesya. Dimas pun kembali menghubungi ponsel Nesya untuk memastikan, dan benar saja suara ponsel milik Nesya terdengar dekat dari posisinya. Tanpa punya pilihan akhirnya Dimas pun menegur kedua orang di depannya tersebut. "Kalian kenal sama adik gue? Ah, maksud gue, Nesya." "Anda salah orang." Dimas menggeleng, "suara ponselnya ada di situ," tunjuknya pada saku salah satunya. "Oh ini!" sang pria yang ditunjuk mengeluarkan benda yang dimaksudkan Dimas, "tadi Mbak yang punya ponsel ini nabrak mobil saya, jadi.." "Apa?" kejut Dimas, bahkan keterkejutannya pun membuat dua orang di hadapannya ikut terhenyak. "Pelan-pelan, dong, Mas. Ishh." Sang wanita mengelus dadanya. "Nggak usah ngagetin gitu?!" "Terus sekarang, Nesya ada di mana?" "Toko buku!" sahut sang wanita. "Toko yang mana?" Dimas mengedarkan pandangannya. "Ya ampun, Mas. Ya, di Bengkel, lah. Masa toko buku, sih." "Kan, Mbak yang bilang." "Pakek percaya, lagi. Masa benerin mobil di toko buku." "Yaudah, kalau gitu ada di bengkel mana?" "Emm, bengkel mana, sih, tadi?" tanya wanita itu pada suaminya. "Pokoknya nggak jauh dari sini, deh. Mas cari aja.." "Kenapa bisa nggak tahu? kan mobil situ yang dibenerin." "Eh, Mas nya kenapa jadi rese, sih?" "Bengkel di sini banyak banget, nggak mungkin harus dilihat satu-satu!?" "Ya resiko situ!" balasnya lagi. "Istri dimarahin kok kamu malah diem aja, sih? belain, kek!" protesnya pada sang suami yang hanya jadi penonton. "Dari sini Mas ngambil jalur kiri, terus tinggal lurus aja sampai mentok. Pokoknya nggak jauh dari situ," jelas si pria. Dimas menjulurkan telapak tangan, "Ponselnya mana?" "Dih! Nggak lah, kalau ntar kabur, gimana?" "Udah, Pih. Kasih aja." Sang wanita yang sejak awal nyolot seketika berubah lembut. "Eh, kok?" "Keliatannya Mas ini baik, kok." "Tapi, Yank.." "Kasih, nggak?" wanita itu mengambil paksa ponsel yang dimaksud dari saku celana suaminya lalu memberikannya pada Dimas. "Thank's," ucap Dimas, "dan sebelumnya gue mohon maaf, atas sikap kurang sopan gue tadi." "Nggak apa-apa, muka suami saya emang biasa dicurigain orang, kok. Udah biasa." "Kalau begitu saya minta nomor teleponnya, biar kalau perbaikannya udah selesai nanti.." "Nggak usah!" sang wanita mengelak, "nanti kita nyusul ke sana, kok." "Tapi, kalian tahu bengkelnya di mana, kan?" "Tahu lah, Mas juga kan taunya dari kita. Gimana, sih?!" suara wanita itu kembali meninggi, "udah ah, kalau Mas nya nggak pergi-pergi biar saya sama suami saya aja yang pergi. Kita sibuk." Bersambung... Jangan lupa tekan ❤ nya ya.. thxu♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD