7. Tangis Haru

1637 Words
Nesya saling menautkan kedua tangannya. Sudah hampir setengah hari ia di sinii, selain mobil yang belum juga selesai diperbaiki, pemilik sebenarnya pun ikut menghilang dengan membawa ponselnya, membuat Nesya tak bisa menghubungi siapa pun. Sekarang Nesya benar-benar merasa sendirian. Selama ini Dimas selalu membantunya dalam mengatasi segala urusan yang menyulitkannya, tapi baru saja Nesya ingin mencoba keluar dari Zona nyaman, ia sudah dihadapkam dengan situasi yang tak aman. Kalau begini caranya, bagaimana bisa Nesya menjadi sosok dewasa agar Dimas dapat melihatnya sebagai seorang wanita, bukan anak kecil lagi. "Nesya?" seseorang menyuarakan namanya. "Bisa, kamu beri tahu saya sebelum kamu pergi ke mana pun?" Kalimat selanjutnya membuat senyum Nesya kembali memudar, itu bukan suara milik seseorang yang sedang Nesya pikirkan. Melainkan milik sosok yang mulai terbiasa ia temui dan sejak detik ini akan ia kenali. "Pak Kavin?!" kaget Nesya, "ke-kenapa Bapak tahu saya di sini?" Kavin mengeluarkan tanda pengenal milik Nesya, "saya nemi ini di parkiran. Bisa-bisanya kamu..." "Maaf!" Nesya menyela. Ia saling menautkan jari-jemari tangannya, meminta pengampunan sebelum pria itu menagihnya. "Saya udah bikin mobil Bapak nabrak mobil orang." "Yang jadi masalah..." "Saya tahu, saya salah. Saya mohon maaf." Nesya kembali memotong ucapan Kavin, hal yang tidak Kavin sukai. "Apa kamu terbiasa dengan tidak membiarkan orang lain bicara sampai selesai?" "Huh?" Nesya menurunkan posisi tangan yang menghalangi wajahnya, "maaf." Kavin mengedarkan pandangannya, "saya nggak lihat ada mobil saya di sini." Nesya menampilkan wajah polosnya. "Mobil Pak Kavin dipakek sama orang yang mobilnya udah saya tabrak." Hening. Kavin mencerna sebentar apa yang Nesya baru saja katakan. "Maksud kamu, mobil mereka kamu bawa ke sini, lalu mobil saya mereka yang bawa?" Nesya mengangguk. "Ke mana?" Nesya menggelengkan kepalanya, "tadi saya langsung ke sini." "Terus, apa jaminan mereka bakal nyamperin kamu?" "Handphone saya ada di mereka juga, jadi.." Nesya menghentikan ucapannya, ia baru saja menyadari sesuatu. "Jadi apa?" tagih Kavin, membuat kesadaran Nesya penuh tekanan. "Boleh, saya pinjem Hp Bapak?" Untuk pertama kali, Kavin membiarkan orang lain menyentuh barang pribadi miliknya. Nezya pun mulai menelpon nomor ponsel miliknya, namun setelah terhubung, suara yang menjawab telepon darinya adalah sosok yang ia kenali. "Kalau Hp aku ada di Kak Dimas, berarti orang yang bawa mobil Pak Kavin?!" Nesya menelan salivanya berat, "itu artinya?" "Itu artinya?" ucap Kavin, mengulang kalimat yang Nesya ucapkan. Suhu tubuh Nesya naik secara drastis, keringat dingin pun mulai bercucuran membasahi pelipisnya. Lalu sekarang, apa yang bisa ia lakukan selain menangis? tapi untuk menjatuhkan air mata saja rasanya sulit. "Kamu sudah memberi kesempatan orang untuk berbuat jahat, dan satu-satunya yang menjadi korban hanyalah dirimu sendiri." Tidak. Nesya tidak bisa menahannya. Sekuat apapun ia terlihat kuat di depan pria selain kakaknya ini, Nesya hanya bisa menutup penuh wajahnya untuk menyembunyikan rasa malunya. "Hiks!" Tangis Nesya benar-benar pecah, bahkan berkat pertahanannya yang terlalu kuat, tangisnya menjadi tersedu-sedu. Tanpa Nesya tahu, terdapat sosok lain yang menjadi tegang atas sikapnya. Bukan hanya kebingungan, Kavin juga kelabakan mengenai kekuatan khas perempuan yang satu ini. Melihatnya saja ia sudah habis tenaga, apalagi harus berusaha untuk menghentikannya. "Kamu sengaja mau bikin orang lain mencurigai saya, atas tangis kamu ini?!" ucap Kavin datar, berusaha fokus pada objek lain. Nesya menggeleng, tapi tangisnya masih saja tak berhenti. "Saya nggak marah!" pungkas Kavin, akhirnya "Bapak serius?" tangis Nesya tiba-tiba berhenti. Kavin mengangguk, "jadi, apa kata orang kamu telepon?" "Yang angkat telepon tadi, bukan orang yang bawa mobil Bapak." "Terus?" Nesya mengerjap, ia tak bisa memberi tambahan atas jawabannya. "Jangan bilang kalau kamu nggak tahu?!" Nesya memaksa senyumnya, "sa-saya.." Kavin mengangkat tangannya sebagai tanda agar Nesya berhenti berkata, sebab ia cukup mengerti atas apa yang sedang terjadi. "Saya marah!" "Huh?" Nesya mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk, dan sosok bosnya sudah tak ada lagi di posisinya. Ia hanya bisa melihat punggung pria itu yang tekah melengang pergi. "Nesya?" seseorang menghampiri, namun arah pandang Nesya masih saja terpaku ke sana. Tempat di mana Kavin menghilang. "Nes, lo nggak apa-apa, kan?" Dimas berpindah posisi ke hadapan Nesya, membuat gadis itu terpaksa menyadari apa yang ada di hadapannya saat ini. Nesya menggelengkan kepalanya, tapi raut wajahnya tak sependapat. "Lo nggak pernah bisa bohong." Nesya mengangguk, meralat jawaban pertamanya. "Huaaaaa!!" Tangis Nesya akhirnya pecah. Kali ini ia benar-benar tidak bisa menghadapi hidupnya sendiri. "Sorry!" Dimas membawa tubuh Nesya ke dalam dekapannya. "Harusnya gue nggak telat dateng." *** "Enak?" Nesya mengangguk dengan senyum yang menampilkan gigi gingsulnya. Beberapa menit lalu gadis itu masih terisak, tapi lihat sekarang, Nesya sedang sibuk menyuap ice cream berukuran jombonya, bahkan seperti tidak ada hal serius yang telah terjadi. "Hiks!" Wajah Nesya kembali muram. Jujur. Ini pertama kali Dimas menemui hal yang seperti ini. Biasanya kalau sudah mampu tersenyum, maka kesedihan yang dialami telah benar-benar terlupakan. Di atas meja sudah penuh dengan berbagai macam makanan yang selama ini mampu membuat gadis itu sembuh dengan galaunya, memang Nesya berkali-kali fokus pada makanannya, tapi setelah itu Nesya tetap kembali menangis. "Biar gue temuin orang yang udah bikin lo kayak gini!" "Penipu itu?" tanya Nesya. "Atasan lo!" "Eh," Nesya segera meraih erat lengan Dimas. "Aku yang salah, lagian aku ..." "Nggak bisa! dia nggak punya hak bikin lo begini. Gue nggak tahan lihat lo nangis." "Kak?!" Nesya masih berusaha menahan pergerakan Dimas yang bersikeras. "Aku udah nggak apa-apa! lihat, aku udah nggak nangis," mengusap jejak tangisnya. "Nesya," Dimas melenguh, melihat Nesya yang memaksa diri untuk menahan air matanya agar tak keluar. "Kenapa lo ngeyel, sih? kalau nggak bisa, ya bilang nggak bisa, nggak usah maksa." "Huh?" "Nyetir. Kenapa lo nggak bilang sama atasan lo, kalau lo nggak bisa nyetir?" "Bisa, kok. Cuma.." "Jadi kayak gini, kan, akhirnya? karena lo tuh suka maksain diri jadi yang orang lain mau." Dimas menghela ucapannya, "apa jangan-jangan, atasan lo yang maksa lo buat nyetirin dia? kalai gitu ceritanya, gue nggak bisa cuma diem aja." "Aku yang maksain diri!" ujar Nesya, membuat Dimas kembali memutar tubuhnya. "Maaf," memeluk Dimas. "Aku sering buat Kak Dimas khawatir." "Udah sepantasnya seorang adik bikin kakaknya khawatir." Dimas membalas peluk Nesya. "Nggak masalah. Asal lo baik-baik aja." "A--dik?" batin Nesya. Sampai kapan ia tidak membuat lelaki ini khawatir? rasanya, semakin Nesya berusaha, ia malah semakin sering melakukan kesalahan. "Udah baikan?" Nesya mendongak, lalu menampilkan senyumnya. Dimas menggelengkan kepalanya, "belum," mengusap lembut kedua ujung mata Nesya, "mata bisa bicara tanpa berucap. Jangan tinggalkan bekas apapun." "Emm!" Nesya mengangguk. "Tapi jangan coba-coba bohongin gue, karena gue bakal selalu tahu." Nesya terkekeh, "iya, percaya." "Kita pulang. Mama nggak boleh tahu kalau lo habis nangis. Kalau itu terjadi, lo tahu, kan, apa yang bakal Mama lakuin ke gue?" "Bunda bakal nyuruh Kak Dimas joged-joged sampe aku ketawa," Nesya mengulum tawanya. "Dan masalahnya, lo jago nahan ketawa." *** "Perhatian, perhatian," terdengar suara dari pengeras suara memenuhi seluruh gedung Mall. "Kepada Bapak rambut cepak, kemeja kotak-kotak, celana bahan warna navy, juga Ibu-ibu rambut kuncir, baju kurung warna merah dengan sedikit corak kuning, berhenti di tempat. Sekali lagi, mohon jangan bergerak dari tempatnya." Mendengar hal itu, sontak membuat para pengunjung saling menatap curiga satu sama lain. Setelah memastikan diri sendiri bukan orang yang dimaksud, maka mereka pun ikut mencari sosok yang sebenarnya. "Kok ciri-ciri cowoknya mirip Papi, ya, Mih?" "Yang ceweknya juga, kok, mirip Mami, ya?" balas sang wanita. "Lari, Pih!" menarik lengan suaminya. "Kepada Bapak, sama Ibu yang sekarang mencoba lari, segera berhenti!" suara itu kembali muncul, namun bukan hanya suara, tapi juga lampu sorot yang kini tertuju pada kedua orang itu, jelas saja membuatnya semakin jadi sorotan para pengunjung lain. "Padahal kita udah di Bogor, tapi kenapa bisa tahu kita ada di sini, sih?!" gumam sang wanita. "Maksud Mami?" "Kalian kami tangkap!" ujar seseorang berseragam, memborgol sepasang suami-istri tersebut. "Eh, salah kita apa, Pak?" "Kalian sudah membawa kabur sebuah mobil." "Ba-bawa kabur? Bapak salah paham, kita cuma.." "Membuat dalih kecelakaan sebagai tipu muslihat agar kalian bisa membawa kabur mobil korban?" "Bapak jangan asal ngomong, ya! mobil kita bener-bener ketabrak!" pungkas sang wanita tak terima atas tuduhan yang ditujukan padanya. "Dengan mengendarai mobil yang bukan milik kalian sampai keluar kota?" Hening. "Jangan bilang, Mami menganggap ini kesempatan untuk ..." ucapan sang pria terhenti, ia melihat jelas raut wajah istrinya yang menunjukkan kalau dugaannya memang benar. "Ya ampun, Mih. Mobil canggih begini, keberadaannya bisa dilacak walau sampai keluar negeri sekali pun. Apalagi ini cuma.." "Kalian bisa jelaskan di kantor polisi." "Jafar Suhendar, karyawan tetap divisi finance yang sedang dipertimbangkan untuk mendapat pengangkatan jabatan," seseorang dari daoam mobil bersuara. Sosok yang merasa namanya disebut pun menengok ke arah suara. Siapa yang berani membahas masalah pekerjaan di saat-saat yang sangat tidak tepat seperti ini? "Mulai besok, kamu tidak usah pergi bekerja lagi!" tambah pria itu lagi. "A-apa maksud.." ucapannya pun menggantung saat melihat siapa sosok yang sedang ia coba sahuti. Pimpinan perusahaannya ada di sana, di dalam mobil yang tadi pagi telah menabrak mobilnya. Bagaimana mungkin? ia bahkan tidak pernah melihat mobil ini di parkiran kantornya. "Jangan pecat saya, Pak. Saya mohon, saya nggak bersalah. Ini rencana dia, saya nggak tahu apa-apa." "Papi ngomong apa, sih? kok, nyalahin Mami?!" "Emang bener, kan?" "Ma-mami, Mami cuma.." "Nggak usah Mami-Papian lagi. Seperti yang kamu mau, akan kuurus perceraian kita." Tak mau jadi saksi atas perdebatan antar suami-istri yang sedang berlangsung itu, Kavin pun segera melajukan mobilnya. Ia mau bersusah payah menyelesaikan urusannya sendiri, meski sebenarnya ia bisa meminta orang lain untuk mengurusnya. Kembali pada kenyataan bahwa ia tidak menyukai siapa pun menyentuh barang-barangnya. Seperti yang telah terjadi hari ini. Ia mendapat masalah karena seseorang dibiarkan menyentuh miliknya. Cukup 1 jam Kavin sudah kembali sampai ke tempat di mana seseorang yang bersalah ia tinggalkan. Gadis itu masih berada di sana, tapi tidak lagi bersedih, seseorang telah menghangatkannya. Bukankah bagus? Kavin tidak perlu kembali bersusahpayah. Bersambung . . . Jangan lupa klik love nya biar ada notif kalau update bab baru
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD