6

1308 Words
Pagi ini Marco masih merasa begitu marah. Karena semalam dirinya sama sekali tidak bisa tidur. Jika dia menemukan wanita itu, dia tidak akan melepaskannya lagi kali ini. Setelah mandi dirinya bergegas turun untuk makan karena dirinya sudah kesiangan bangun. Saat tiba di dekat tangga. Tiba-tiba Annabelle lewat didekatnya tanpa wanita itu sadari jika dia sedang berada disitu. Marco mengejarnya dan mencekal tangannya agar wanita itu berhenti. Dia ingin berbicara kepadanya. “Halo, sepertinya kau masih betah disini dan belum akan pergi. Atau kau sudah tidak sabar ingin menjadi wanita simpananku?” Betapa kagetnya Annabelle karena tiba-tiba ada yang mencekal tangannya dan menariknya. “Mr. Xavier, kau sudah kembali?” tanya Annabelle pura-pura kaget. Annabelle begitu takut Marco akan mengenalinya jadi dia harus pura-pura tidak tahu kalau Marco sudah pulang. Dan dia bisa tenang saat Marco berbicara lagi karena Marco memang tidak mengenalinya. Annabelle berusaha melepaskan pegangan Marco. Tapi Marco malah semakin mempererat pegangannya. “Lepaskan aku Mr. Xavier aku harus kembali bekerja.” “Jawab dulu pertanyaanku? Apakah kau sudah tidak sabar ingin menjadi simpananku? Karena jika benar kita bisa memulainya saat ini” dengan itu Marco mendekatkan dirinya pada Annabelle dan memaksa Annabelle semakin merapatkan tubuhnya pada dinding yang ada disana. “Apa salahku Mr. Xavier hingga mendadak anda seperti sangat marah kepadaku. Bukannya kau tahu aku belum menerima gaji jadi aku belum bisa mencari tempat tinggal lain.” Tanpa Marco sadari dia melampiaskan kekesalannya kepada Annabelle. Dan tanpa bisa dia kontrol Marco mencium Annabelle dengan tiba-tiba. “Aku marah karena kau membuat aku menginginkanmu.” Dan dengan itu Marco kembali mencium Annabelle. Annabelle kembali lupa diri, dan entah mengapa dirinya selalu lupa diri saat dicium oleh lelaki tersebut.  Marco menelusuri pipi Annabelle kemudian menelusuri telinga Annabelle dengan hidungnya dan menghembuskan napasnya disana, lalu dia melanjutkannya dengan meneusuri leher Annabelle. Tanpa bisa Annabelle kontrol rintihan keluar dari mulutnya. Dan tiba-tiba Marco menyadari tindakannya. Apa-apaan aku ini. Semalam diriku baru berciuman dengan wanita lain dan sekarang aku mencium wanita lainnya. Dengan tiba-tiba Marco melepaskan Annabelle dan meninggalkan wanita itu. Annabelle belum pulih dari keterkejutannnya karena tiba-tiba dilepaskan seperti itu. Saat Annabelle sadar dia menyadari kebodohannya. Apa yang dilakukannya. Apa dia ingin Marco mengetahui kalau dia adalah wanita yang semalam dicium Marco dikolam. Annabelle tidak habis pikir ada apa dengan dirinya. Sejak kapan dia berubah menjadi w************n seperti ini karena begitu mudah bisa dicium pria berkali-kali dan dirinya tidak protes sama sekali. Marco pasti semakin menganggap jelek dirinya.  Annabelle tidak mau memikirkan semua itu lagi. Masih banyak pekerjaan yang harus dirinya lakukan. Karena Tante Katelyn sudah menyerahkan beberapa Tape Recorder untuk dia ketikkan. Sepertinya Tante Katelyn sudah kembali mempunyai ide-ide baru. Mungkin karena anaknya sudah kembali jadi dia merasa begitu senang. Yang pasti Annabelle harus terus bertahan dirumah ini sampai dia mendapatkan gaji pertamanya setidaknya sehingga bisa menyewa tempat tinggal. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Aku harus mandi karena sebentar lagi Tante Katelyn pasti akan menyuruh pelayan memanggilku jika aku tidak segera turun ke ruang makan. Saat akan menuju kamarnya, Annabelle melihat Marco juga akan menuju kekamarnya. Annabelle dengan cepat menyembunyikan dirinya. Dia tidak siap jika bertemu Marco lagi sekarang. Sial untuk Annabelle. Karena Marco telah melihat dirinya terlebih dahulu.  “Apa yang kau lakukan disitu, apa kau bersembunyi agar bisa menikamku dari belakang? Sehingga kau bisa menguasai mamaku dan semua hartanya?” ucap Marco kepada Annabelle. Dengan terpaksa Annabelle keluar dari tempat persembunyiannya. “Aku tidak seperti seseorang dirumah ini yang tiba-tiba gila dengan menyerang orang lain, jadi maaf jika mengecewakan Anda. Permisi saya ingin kembali ke kamar saya jadi bisakah anda memberikan jalan agar saya bisa lewat.” Karena Marco berdiri disana tak bergeming dengan tubuh besarnya. Marco memberikan jalan kepada Annabelle agar dia bisa kembali ke kamarnya. Tapi saat Annabelle melewati dirinya. Marco kembali menangkap lengannya. Dengan panik Annabelle berusaha membebaskan dirinya. Karena dia takut Marco akan menciumnya lagi. “Apakah Anda tiba-tiba gila lagi dan akan menyerang saya lagi?” sembur Annabelle karena panik. “Apakah itu yang kau inginkan?” Marco bertanya kembali kepada Annabelle. “Tidak, untuk apa saya menginginkan ciuman Anda.” “Sepertinya tadi kau sangat menikmatinya, dan jika aku tidak menghentikannnya mungkin kita akan bercinta saat itu.” Wajah Annabelle merona merah mendengar semua itu. “Lepaskan saya, saya lelah menghadapi anda. Jadi tolong lepaskan saya.” Bukannya melepaskan Annabelle, Marco malah semakin mendekat padanya.  “Tolong berhenti dan menjauhlah dari saya, saya tidak tahu apa yang anda inginkan dari saya.” “Bagaimana jika aku mengatakan aku menginginkan dirimu diranjangku dan aku ingin berada didalam dirimu.” Tanpa bisa Annabelle kendalikan didalam hatinya dirinya juga menginginkan Marco dan dia memejamkan mata agar Marco tidak bisa melihat gairah yang tiba-tiba muncul dimatanya. Tapi Annabelle harus sadar siapalah dirinya sehingga laki-laki itu akan benar-benar menginginkannya. Itu tentu saja hanya tak tik Marco agar dirinya tidak betah dan segera pergi dari rumah ini. Dan dengan pemikiran itu Annabelle dengan tiba-tiba menarik tangannya dan melarikan diri ke kamarnya. Kemudian bersandar di pintu karena dia takut Marco akan mengejarnya. Biarpun dirinya tahu itu tidak mungkin.  Saat sudah bisa menenangkan diri Annabelle baru akan mengambil perlengkapan mandinya. Saat tiba-tiba dirinya mendengar suara Marco berbicara kepadanya dibalik pintu. “Kau bisa melarikan diri hari ini, tapi hari-hari selanjutnya berhati-hatilah karena aku tidak akan melepaskanmu lagi. Dan aku akan mengawasimu, Annabelle. Jika takut kau bisa pergi dari sini dan melepaskan jeratmu dari mamaku.” Apa sebenarnya yang dia inginkan. Sepertinya dia berusah mengintimidasi diriku agar pergi dari rumah ini. Apa yang harus aku lakukan. Annabelle bisa gila lama-lama kalau begini. Lebih baik aku mandi untuk mendinginkan kepalaku kalau tidak aku bisa gila dibuatnya. Setelah mandi, Annabelle bergegas ke ruang makan. Dirinya tidak ingin Tante Katelyn menunggu lama. Terlepas dari betapa menyebalkan anaknya. Annabelle sangat menyayangi Tante Katelyn. “Maaf tante aku terlambat” “Tidak apa-apa Annabelle, ayo duduk dan segera makan, nanti makanannya dingin.” “Baiklah tante.” “Marco, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tidak makan makananmu?” Marco menunggu sesaat sebelum menjawab,“Saya hanya menginginkan hal lain untuk dimakan ma, jadi saya tidak berselera lagi kepada makanan ini.” Marco menjawab mamanya sambil menatap kepada Annabelle. Annabelle membeku mendengar kata-kata Marco. Apakah laki-laki itu sudah gila. Tidak mungkinkan dia masih melanjutkan intimidasinya bahkan sampai dimeja makan dan dengan adanya Tante Katelyn disini. Annabelle tidak berani melihat kepada Marco dan dengan segera dia menghabiskan makanannya agar bisa segera pergi dari sini. Apa yang salah dengan wanita itu dia masih belum melarikan diri dari rumah ini. Aku harus membuatnya segera pergi dari sini. Dia membuatku menjadi bukan diriku sendiri. Dan kalau aku tidak berhati-hati dia juga akan menancapkan cakarnya padaku. “Ada apa dengan kalian berdua, kalian tidak bertengkar kan?” tiba-tiba Tante Katelyn bertanya. “Tidak kok Tante, Tante tenang saja. Saya tidak akan meladeni anak-anak.” Sindir Annabelle kepada Marco. “Iya ma, mama tenang saja. Saat ini kami berusaha saling mengenal setelah berpisah beberapa lama sepertinya kami jadi saling merindukan.” Ejek Marco kepada Annabelle. Dan dengan itu Marco memberikan tatapan dingin kepada Annabelle. Annabelle bergidik ngeri melihat tatapan Marco. Apa yang dia inginkan. Aku tidak boleh jatuh ke dalam perangkapnya. Karena jika aku lengah mungkin aku tidak hanya akan kehilangan tempat tinggal dan pekerjaan tetapi mungkin juga akan kehilangan hatiku. Selama mungkin Annabelle mencoba bertahan untuk tetap makan meski dirinya tidak berselera lagi karena terus ditatap Marco dengan tajam. Apa yang salah sih dengan laki-laki itu. Apa dia tidak punya hal lain untuk dilakukan selain mengawasi aku. Bahkan dimeja makanpun dia harus melakukan itu semua. “Oh…ya Marco besok mama harus Check Up ke rumah sakit atas saran Dr. James. Apakah kamu bisa menemani mama?” “Ya, tentu saja mama. Marco tidak ada akan kemana-mana beberapa bulan ke depan karena Marco sedang cuti dari perusahaan saat ini, Marco akan mengerjakan semuanya dirumah.” Annabelle begitu terkejut mendengar Marco akan berada disini begitu lama. Dirinya bakal gila kalau begini. Mungkin dirinya hanya harus menghindari Marco seperti kemarin-kemarin. “Annabelle permisi dulu tante, semalam Annabelle tidak bisa tidur jadi kalau boleh hari ini saya ingin tidur lebih cepat.” “Baiklah Annabelle, silahkan.” “Mr. Xavier, saya permisi.” “Silahkan Annabelle, mungkin lain kali kita bisa mengobrol lagi agar semakin akrab.” Marco mengatakannya kepada Annabelle tanpa tersenyum. Dan Annabelle tentu saja tahu apa maksudnya. Sudahlah jangan ladeni dia Annabelle sebaiknya jauhi saja dia agar dirimu tetap waras. ___________________________________________________ Sekian dulu. Nanti dilanjutkan. Thx Jangan lupa klik love ya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD