Semenjak Shenna menerima untuk menjalankan wasiat yang ditinggalkan oleh ayahnya untuk tinggal bersama keluarga Aditama. mama Renata merasa memiliki teman, teman untuk belanja, masak, dan juga kesalon. Sebelumnya mama Renata sangat kesepian, suami dan putranya itu sangat sibuk dengan perusahaan. Sementara anak gadisnya berprofesi sebagai dokter, sudah pasti jarang pulang kerumah.
Sifat ramah dan hangat yang dimiliki mama Renata membuat Shenna nyaman dan perlahan mengobati dukanya. Shenna juga difasilitasi dengan baik oleh keluarga mereka. Punya gadget terbaru, menempati kamar yang megah nan luas, difasilitasi mobil untuk kesekolah, namun dirinya belum di izinkan oleh mereka untuk mengemudi, jadinya Shenna masih diantar jemput oleh supir pribadinya mama Renata yaitu mang ujang.
Shenna dirumah ini bahagia dan merasa hangat, tetapi ada satu orang yang bila dekat dengannya terasa dingin. Siapa lagi kalau bukan si tuan muda yang memiliki wajah angkuh dan datar. Shenna bisa menebak orang ini sudah pasti tidak memiliki pacar, lihat tampangnya saja sudah membuat siapa saja mati kutu, apalagi sampai menjalin asmara. Sekarang saja tatapannya pada Shenna sangat tidak enak dilihat, Shenna yang ditatap seperti itu merasa sedikit susah untuk melahap sarapannya pagi ini.
“Shenna.” Panggil mama Renata yang akhirnya membuyarkan lamunan Shenna dipagi hari.
“Ya Ma? Ada apa?.” Tanya Shenna. Mama Renata dipanggil mama oleh Shenna, itu semua keinginan mama Renata untuk memanggilnya dengan sebutan mama.
“Mang ujang hari ini nggak ada, karena harus temanin istrinya lahiran. Kamu nggak apa-apa kan kalau berangkatnya bareng Renal?.” Tanya Mama Renata. Shenna yang mendengar itu serasa sulit menelan salivanya. Shenna rasa ia tidak akan sanggup jika harus barengan dengan Renal kesekolah, cukup waktu pertama kali Shenna kesini dengannya semobil, kemarin saja Shenna merasa dirinya semobil dengan patung, benar-benar kaku dan dingin.
“Shenna?.”
“eh ya, ma?.” Tanya Shenna yang baru tersadar dari lamunannya.
“Kok pagi-pagi ngelamun sih? Apa kamu punya masalah?.” Tanya mama Renata yang tak biasanya melihat Shenna seperti ini.
“Shenna kepikiran hari ini ulangan matematika ma.” Jawabnya asal karena sudah tak tahu lagi beralasan apa, tidak mungkin kan ia menjawab yang sebenarnya? Yang ada ia ditelan benar-benar oleh Renal si manusia kaku, dan datar.
“jadi gimana? Kamu nggak apa-apa kan kalau harus bareng Renal?.”
“hmm Shenna naik angkutan umum aja deh ma.” jawabnya pelan agar si tuan muda tak tersingung dengan ucapannya.
“Nggak, nggak bisa. Transportasi umum itu bahaya Shenna, apalagi angkot. Resiko kecopetan dan pelecahan. udah kamu paling safe sama Renal.” Tolak mama Renata akan keputusan Shenna yang memilih naik transportasi umum.
“Gimana kalau ojek online aja ma?.” Tawar Shenna pada mama Renata.
“No, sekali no maka tetap no. mau angkot online kek, ojek online, bus online, mama tetap no.” Ucap mama Renata. Papa Ronny hanya tertawa, pasalnya Shenna jadi tahu sifat keras istrinya.
Batin Shenna kenapa harus ditanya nggak apa-apa, kalau ujung-ujungnya dia tidak bisa memilih, bagi Shenna ia tak takut berhadapan dengan copet, yang ia takutkan adalah bersama dengan mahkluk kaku dan datar seperti Renal.
“Renal, mama titipin Shenna ya.” Ucap mama Renata. Renal hanya membalasnya dengan mengangguk pelan.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Dalam keheningkan perjalanan menuju sekolah, Shenna merogoh tas sekolahnya, mengambil ponsel. sepertinya kali ini dirinya membaca novel online saja untuk menangani keheningan dipagi ini. Sementara itu orang yang disampingnya fokus menatap kedepan. Dua kata yang sering Shenna ucapkan dalam hatinya “dasar Kaku”.
Hampir tiga puluh menit melalui perjalanan bersama manusia kutub utara, Shenna bernafas dengan lega setelah keluar dari mobil. Bukan hanya seorang introvert yang kalau ketemu orang banyak energinya habis, seorang ekstrovert juga bisa kehabisan energy, bila bertemu dengan orang yang dingin, super kaku, dan datar seperti Renal. Bahkan sampai Shenna turun dan pamitan, Renal hanya memandangnya tanpa sepatah katapun. Sungguh tidak akan ketiga kalinya lagi Shenna semobil dengan orang seperti ini.
“Heyyyy, udah lemas aja dipagi hari Shen.” Tegur Icha pada Shenna. Dari kejahuan icha dapat melihat mood Shenna berantakan, dari raut wajah dan cara berjalannya menandakan mood Shenna tidak baik-baik saja.
“Iya Shenn, nggak biasanya. Ada apa?.” Tanya Aliska dengan suara lembutnya yang khas.
“Kelihatan banget ya kalau aku lagi badmood?.” Tanya Shenna tak percaya pada mereka. Sebegitu berpangaruhnya Renal, sampai-sampai membuat dirinya badmood dipagi hari.
“Banget.” Jawab mereka bersamaan. Mereka bertiga pun tertawa.
Shenna, Aliska dan Icha merupakan sahabat yang sefrekuensi, sama-sama positif vibes. Mungkin ada perbedaan disalah satu dari mereka, Aliska dikenal dengan sifat lembutnya, Icha dengan sifat riangnya, sementara Shenna dikenal dengan kesabarannya. Kedua sahabatnya itu merupakan dari keluarga yang berada, berbeda dengan Shenna hanya anak seorang supir. Aliska terlahir dari keluarga yang punya beragam macam bisnis kuliner, sedangkan orang tuanya Icha adalah seorang pejabat Negara. Akan tetapi kedua sahabatnya itu tidak pernah memandang seseorang dari kasta, dan Shenna syukuri itu, terlebih mereka berdua memiliki aura yang sangat positif, yang tentunya cocok dengan Shenna.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Bel sekolah berbunyi dua kali tanda jam pelajaran pertama sudah berakhir, para siswa siswi semua berbondong –bondong menuju kantin untuk melepas lapar dan dahaga mereka di siang hari ini. Shenna, Aliska dan Icha juga ikut ke kantin. Di kantin mereka terkagetkan dengan para adik-adik kelas sepuluh yang berkerubung pada salah satu laki-laki yang merupakan most wanted di sekolah ini, yaitu Kevin Pradipta yang merupakan ketua osis disekolah ini. Aliska dan Icha hanya menggeleng kepala tak percaya dengan ciwi-ciwi yang berkerubung, bagi mereka ini sangat alay dan berlebihan, mereka saja yang merupakan bagiang dari osis, yang sehari-hari bertemu dengan Kevin merasa biasa saja. Shenna hanya menyunggingkan senyumnya pada dua sahabatnya yang menatap tak percaya apa yang mereka lihat siang ini.
“Mas prapto, seperti biasa yah.” Pesan Shenna pada salah satu penjual dikantin sekolah ini.
“Tenang mba cantik, hubungan kita begitu special, mba cantik berdiri disitu saja saya sudah tahu kok.” Ujar mas Prapto. Mendengar itu Icha merasa mual, Aliska hanya tertawa.
“Mas bisa aja deh, yaudah kita cari tempat duduk dulu ya mas.”
“siap mba cantik.”
Pada saat Shenna dan lainnya mencari tempat duduk, kak Kevin dan teman-temannya melambaikan tangan. Kak Rasya yang juga seangkatan dengan kevin dan juga merupakan bagian dari osis, memanggil mereka bertiga untuk ikut bergabung. Para cewek-cewek yang ada di kantin itu menaruh tatapan tak suka pada Shenna, Aliska dan Icha. Pasalnya mereka iri melihat Shenna dan lainnya dapat ajakan dari orang yang famous di sekolah, apalagi Rasya yang merupakan anak konglomerat di jakarta, ayahnya punya perusahaan tambang emas. Icha yang sadar akan mendapatkan tatapan tak suka dari mereka yang ada di kantin, makin gencar bertingkah agar yang panas tambah panas.
“Sirik yah.” Teriak Icha sambil memutar bola matanya. Teriakan itu Icha tujukan untuk geng barbieS yaitu gengnya Angeline, miska, ratu, mereka bertiga merupakan kakak kelas. Dulunya geng barbieS ada empat orang, hanya saja yang satunya pindah.
“Udah Cha, biarin aja ah.” Tegur Aliska pada sahabatnya.
“Nggak bisa gitu Al, masa kita dipelototin gitu diem aja.” Bantah Icha.
“Cha, yang Al bilang bener loh. Biarin aja, ingat kualitas kita denga mereka jauh beda, kamu jangan mau sampai turun kesana.” Nasehat Shenna pada Icha agar tidak terpancing dengan mereka yang tergolong kosong otaknya.
“Kalian udah pesan makanan belum?.” Tanya seorang lelaki yang suaranya berat, namun intonasi begitu lembut.
“Udah kak Kev.” Jawab Aliska pada Kevin.
“Eh kalian pada nggak lupa kan sama agenda sepulang sekolah?.” Tanya Rasya pada mereka bertiga.
“Oh iya yah, hampir aja kelupaan kak.” Ucap Shenna yang ternyata baru ingat kalau sore ini mereka ada rapat osis.
“Rapat sore ini tentang acara disnatalis sekolah kan?.” Tanya Icha.
“Iya ibu Icha.” Jawab Udin yang juga merupakan bagian dari Osis. Udin ini merupakan pelawaknya anak-anak osis.
“Bisa nggak sih, jangan manggil ibu, nggak lihat apa cantik gini.” Cibir Icha yang tak suka di panggil ibu oleh Udin.
“Maksudnya ibu dari anak-anak ku. Kiw kiw.” Goda Udin pada Icha. Sementara itu Icha hanya bergidik ngeri.
“Wah bahaya nih Cha. Kalau Udin semakin ditolak maka Dukun akan bertindak.” Ujar Rasya. Udin langsung menggeplak kepalanya Rasya.
“se bae kwa nyong kalo bacirita.” Ucap udin yang menggunakan logat orang Sulawesi utara. Udin ini namanya Ciri khas betawi, namun ternyata asalnya dari Sulawesi utara.
“Hahahahha.” Shenna tertawa dengan lepas saat mendengar Udin bicara menggunakan logat dari kota asalnya. Kevin yang melihat Shenna tertawa dengan lepas, merasa terhipnotis dengan tawa nya Shenna. Shenna yang juga sadar mendapat tatapan begitu dalam dari Kevin, membuang pandangannya ke arah lain. Sadar karena sudah berlebihan menatap Shenna, ia pun mengalihkan perhatiannya pada semangkuk bakso yang baru saja datang.