Sore selepas aktivitas sekolah mereka anak-anak Osis berkumpul disalah satu warkop yang menjadi kebangaan mereka, warkop Asmaraloka. Shenna yang sudah sampai disana berkali-kali menelpon mama Renata untuk memberi tahu bahwa ia akan pulang malam. Shenna lupa minta izin, untuk itu Shenna merasa panik kalau nanti ada yang menjemputnya disekolah sedangkan dirinya sendiri sudah disini.
“Ada apa Shen?.” Tanya Kevin yang tiba-tiba muncul dari belakangnya.
“Ini kak mau telepon orang rumah, pagi tadi nggak sempat izin dulu kalau mau kesini.”
“Terus? Udah kesambung?.” Tanya Kevin, Shenna membalasnya dengan menggeleng.
“Biasanya siapa yang suka anter jemput?.” tanya Kevin.
“Supir, tapi supirnya kali ini nggak masuk, karena harus nemenin istrinya lahiran. Tadi pagi sih dianterin sesorang.” Ucap Shenna. Mendengar ucapan terakhir Shenna, Kevin merasa penasaran. Mungkinkah gadis yang ia damba ini sudah memiliki pacar?.
“Woyy, pada ngapain kalian berdua disitu? udah mau mulai nih.” Teriak Rasya pada Shenna dan Kevin yang masih berdiri di depan warkop. Tak enak karena sudah membuat yang lainnya menunggu, Shenna pun berhenti menghubungi mama Renata, dan segera bergabung dengan lainnya di dalam, Kevin pun begitu.
>>>>>>>>>>>>>
Selepas rapat OSIS yang lainnya pada pulang, dan lainnya stay di warkop. Shenna pulang diantar oleh Kevin, sebelumnya Shenna sudah menolak, namun yang lainnya memaksa Shenna untuk terima saja tawaran dari Kevin, apalagi arah tujuan Shenna sama dengan arah rumahnya Kevin.
Sampainya Shenna di rumah, bersamaan dengan Renal yang ternyata baru juga pulang kerumah. Renal yang turun dari mobil memberi tatapan tak suka pada Kevin, hal itu dapat Shenna lihat. Kevin juga yang merasa tak enak dengan tatapan sinis dari Renal, langsung berpamitan pada Shenna.
"Pacar?." Tanya Renal pada Shenna setelah mobil Kevin keluar. Shenna menjawabnya dengan menggeleng.
"Oh." Ucap Renal setelah mendapatkan jawaban dari Shenna.
"Kakak baru pulang yah?." Basa basi Shenna agar bisa membiasakan dirinya untuk akrab dengan Renal.
"Menurut mu?." Bukannya menjawab Renal malah balik bertanya.
"Eh anak anak mama sudah pulang." Mama Renata yang tiba saja muncul di depan mereka berdua. Renal langsung mencium pipi kiri dan pipi kanan mamanya, bisa Shenna lihat bahwa Renal adalah lelaki yang cukup family man juga. Walaupun terlihat sangat ketus, datar dan kaku, namun ternyata Renal memiliki sikap yang manis jika bersama orang yang dia sayang.
"Ma maaf Shenna nggak izin dari pagi kalau mau ada ada urusan sore tadi. Shenna lupa kalau ternyata hari ini ada kegiatan luar sekolah. Maafin Shenna yah ma." Ucap Shenna yang merasa bersalah pada mama Renata karena tak izin dulu.
"Iyah sayang, wajar kok. Mama itu udah terlatih kayak gini, dulu juga Renal seperti itu..." Ucapnya terpotong.
"Ma." Tegur Renal pada mama Renata agar tak melanjutkan ucapannya. Entahlah Shenna juga tidak tertarik seperti apa cerita Renal pada saat masih SMA.
>>>>>>>>>>>>
Dalam kesunyian malam dan ditemani oleh bintang-bintang diatas langit, pria itu sibuk mengerjakan tugas kantornya di taman belakang. Laki-laki itu sangat penggila kerja, terkadang mama Renata merasa anakannya itu tak normal, tidak di rumah dan di kantor sama saja, tetap bekerja dan selalu berhadapan dengan berkas-berkas serta tak bosan-bosannya menatap layar laptopnya.
Shenna yang kebetulan ingin minum matcah untuk menikmati suhu yang begitu dingin malam ini. Minuman matcha hangat sangat cocok menemani malam yang dingin serta di temani oleh buku-buku novel, sudah pasti setelah ini tidur akan terasa nyenyak.
Pada saat Shenna menginjakan kakinya ke dapur, Shenna mampir melihat siapa yang ada ditangan belakang. Rumah ini begitu besar dan luas jika hanya di huni oleh empat orang, sementara para ART dan supir, tinggal di mansion yang ada di sebelah kanan rumah utama. Saking besarnya Shenna merasa sedikit takut dirumah ini, takut hantu, dan takut juga jika tiba-tiba ada maling. Walaupun keamanan rumah ini begitu ketat, tidak dapat menutup kemungkinan orang jahat atau maling muncul tiba-tiba.
Saat ini Shenna sudah berada di taman belakang, ternyata pendengaran Shenna jernih, pada saat mau menuju dapur ia mendengar suara batuk seseorang. Dan ternyata benar, ditaman itu ada laki-laki yang tengah sibuk dengan tumpukan map didepannya. Tak berlangsung lama, Shenna langsung masuk dan kembali pada tujuan utamanya, yaitu membuat matcha hangat.
Usai membuat matcha Shenna juga membuat Roti lapis keju, perempuan itu sangat suka dengan makanan yang berhubungan dengan matcah atau keju. Di dapur bi Ratih ingin membantunya namun ia tolak. shenna tak suka apa yang menurutnya dapat dilakukan sendiri harus dikerjakan oleh orang lain. Ia juga tidak ingin membuat orang lain repot, apalagi ia tau pekerjaan seorang ART tidaklah mudah, ada rasa kantuk yang kerap kali mereka tahan, lapar yang sering kali mereka abaikan, dan ada keluarga yang mereka tinggalkan, untuk itu Shenna rasa dengan tidak menambah kerja mereka serta memberikan waktu istirahat adalah salah satu bantuan yang Mereke butuhkan.
"Ehemm." Deheman berat dari laki-laki yang mengenakan celana pendek serta kaos oblong tak berlengan itu, mampu membuat Shenna kaget. Bagaimana tidak, tampilan Renal saat ini meresahkan siapa saja. Paha Renal yang begitu putih nan mulus terpampang nyata dan jelas, apalagi dengan ia mengenakan kaos oblong tak berlengan membuat otot ototnua terlihat.
"Eh den, tumben ke dapur? Mau bibi buatin apa?." Tanya bi Ratih pada Renal.
"Kopi saja bi, langsung antarkan ke kamar yah." Ucapnya yang kemudian berlalu begitu saja melewati Shenna. Sepintas Renal lewat didepannya Shenna dapat menghirup aroma parfume Renal, dan dapat Shenna tebak bahwa parfume yang Renal gunakan bukannlah parfume murah.
"Bi." Panggil Shenna sambil was was memastikan Renal sudah jauh, dapat ditebak kali ini Shenna ingin apa? Ya sudah pasti ngegibah.
"Ya non?."
"Kak Renal emang suka kayak gitu yah?."
"Kayak gitu gimana non?." Tanya bi Ratih balik pada Shenna, karena pertanyaan Shenna serasa ambigu banginya.
"Suka Makai baju dan celana kayak gitu kalau dirumah?."
"Owalah, Den Renal memang seperti itu non, orangnya gampang gerah, makanya selalu make baju dan celana kayak gitu."
"Kak Renal punya pacar nggak bi?." Tanya Shenna lagi, ia merasa belum sama sekali mengenal Rena selain nama saja.
"Kalau itu setau bibi den Renal punya pacar, namanya Bella. Tapi sayang non.." ucap bi Ratih terpotong.
"Sayang kenapa bi?." Tanya Shenna penasaran. BI Ratih pun celingukkan kesana kemari memastikan tidak ada yang mendengar obrolannya dengan Shenna, bahkan ia juga semakin merapatkan tubuhnya pada Shenna.
"Sayangnya nggak direstuin sama nyonya besar dan tuan besar. Sudah lama sekali den Renal dan pacarnya itu mengejar restu agar bisa menikah, namun tetap ditolak mentah-mentah." Jelas bi Ratih. Shenna hanya manggut-manggut saja. Memang sangat sulit jika cinta tanpa restu.
"Owalah Ratih, disini to ternyata. kamu dicariin nyonya tuh." Ucap mas Ujang yang menyampaikan kalau bi Ratih sedang dicari oleh mama Renata.
"Eh non, bibi minta tolong yah. Antarkan ini sama den Renal." Ucap bi Ratih sambil menyodorkan secangkir kopi pada Shenna. Sejujurnya shenna ingin menolak, akan tetapi ia merasa tak enak pada Bi Ratih, terlebih bi Ratih juga punya urusan yang lebih penting.
>>>>>>>>>>
Pada saat didepan pintu kamarnya sang pemilik secangkir kopi ini, Shenna merasa ragu untuk mengetuk pintunya. Tak berselang lama pintu itu terbuka pada saat akan diketuk olehnya. Renal yang melihat Shenna hanya diam, akhirnya berdehem, pasalnya Shenna bukan hanya diam, melainkan menatap Renal dengan mulut yang terbuka. Shenna pun dengan segera mengatup mulutnya setelah sadar dari keterdiamannya.
"Aaa,, eee,,ak, aku mau antarin ini. Eehh di titipin bibi sama aku." Ucap Shenna dengan terbata. Beberapa kali Shenna mengumpat dirinya didalam hati. Ia mengumpat dirinya yang begitu bodoh saat berhadapan dengan Renal.
"Terima kasih." Ucap Renal sembari mengambil kopi yang Shenna sodorkan padanya.