DITINGGAL LIBURAN

1831 Words
Sepulang dari warkop itu Shenna mendiami Renal, ia sangat malu kala Rental menarik paksa dirinya dari sana. Sampai-sampai saat ini ia merasa tak mau turun makan malam bersama keluarga Aditama, jujur saja jika tak mengingat semua kebaikan mama Renata dan pak Ronny berika padanya, rasanya Shenna ingin menampar Renal pada saat itu. tok tok tok suara ketukan pintu yang membuat Shenna sadar dari tangisnya. "Shen kamu di panggil mama, ini udah jam makan malam. gak bakal mulai kalau ada yang kurang." Teriak Renal dari balik pintu. Tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Renal memutuskan untuk turun duluan. "Kok kamu turun duluan sih? Shenna mana?." tanya mama Renata. "Dari tadi aku ketuk gak dibukain, paling dia tid..." belum sempat selesai Renal melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja Shenna sudah turun. "Maaf ya shenna lama." ucap shenna "Nggak apa-apa sayang, ohiya kenalin ini Fiona anak sulungnya mama." ucap mama Renata sembari memperkenalkan kak Fiona yang sudah bergabung dimeja makan bersama mereka. "Hai kak. Aku Shenna." sapa shenna sembari menjulurkan tangan kepada Fiona dan langsung dibalas juga oleh Fiona. "Hai Shenna, salam kenal yah. Aku turut berduka cita atas kepergian ayah kamu." ucap Fiona. "Iya makasih kak." Shenna. "Hei anak nakal, aku tahu kamu udah jadi CEO, tapi bukan berarti tahta di rumah ini kamu yang pegang. geser sana." usirnya Fiona kepada Renal. Kakak beradik ini sering sekali berantem, lebih tepatnya Fiona yang selalu membully adiknya. "Apansih, baru juga sampe rumah udah garang kek macan." Cibir Renal. "Apa kamu bilang?" Tanya kak Fiona dengan mode mata galak serta sendok ditangannya. "Kayak macan, kenapa mau marah? mau pukul pake sendok lagi?." tantang Renal saat ini kepada Fiona. Hal itu tentu saja mampu membuat Shenna tertawa kecil, pasalnya Renal sangat terlihat ciut jika berhadapan dengan kakaknya. "Kamu nantangin yah? udah mulai gede, mau ngelawan yang lebih tua, sini kamu." Fiona yang saat ini sudah mengangkat sendok hendak mau memukul adiknya, namun hal itu dihalangi oleh sang mama. "Jangan dong fio, kasihan adik kamu." ucap mama Rena sembari memeluk putranya itu. "Mah enal takut sama macan satu ini." Adu Renal seperti anak kepada mama Renata. "Iih mama, anak ini bakal jadi anak kecil terus kalo mama biarin. Biar Fio pukul supaya nakalnya ilang. Asal mama tau yah aku sering banget dapet laporan dari saudaranya mas Bram, katanya anak ini sering banget ke clubing mah." ucap Fio yang hendak ingin memukul adiknya. "Renal? kamu jangan aneh-aneh ya, ke clubing boleh asal kamu jangan pernah having s*x dengan siapapun sekaligus pacar kamu. Mama gak suka ya, laki-laki juga harus menjaga kesuciannya." ucap mama Renata. Shenna terdiam akan kata dari mama Renata tersebut. dipikiran Shenna anak orang kaya itu tidak diajar atau dibiarkan begitu saja, namun sangat berbeda jika itu keluarga Aditama. "Hajar aja mah, bahaya nih anak nanti bisa bisa jebolin anak orang." ucap Fiona yang menatap garang adiknya. "Fio kamu jangan ngomong sembarangan dong, mama percaya kok anak mama pasti bisa jaga nama baik dan kesuciannya." Ujar mama Renata yang sangat mempercayai anak-anaknya. "Mama aku tuh bukan maksud apa-apa, aku takut aja anak ini macam-macam diluar sana." Ungkap Fiona menyampaikan rasa khawatirnya. "Sudah sudah, kalian ini yah malam malam udah grasak-grusuk aja. kamu juga Fio, harusnya kamu fokus dengan urusan pernikahan kamu yang dikit lagi diselenggarakan." ucap Pak Ronny yang sedari tadi hanya menonton aksi dari istri dan anaknya. "Iya pah udah sembilan puluh tujuh persen kok persiapannya." Jawab kak Fiona. >>>>>>>>>>>>>>> waktu bergulir begitu cepat, sekarang acara pernikahan Fiona dan Bram telah dilaksanakan di ballroom AG hotel yaitu salah satu hotel milik keluarga Aditama. saat ini suasana begitu ramai, Shenna yang tidak dapat mengindentifikasikan dirinya ini sebagai apa dikeluarga Aditama, Akhirnya memilih untuk menjauh dari keramaian, lebih tepatnya tidak ikut berbaur bersama keluarga Aditama. saat ini dirinya memilih untuk mencari kenyamanan di rooftop saja. "Dari tadi aku cariin kamu disini ternyata." ucap seseorang dari kejauhan yang mampu membuat Shenna kaget hingga membalikan badannya, suara ini sangat Shenna kenal, suara yang sudah hampir lima bulan ia dengar. "Eh kakak." "Kamu kok disini? dari tadi mama nyariin kamu." ucapnya Renal. "Masuk yuk disini udaranya dingin." Ajaknya pada Shenna karena ia rasa suhu di rooftop begitu dingin. "Aku gak nyaman disuasana ramai kak." jawabnya "Aku lebih gak nyaman kalau kamu disini." ucapnya sambil memperbaiki anak rambut Shenna yang berantakan. Shenna yang mendapatkan perlakuan itu cukup kaget. Jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Semburat merah diwajahnya terlihat jelas, nafasnya saat ini sangat memburu. bayangkan saja saat ini ia berhadapan dengan laki-laki yang parasnya begitu sempurna, Rahang Kokoh mata tajam setajam elang, sangat susah untuk di definisikan yang jelas penampilan ini bak seperti dewa Yunani. "Muka kamu kenapa merah? kamu sakit?." tanya Renal dan refleks menaruh punggung tangannya di dahi Shenna, memastikan apakah suhu tubuhnya Shenna normal atau tidak. Oh tuhan, sejak kapan manusia es ini berubah menjadi seseorang yang perhatian seperti ini? katakan? apakah ini memang sifat aslinya? ah sungguh Renal membuat jantung Shenna tidak aman kali ini. "Ee,,eh gak gak kok kak. ini mungkin cuman kecapean kali." jawabnya asal. Shenna sungguh tidak dapat berpikir jernih apalagi mencium aroma parfumenya Renal, dapat Shenna tebak parfume yang Renal pakai adalah salah satu parfume yang merekamnya bergengsi. "Yaudah kita pulang duluan aja yuk" ajak Renal padanya. "Eh tapi, pestanya gimana?" tanya Shenna. "Udah aku bakal kabarin mama sama papa, toh acaranya dikit lagi bakal selesai kok." ucapnya. Shenna pun akhirnya mengikuti ajakan Renal untuk pulang, menolak pun hanya membuang energi saja. kita semua tahu seperti apa wataknya Renal, selain Dingin dirinya juga sangat pemaksa. ya setidaknya sampai rumah Shenna hanya akan mengurung diri dikamar. Sesampainya di rumah Shenna segera mengganti pakaiannya yaitu memakai piyama dengan motif bunga, Shenna sangat suka sekali dengan bunga. hari ini cukup melelahkan, dirinya akhirnya teringat akan agenda rapat besok, ia hampir lupa untuk mempersiapkan bahan rapat bahkan ia juga seharian belum membuka smartphonenya. dibukanya smartphone tersebut, ada begitu banyak notif yang masuk, salah satunya dari Kevin dibukanya aplikasi w******p tersebut Kak Kevin Andrean (12 panggilan tak terjawab) Shen kamu dimana? kok gak di angkat? sibuk banget yah? atau kamu lagi sakit? kalau lagi sakit jangan lupa minum obat ya, terus ilangin juga itu malas makannya. maaf ganggu ya, aku cuman mau ingetin besok jangan lupa bahan rapat dibawa untuk rapat besok Aliska Pramaditya (5 panggilan tak terjawab) Shen kamu sakit ya? soalnya ini ka kevin ngehubungin aku katanya kamu di telepon, gak kamu angkat? kasian tau ka Kevin udah kayak orang gila tadi di warkop asmaraloka, khawatir banget dia tuh. Kak Rasya divisi humas (3 panggilan tak terjawab) Shen ini sih Kevin udah kayak orang gila, minimal angkat lah kalau di telepon dong cantik. "Astaga bisa bisanya aku sampai lupa buka hp seharian ini." Monolognya yang tak menyangka mendapatkan pesan WA yang begitu banyak, khususnya dari Kevin. Shenna pun segera membalas pesan yang masuk satu persatu, terlebih dahulu ia membalas pesannya Kevin, karena tak enak hati telah membuat rasa khawatir padanya. begitu serius membalas satu persatu pesan yang masuk, hingga orang yang ada di daun pintu kamarnya tidak disadari oleh Shenna telah memperhatikan gerak geriknya sedari tadi. "Aktif banget ya kalau depan gadget." sindir seseorang yang menghampirinya. "Eh kakak." ucap Shenna refleks segera berdiri menghampiri Renal "Kakak ada perlu apa?." tanyanya "Aku cuman mau anterin s**u buat kamu." ucap renal sembari memberikan segelas s**u padanya. "Saking seriusnya kamu sampe lupa minum s**u ya?." lanjutnya yang sekilas memperhatikan bendah pipih yang dipegang oleh Shenna. "Iya ini banyak banget notif WA yang masuk, seharian penuh aku gak buka hp." jawabnya sedikit kaku, entah kenapa setiap kali bersama Renal ia merasa seperti terintimidasi. "Oh." jawab Renal yang kemudian segera pergi meninggalkan Shenna. Oh tuhan manusia satu itu kenapa semakin hari semakin aneh, kelakuannya bikin geram saja. selalu mencari-cari kesalahan Shena. memangnya kenapa jika Shenna terlalu fokus dengan smartphone nya? apa urusannya ? aneh, Renal aneh. jika dipikir pikir Renal sampai dengan sekarang tidak pernah merasa bersalah dengan kejadian di warkop asmaraloka sebulan yang lalu. lihat saja jika sampai terjadi untuk yang kedua kalinya, Shenna akan melawan tanpa pikir panjang. emangnya dia siapa? berani beraninya mengotorisasi kehidupan Shenna. >>>>>>>>> Pagi telah tiba, namun satu hal yang membuat Shenna kehilangan akan moodnya. Keluarga Aditama berencana untuk liburan ke Bali, sebenarnya ia ingin ikut tapi masalahnya acara amal yang di adakan OSIS tinggal hitungan hari lagi, tidak mungkin ia harus ikut dengan keluarga Aditama. mau tidak mau ia akhirnya tidak ikut, tapi satu hal yang Shenna tidak sukai, yaitu lagi dan lagi mama Renata menitipkan dirinya pada manusia es. padahal menurut Shenna ia tidak takut jika harus tinggal dirumah sendirian, lagian mengapa juga manusia es ini mau saja dengan keinginannya mama Renata? apa untungnya untuk menjaga dirinya dirumah? bukan kah lebih asik jika liburan bersama keluarga dari pada harus menjaga anak yang masih duduk di bangku SMA. Ah sudahlah, yang jelas manusia itu memang aneh, tidak ada yang bisa menebak pikirannya. "Kamu gak apa-apa kan sayang kalau mama tinggal? kita disana cuman 2 Minggu kok." Tanya mama Renata memastikan perasaanya Shenna. "Gak apa-apa kok mah, Shenna juga udah gede bisa jaga diri sendiri." ucapnya "Lagian kamu gak sendirian kok, Renal gak ikut dia bakal jagain kamu." ucap mama Renata,yang hanya di angguki oleh Shenna, sebenarnya tidak di jaga pun tidak masalah, malah lebih baik. karena menurutnya Renal bukan menjaganya melainkan mengotorisasi kehidupannya. "Renal mama titipin anak perawan mama ya, jangan kamu usilin." Pesan mama Renata dengan wajah menampilkan puppy eyes terlihat sedikit memohon. "Of course mam, aku gak masalah kok kalau harus jagain anak gede ini." ucap Renal dengan senyum tipisnya. >>>>>>>>>>>>>>>> Hari sudah malam dilihat nya jam oleh Shenna waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Shenna yang sudah bersiap siap untuk ke agenda rapat OSIS malam ini, segera keluar dari kamarnya, namun Shenna sangat terkejut baru dibukanya pintu, ia di kagetkan hadirnya seseorang di depan pintu. "Mau kemana? udah rapih?." tanya Renal padanya. Lagi dan lagi terdengar seperti sedang mengintrogasi. "Aku ada rapat OSIS malam ini." jawabannya malas kemudian berjalan maju bahkan ia tidak peduli sudah menabrak Renal yang ada di depannya. "Ini hari Minggu, sekarang organisasi OSIS bisa gadain rapat juga ya di hari weekend?." sindir Renal. "Kenapa waktu di periodenya Kakak nggak kayak gini ya?." tanya Shenna dengan ketus. Sungguh ia tidak dapat menahan emosinya lagi. "Maksud kamu?." Tanya Renal yang tak mengerti dengan maksud perkataannya Shenna. "Iya Kakak pernah jadi ketua OSIS kan? organisasi yang Kaka bilang nggak berguna itu?." "Kalo iya kenapa?." tanya Renal dengan suara agak sedikit meninggi. "Ya terus kenapa musti larang larang aku kalau Kaka juga pernah?." tanya Shenna, sepertinya suasana sudah mulai tidak aman. tanda perang dingin ini akan dimulai. "Kamu tuh aneh ya " ucap renal "Kakak yang aneh." Balasnya lagi. "Jangan naik ojek online" ucapnya yang segera merampas hp Shenna, ia dapat menebak bahwa Shenna akan memesan ojek online. "Biar aku yang anterin." lanjutnya lagi "Nggak aku gak mau, aku bisa sendiri " bantahnya shenna yang mencoba merampas benda pipih ditangannya renal "Aku antar atau nggak pergi sama sekali?." ancamnya. Kalau sudah begini, Shenna memilih untuk diam saja, karena yang diam adalah yang waras.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD