Tak Perlu Cemburu

1169 Words
Ayara sudah keluar dari kamar yang sekarang ditempati oleh Victor. Namun, sentuhan lembut yang sempat diberikan perempuan itu, rasanya masih tertinggal. Victor tanpa sadar menyentuh area yang tadi menjadi tempat singgah jemari lentik Ayara. Ada senyum terukir di bibir lelaki tampan itu. Hilang kantuk yang tadi sempat menggelayut di pelupuk matanya. Ayara sempurna menyita waktu dan pikiran Victor sekarang. Namun, saat wajah Ayara sedang terbayang, ia tak sengaja memandang foto perempuan yang sengaja ia bawa. Perempuan yang membuat Victor mati rasa terhadap perempuan. Juga perempuan yang menjadi alasannya ada di atas kapal pesiar saat ini. "Gladys, is it true that you're gone?" Victor bertanya dengan sendu. Mengapa rasanya seperti sedang mengkhianati istri sendiri setelah ia bertemu dan terlibat situasi yang cukup intim dengan Ayara barusan, walaupun mereka tidak melakukan apa-apa. Victor tenggelam lagi dalam duka masa lalunya. Meski ia rutin menaburkan bunga ke laut lepas dari atas kapal pesiar itu setiap tahun, sebagai peringatan kematian sang istri, ada keyakinan kuat bahwa istrinya masih hidup. Entah sudah berapa orang yang mengatakan ia gila dan tak terima kenyataan. Keluarga besarnya bahkan sudah berkali-kali meyakinkan Victor bahwa laut lepas memang telah menenggelamkan istrinya empat tahun yang lalu. Gladys. Istrinya yang ia cintai, bukti kesetiaan seorang Victor yang sempurna. Sampai saat ini, belum ada perempuan yang berhasil meluluhkan hatinya. Sampai saat ini, masih ada Gladys yang bertahta. Namun, setelah pertemuan singkat dengan perempuan cantik bernama Ayara, pertahanan kesetiaannya kini mulai goyah. Gladys memang masih ada, bertahta di kediaman hatinya tapi mulai berdampingan dengan wajah yang lain. "Aahhh Ayara!" Victor tanpa sadar mendesah berat. Keinginan untuk kembali bertemu dan menatap lama perempuan itu jadi menggebu. Victor membuka kemeja yang masih melekat di tubuh kekarnya. Diperhatikannya otot-otot tubuh lewat cermin di depan sana. Sudah lama ia tidak merasakan sentuhan perempuan yang sebelum ini hanya ia dapatkan dari sang istri. Melihat Ayara malam ini, kelelakiannya mulai bereaksi. Why, Ayara? Kenapa Ayara?! Victor bukan seperti lelaki kaya raya yang lain, yang suka membayar jasa perempuan penghibur untuk menghangatkan ranjangnya. Namun, Victor menggeleng. Bukankah semua orang ingin ia menerima kenyataan bahwa istrinya memang sudah tak ada. Bukankah, banyak orang yang berharap Victor bisa move on dan mencari kebahagiaan lain bersama perempuan lain pula? Tak terhitung pula jumlah perempuan yang silih berganti berharap bisa menarik perhatian lelaki blasteran Eropa-Indonesia itu. Banyak rekan bisnis yang kebetulan perempuan, menggodanya. Victor tak menggubris! Namun kini, hanya karena semilir angin yang membawa harum tubuh Ayara di pelataran kapal pesiar beberapa jam yang lalu, juga karena satu kelopak bunga yang tak sengaja singgah di jemari lentik perempuan itu, Victor merasakan lagi perasaan itu. Love at first sight? Kepada seorang kupu-kupu malam? Yang benar saja! Victor masih berusaha menyangkal, tapi bayang teduh dan menggoda sosok bernama Ayara malah semakin kuat bertahan dalam ingatan. Victor kini merasakan sisi ambisius dirinya kembali. Ambisinya untuk bisa mendapatkan perempuan lagi. Dan kali ini, ia tahu kepada siapa rasa gila itu kembali muncul di kepalanya. "Setidaknya melalui dia, aku bisa melupakanmu, Gladys. Mungkin dengan mendapatkannya, bisa meluapkan rinduku padamu." Dan Victor berlalu menuju ranjangnya. Ia mencoba terlelap, membawa satu wajah yang masih membayang di ingatan dan pelupuk mata. Sementara Victor telah terlelap, Ayara baru saja masuk ke dalam kamarnya, tempat di mana kini tuan Andrew sedang berbaring. Lelaki itu nampak kelelahan, lebih tepatnya, terlalu mabuk hingga lupa membuka setelah kemeja saat berdansa. Ayara malah mensyukuri itu, ia bisa menggunakan alasan ini untuk tidak melayani lelaki yang sudah tertelungkup di atas ranjang. Namun, keesokan paginya, Ayara melihat tuan Andrew dengan wajah tertekuk masam. Ayara tentu saja tahu alasannya. Harusnya, rencana mereka semalam berjalan lancar, setelah berdansa dan sedikit mabuk, mereka akan bercinta sepanjang malam. Nyatanya ketika tuan Andrew kembali ke kamar, tak ada Ayara. Ia sudah mencari perempuan itu kemana-mana tapi tak menemukannya. Hingga ia kelelahan dan kembali ke kamar lalu tertidur pulas. "Maafkan aku, Tuan Andrew. Kau tentu sudah melewatkan malam hebat kita." Ayara datang mendekat, memeluk lelaki itu. "Kemana saja kau semalam, Ayara? Bukankah kau lebih dulu kembali ke kamar sebelum aku?" tanya tuan Andrew dengan pandangan menyelidik. "Ehmmmm ... Aku terlalu mabuk, Tuan. Aku harus membersihkan bajuku dari muntahanku sendiri, sebelum aku sampai di kamar ini." Tuan Andrew tentu saja tak serta merta percaya. Pandangan penuh curiga seketika menyergap Ayara. Adalah suatu kesalahan fatal, ketika sedang bersama pelanggan, Ayara malah berduaan dengan lelaki lain. "Jujur saja, Ayara. Apa kau bersama lelaki lain?" Ayara mengerutkan dahinya sejenak. Ia benci situasi seperti ini. Ia tak suka menjelaskan panjang lebar meski memang seharusnya, tuan Andrew berhak mendapat penjelasan itu. Ia sudah membayar mahal Ayara untuk bersenang-senang di atas kapal pesiar. "Ya, aku tak sengaja masuk ke kamar orang lain." Ayara melepaskan diri dari tuan Andrew. Ia beranjak menuju cermin, mengeringkan rambutnya yang basah karena memang baru saja selesai mandi. Tuan Andrew mendekat dengan pandangan tak suka. Ia merasa Ayara sudah mengingkari kesepakatan mereka. Dengan sedikit keras ia membalikkan tubuh Ayara yang masih berselimut bathrobe putih. Ayara sedikit tersentak, tapi masih berusaha tetap tenang menghadapi pria yang sedang marah itu. Ini adalah hal yang ia benci, pelanggan menaruh hati dan menganggap hubungan singkat mereka serius. "Siapa yang sudah tidur denganmu semalam?!" tanya lelaki itu murka. "Tenanglah, Tuan Andrew. Aku hanya salah masuk ke kamarnya. Bukan berarti aku tidur dengannya. Dan aku ..." "Aku tidak suka perempuan yang sudah kubayar mengingkari perjanjian denganku!" Tuan Andrew mencengkram bahu Ayara kuat, membuat perempuan itu memekik kesakitan. "Katakan siapa yang bersamamu semalam?!" "Lepaskan aku, Tuan. Kau kasar!" "Katakan!" "Victor!" Cengkraman itu terlepas begitu saja. Tuan Andrew menatap lekat Ayara yang sedang memegang bahunya dengan tatapan berani melawan lelaki itu. "Itu alasannya kau menanyakan tentangnya semalam? Oh, kau pasti ingin menjual dirimu kepadanya juga, bukan?!" Ayara mengepalkan jemari, ia berbalik, meraih gaun yang tergantung tanpa sempat memakainya. Tak berniat menjawab pertanyaan menyudutkan sekaligus menghina itu. Ayara hendak meraih gagang pintu, ia ingin pergi. "Jangan bermimpi, Ayara! Victor tidak akan pernah meniduri perempuan bayaran sepertimu! Kau tidak lebih dari seonggok sampah di matanya!" Langkah Ayara terhenti seketika. Ia mengepalkan kuat tangannya. Kemudian ia meraih ponsel, dengan emosi ditekannya angka-angka di sana. Lalu ia menunjukkan uang yang sudah tuan Andrew transfer kembali ke rekening lelaki itu. Tuan Andrew membelalakkan matanya, tak percaya Ayara bisa melakukan hal itu. "Jangan pernah menghubungi aku lagi, Tuan!" Ayara berbalik tapi lelaki itu menarik lengannya, berusaha membuat Ayara kembali tapi Ayara memberontak keras. "Lepaskan aku!" Tuan Andrew masih berusaha untuk menaklukkan Ayara lalu mendorongnya hingga terjerembab ke atas ranjang. "Aku tidak segan-segan menelepon istrimu sekarang juga!" ancam Ayara sambil menunjukkan ponselnya dengan kontak istri tuan Andrew yang tertera. Entah darimana Ayara mendapatkannya, tapi itu sukses membuat tuan Andrew menciut. Ayara tertawa sinis, menertawakan lelaki yang berusaha menindasnya barusan. Ia memungut gaun yang tergeletak begitu saja lalu masih dengan handuk kimono ia keluar dari kamar itu. Ayara pergi ke toilet umum di dalam kapal pesiar. Ia terpaksa mengganti bajunya di sana. Ketika ia keluar dengan gaun selutut dan rambut yang masih acak-acakan karena belum kering, tak sengaja ia dan seseorang berpapasan. "Kau nampak kacau, Nona Ayara." Ayara terdiam, terbius dalam pandangan Victor yang menatapnya hangat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD