Seorang Pria dengan tubuh kekar, tengah membuka satu persatu kancing kemejanya. Terlihat ada beberapa bekas luka yang terpampang jelas ditubuh keras itu. Dan juga, ada sebuah tatto bergambar ular hitam yang lumayan besar di punggung kekarnya. Kemudian, pria itu melangkah perlahan, kedalam danau yang hanya diterangi oleh beberapa lampu redup dan sinar rembulan.
Setelah menggumamkan beberapa kata, yang tentunya hanya di pahami oleh sebagian mahluk saja, pria itu memasukkan diri ke dalam danau tersebut. Wajahnya begitu tenang, padahal air danau sangatlah dingin malam itu. Perlahan, beberapa bola cahaya merah kecil muncul. Lalu menempel dibeberapa bagian tubuh, yang telah sampai di dasar danau.
Carlos Gardolph, tengah menjalankan rutinitas selama beberapa tahun akhir-akhir ini. Yaitu berendam di danau belakang kastil, yang hampir tertutup oleh pohon-pohon tinggi nan besar. Gunanya, agar tidak ada campur tangan sembarang orang, karena danau ini dikhususkan untuk rutinitas Carlos.
"Sshh," keluh Carlos, ketika merasakan sakit yang luar biasa. Tubuhnya seperti ditusuk-tusuk oleh besi panas dan menyerap tenaganya. Tapi, hal ini harus Carlos lakukan setiap merasakan kejanggalan di tubuhnya, atau tubuhnya akan hilang kendali dan lebih tersiksa lagi.
Kejadian ini, dimulai saat Carlos berumur 17 tahun. Saat itu, dia tengah berlatih pedang bersama Felix, sepupunya. Kebetulan, semua keluarga kerajaan ikut menyaksikan pelatihan itu. Ada sang Nenek, yaitu Audellia Gardolph. Arianne dan Revano, orang tua dari Felix. Belve Dan Derren, orang tua dari Carlos. Sayangnya, Carla tidak bisa ikut karena dia punya kelas berlatih saat itu juga.
Pelatihan berjalan dengan lancar. Namun ketika hujan deras turun, tiba-tiba petir menyambar Carlos dengan sangat kuat. Tanah sampai terbelah menjadi dua saking kuatnya. Tidak ada yang khawatir awalnya, karena Carlos tidak akan mati hanya karena sambaran petir. Tapi, seluruh pandangan tertuju pada bayangan hitam yang menutupi tubuh bagian kanan Carlos.
Sedangkan semua anggota kerajaan yang melihat, langsung melototkan mata mereka kaget. Netra Carlos yang semulanya berwarna abu-abu pekat, berubah menjadi merah menyala. Petir menyambar dimana-mana, seolah mendukung situasi tegang itu. Aura negatif menyebar diseluruh penjuru kerajaan. Bahkan, beberapa bangunan sampai hancur. Geraman dan teriakan Carlos, menambah kesan menyeramkan.
Baru saja Derren ingin menghampiri Carlos dan Felix, tiba-tiba Carlos melesat cepat sambil mengayunkan pedangnya kepada Felix. Beruntung, Felix dengan sigap menghindari serangan Carlos. Jika tidak Felix tidak akan hidup sampai sekarang.
Namun Carlos tidak berhenti. Dia mengeluarkan taring dan kuku-kuku yang tajam, siap mengoyak tubuh siapa saja yang ada. Felix sampai kewalahan, karena gerakan Carlos lebih cepat dari biasanya. Beruntung, Derren dan Revano langsung bisa menghentikan gerakan Carlos. Walau Derren harus menyegel seluruh kekuatan Carlos, selama satu pekan hingga Carlos tidak bisa berganti shift, maupun berlatih kekuatan.
Dan sampai sekarang, tidak ada yang tau penyebab kenapa Carlos bisa kehilangan kendali. Namun yang mereka tau, Carlos hanya bisa hilang kendali saat kelelahan, emosi yang berlebih, atau saat hujan badai. Serta, mereka tau ada sesuatu yang aktif di dalam tubuh Carlos saat itu.
Sering kali Carlos membaca buku, ataupun pergi mencari petunjuk, tentang apakah yang bersemayam didalam tubuhnya itu. Tapi tak ada jawaban pasti.
Sebagai solusi, Belve dan para anggota kerajaan membuat suatu sihir, dengan menggunakan darah mereka. Sihir tersebut, membentuk bola-bola cahaya merah. Yang sampai sekarang masih digunakan Carlos, untuk menyerap kekuatannya ketika melebihi batas. Seperti akhir-akhir ini, Carlos merasa tubuhnya lebih panas dari biasanya, dan mudah terpancing emosi.
Bahkan, Carlos harus menjaga jarak dengan Carla. Mungkin ini yang dimaksud Carla semua orang menyembunyikan rahasia darinya. Karena pada dasarnya, Carla tidak tahu apapun. Terlebih lagi, Carlos tidak akan membiarkan Adiknya itu tahu akan masalah ini.
Dan satu hal yang membuat Carlos harus menjaga jarak dengan Carla. Yaitu, kekuatan yang berada di dalam tubuh Carlos itu bisa terpancing oleh keberadaan Carla. Kekuatan di dalam tubuh Carlos terasa begitu mengamuk saat berada di dekat Carla.
Pasti Carla berfikir, Kakaknya yang sekarang tidak sedekat seperti mereka lakukan saat kecil. Tapi Carla paham, bahwa Carlos sudah dewasa dan membutuhkan privasi tersendiri.
Namun baru saja Carlos memasuki fase tidur, fase dimana tubuhnya mulai mati rasa karena efek bola-bola sihir tersebut. Mata tajam itu segera terbuka, ketika merasakan sentuhan lain dikulitnya. Saat itu juga Carlos merasakan bahwa bola-bole cahaya merah sudah hilang, karena sentuhan seseorang itu.
Dan betapa terkejutnya Carlos, melihat seorang wanita tengah mencoba mengangkat tubuhnya dari dasar Danau. Yang membuat Carlos kesal adalah, cahaya merah yang digunakan sebagai penyerap kekuatan negatif, jadi hilang karena wanita tersebut. Padahal mereka tidka bisa di panggil sembarang waktu.
"Bhuaaahh," Zora, ternyata wanita yang menyelam ke dalam danau tengah malam, adalah Zora.
"Pangeran kau—"
"Apa yang kau lakukan?" tanya Carlos dengan nada dingin khas.
"Kau masih hidup.... kau masih hidup!" teriak Zora dengan semangat, sambil menggoncang-goncang tubuh setengah telanjang Carlos, dan memeluk Carlos singkat Membuat Carlos menghela nafasnya panjang.
"Aku tanya sekali lagi. Apa yang kau lakukan di luar malam-malam begini?" sontak, Zora terdiam sambil memundurkan diri beberapa jengkal. Sadar apa yang telah dia lakukan pada sang Pangeran.
"Aku sedang bosan karena terbangun dari tidur. Jadi aku keluar untuk menghirup udara segar, tapi aku melihat cahaya aneh di danau. Dan saat aku dekati, ada kau yang tenggelam dan tidak bernafas sedikitpun. Ya sudah, aku langsung menolongmu," jelas Zora panjang lebar, karena takut Carlos salah paham. Apalagi, Zora adalah orang baru di istana.
"Kau tidak apa-apa, Pangeran?" tanya Zora dengan nada khawatir. Membuat Carlos yang awalnya ingin marah besar, jadi mengurung niat.
Carlos mengangguk. "Lain kali, jangan pernah mendekati aku tanpa perintah."
Sontak, Zora mengangguk paham. Lalu menjauh dari Caekos, karena posisi mereka memang sangat dekat. "Aku minta maaf, tidak akan aku ulangi lagi, Pangeran."
"Jangan pernah datang ke taman ini lagi," titah Carlos. Disambut dengan anggukan paham dari Zora. Kemudian, Carlos mengambil pakaian yang tergeletak di rerumputan. Jujur saja, Zora sedikit terpersona malu kelita melihat betapa kekarnya tubuh Carlos itu. Ada 6 rubik yang tertata rapi diperut Carlos. Namun, perhatian Zora terlihkan, ketika melihat Tatto ular di punggung lebar Carlos.
"Pange—" ucapan Zora terhenti, karena Carlos menatap tajam seolah mengatakan bahwa Zora salah bicara. "Car... los.... Carlos, tatto di punggungmu memerah."
"Hah?" heran Carlos. Seingat Carlos, Tatto yang dia miliki sejak berumur 17 tahun itu berwarna hitam. Bukan warna merah. Carlos semakin bingung, ketika merasakan panas yang mulai menjalar dari punggungnya. Panas tersebut, seperti tanda-tanda yang Carlos alami ketika akan hilang kendali.
"Pergi dari sini, secepatnya," titah Carlos, lalu terjun bebas ke dalam danau. Meninggalkan Zora dengan segala kebingungannya.
"Padahal aku baru saja menyelamatkan dia," gumam Zora sembari mengintip dari tepi danau. Namun yang Zora lihat hanya pantulan bulan dari atas sana.
"Atau dia sebenarnya tidak tenggelam, ya?" pikir Zora kembali. Kemudian Zora menyadari kebodohan yang telah dia lakukan. Mungkin Carlos sedang berenang, dan Zora dengan ke-sok tauannya malah menarik Carlos ke daratan. Pantas saja Carlos masuk kembali ke dalam danau.
"Tapi aku tidak tenang jika meninggalkannya sendirian," Zora menggigit-gigit bibirnya sendiru bigung.
"Ya sudah, aku tunggu sampai dia muncul lagi," ucap Zora dengan yakinnya, lalu duduk di tepi danau dengan keyakinan penuh bahwa Carlos akan muncul dengan cepat.
Setengah jam berlalu, tapi Zora masih terbingung-bingung dengan apa yang baru saja dia lihat. Carlos, sang Pangeran mahkota itu, kembali masuk kedalam danau yang sangat gelap. Bahkan, cahaya bulan tak lagi bisa menembus kedalam air.
Sesekali, Zora meraba-rabakan tangannya. Mencari dimana keberadaan Carlos, takut apabila Pria itu dalam bahaya. "Pangeran? Pangeran?!"
"Memangnya ada orang yang bisa menyelam selama ini?" tanya Zora pada dirinya sendiri.
Kepanikan Zora semakin meningkat, ketika Carlos tidak juga muncul ke permukaan. Zora berniat untuk memanggil bantuan, tapi Zora khawatir sesuatu terjadi pada Carlos ketika dia pergi. Lagi pula, area danau ini sepertinya tidak terlalu dijamah oleh orang. Karena saat Zora datang, tidak ada penjaga ataupun Omega yang lewat.
"Aduh.... bagaimana ini..." gusar Zora sambil duduk bersender pada pohon, yang kebetulan berada di pinggir danau. Zora menggigit-gigit kukunya, sambil terus mengawasi danau, apabila ada tanda-tanda Carlos disana.
Namun, rasa kantuk menggerayangi mata Zora yang sedikit sedikit sembab. Gadis berambut pendek itu akhirnya tertidur lelap, sambil sesekali menggigil kedinginan karena pakaiannya yang basah.
***
Pagi menyapa, seorang gadis dengan wajah pucat mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya. Zoralyn Maddison, pemilik manik Hazel itu menelusuri sesuatu, sambil mengingat apa yang habis dia lakukan seleum tertidur. Hingga beberapa detik setelah sadar, Zora langsung melesat cepat menuju pinggiran danau.
"Gawaat.. aku malah tertidur," gumam Zora sambil mencari keberadaan seseorang di dalam danau.
"Pangeran! eh... Carlos! kau maish ada di dalam sana?" teriak Zora sembari meraba-raba permukaan air.
"Bodoh, kalau Carlos masih ada di dalam sanapun dia tidak akan bisa menjawab," gumam Zora pada dirinya sendiri. Karena merasa tidak ada harapan, akhirnya Zora berlari terbirit-b***t mencari bantuan. Siapa tau ada penjaga yang berada di sekitar sana. Namun bukannya bertemu denan penjaga, Zora juatsu bertemu dengan Carla yang tengah berlatih pedang.
"Kak Zora!" panggil Carla, sambil melambaikan tangannya dengan semangat. Sedangkan Zora, langsung menghampiri Carla.
"Kenapa kau lari dengan wajah ketakutan seperti itu? apa ada yang mengejarmu?" heran Carla. Tapi bukannya menjawab, Zora malah meletakkan kedua tangannya di pundak Carla dengan tatapan memelas.
"Carla, jujur saja aku tidak siap mengatakan ini padamu," lirih Zora. Membuat Carla mengerutkan alisnya bingung.
"Ada apa memangnya?" heran Carla.
Zora menghela nafasnya panjang, bersiap mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. "Kakakmu mati tenggelam di danau. Maaf.... seharusnya aku memanggilmu semalam," lirih Zora.
"Tapi Kakak—"
"Aku tau, aku tau kau belum siap dengan kepergiannya," potong Zora sembari memeluk Carla yang masih terdiam bingung.
"Aku akan mencari bantuan untuk mencari tubuh Kakakmu. Kau pergilah ke danau terlebih dulu," pinta Zora. Namun, Carla langsung menahan lengan Zora yang hendak berlari kembali.
"Tapi Kakak masih hidup. Aku melihatnya pergi ke ruang rapat," ucap Carla, membuat Zora terdiam bingung. Kemudian Zora melototkan matanya kaget.
"Apakah yang Carla lihat adalah arwah Caros yang tidak tenang?" tanya Zora di dalam pikirannya sendiri. Sedangkan Carla yang tidak tahu apapun, hanya bingung ketika Zora memeluk erat sembari mengelus surai rambutnya. Kemudian, Zora pergi ke ruang rapat yang ditunjukkan oleh Carla.
Braakk!!
Zora membuka pintu besar tersebut dengan sekali hentakan. Membuat seisi ruangan langsung terdiam, sambil menatap aneh pada Zora. Sedangkan pandangan Zora, langsung terkunci pada Carlos, yang duduk di meja paling ujung dengan setelan kemeja lengkap. Bisa ditebak, Carlos juga ikut menatap heran kedatangan Zora yang tiba-tiba itu.
"Carlos," panggil Zora sembari berjalan mendekati Carlos. Dan tanpa disangka-sangka, Zora langsung memeluk Carlos. Sedangkan Carlos yang bingung, hanya diam dan melirik kepada para tamu rapatnya. Kemudian, Carlos mengisyaratkan mereka untuk keluar.
"Di sini bukan tempatmu lagi," ucap Zora dengan lembut, sembari membelai rambut Carlos.
"Padahal aku baru saja bertemu dengamu kemarin, aku baru saja bisa menaap wajah tampan yang selama ini hanya bisa aku lihat dari jauh. Tapi kau malah mati konyol karena tidak tenggelam," papar Zora dengan wajah sedihnya.
"Kau mabuk, ya?" desis Carlos yang kesal dengan perlakuan Zora.
Zora menggeleng pelan, "Tidak."
"Lalu, omong kosong apa yang kau bicarakan?" tanya Carlos dengan nada dingin khasnya.
Seketika itu juga Zora menahan nafasnya kaget. Kemudian, melepaskan pelukannya pada tubuh kekar Carlos. Lalu Zora menangkup wajah Carlos, sambil mencubitnya beberapa kali. Membuat Carlos yang jengkel, langsung menepis tangan Zora.
"Hah? jadi kau masih hidup, Carlos? jadi ini bukan arwah?" heran Zora.
"Menurutmu?" tanya Carlos dengan singkatnya.
"Kalau arwah, mana mungkin bisa aku sentuh," gumam Zora tidak percaya pada apa yang telah dia lakukan.
Seketika itu juga Zora memundurkan langkahnya, ketika Aura mencekam dari Carlos mulai menguasai ruangan. Udara sampai menipis saking kuatnya. Dan akal sehat Zora langsung tertuju pada pintu, jalan satu-satunya untuk dia kabur. Tapi malang, pintu itu tertutup sendiri dan tidak bisa di buka.
"Aku minta maaf, Carlos. Aku kira kau.... tidak selamat karena tenggelam," jelas Zora dengan suara gemetaran menahan takut. Namun bukannya mengerti, Carlos justru berjalan pelan mendekati Zora. Membuat ketakutan Zora bertambah besar.
"Aku sudah bilang, jangan pernah dekati aku tanpa perintah!" bentak Carlos, sambil memukul pintu yang berada di belakang Zora. Membuat pemilik rambut pirang itu sontak menutup matanya. Baru kali ini, Zora sangat takut oleh bentakan seseorang. Karena biasanya, Zora adalah orang yang acuh saat ada yang memarahi.
"Kakak!" teriak Carla, yang beru saja datang dari jendela, sambil menatap tajam pada Carlos. Pedang besar sudah Carla genggam dengan erat, siap untuk menyerang kapan saja.
"Keluar, Carla. Jangan ikut campur urusan orang dewasa," titah Carlos. Namun bukannya menurut, Carla justru melangkahkan kakinya dengan angkuh, untuk mendekati Carlos dan Zora.
"Kemarin kau bilang aku sudah dewasa. Sekarang kau menganggap aku masih kecil, begitu?" papar Carla yang terpancing emosi. Sedangkan Zora yang tidak ingin memperburuk suasana, langsung berlari mendekati Carla.
"Carla, ayo kita pergi. Kakakmu pasti terganggu. Aku sudah salah paham—"
"Biarkan! Kakak memang selalu terganggu jika ada aku," cetus Carla lagi. Membuat Carlos menghela nafasnya panjang.
"Karena kau datang diwaktu yang tidak tepat, Carla. Pekerjaanku banyak, tidak bisakah tau melihatnya?" elak Carlos tidak terima.
Merasa dirinya tidak bisa menahan perkelahian antara Kakak–berAdik itu, Zora segera pergi untuk mencari bantuan. Dan beruntung, Zora langsung menemukan keberadaan Belve, yaitu sang Luna tengah berjalan menyusuri koridor.
"Luna!" panggil Zora dengan nafas tergesa-gesa. Sedangkan Belve yang mendengar panggilan seseorang, segera berhenti, lalu bebalik badan.
"Zora? ada apa? kau sampai berlari-lari seperti itu," tanya Belve heran. Pasalnya, Zora terlihat ketakutan seperti habis dikejar hantu.
"Luna... Pangeran dan Putri, mereka berkelahi," jelas Zora. Disambut dengan kekehan pelan dari Belve, yang sepertinya sudah tidak heran dengan pertengkaran antara Carlos dan Carla.
"Karena hal apa lagi kali ini?" tanya Belve sambil mengajak Zora untuk melerai Carlos dan Carla.
"Maaf, mereka berkelahi karena aku. Tadi aku membuat Pangeran marah, lalu Carla datang merasa tidak terima dan membelaku. Maaf..." lirih Zora merasa bersalah.
"Perkelahian mereka sudah menjadi bagian dari kerajaan ini, Zora. Kau pasti kaget karena baru saja tinggal di sini," Belve tersenyum tipis. Namun senyuman itu lebur, ketika mendengar dentuman besar dari kantor Carlos. Dan benar saja, Kakak—beradik itu sudah mulai terpancing emosi.
"Ada apa ini?" tanya seorang pria paruh baya, dengan suara bariton khasnya. Derren Gardolph, baru saja memasuki area kastil, langsung saja kaget karena disambut dengan suara dentumam tadi.
"Biasa, Anak-anakmu berkelahi lagi," jawab Belve sambil menghela nafas panjang.
"Derren. Kita harus mulai memperingatkan mereka, karena kekuatan mereka sudah semakin besar. Jika tidak di peringati, maka akan berakibat buruk untuk kerajaan ini," lanjut Belve sambil menggenggam tangan kekar Derren erat.
"Tenang saja. Aku akan memastikan mereka selalu baik-baik saja," ucap Derren lembut. Tidak tega melihat raut wajah khawatir Istrinya itu. Sedangkan Zora yang melihat adegan Romantis Alpha dan Luna–nya, hanya menutup mulut agar tidak teriak kegirangan. Walau sedang berada di situasi gentung, Zora tetap tidak melupakan sisi fans-nya.
"Mama, Papa, jangan melerai kami kali ini. Aku ingin bertarung dengan Kakakku.... dan mengalahkannya," papar Carla tanpa mengalihkan pandangan tajamnya pada Carlos.
"Kau memang harus bisa mengalahkan aku..... suatu hari nanti," gumam Carlos.
"Apa maksudmu?" bingung Carla.