Fight [Part 3]

3367 Words
Zora memundurkan langkahnya beberapa kali. Merasa begitu takut dengan aura mencekam dari Carla dan juga Carlos. Ditambah lagi dengan Belve yang mengatakan, bahwa Carlos sepertinya begitu marah. Dan benar saja, semua terbuktikan ketika Carlos menunjukkan geraman dari taring tajam itu. "Berani melawan, 'huh?" "Kalau Kakak tidak keterlaluan, aku tidak akan melawan. Memang apa salah ya dia memakai dress itu?" cibir Carla yang sudah bersiaga jika saja Carlos akan menyerangnya. Dan benar saja. Beberapa detik kemudian, Carlos melesat cepat dengan kuku tajam yang siap mengoyak tubuh siapapun di depannya. Untungnya, Carla langsung cepat menghindari serangan dari Carlos. Dan mengeluarkan pedangnya. Sedangkan Zora, hanya terdiam kaget melihat perkelahian antar Kakak ber-Adik itu. Zora kadang bergeridik ngeri, saat malihat kekuatan besar milik Carlos dan Carla beradu. Kebetulan, Element yang mereka kuasai itu sama. Yaitu Element api. Berbeda dengan Carla yang ahli dalam serangan bola api atau pedang api. Carlos justru memodifikasi Element api yang dia gunakan, menjadi ombak api yang tantunya bisa menguasai tempat lebih luas dan kuat. Bahkan bangunan kastil sampai goyah, saking besarnya kekuatan mereka. Membuat Zora menutup wajahnya cepat, karena hawa panas yang mendominasi. Mungkin karena Zora belum terbiasa merasakan kekuatan sebesar ini, jadi tubuh Zora terasa seperti terbakar. "Putri... sudahlah. Aku bisa mengenakan pakaian apapun," ujar Zora, pada Carla yang semakin ganas menggunakan kekuatannya. Padahal Carla tahu, kalau kekuatan mereka sangat berbeda. Carlos sudah menguasai api hitam, layaknya sang Papa. Tapi Carla masih menguasai api merah dan biru. "Baiklah, terserah kau mau memakai apa. Aku hanya ingin menghajar Kakakku yang pemarah ini sebentar," mendengar ucapan Carla, Carlos hanya tersenyum miring. "Lawan saja jika bisa," ujar Carlos. Membuat Carla yang semakin tersulut emosi, melesat cepat dengan pedang besar di tangannya. Boom! Serangan Carla membuat ledakan besar. Namun malangnya Carla, serangan tersebut tidak mengenai Carlos sama sekali. Carlos sudah berpindah tempat, beberapa detik sebelum Carla bergerak. Saat itu juga, Carlos menggunakan ombak apinya untuk menyerang Carla. "Awaass!" teriak Zora memperingati Carla. Namun sayang, ombak api milik Carlos melesat cepat hingga Carla tidak bisa menghindarinya. Dengan sigap. Zora berlari ke tempat, dimana Carla sudah terbatuk-batuk dengan darah yang menetes dari mulutnya. "Putri..." lirih Zora. "Carlo— Pangeran, kau terlalu berlebihan," ucap Zora sambil membantu Carla berdiri. "Dia Adikmu." "Ya, Carlos... kau sudah berlebihan," sahut suara lain dari lantai atas. Belve dan Derren, diam-diam mengamati bagaimana Carlos dan Carla bertarung. Mereka hanya ingin tahu, seberapa kuat anak-anak mereka jika melawan satu sama lain. Carlos memang mempunyai kekuatan hebat, tapi Carla adalah anak yang pantang menyerah. Bahkan sekarang, Carla sudah bersiap sedia lagi untuk melawan Carlos. "Bela saja dia. Bukankah Mama bilang, Mama ingin anak-anak yang kuat? jadi biarkan aku melatihnya," cetus Carlos sambil mengelap sudut bibirnya yang berdarah. "Kau sudah dewasa, sedangkan Carla masih 15 tahun. Kekuatan kalian juga sudah berbeda tingkat, kau tidak bisa melatihnya dengan sekeras ini," papar Belve sambil mendekati kedua anaknya itu. Kemudian, Belve membelai wajah Carlos lembut. Saat itu Zora bisa melihat, bahwa Belve sanvat menyayangi Carlos. Bisa dilihat dari cara Belve memandang anak putranya itu. "Lawan Papa–mu jika berani," titah Belve. Membuat Carlos meneguk salivanya sendiri kasar. Kemudian, menatap Derren yang tengah menarik tangan Carla agar berdiri. Jika harus melawan Papa-nya sendiri, Carlos harus berfikir berulang kali. "Berbaikan lah, kalian tau Papa tidak suka keributan," ujar Derren, yang yenatap tajam pada Carla dan Carlos. Sedangkan Kakak beradik itu, hanya saling memalingkan pandangan. Membuat Belve menutup mata, dan menghela nafas kasar. Swoosshh!! Carla dan Carlos, dengan cepat memundurkan langkah mereka ketika merasakan panas. Dan ternyata, panas tersebut berasal dari api Phoenix milik Belve. "Apa perlu Mama yang melawan kalian?" Carla menggeleng cepat. "Aku minta maaf, Kakak. Tapi lain kali aku tidak akan kalah," gumam Carla. Gadis itu begitu takut dengan kemarahan Mama-nya. Begitu juga Carlos. Carlos mengangguk. "Aku juga minta maaf." Setelah itu, api Phoenix yang mengelilingi tubuh Belve mereda. Beriringan dengan sebyjm lembut di wajah Belve. "Bagus. Carla, pergilah istirahat. Besok kau punya misi kan?" tanya Belve pada Carla yang langsung mengangguk. "Dan Carlos, tanggung jawablah dengan apa yang kau bawa." Mendengar penjelasan dari sang Mama, alis Carlos langsung mengkerut bingung. Bukankan Mama-nya itu mau bertanggung jawab atas Zora? bukankah dia yang menawari Zora agar tinggal di kastil? tapi kenapa sekarang Carlos yang harus bertanggung jawab dengan gadis yang menatap polos itu? Namun ketika Carlos ingin mengelak, seseorang datang dengan suara lantang dari luar kastil. "Apa-apaan ini, Carlos. Kau meninggalkan aku begitu saja," cetus Felix. Kemudian, Felix melempar rusa besar yang dia dapat. Rusa tersebut sudah tewas, dengan pahan yang masih menancap di perut. Kemudian Felix melihat sekitar, dan bingung mencari di mana hasil buruan Carlos. "Mana target buruanmu?" Carlos langsung melirik Zora tajam. Membuat gadis berambut pendek pirang itu bergeridik ngeri, sambil menyengir meminta maaf. Zora benarpaha letak kesalahanya, memang Zoralah yang menyebabkan Carlos tidak mendapatkan hasil buruan di hutan tadi. "Dia targetmu?" tanya Felix. Tanpa menjawab pertanyaan Felix, Carlos mendekati Zora dengan aura yang sedikit mencekam. Kemudian langsung mengangkat tubuh Zora dengan entengnya. Meninggalkan keluarga Gardolph yang terheran-heran dengan sifat Carlos. Tempramen Carlos, memang susah di tebak seperti Derren. Kadang baik dan pengertian. Kadang tegas dan bijaksana. Kadang juga dingin dan juga kejam. "Aku bisa berjalan sendiri, Panger—" ucapan Zora terpotong, ketika Carlos berhenti melangkah untuk menatap tajam, Zora di rengkuhannya. "Carlos... Carlos, aku bisa berjalan sendiri." Untungnya, Zora langsung paham kenapa Carlos terlihat marah. Pasti Carlos tidak suka di panggil 'Pangeran' oleh Zora. "Lihat ke belakang," ujar Carlos. Menyahuti perkataan Carlos, Zora segera mengalihkan pandangannya dari balik punggung lebar Carlos. Menampilkan Belve, yang masih menatap intens pada Carlos dan Zora dilorong itu. Zora hanya tersenyum kecut pada sang Luna, kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Carlos. "Kenapa Luna menatap seperti itu?" tanya Zora dengan polosnya. "Aahh aku tahu. Tatapan Luna seolah mengatakan, 'Awas saja kalau kau menyakiti gadis cantik itu'," kata Zora menyahuti pertanyaannya sendiri. "Siapa yang mengatakannya?" tanya Carlos tidak terima dengan apa yang Zora deskripsikan tentang dirinya sendiri. "Mengatakan apa?" Zora menatap wajah tampan di depannya itu. "Kau cantik," cetus Carlos. "Terimakasih, aku tau aku cantik. Kau tampan, Pa— eh, Carlos," papar Zora. Membuat Carlos menggerutu dalam hati. Dia tidak menyangka, bahwa gadis biasa seperti Zora, bisa melakukan trik seperti itu padanya. "Hanya bercanda, hehe. Jangan marah," lanjut Zora. Kemudian tersenyum riang, sambil mengayunkan kaki dengan gembira. "Kau baru saja di buang oleh keluargamu. Kenapa malah terlihat girang seperti itu?" tanya Carlos, sambil menurunkan Zora di sofa kamarnya. "Jangan mengungkit hal itu lagi, aku hanya mencoba menghibur diri," jawab Zora dengan entengnya. "Apa kau keberatan jika aku tinggal di kastil? apa kau tidak terganggu dengan keberadaanku?" tanya Zora, yang merapikan pakaiannya karena merasa tidak enak pada Carlos. "Aku tidak perduli," Carlos melepas jas hitam yang ia pakai. Kemudian melemparkannya ke sembarang arah. "Hei jangan berantakan," cetus Zora. Lalu berdiri, untuk memunguti pakaian Carlos. Zora mengedarkan pandangannya, mencari benda agar bisa menyimpan kemeja kotor Carlos. "Biarkan saja. Besok pagi ada Omega yang akan bersih-bersih," ujar Carlos. Namun, Zora tidak mengindahkan ucapan dari Pria bertubuh kekar itu. "Biarkan saja," geram Carlos sambil menarik kemeja yang ada di tangan Zora dengan kasar. Membuat Zora kehilangan keseimbangan, dan terhempas begitu saja ke lantai. Hampir saja wajah cantik Zora bertabrakan dengan ubin dingin itu. Carlos dengan cekatan menahan kepala Zora. 1, 2, 3, detik pandangan Carlos terkunci pada gadis di bawahnya. Sampai akhirnya Zora mengatakan sesuatu yang membuat Carlos sadar. "Kenapa kau tampan sekali?" tanya Zora dengan wajah polos khasnya. "Baru sadar?" tanya Carlos sambil berdiri. "Tidak. Sejak pertama aku bertemu denganmu secara langsung di hutan, aku sampai kaget karena kau sangat.... sangat tampan," ucap Zora dengan antusias. "Jangan melebih-lebihkan," cetus Carlos memalingkan wajahnya. "Tapi sepertinya, kau punya satu kekurangan yang menurutku agak menonjol," Zora berjalan menghadang Carlos, yang ingin duduk di sofa. "Aku tidak punya kekurangan," elak Carlos sembari memandang tajam Zora yang terasa begitu mungil di hadapannya. "Tentu punya, semua mahluk punya kekurangan masing-masing. Dan aku tau kekuranganmu. Kekuranganmu, adalah tidak bisa menangani sifatmu sendiri." Mendengar penjelasan dari Zora, Carlos menghela nafasnya kasar. Bagaimana bisa Zora menyadari dengan cepat kekurangan Carlos itu. Kemudian Carlos ingat, bahwa dia tidak pernah tersenyum di depan publik. Mungkin Zora bisa menebak dari wajah dingin Carlos. "Kau pandai mencari-cari kekurangan orang, 'huh?" desis Carlos. "Bukan... bukan seperti itu. Aku hanya menebak—" "Diamlah. Kau menambah kepalaku pusing saja," geram Carlos lalu memutuskan untuk duduk di sofa. Tapi, terhenti oleh Zora yang berusaha sekuat tenaga, untuk menahan tubuh Carlos agar tidak duduk. "Jangan duduk kalau begitu. Tidur saja," saran Zora sambil menunjuk ranjang king size milik Carlos. "Aku tidak bisa tidur," cetus Carlos sambil menepis tangan Zora. "Setidaknya berbaringlah," ujar Zora. Sedangkan Carlos yang malas berdebat, memilih menuruti ucapan Zora. Tapi beberapa menit kemudian, Carlos kembali bangun sambil menghela nafas gusar. "Bagaimana aku bisa tenang kalau kau menatapku terus," papar Carlos. Membuat Zora langsung memalingkan wajahnya kaget. Zora, juga ikut mengela nafas gusar. "Entah kenapa, kau seperti menarik perhatianku terus. Aku tahu kau tampan, tapi aku jadi lelah pada diriku sendiri. Padahal aku punya kekasih di tempat tinggalku." "Kekasih?" Carlos berdiri dari ranjangnya. "Ya, dan aku lupa tentang dia. Aku lupa bahwa aku punya dia untuk tempatku tinggal. Jadi besok aku mau pulang dan tinggal bersama dia saja di kampung halamanku," jelas Zora. Dia baru ingat kalau dia punya kekasih di Fictory. Walau kekasihnya sudah lama tidak menampakkan diri. Zora pikir, pria berambut agak gondrong itu sedang sibuk bekerja hingga tidak sempat menemui Zora. Namun anpa Zora sadari, ada sepasang mata tajam yang mengamatinya."Memangnya, aku mengizinkanmu pergi?" desis Carlos. Seketika itu, Zora mengalihkan pandangannya pada Carlos, yang mulai berjalan mendekat dengan aura mencekam. "Kau tidak tau, siapa yang berkuasa di sini?" "Ak.... aku tahu, aku tahu. Kau yang berkuasa disini, aku hanya gadis yang kebetulan bertemu denganmu. Tapi jangan menatap seperti itu, kau menakutiku," pinta Zora. Namun, permintaannya tidak di indahkan oleh Carlos. Pria itu masih saja mendekati Zora, sampai hanya berjarak beberapa cm saja. "Artinya kau sudah mempunyai Mate?" tanya Carlos. "Euum... belum, kami belum bisa memastikan hubungan Mate kami," jelas Carla. Disambut dengan anggukan paham dari Carlos. "Lalu kenapa kau punya hubungan kekasih?" Zora mengerutkan alisnya bingung, "Ini masa remaja, wajar saja jika aku punya kekasih. Apa kau tidak punya kekasih?" "Tidak," jawab Carlos singkat. Membuat Zora tertawa terbahak-bahak, karena tidak percaya dengan apa yang Carlos katakan. "Pria setampan dirimu tidak punya kekasih? ahahaha. Tidak usah berbohong, aku tidak akan mengejekmu yang sok jual mahal ini. Bahkan para gadis-gadis bangsawan pasti mengantri agar menjadi kekasihmu," papar Zora. "Apa, kau tidak merasakan apapun?" tanya Carlos, tepat di depan wajah Zora. "Merasakan apa?" senyum Zora sontak menghilang, tergantikan dengan wajah kebingungan. Carlos menghela nafasnya kasar, lalu melenggang pergi begitu saja. "Lupakan," cetusnya. "Merasakan apa..... aku jadi penasaran—" "Apa yang kau rasakan saat berada di dekatku?" tanya Carlos memotong ucapan Zora. Kemudian, Pria bertubuh tinggi itu membungkam wajah Zora, sambil menatapnya tajam. Sedangkan Zora, mengedipkan beberapa kali matanya yang polos. Bingung dengan pertanyaan Carlos. "Aku gugup, tentu saja," jelas Zora. Membuat Carlos menghela nafas gusar. Padahal Carlos ingin tahu, apakah Zora juga punya rasa yang sama seperti Carlos. Rasa panas di seluruh tubuh, dan harum manis di mana-mana. Hal tersebut bisa mengartikan, kalau mereka terhubung oleh takdir Mate. Tapi sepertinya, Zora tidak merasakan apapun. Jadi artinya mereka tidak terhubung oleh takdir Mate. "Kau anggap aku, apa?" tanya Carlos mengintimidasi. "Pangeran. Memang, apa lagi?" mendengar jawaban Zora, Carlos hanya menghela nafas kesal. Kemudian melenggang pergi begitu saja. Membuat Zora yang bingung, langsung menyusul Carlos. Tapi, bari saja Zora melangkah, Carlos langsung berbalik dan mendekati Zora kembali. "Jangan lewati batasmu selama tinggal di kastil ini," ucap Carlos sambil menatap tajam, seperti biasa. Disahuti dengan anggukan paham dari Zora. Tapi yang membuat Zora bingung, kemana Carlos akan pergi semalam ini. Memang benar Werewolf lebih aktif di malam hari, tapi apakah Carlos tidak lelah setelah seharian beraktivitas? Ditambah lagi, udara dingin yang menyapa. Membuat Zora merinding, karenanya. Zora juga bingung, di mana dia boleh tidur atau istirahat? sedangkan satu-satunya orang yang membawa Zora, adalah Carlos. "Zora," panggil seseorang di balik kegelapan. "Apa yang kau lakukan di luar malam-malam begini," tanya Wanita itu, yang ternyata adalah Belve, atau sang Luna. "Pangeran Carlos pergi meninggalkan aku entah kemana. Jadi aku bingung harus melakukan apa," jelas Zora setelah membungkukkan tubuh atas kedatangan Belve. "Carlos ada urusan penting. Kau tidur saja dikamar Carla, jika merasa tidak nyaman sendirian. Dia selalu senang jika ada yang menginap. Ah, panjang umur," papar Belve saat melihat kedatangan Carla. Gadis berambut panjang itu datang, dengan pakaian khas bertempur. Pasti, Carla habis berlatih lagi dengan para Warrior. "Mama, di mana Kakak?" tanya Carla dengan wajah sombong. "Aku ingin menantang dia lagi," lanjutnya. "Besok, ini sudah malam. Dan lihat, ada yang mau menginap di kamarmu," ucap Belve sambil melirik Zora. Sedangkan Zora, hanya gelagapan karena dia bukan maksud ingin tidur bersama sang Putri. "Benarkah? benar, kau mau tidur bersamaku?" tanya Carla dengan antusias tinggi. "Kalau Putri keberatan, aku tidur di sini saja," ucap Zora sambil menunjuk kamar yang sebelumnya dia tempati. "Ini kamar Kakak, kau mau tidur dengan Kakak?" tanya Carla menggoda Zora. "Ti-tidak, Putri. Maaf, aku tidak bermaksud lancang seperti itu," sontak Zora membungkuk minta maaf. Zora tidak tau bahwa kamar ini milik Carlos. Zora pikir, Carlos hanya membawa Zora ke kamar asal saja. "Tidak masalah, tapi karena kau masih terluka parah, kau tidur di kamarku saja. Mau?" tanya Carla yang berharap banyak. "Tentu saja," jawab Zora seadanya. "Carla, berikan dia minuman selain darah," titah Belve yang sedikit khawatir, apabila Carla memberikan minuman yang biasa dia minum, pada Zora. Menurut informasi yang Zora berikan, Zora adalah full Werewolf. Jadi, minum darah tidak berefek apapun padanya. Sedangkan Carla dan Carlos, adalah keturunan Vampire dari sang Ayah. Mereka biasa menyegarkan dahaga, dengan darah yang para Omega sediakan. "Kak Zora, apa kau suka bertarung?" tanya Carla sesampainya di kamar. Setelah mandi, Carla juga mengambilkan selimut untuk Zora. Benar saja kata sang Luna, Carla sangat senang jika ada yang menginap. Pikir Zora. Bahkan, Carla tak ada henti-hentinya bicara. Dia membicarakan banyak hal pada Zora, yang untungnya bisa selalu menanggapi. "Aku tidak seberani kau, Putri—" "Karena aku menyukaimu, panggil aku Carla saja," ujar Carla memotong ucapan Zora. Padahal sebenarnya Carla hanya iri, karena Zora memanggil Carlos dengan nama pangsung. Sedangkan Zora yang paham bahwa dia tidak bisa membantah perintah dari keluarga kerajaan, hanya mengangguk paham. "Apa kau akan menikah dengan Kakakku?" tanya Carla, membuat Zora yang baru saja ingin tidur, kembali duduk dengan wajah kaget. "Siapa yang mengatakan itu?" "Tidak ada, aku hanya menebak hehe," jawab Carla sambil terkekeh pelan. Sebenarnya, Carla menyadari kalau Carlos, Kakaknya itu sangat mengamati gerak gerik Zora. Jadi Carla mengira, bahwa Carlos sudah menemukan Mate. "Tidak mungkin. Carlos adalah calon Alpha nanti, bagaimana bisa punya Mate seperti aku," papar Zora kembali merebahkan tubuh. "Memangnya kenapa? Kau cantik, dan banyak bicara. Pasti Kakak akan pusing mendengarkanmu bicara nanti huahahahahah," Carla tertawa sambil berguling-guling di kasur. Carla terlihat sangat puas, jika Carlos terlihat pusing karena sesuatu. Maka dari itu Carla suka menggangu Carlos, untuk datang ke berbagai acaranya. "Tapi... Kakak adalah orang yang pemarah. Kata Mama, dia adalah sesuatu yang tidak bisa di tangani sembarang orang," lanjut Carla sambil ikut berbaring. "Kenapa? apa karena kekuatan yang besar?" tanya Zora yang penasaran. "Mama tidak mau memberitahu aku. Mama hanya mengatakan, kalau Kakak itu seperti kekuatan Phoenix miliknya. Sulit ditaklukkan, dan juga menyeramkan jika hilang kendali," sontak, Zora melototkan matanya kaget. Padahal, tidak ada hal-hal mengerikan yang Zora lihat dari Carlos. Yaaa... aura dan sifatnya saja yang memang mengerikan. Tapi Zora hanya melihat pria tampan bak Dewa, yang selalu menatap dingin. Tapi karena tidak ingin ikut campur, Zora mengurung niat untuk bertanya lagi. Lalu memutuskan untuk tidur. Tapi.... "Kak, jangan tidur. Untuk apa menginap kalau tidur," kata Carla sambil menggoncang-goncangkan tubuh Zora pelan. Membuat Zora yang di ambang kesadaran, segera bangun. "Dengarkan aku bicara," lirih Carla. Membuat Zora tersenyum manis, laku berbalik untuk mendengarkan Carla bicara. "Kenapa kau megidolakan Mamaku? padahal, dia hanya wanita pemarah," ucap Carla. Disambut oleh Zora yang terkekeh pelan, sambil mencubit hidung Carla pelan. "Jangan begitu, aku tau kau takut pada Mama–mu," kekeh Zora. "Bukan hanya aku, Kakakku juga takut padanya. Haaahhh, kau tidak tau sih bagaimana dia kalau marah. Rasanya kisahku akan tamat saat itu juga," Carla mengumpamakan kematian, membuat Zora terkekeh pelan. "Tapi... aku sangat menyayanginya. Dia telah melakukan hal hebat, yang membuat Herodotus masih ada sampai sekarang," lanjut Carla. Sambil menghela nafas. "Kau ingin tahu cerita lengkap Mamaku, yang tidak tertulis dibuku?" mendengar pertanyaan Carla, Zora langsung mengangguk semangat. "Memangnya boleh?" tanya Zora. "Boleh, kok. Mama yang menceritakan sendiri padaku," ujar Carla. "Kau tau kan, perang besar yang terjadi di Herodotus dulu? aku membacanya dibuku legenda juga. Tapi... ada sesuatu yang tidak tertulis disana, yaitu setelah Mama bangun. Mamaku, terkunci di dalam kristal selama bertahun-tahun, karena menggunakan kekuatan Phoenix yang terlalu besar untuk mengalahkan musuh di medan perang," papar Carla dengan wajah serius. "Dan karena hal itu, Kakak hampir membunuhku saat aku masih bayi dulu. Dia cemburu, karena Mama menghabiskan waktunya untuk aku, padahal Mama baru saja keluar dari kristal. Saat mendengar cerita ini, aku sempat marah pada Kakakku. Kenapa bisa-bisanya dia mau membunuh Adiknya sendiri. Tapi setelah mengetahui alasannya, aku jadi memaklumi." "Perang itu terjadi ketika Kakak masih bayi. Jadi, selama 7 tahun hidup, Kakak tidak mendapat kasih sayang dari Mama. Maka dari itu Kakak marah saat aku lahir," lanjut Carla. Membuat Zora terdiam kagum, dengan apa yang Carla ceritakan. Ternyata, sang Luna lebih hebat dari apa yang dia baca dibuku. Awalnya Carlos berfikir, dia mungkin tidak punya sosok Mama. Dan dia dibuang begitu saja. Apalagi, Derren sebagai sang Papa tidak pernah memperlakukan Carlos seperti seorang anak. Derren terlalu trauma karena kehilangan Belve, dan merasa tidak becus menjadi seorang Alpha. Ditambah dengan sifat dingin, yang memang sudah mendarah daging. Dan sifat itu, menurun ke Carlos. Namun, hari di mana Carlos benar-benar berada dibatas kesabaran, untuk menunggu kasih sayang dari orang tuanya. Belve berhasil keluar dari kristal, setelah 7 tahun lamanya. Karena aura dari Derren dan Carlos yang bersatu. Kristal itu memang tidak bisa dipecahkan oleh Derren sendiri, namun juga harus bersama Carlos. Saat itu juga Carlos paham, bahwa kehidupan tidak seperti yang ada di pandangannya. Pasti ada hal lain, yang tidak Carlos ketahui. "Maka dari itu, aku terus berlatih untuk menjadi sangat kuat. Agar aku bisa melindungi segala yang aku punya," jelas Carla. Membuat Zora kagum atas tindakan bijak, yang dilakukan oleh gadis berumur 15 tahun itu. "Mama bilang, dia telah kehilangan banyak orang-orang terdekatnya. Aku tidak tau kenapa, tapi aku tidak pernah melihat Mama menangis," lanjut Carla. "Mana ada, seorang Ibu yang mau menangis didepan anaknya sendiri," ucap Zora. "Luna pasti tidak akan membiarkanmu bersedih." Carla mengangguk, "Tapi ada satu hal yang membuatku khawatir." "Apa itu?" tanya Zora yang pernasaran. "Sepertinya, Kakak, Mama dan Papa, menyembunyikan suatu hal dariku," papar Carla. "Mungkin mereka tidak ingin membebankan sesuatu yang terlalu berat padamu, Carla. Apalagi kau masih begitu muda," jelas Zora dengan nada lembut. Tidak ingin menyinggung perasaan Carla. "Mungkin. Hah.... ya sudah, aku akan cepat dewasa agar tau semua rahasia mereka," ucap Carla dengan antusias. "Ngomong-ngomong, apa kau tidak takut bersama orang asing sepertiku, Carla?" tanya Zora yang bingung. Sebab, Carla bisa dengan santainya menceritakan banyak hal, padahal mereka baru saja bertemu. "Memangnya apa yang bisa kau lakukan?" desis Carla, menunjukkan senyum menyeringai dengan tatapan tajam. Membuat nyali Zora menciut begitu saja. "Hehe, aku cuma bercanda. Kalaupun kau berniat membunuhku, kau sudah aku bunuh terlebih dahulu," lanjut Carla. "Kenapa keluarga kerajaan selalu bersikap menyeramkan seperti itu?" heran Zora. "Menyeramkan seperti apa?" "Entah... seperti, kalian tidak mengizinkan orang lain mendominasi. Jadi kalian mengatakan, hal yang membuat lawan bicara terdiam. Seperti Carlos tadi, dia bilang kalau aku bicara terus, dia akan memakanku. Tentu saja aku langsung diam," papar Zora. "Kalau aku yang mengatakan, itu hanya menggertak saja. Namun kalau Kakakku yang mengatakan hal seperti itu, kau harus hati-hati. Karena dia bisa benar-benar melakukannya," ujar Carla. Disambut dengan anggukan paham dari Zora. Itu artinya Zora harus lebih hati-hati lagi dengan ucapan Carlos Sedangkan Carla, sudah diam memejamkan matanya. Entah kenapa, Carla merasa sangat nyaman bicara dengan Zora. Mungkin karena Zora tidak terlalu banyak bertanya macam-macam. Jadi Carla merasa apapun yang dia bicarakan, sangat didengarkan dan di hargai oleh Zora. Hingga tanpa sadar, Carla dan Zora tanpa sadar terlelap dalam mimpi masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD