02 - Khayalan Melodi?

1798 Words
Setelah makan malam, Jacob tidak memutuskan langsung pulang. Ia banyak mengobrol dengan Bapak di teras karena Bapak sangat tertarik dengan isu wamil di Korea Selatan. Menurut Bapak seharusnya Indonesia memiliki program serupa agar tidak hanya orang terpilih yang ikut wamil agar para pria memiliki sikap tegas dan wawasan luas. Ini pertama kalinya Bapak banyak mengobrol dengan Jacob jadi ada kebanggaan tersendiri bagi Jacob. Tidak terasa waktu sudah jam 11 malam dan Ibu memanggil Bapak untuk masuk. “Melodi belum pulang Bu,” Bapak menolak untuk masuk. “Melodi tadi telfon akan menginap Pak.” Bapak menatap ibu dengan tajam, “Dimana? Sama siapa? Kok mendadak begitu?” nadanya tidak lagi terdengar santai. “Ini ada alamatnya kok Pak. Di rumah Giselle.” Bapak beranjak, “Yasudah bapak susul saja. Kenapa juga harus menginap.” Ibu terlihat khawatir dan menatap Jacob. “Pak, gimana kalau aku aja yang jemput Melodi?” “Kenapa memangnya?” Ibu menarik pelan kaus Bapak, “Pak, jangan buat Melodi malu. Betul, lebih baik Jacob saja yang jemput. Kamu nggak kecapean Nak tapinya?” Jacob berdiri dengan gagah, “Nggaklah Bu. Udah biasa patroli malam Bu.” Bapak pun percaya pada Jacob karena senakal apapun anak di depannya ini, ia tidak pernah membuat siapapun kecewa. “Ini pertama dan terakhir ya Bu. Jangan sampai kebablasan, jaman sekarang itu jaman gila. Kalau Melodi macam-macam, aku nggak akan bisa maafin diriku sendiri Bu!” Ibu hanya mengangguk lalu Bapak masuk kedalam dan memberikan kunci mobilnya pada Jacob. “Tolong ya nak. Seret aja kalau dia nggak mau pulang.” Jacob mengangguk lalu langsung pergi dengan mobil jeep milik Bapak Tono. Ia membuka GPSnya dan segera meluncur. - Sepulangnya Melodi dari pesta ke rumah Giselle, ia hanya membuka baju dan sepatunya lalu meminta izin untuk tidur. Giselle yang sudah terlampau mengantuk hanya mengizinkannya. Namun ternyata Melodi hanya terdiam di atas ranjang dengan lampu kamar yang sudah padam. Tidak ada yang bisa di lihat oleh matanya sekarang. Semuanya terasa begitu kosong dan hampa, sangat berbeda dengan perasaan yang sebelumnya ia rasakan. Melodi mematikan ponsel sejak tadi karena ia tidak mau diganggu oleh Ibu dan Bapak. Dia sudah meminta izin untuk menginap jadi bukankah tidak ada yang harus dikhawatirkan. Namun tiba-tiba suara ketukan pintu pada kamar Giselle membuatnya terbangun. Asisten rumah tangga Giselle memberitahu seseorang mencari Melodi. Rasa kesalnya menguap, dia sudah berumur 20 tahun. Bukankah ini keterlaluan? Melodi langsung mengambil tasnya dan keluar dari kamar Giselle. Ia menitipkan salam agar Giselle tidak khawatir kalau dia pulang malam-malam begini. Detak jantung Melodi tidak lagi berdebar ketika melihat Jacob yang sedang bersandar di mobil Jeep milik Ayahnya. Setidaknya ia tidak akan diceramahi sepanjang jalan pulang. Jacob berdiri dengan tangan terlipat di d**a. Agar lelaki itu tidak ikut marah, Melodi langsung memeluknya dengan erat. Mereka sudah dua tahun lebih tidak bertemu jadi wajar bukan jika Melodi menunjukkan sedikit rasa rindu. “Nggak mempan Mel!” Jacob melepaskan pelukan Melodi, rupanya dia paham, “Kenapa harus menginap? Udah tahu Bapakmu nggak akan kasih izin.” “Aku sudah punya KTP, wajarlah aku menginap di rumah teman semalam,” jawab Melodi tidak mau kalah. “Sudah makan?” tanya Jacob. Melodi mengangguk, ia makan dengan lezat di kamar hotel sebelum pulang. “Yasudah kita pulang. Aku tidak mau menyeretmu jadi masuk kedalam mobil sekarang.” “Kamu ya, harusnya ngebela aku yang sahabatmu. Malah ikut-ikutan strict kaya Bapak. Nyebelin!” Melodi menderapkan langkahnya dengan kelas dan masuk kedalam mobil yang sering membuatnya kesal ini. Mobil Jeep Bapak memang keren tapi ini seperti identitas menyeramkan pria itu. Jacob tidak lagi menjawab dan hanya menyetir mobil hingga akhirnya Melodi tertidur. - Pagi berjalan seperti biasanya namun Melodi tidak bisa bangun. Tubuhnya terasa seperti diikat kuat ke ranjang walaupun sudah lima kali Ibu bolak-balik mengetuk pintu. Mungkin yang terakhir Bapak akan mendobraknya tapi Melodi sudah bangun lebih dulu saat Bapak sudah ada di ujung anak tangga. “Sarapan!” ujar Bapak. Melodi hanya bisa menurut, ia harus memasang telinga dengan baik pagi ini. Begitu melihat wajah anak semata wayangnya, Ibu merasa ada sesuatu yang berbeda. Wajah cerah Melodi terlihat seperti mati lampu pagi ini. Ibu langsung berinisiatif membuatkan jus buah sedangkan Melodi duduk di kursi ruang makan bersama Bapak yang sedang menikmati kopi pagi sembari membaca koran di tabletnya. “Sudah punya keberanian untuk hidup sendiri ya Mel?” Melodi jadi enggan mengambil roti di tengah meja. Ia hanya Kembali duduk dan menundukkan kepalanya. “Kamu izin tapi langsung mematikan ponselmu.” “Maaf.” “Maafmu itu untuk diulang atau hanya akan sekali keluar dari mulutmu?” Melodi menghela nafas dan mulai memberanikan diri menatap Bapak, “Bukannya Bapak harusnya menerima permintaan maaf jika anaknya meminta maaf dengan tulus? Kenapa harus ditanya-tanya lagi?” Bapak terdiam melihat Melodi yang menjawab ucapannya. Tidak seperti biasanya yang hanya menurut. “Apa maksudmu bertanya begitu ke Bapak? Sudah berani melawan?” Suara Bapak makin tinggi. Ibu langsung berlari kecil dari dapur dan mengusap bahu suaminya dengan lembut. “Jangan bela anakmu sekarang!” “Kalau Ibu tidak bela aku, terus siapa yang bela aku? Aku harus hidup dibawah tekanan Bapak berapa lama lagi?” “MELODI! Bapak tidak pernah mengajarkan kamu menjawab begitu ya!” Entah apa yang merasuki Melodi pagi ini. Ia tidak bisa membungkam mulutnya, banyak sekali jawaban di otaknya yang mendobrak keluar. “Aku hanya menginap di rumah temanku! Bukankah itu wajar untuk anak umur 20 tahun?!” “Jaman sekarang jaman edan! Kalau kamu ternyata menginap dengan lelaki, mana Bapak tahu!” Jantung Melodi terasa ditikam sekarang. Kenapa Bapak bisa bicara dengan tepat? Kakinya lemas teringat memori semalam yang ia rasa indah tapi jika melihat wajah Bapak sekarang, Melodi akui, rasa takut terasa lebih mendominasi. Air mata Melodi jatuh dan Ibu langsung menenangkan Bapak. “Mel kamu masuk ke kamar dulu nak.” “Bela terus anakmu, kalau sampai dia kena pergaulan bebas, hamil di luar nikah. Aku tidak akan mau menolongnya!” “Pak! Jangan bicara begitu, omongan orang tua itu doa pak,” pinta Ibu hampir menangis Ketika Melodi naik tangga. Wajah Kak Juna dan Bapak terlihat bolak balik di pandangan Melodi. Jelas Melodi masih ingat ucapan Kak Juna. “Kamu berhak mendapat kepercayaan, itu kenapa aku suka sama kamu Mel.” Tapi Bapak ternyata tidak pernah percaya dengan Melodi. Ia menutup pintu dan merasa semakin ketakutan karena yang Bapak bicara benar tentangnya dalam waktu semalam Melodi lupa diri. Melodi tidak mampu mengingat wejangan-wejangan orang tuanya. Namun ucapan Kak Juna bagaikan sihir baginya. “Kamu cantik sekali Mel. I can treat you like my queen tonight and ever.” Melodi langsung mengambil ponselnya dan menelfon Juna tapi nomor Juna tidak aktif. Ia membuka pesan chat namun ada yang aneh. Kak Juna tidak memakai foto profile dan ketika Melodi mengirimkan pesan, tidak ada yang mendapatkan dua ceklis. Hanya ada tanda jam saja. Ia segera menelfon Giselle. “Hai Mel, pagi banget telfonnya. Gue masih tidur,” suara serak Giselle terdengar jelas. “Sell, Kak Juna kok menghilang ya?” “Menghilang gimana sih?” “Aku telfon nomornya nggak aktif, aku kirim pesan juga nggak delivered.” “Masih pagi Mel, masih jam tujuh. Lowbat kali hpnya.” Harusnya ucapan itu masuk akal tapi Melodi begitu ketakutan sekarang. Ia terisak pelan dan membuat Giselle terbangun sempurna. “Mel, lo nangis?” “Sell, kalau Kak Juna pergi gimana?” “Nggak mungkin, dia pasti ada. Lagian kalian baru date semalam, kok lo sampai nggak mau kehilangan banget sih? Sampai nangis begini pula. Lo kenapa?” Melodi tidak mungkin menceritakan begitu saja pada Giselle tentang semalam, mereka baru kenal dua tahun sebagai mahasiswa. Melodi tidak mau menjadi korban bully seperti film-film yang ia tonton, “Gapapa, aku cuma khawatir.” “Yaudah Mel, santai aja. Jangan sampai Kak Juna tahu kalau lo nangis-nangis cuma nyariin dia. Nanti dia terlalu geer!” “Gitu ya Sell.” “Yup, yaudah gue boleh tidur bentar lagi nggak? Nanti gue ke rumah lo deh.” “Jangan Sell, Bapakku lagi marah. Aku nggak apa-apa kok.” “Serius nih? Kalau ada apa-apa telfon lagi aja ya.” Melodi pun mengiyakan dan sedikit lega karena Giselle. Ia harus menenangkan diri sekarang. Benar kata Giselle, ini masih terlalu pagi untuk menghubungi seseorang sekalipun orang itu telah mengambil harta yang berharga bagi Melodi. Ia mencoba menghela nafas dan kembali berbaring. - Kamar Jacob di d******i dengan perabotan dua warna, putih dan hitam. Ada banyak poster Musisi yang ia senangi. Kebetulan Jacob memiliki ketertarikan pada dunia seni seperti Melodi. Hanya saja mereka berbeda genre. Jacob menyukai semua genre kecuali klasik, itu hanya bukan tipenya saja tapi lain hal jika Melodi yang memainkan piano atau bernyanyi. Jacob akan rela meninggalkan latihan jika Melodi sudah bilang akan tampil di atas panggung. Jetlag baru terasa saat pagi ini, ia kesulitan bangun dan tubuhnya terasa cukup Lelah. Di Korea Selatan Jacob tidak pernah berpikir untuk istirahat karena ia tidak sanggup berdiri sendirian disana. Setelah jam menunjukkan pukul 11 siang, ia pun memaksakan diri duduk di tepi ranjang dan sedikit memijat kepalanya. Pandangannya menoleh ke jendela kamar yang langsung menghadap ke kamar milik Melodi. Jendela gadis itu tertutup rapat beserta gorden berwarna lilacnya. Jacob masih ingat kalau mereka memiliki lonceng yang susah payah mereka selipkan antara jendela mereka sehingga akan lebih mudah untuk menghubungi satu sama lain. Tidak perlu ponsel, hanya buka jendela maka mereka bisa mengobrol, bertengkar maupun bernyanyi bersama. Jacob tersenyum mengingat masa itu. Ia pun beranjak, menjambret handuk dan masuk ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, Jacob menghubungi Melodi tapi tidak ada jawaban. Mungkinkah ia dihukum dan ponselnya disita? Apakah Bapak Tono masih melakukan hukuman seperti itu? Melihat ekspresi wajahnya semalam cukup menyeramkan dengan kumis tebalnya. Jacob sudah selesai memakai kaos hitam dan jogger hitamnya. Ia pun keluar dari kamar, menelusuri tangga dan segera membuka pintu tapi ternyata Melodi hendak mengetuk pintu rumahnya. “Aku telfon kamu, kukira kamu dihukum?” “Hpku aku tinggal, kamu mau kemana?” Melodi melihat Jacob dari atas sampai bawah. “Kenapa? Aku ganteng ya?” goda Jacob. Melodi tersenyum malas, “Kalau kamu aku bilang jelek, ya aku bohong namanya.” “Susah banget ya muji aku.” Melodi duduk di teras dan menatap Jacob dengan tatapan yang tidak biasa. “Are you okay Mel?” Melodi memeluk lututnya, “Aku sedang jatuh cinta Jack sekaligus aku takut.” Jacob memastikan bahwa ia tidak melindur, ia mencubit hidung Melodi yang langsung teriak dan menatapnya galak sembari mengusap-usap hidungnya. “Aku kira aku mimpi Mel. This is first time you tell me about love stuff,” jelasnya, Melodi hanya menghela nafas jadi Jacob sadar bahwa ia harus siap untuk serius. “Aku nggak mau kehilangan dia Jack tapi rasanya dia seperti khayalan sekarang.” Jacob merasa ada sesuatu yang tidak benar disini. Ia berharap firasatnya salah. -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD