03 - Khayalan yang Terjadi

1255 Words
Matahari sudah terbit dan Melodi sudah siap untuk berangkat kuliah. Ia berpakaian seperti biasa, tampil dengan cantik dan anggun. Blouse berwarna coklat s**u dipadukan dengan rok span hitam dan sepatu coklat berhak 5cm. Tidak lupa dengan tas berisi laptop dan juga piano mini yang selalu ia bawa setiap kuliah kalau-kalau dapat inspirasi untuk lagunya. Selain bernyanyi, Melodi juga memiliki minat membuat musik maupun lirik lagu walaupun masih belajar. Bapak dan Ibu begitu harmonis dalam rumah tangga ini. Bapak selalu sudah bangun pagi untuk membantu pekerjaan rumah ibu sebelum ia pergi ke galeri seni milik keluarga Sastrowijaya yang Bapak Kelola bersama saudara-saudaranya. Sarapan sudah tersedia lengkap di atas meja lebih pagi jika hari kerja. Ibu tidak akan membiarkan Melodi dan Bapak keluar rumah dengan perut kosong. “Bu, Melodi bawa bekal untuk sarapan di kampus ya?” tanya Melodi yang menghampiri Ibunya yang sedang mengupas apel. “Yasudah, kamu ambil sendiri ya.” Bapak mendengar itu, “Nggak mau sarapan di rumah karena marah sama Bapak Mel? Bapak tuh peduli sama kamu,” ujar Bapak tanpa melihat Melodi. Melodi mengambil kotak makan dan membungkam mulutnya. Ia masih kesal dengan ucapan Bapak mengenainya atau mungkin Melodi merasa tertusuk karena yang Bapak ucapkan adalah kebenaran? Melodi merinding memikirkannya. Ia segera memasukkan makanan dan menghampiri Ibu lalu Bapak untuk berpamitan. “Ingat ya Mel, Bapak itu saying sama kamu dan kamu anak satu-satunya Bapak. Jangan malu-maluin Bapak dan Ibumu ini.” Melodi hanya mengangguk dan memberikan salam lalu segera pergi mengambil kunci mobilnya. Begitu masuk kedalam mobil bahunya terasa jatuh. Rasa takut semakin menggerogotinya. “Nggak mungkin, Kak Juna pasti ada.” - Untuk pertama kali dalam empat semester Melodi tidak menghadiri kelasnya. Ia sibuk mencari Juna di beberapa kelas dan juga club musik tapi nihil. Tidak ada yang tahu kenapa Juna tidak hadir hari ini. Semua kebisingan kampus terasa begitu tawar. Kaki Melodi Lelah, hak 5cm yang ia pakai seperti duri tajam yang menusuk-nusuk telapak kaki mungilnya. Ia duduk di ubin dingin teras kampus. Menatap langit cerah yang kontras dengan perasaannya. Sudah berkali-kali ia lihat ponsel, tidak ada respon apapun dari Juna. Rasa sesak tiba-tiba muncul dan ini bukan karena polusi Jakarta, ia sudah terbiasa jika itu karena udara buruk tapi ini karena ketakutan yang memancing asam lambungnya naik. Melodi menggigit jarinya dan ia sadar kalau sejak kemarin Melodi sudah membuat jemarinya luka. Ini kebiasaan buruk ketika ia sangat gugup atau takut. Ponselnya berbunyi, Melodi langsung mengangkatnya. “Mel ..” Suara yang ia cari selama ini, “Kak .. Kakak kemana?” suara Melodi bergetar, ia menahan isaknya karena harus mendengar penjelasan Juna sebelum bisa menyimpulkan. “This is last time I call you Mel, I am sorry.” Mulut Melodi rasanya tidak bisa terkatup mendengar kalimat Juna yang terdengar sangat ringan pria itu ucapkan. “Ke … kenapa Kak?” “I cannot tell you Mel. Jaga diri baik-baik ya. Thanks for everything Mel.” “Kak kok begitu? Maksudnya Kakak lepas tanggung jawab?” suara ponsel terputus dan Melodi tidak percaya ponselnya tidak lagi menunjukkan nomor tidak dikenal yang Juna gunakan. Ia mencoba menghubunginya lagi tapi nomor itu sudah tidak aktif. Jantung Melodi seperti berhenti beberapa saat dan ponselnya terjatuh. Kakinya lemas, Melodi hanya bisa menutup wajahnya dan menumpahkan air matanya sendirian. Tidak ada yang paham mengapa ada wanita menangis sendirian di tengah hari seperti ini. Seseorang menghampiri Melodi dan mengenalinya sehingga ia langsung menghubungi Giselle karena tidak lama kemudian Melodi pun tidak sadarkan diri. - Hal yang akan Jacob lakukan di Indonesia sudah ia rencanakan sejak ia masih melaksanakan tugas. Ia sudah melakukan beberapa riset di sela waktu kosongnya dan keputusannya untuk mengambil kuliah di Universitas yang sama dengan Melodi sudah bulat. Selain karena bisa dekat dengan zona nyamannya yaitu Melodi, Jacob juga menyukai keunggulan-keunggulan yang diberikan oleh fakultas seni disana. Namun ia harus sabar untuk menunggu semester genap selesai dan menjadi Mahasiswa baru. Mommy tentu setuju saja dengan keputusan Jacob. Bagi Mommy Jacob bisa mengurus hidupnya sendiri. Beliau hanya akan mengurus dana hidupnya dan semua akan berjalan lancar. Diantara ke empat kakaknya Jacob yang memiliki darah Asia sendirian. Itu mengapa Kakak-kakaknya tidak ada yang tinggal di Indonesia. Dua tinggal di Sydney, satu di Paris dan satu lagi di Finland. Mereka mengikuti Ayah mereka masing-masing. Keempatnya juga menjadi orang yang cukup berhasil. Itu mengapa Jacob tidak mau kalah. Ia akan menunjukkan bahwa Musisi juga patut dibanggakan. Ponselnya berdering mengalihkan perhatian Jacob. Ia tertegun saat seseorang bernama Giselle memberitahu Melodi dirawat di klinik kampus tapi Giselle bilang ia tidak berani menghubungi orang tua Melodi. Jacob mengerti dan segera pergi dengan mobilnya sendiri untuk melihat keadaan Melodi. Setelah sampai, Jacob langsung masuk kedalam klinik. Untung saja klinik kampus ini difasilitasi dengan dokter umum dan juga perawat. Selang infus sudah terpasang rapih dan Melodi tertidur. Tekanan darahnya rendah sesuai laporan perawat dan sepertinya asam lambungnya naik. Jacob sudah menebus beberapa obat setelah dapat resep lalu ia menunggu Melodi sadar. “Jack,” Wajah Melodi seputih tembok klinik. Jacob jarang sekali melihat Melodi sakit karena Ibu orang yang sangat memperhatikan asupan anaknya dan juga vitamin. Justru dulu Melodi yang sering ikutan merawat Jacob jika Jacob masuk angin. “Apa yang kamu rasain Mel?” “Pusing aja sih. Kok kamu disini?” “Tadi temanmu Giselle nelfon aku tapi dia nggak bisa nemenin karena ada jadwal untuk ketemu sama dekan katanya.” Melodi mengangguk lalu Jacob memberikan makanan yang ia beli sesuai anjuran perawat. Ada jus jambu dan juga bento makan siang tapi Melodi hanya mau minum jus jambu saja. Ia bilang tidak selera untuk makan. “Aku telfon Ibu ya?” tanya Jacob. “Nggak usah, nanti aja kalau sudah di rumah baru aku kasih tahu.” “Kamu kenapa sih Mel?” “Kenapa apanya? Aku cuma kecapean aja kok.” Jacob mengusap dagunya dengan curiga, “Ini karena cowok yang kamu suka itukan? Dimana dia sekarang?” “Dia udah pergi Jack," mata Melodi berkaca-kaca dengan wajah yang dipundung lara. Alis Jacob langsung mengerut, “Sejak?” “Sejak sabtu kemarin mungkin setelah aku sama dia jalan.” Jacob tidak paham. Bukankah Melodi mengerjakan tugas di rumah temannya? “Jangan bilang, sabtu itu kamu kencan. Bukannya ngerjain tugas?” Melodi mengangguk, “Salah kalau aku kencan? I am 20 years old and my parents still put me in the cage. I like him Jack, tentu aku mau kencan dan it was my first time.” Jacob melongo dengan kalimat terakhir Melodi melihat keadaan Melodi saat ini, “First time tapi langsung ditinggal? Kamu rela bohongin Ibu dan Bapak buat cowok nggak jelas? terus sekarang kamu sampai jatuh sakit kayak gini!” Jacob tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Ia tahu kalau Melodi bukan wanita bodoh tapi kenapa sekarang sahabatnya itu tidak memakai logika sama sekali. Melodi membuang pandangannya dan Jacob bisa dengar kalau gadis itu menangis pelan. s**t, Jacob langsung merasa bersalah detik itu juga. “Mel, sorry. Aku nggak bermaksud, maaf ya maaf," Jacob hendak mengambil tangan Melodi tapi gadis itu menepisnya dan langsung menutup wajahnya untuk mengeluarkan tangisan yang terakhir kali Jacob dengar saat mereka kelas lima SD. Mereka memang besar bersama tapi baru kali ini Melodi menangis karena cinta. Sedangkan Jacob juga tidak pernah patah hati. Mereka menghabiskan masa SMA dengan hobi masing-masing. Tidak ingin menghabiskan energi untuk cinta tapi nyatanya Melodi tentu berubah. Tidak seperti Jacob yang masih enggan percaya cinta. Untuk apa bercinta jika hanya dapat luka. Jacob menahan emosinya sendirian di belakang tubuh Melodi karena penasaran dengan pria b******k mana yang berani mengganggu sahabatnya. Sial!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD