BAB 42

1601 Words

Malam itu tiba dengan cara yang tidak biasa. Langit di atas keraton tampak gelap, tanpa bintang, seperti turut menyembunyikan napasnya setelah menyaksikan pertempuran panjang sejak matahari mencapai puncaknya. Embusan angin membawa hawa dingin yang menusuk, namun di antara puing-puing kecil, noda darah, dan bau besi yang menguasai udara, satu hal justru masih terasa hangat yaitu api semangat yang membara dari para penjaga keraton. Pertarungan berlangsung hampir tanpa jeda. Sejak siang, ketika musuh pertama kali menerobos gerbang luar, Sekar, Aria, Ratna, dan para prajurit yang tersisa berjuang dengan seluruh tenaga mereka. Dan kini, setelah berjam-jam, ketika rembulan mulai merayap pelan ke tengah langit, satu kenyataan akhirnya terungkap: Keraton tetap berdiri. Keraton tetap milik mere

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD