Kediaman Alan dan Aldi sedang sibuk dengan beberapa kegiatan. Ada yang sedang menyiapkan makanan, ada yang sedang menyiapkan mobil dan lain sebagainya. Seperti biasa ketika orang-orang sedang menyiapkan pernikahan saja.
Kedua calon pengantin itu setuju melaksanakan pernikahan mereka dengan sederhana. Mereka masih tidak terima dengan kepergian Adam. Meskipun ini sudah dua minggu setelah kepergian Papa mereka, keduanya merasa bahwa Adam masih berada di rumah.
Namun Aldi sepertinya masih mau merencanakan apa yang sudah terencana. Dia meminta beberapa orang untuk membantu melancarkan aksinya, dan itu adalah orang dalam.
Beberapa orang yang dibayar Aldi telah menunggu di depan pintu kamar Alan. Sedangkan lelaki itu sudah pergi menuju rumah calon istrinya. Kebetulan pernikahan keduanya dilangsungkan di rumah calonnya masing-masing.
Dikarenakan mereka tidak terlalu banyak saudara di Indonesia. Dan saudara yang berada di Jerman tidak datang semua, jadi yang mengatar keduanya hanya sedikit. Adik pertama dari Adam ikut bersama Alan, dan kakak dari Mama mereka ikut bersama Aldi.
Silsilah keluarga Albert. Adam Albert berdarah Jerman, beliau lahir di Jerman. Ia menikah dengan seorang gadis berdarah Indonesia. Saras namanya, itu adalah ibu Aldi dan Alan. Setelah pernikahannya dengan Saras, Adam memilih tinggal di Indonesia dan berpindah keyakinan. Kebetulan sang Ayah mempunyai perusahaan di Indonesia, jadilah Adam yang mengurusnya. Berkat Adam sekarang perusahaan itu lebih maju, bahkan Adam sudah membuka cabang di luar daerah. Dan membuka bisnis perhotelan dan juga apartemen.
Alan membuka pintu kamarnya, dan terkejut melihat dua orang anak buahnya Dendi. Ah lupa, pria itu sedang tidak ada di sini. Mungkin dia mengarahkan anak buahnya untuk mengatur kemaman.
"Kenapa?" tanya Alan. Jas putih yang melekat di tubuhnya membuat lelaki itu lebih tampan dari biasanya. Bahkan rambut yang biasanya acak-acakan, kini terlihat rapi.
"Keluarga tuan Adam sudah siap. Kami tinggal menunggu anda."
"Aldi emannya udah berangkat?" Salah satu dari mereka mengangguk. "Tuh anak ngebet banget keliatannya," gumam Alan dan berjalan menuju lantai bawah. Benar, keadaan rumahnya tidak seramai beberapa jam yang lalu.
Alan mendekati pasangan suami istrinya yang terlihat mencolok dari yang lain. Itu adik dari sang Papa yang berasal dari Jerman. Walaupun hanya mereka berdua, setidaknya ada perwakilan dari keluarga Papanya.
Mengingat beliau, Alan jadi rindu. Tak menyangka kepergian Papanya sudah berlalu dua minggu lamanya. Alan merasa bahwa sang Papa masih ada bersamanya. Selalu ada untuknya.
Alan sebenarnya mau memundurkan tanggal pernikahannya karena ia masih dalam keadaan duka. Tapi atas bujukan tangan kanan Adam, akhirnya ia harus menjalankannya.
Menyadari jalan yang ditempuh sopir yang membawanya, Alan langsung berkata bahwa ini bukan jalan menuju rumah Alena. Sopir tetap menjalankan mobilnya, bahkan tiga orang berseragam hitam itu juga ikut bungkam.
Tak lama rombongan mereka sampai di rumah sederhana yang Alan bahkan tidak tahu rumah siapa. Om dan Tentenya sudah keluar dari mobil yang mereka bawa, bahkan orang-orang yang mengatarnya pun sudah turun. Tinggal menunggu Alan yang masih tidak mau keluar.
Bayangkan saja jika berada diposisi lelaki itu. Dia masih sedih dengan kepergian Papanya, sekarang dia menikah entah dengan siapa. Mana mungkin juga Alena pindah rumah, atau melaksanakan pernikahan di tempat sederhana seperti itu. Alena orang berada.
Petasan berantai sudah dinyalakan. Beberapa pria berpakaian adat betawi sudah menunggu di halaman rumah. Dua ondel-ondel menari di iringi musik. Tidak mungkin keluarga Alena mengadakan adat seperti itu, Alena sana paling tidak suka dengan ondel-ondel.
Dengan paksaan bodyguard, Alan turun dan di tuntun mendekati Om dan Tantenya sebagai wali. Mereka terlihat senang dengan suguhan di depannya. Mungkin terlihat aneh bagi mereka.
Alan terus berkata pada walinya bahwa ini bukan rumah calon istrinya. Dia juga berkata bahwa mungkin ini rumah calon dari Aldi. Tapi mereka tidak percaya, dan juga tidak mungkin mereka balik lagi. Jika benar ini rumah mempelai dari kembarannya, tidak mungkin juga keluarganya yang harus menanggung atas kesalahannya.
●▪●▪●
Seorang gadis masuk ke kamarnya yang sudah diubah sedemikian rupa. Tidak mewah, karena kamar milik Arina sederhana. Hanya saja karena ini hari pernikahannya, Siti telah menyuruh orang untuk meriasnya.
Kali ini, di kamarnya sudah ada lelaki yang telah mengucapkan ijab qobul tadi siang. Dia masih saja mengenakan kemeja putih, sedangkan jasnya tergeletak di sampingnya.
"Kak, gak mau ganti baju dulu apa? Gue bawa baju punya abang nih," ucap Arina. Tapi lelaki yang Arina tahu Aldi itu, malah menatapnya sinis.
Tidak memperdulikan tatapan itu, Arina menyimpan satu stel baju rumahan atau koas dan celana pendek di atas jas lelaki itu. "Gue keluar dulu."
Setelah kepergian gadis bertubuh mungil itu, Alan menghembuskan nafasnya. Kenapa ini terjadi padanya? Ia menikah dengan seseorang yang tidak dicintainya. Jangankan dicintai, kenal saja nggak.
Terpkasa Alan mengganti bajunya. Jujur, kamar yang tidak besar ini sangat sempit. Ranjang yang tidak besar, namun cukup untuk dua orang, berasa memenuhi ruangan itu.
Setelah berganti pakaian, Alan membuka jendela kamar. Sedikit segar, tapi ia masih merasa kegerahan. Alan berencana untuk keluar. Tapi ketika di depan pintu, ia bertemu lagi dengan gadis yang tidak dikenalinya membawa makanan.
"Mau kemana?" tanya Arina. Dia masih gugup saja walau lelaki itu sudah menjadi suaminya.
"Cari angin."
Arina mengangguk, lalu mengikuti Alan keluar rumah. Alan duduk di kursi yang berada di teras rumah. Karena acara sudah selesai, dan ini sudah malam, jadi rumah kembali seperti biasa.
"Nih, makan dulu. Dari siang kayaknya belum makan."
Alan melirik sebentar, malas rasanya untuk makan saja, tidak nafsu. Namun benar kata gadis itu, ia belum makan, bahkan dari tadi pagi. Lelaki itu mengambilnya, dan Arina masih ada di sana.
Terdengar suara orang berbincang dari arah pintu, membuat keduanya menoleh. Itu Zaki dan Keyla. Kedua orang itu tersenyum melihat pengantin baru.
"Ini pengantin baru maennya malah di luar. Di kamer sana." Keyla menggoda tanpa malu. Sedangkan Arina sudah menatapnya tajam.
"Mau kemana, bang?"
"Nganter anak babi ke kandangnya," tunjuk Zaki pada Keyla yang masih tersenyum. Dia salah tingkah karena ditatap terus oleh Alan.
"Biarin pulang sendiri. Kenapa juga masih di sini," ucap Arina dengan jutek.
"Sahabat nikah masa iya gue gak ikut bahagia. Bener gak, bang?"
"Ah, serah lo dah. Ayo gue anterin, keburu malam nih." Zaki mendorong Keyla sampai gadis itu hampir terjatuh kena tangga. "Di, betah-betah ya sama adek gue."
Zaki dan Keyla telah pergi dari pekarangan rumah. Alan kembali makan, dan Arina diliputi rasa canggung. Awalnya Arina berniat ke dalam, namun karena ucapan suaminya mengurungkan niatnya.
"Zaki, kakak lo?" Arina mengangguk dengan bingung. Bukannya lelaki itu sudah tahu?
"Baru sadar," gumam Alan yang tidak terdengar jelas oleh Arina.
"Kenapa?" Alan melirik seklias, lalu menggeleng. "Kak, gue masuk duluan. Kalo udah selesai simpen aja di wastafel."
Alan tidak menanggapi apa-apa. Jujur ia masih tidak terima dengan pernikahan ini. Alan tidak mencintai dan bahkan tidak kenal dengan gadis pendek itu. Bagaimana bisa sampai tertukar seperti ini? Sialnya lagi, handphonenya lowbat. Dan ia tidak bisa pergi begitu saja dari rumah ini. Mungkin besok pagi-pagi ia harus membenarkan kesalahan ini.
Tak terasa makanan telah habis. Setelah meneguk habis air minumnya, Alan membawa bekas makanannya ke dalam dan disimpan di tempat yang gadis itu tunjukkan. Keadaan rumah sepi, mungkin kedua orang tua gadis itu sudah tidur.
Ah, Alan baru ingat. Ayah dari gadis itu ternyata Jaelani. Alan ingat, beliau adalah sahabat Papanya, dan Zaki adalah anaknya.
Dia tahu waktu kecil mereka sering main ke rumahnya. Terus siapa gadis yang dinikahinya itu?
Alan terkejut ketika melihat Arina yang sedang membersihkan tempat tidur. Tadi saat ia tiduran sebentar, tidak menyadari bahwa banyak kelopak bunga. Alan terlalu memikirkan pernikahannya.
"Kenapa tidur?" tanya Alan ketika Arina akan membaringkan tubuhnya. Namun tidak jadi, gadis itu langsung duduk dan menatap suaminya bingung.
"Terus di mana? Ini kan kamar gue!"
"Jadi kita seranjang?" tanya Alan terkejut
"Ya, terus?"
Ini malam pertama bagi pengantin baru. Tapi masalahnya, ia salah menikahi orang. Kalau sekarang gadis yang berada di hadapannya adalah Alena, mungkin Alan tidak masalah harus tidur berdua. Tapi ini siapa?
Alan berdecak. "Yaudah deh, awas dulu gue mau naik."
Karena posisi tempat tidur yang menyantu dengan tembok, Alan memilih tidur dekat tembok. Dia tidak yakin kalau berada di ujung, yang ada takut jatuh. Ya liat saja ukuran tempat tidurnya. Di kamarnya bahkan lebih luas.
"Ini batas gue. Kalo lo lewatin batasi ini, abis lo sama gue."
Arina tersenyum licik. "Kalo lo ngelewatin batas gue?"
"Gak mungkin. Tidur gue ganteng banget."
"Iya deh, percayain aja gue mah," sahut Arina dan mulai tidur memunggungi suaminya. Biarlah dicap isteri durhaka, Arina juga tidak menginginkan pernikahan ini.
Dua jam, tiga jam, tidur mereka tidak terganggu apapun, semuanya aman terkendali. Namun, ketika tengah malam Arina terbangun karena merasa berat di pinggangnya. Arina terpaksa membuka mata. Kaki lelaki itu sudah berada di pinggangnya. Penghalang mereka sudah dijadikan bantal, dan kepala lelaki itu menyandar pada tembok.
"Dasar sultan. Iya dah jadiin gue babu, silahkan Tan!" gerutu Arina dan membanting kasar kaki besar itu. Dan tanpa perasaan ia mengambil paksa gulingnya.
"Awas lo, besok abis sama gue!" Karena masih pukul 2 malam, Arina kembali melanjutkan tidur dengan guling yang menjadi pembatas antara mereka lagi.