Arina kini sedang berada di angkot setelah pulang dari boutique tadi. Untung saja ia ada uang 10 ribu, itupun yang terselip di saku celananya, entah itu uang yang kapan.
Karena strategi rumah Arina yang bukan berada di dekat jalan raya, Arina berjalan kembali dari tempat pemberhentian angkot sampai ke rumahnya. Lumayan jauh, tapi Arina terpaksa karena tidak punya uang lagi.
Gadis itu terkejut ketika Ayah dan Ibunya langsung menghampirinya, padahal dirinya saja baru menginjak pekarangan rumah. "Calon laki lu mana, Rin?"
Arina tidak langsung menjawab. Gadis bertubuh mungil itu terus berjalan sampai berhenti di teras rumahnya. Dia langsung duduk di kursi kayu yang berada di teras.
"Lah, lu napa?"
"Cape, Beh. Untung Arin ada duit," keluhnya.
Jaelani ikut duduk di samping Arina dengan wajah khawatir. Beliau saling lirik dengan isterinya. Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya.
"Aldi tau pak Adam meninggal?" tanya Jaelani dengan hati-hati.
Arina langsung menenggakkan tubuhnya, menatap Jaelani dan Siti tidak percaya. Pantas saja Aldi tiba-tiba pergi sebelum lelaki itu melihat dirinya dan juga gaun pernikahan yang dipilihkannya. Arina sempat marah, dan terus menggerutu sepanjang jalan. Tapi jika ini alasannya, seharusnya lelaki itu bilang sebelum pergi.
"Gak tau! Tadi pas Arin nyobain gaunnya, dia udah gak ada."
Jaelani diam. Begitu juga dengan kedua perempuan itu. Mereka sedang berpikir. "Yaudah Babeh mau ke rumah mereka. Lu ntar bareng si Jek."
"Tapi Beh, Arin mana tau rumahnya."
"Si Jek udah tau. Tadi juga udah gua suruh balik." Kedua orang tua itu memang sudah siap dengan pakaian serba hitamnya, dan Arina baru menyadari itu. "Yaudah Babeh pergi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Selagi menunggu kakaknya pulang, Arina akan bersiap-siap. Dia juga merasa lapar karena berjam-jam cowok yang akan jadi suaminya itu tidak mengajaknya untuk makan. Malah yang ada ditinggalin. Apa nanti kehidupan setelah menikah, lelaki itu akan bersikap sama? Huh! Mudah-mudahan tidak terjadi.
●▪●▪●
Arina dan Zaki sedang berada diperjalanan. Waktu sudah menunjukan jam 5 sore, mereka memaksakan diri walaupun cuaca sedang gerimis.
Mereka berhenti di depan rumah mewah yang berada di kompleks orang elite. Arina tadinya sempat ragu dengan kakaknya, bagaimana dia bisa tahu rumah pak Adam. Tapi sekarang ia malah menaruh curiga pada Zaki.
"Bang, lo pernah ke sini?"
"Iya, waktu jaman SMA dulu." Zaki menghentikan motornya dan melepas helm, begitu juga dengan Arina. Mereka mengenakan baju yang sama seperti orang-orang yang berkumpul memakai baju hitam.
Kakak beradik itu beriringan masuk kedalam rumah setelah ada seseorang yang mengajak masuk. Setelah di dalam, pria yang tadi mengajak mereka langsung keluar. Sekarang mereka bingung harus apa. Tidak ada jenazah sama sekali, yang ada hanya ada sekumpulan orang-orang yang sedang membacakan surat al-quran.
"Bang, jenazah pak Adam mana?"
"Mana gue tau," sahut Zaki agak kesal. "Eh, bukannya pak Adam dirawat di luar negeri?" tanya Zaki yang teringat sesuatu. Tapi dirinya tidak tahu kebenarannya.
Arina mengangkat bahunya tidak tahu. Saat gadis itu akan melangkah, Zaki menahannya. "Mau ke mana lo?"
"Mau nyamperin Babeh sama Momih lah."
Zaki berdecak. "Lo gak liat tuh calon laki lu! Samperin dulu napa."
Gadis itu melirik seseorang yang ditunjuk Zaki. Dia Aldi. Lelaki itu sedang duduk di sofa dengan mata yang terlihat sembab. Sebenarnya Arina malas menemui lelaki itu akibat kejadian tadi siang. Tapi melihat betapa sedihnya Aldi, rasa iba langsung muncul.
"Bang Jek anterin gue, ya."
"Ogah. Ntar jadi kambing conge."
"Gak bakal, bang. Lagian dia kek benci gituh sama gue."
Arina jujur dengan ucapannya. Aldi terlihat tidak setuju dengan perjodohan ini. Sama seperti dirinya. Tapi Arina semata-mata karena perintah orang tua, karena mau menolak juga tidak bisa.
"Huss! Lo kalo ngomong sembarangan bae. Yaudah ayok!"
Zaki menyeret adiknya menuju sofa yang diduduki lelaki itu. Rumah itu begitu luas, bahkan Zaki tidak bisa menghitung ada berapa set sofa di ruangan itu.
Ketika hampir dekat di sofa, Zaki melepas genggaman tangannya dan mendorong sang adik untuk berada di depannya. Arina sempat ragu, tapi Zaki terus mendesaknya.
"Kak Aldi!" panggil Arina.
Lelaki yang dipanggil itu merasa terkejut dengan kedatangan seseorang. Dahinya mengernyit menunjukkan bahwa dia terlihat bingung. "Gue turut belasungkawa sama kepergiannya pak Adam. Kakak yang tabah, ya."
"Lo siapa?" tanya lelaki itu yang masih terlihat jelas kerutan di dahinya.
Arina dan Zaki saling lirik, ada yang beranggapan kalau lelaki itu sengaja pura-pura tidak kenal. Dan ada juga yang beranggapan bahwa Aldi tiba-tiba lupa ingatan karena kelamaan menangis.
"G-ue Arin, dan ini abang gue." Tapi lagi-lagi lelaki itu hanya bisa diam dengan wajah bingungnya. Ia mengingat-ngingat apa dirinya pernah bertemu dengan dua orang yang katanya beradik kakak itu. Tapi rasanya sekalipun belum pernah.
"Lo lupa sama gue, kak?"
Lelaki itu berdiri dengan wajah yang berubah kesal. Udah tahu lagi berduka, malah di datengin orang yang gak jelas, kan kesel ya?
"Salah orang!"
Tanpa mendengar ucapan Arina yang ingin memprotes, lelaki jangkung itu malah pergi. Arina ingin berteriak dan memaki orang yang akan menjadi calon suaminya itu. Tapi Zaki dengan sigap langsung menutup mulut sang adik.
"Heh, lo liat tuh cowok yang lagi ngobrol sama orang tua," bisik Zaki masih saja membungkam mulut Arina.
"Mirip calon laki lo. Tapi apa mungkin itu calon laki lo yang asli?"
Arina melepaskan tangan Zaki yang terasa bau itu. Dia mendelik tajam pada kakaknya sambil mengusap-usap bibirnya. "Bau apa sih?"
"Udah lupain! Gue mau serius nih," ucap Zaki mengalihkan. "Yang tadi itu kayaknya bukan si Aldi dah. Yang bener itu yang lagi ngobrol, tuh!"
"Jadi itu kembarannya?" Zaki mengangguk polos. "Malu dong gue."
"Halahh... biasanya juga malu-maluin."
Arina mencubit keras perut Zaki sampai puas. Gadis itu kembali memperhatikan Aldi sebenarnya yang sedang mengobrol itu. Jika diperhatikan dengan lelaki yang tadi, mereka memang sama. Tapi merasa ada yang berbeda sedikit sih.
"Heh!" Zaki mengguncang bahu Arina sehinggga dia terkejut bukan main.
"Napa sih, bang? Gak laik ah sama abang hari ini."
"Yeuu bocah!" ledek Zaki. "Emang lo gak bisa bedain mana calon laki lo mana kembarannya?"
"Yaelah, bang. Gue kenal kak Aldi aja baru dua mingggu, dan tadi siang pertemuan gue yang kedua. Lagian gue juga mana tau Aldi yang mana atau kembarannya yang mana."
"Eh, ralat. Dulu waktu lo masih umur dua tahun, lo udah ketemu mereka. Dulu tuh lo paling apet sama si Alan. Lah sekarang tau-taunya lo nikah sama si Aldi."
"Ya mana gue tau. Di umur dua tahun gue bisa nginget apa, b**o!" sentak gadis itu pada kakaknya. "Tapi, emang bener gue udah ketemu sama mereka?"
Zaki mengangguk. Lalu mengambil kue yang berada di atas meja di hadapannya. Arina melotot dengan perlakuan Zaki. Dia melihat sekitarnya ternyata tidak ada yang memperhatikan mereka. Gadis itu pun ikut duduk dan mengambilnya.
"Dulu itu Babeh suka ngajak kita ke sini. Pak Adam sama istrinya baek banget. Istrinya juga suka banget sama lo tuh. Pengen punya anak cewek katanya, tapi udah gak bisa punya anak. Lo itu udah kayak mainan baru lah bagi mereka."
"Sembarangan aja kalo ngomong." Arina mendelik sinis.
Zaki tertawa kencang. Tapi setelah mendapat pelototan dari Arina, lelaki itu langsung diam. Lupa kalau dirinya sedang berada di rumah orang lain. Apalagi ini acara bukan acara pesta.
"Bener. Malah istrinya pak Adam pernah minta lo buat nginep di sini. Cuma si Momih gak izinin."
"Pengen liat deh gimana istrinya pak Adam. Waktu datang ke rumah kan cuma pak Adam doang."
"Lo gak tau kalo istrinya udah meninggal?"
"Lah?" tanya Arina tidak percaya. "Kapan emang?"
"Yallah ni anak, udah mau jadi calon keluarga Albert tapi lo gak tau apa-apa."
Arina menekuk wajahnya kesal. Dirinya saja baru bertemu Aldi belum genap sebulan, dan wajar kan kalau ia tidak tahu apa-apa. Apalagi mereka tidak setiap hari bertemu.
"Beliau meninggal pas lo SMP. Kebetulan dulu lo lagi ikut acara kemping," jelas Zaki. "Itu makanya kenapa lo ngerasa belum pernah ke sini."
"Oh gitu. Gue kelas tujuh ya waktu itu? Lama juga..."
"Permisi. Ini bukan acara perayaan ulang tahun. Jadi jaga sikap kalian!"
"Eh?" Baik Arina atau Zaki langsung menoleh dengan wajah malu. Arina langsung melempar kembali kue yang baru diambilnya dan langsung berdiri.
Mereka lupa jika mereka sedang melayat, bukan nostalgia.
●▪●▪●
Dua motor berhenti di pekarangan rumah ketika hari sudah gelap. Keluarga Jaelani baru pulang dari rumah sahabat lamanya yang telah meninggal. Katanya jenazah Adam akan dikebumikan di tanah kelahirannya, Jerman.
Anak dan Ayah itu duduk di kursi teras rumah untuk mencari angin. Sedangkan Siti sudah masuk. Mungkin untuk membuatkan minum atau mungkin tidur duluan.
Jaelani menatap kedua anaknya, Arina dengan wajah kesal sedang melamun dan Zaki sedang sibuk dengan ponselnya.
"Lu kenapa, Rin?" Arina menoleh, namun gadis itu tidak menjawab. Suara tawa Zaki membuat Jaelani langsung menoleh. "Nape lu, Jek?"
"Beh, si Arin tuh lagi kesel sama calon lakinya," celetuk Zaki yang masih tertawa. Sudah Arina beri tatapan tajamnya, tapi lelaki itu tidak menuruti.
"Bener, Rin?" tanya Jaelani menatap anak bungsunya. Tapi Arina malah menunduk dengan wajah yang masih kesal.
"Kenapa emangnya?"
"Jadi gini, Beh. Tadikan Jek sama Arin lagi duduk-duduk aja, sekalian lah ngasih tau kalo Aldi punya kembaran. Eh; kita kebablasan malah ngopi di sana. Terus tiba-tiba Aldi datang langsung nyindir. Auto langsung banting kue."
"Ish, lo tuh ya!" geram Arina. Demi apapun Arina tidak mau mengingat kejadian memalukan tadi. Kalau posisi kolam renang dekat, Arina pasti udah nybeur dah.
Jaelani malah ikut tertawa. Sayangnya beliau tidak bisa melihat langsung kejadian itu. Kalau live kan ada bahan buat nanti ke cucunya.
"Beh!" panggil Arina yang membuat pria paruh baya itu langsung berhenti tertawa. Jaelani juga ikut menatap Arina yang sedang menatapnya serius.
"Kalo Arin batalin pernikahannya, boleh gak?" Jaelani dan Zaki saling lirik. Kakak dari Arina juga mendadak diam dan berubah serius.
"Kenapa?" tanya Jaelani.
"Arin ngerasa, Arin punya firasat yang gak baik."