Lima hari setelah keberangkatan Adam ke Jerman untuk pengobatan, baik Alan maupun Aldi belum mendapat kabar lagi. Mereka malah dipaksa disibukan oleh pernikahannya yang akan dilangsungkan 2 minggu lagi.
Kemarin Alan sudah melakukan fitting bersama keluarga dari calonnya, dan untuk hari ini bagian Aldi yang akan melakukannya. Tapi lelaki itu malah terlihat bermalas-malasan ditempat tidurnya. Sudah beberapa kali Alan mengingatkan, tapi kembarannya seperti tidak peduli.
Akhirnya pada saat jam menunjukkan pukul 1 siang, Aldi beranjak dari tempat tidurnya. Harusnya mereka janjian pukul 10 tadi, tapi karena malas bertemu calonnya Aldi malah menyepelekan hal itu.
Alan yang sedang bermain playstation di ruang keluarga, hanya bisa geleng-geleng dengan kelakuan kembarannya itu. Katanya pernikahan bukan hal yang sepele, tapi lelaki itu malah terlihat menyepelekannya. Dasar suka canda!
"Di, balik nanti beliin gue ketoprak langganan gue ya," teriak Alan. Padahal Alan sendiri tidak tahu Aldi masih berada di rumah atau sudah di luar.
Aldi masih mendengar teriakan sang adik, tapi dia malas menjawab. Setelah menutup pintu, Aldi berjalan menuju garasi untuk mengambil mobilnya. Ya, dirinya harus menjemput calonnya karena mereka tidak tahu tempat boutiquenya di mana. Padahal Aldi sedang tidak mood membawa mobil. Untungnya ia tidak punya nomer gadis norak itu, kalau ada pasti sejak tadi sudah diteror habis-habisan.
Butuh waktu satu jam Aldi bisa sampai ketempat tujuan. Selain karena macet, Aldi sengaja melakukannya. Ia benar-benar malas bertemu dengan gadis yang katanya akan menjadi calonnya itu. Jika diingat-ingat ini adalah pertemuan kedua setelah 2 minggu yang lalu bersama Adam.
Aldi melihat dua gadis sedang tertawa di atas bangku bawah pohon. Gadis norak yang dulu ia temui kini terlihat berbeda tanpa polesan make-up, tapi terlihat sangat kampungan dengan wajah polos itu.
Aldi menyadari bahwa kedua gadis yang sedang tertawa itu, kini malah diam dengan tatapan tertuju padanya, lebih tepatnya pada mobilnya. Aldi menghempaskan nafas kasar sebelum keluar dari mobil.
Dua gadis yang sedang duduk tadi, langsung berdiri saat melihat Aldi. Gadis yang lebih pendek dari yang satunya lagi, terlihat menunduk dan malu. Sedangkan gadis yang berpakaian rok mini itu terlihat antusias dengan kedatangan Aldi.
"Orang tua lo mana?" tanya Aldi pada gadis bertubuh mungil itu. Dia Arina, gadis yang dijodohkan pada anak sahabat dari Ayahnya. Gadis itu langsung mendongak dan tersenyum tipis.
"Babeh sama Mimom lagi di toko."
"Terus?"
"Mereka gak bakal ikut."
"Cuma gue sama lo doang?"
"Iya, kak."
Aldi menghela nafas. Awalnya dia sedikit bersyukur orang tua gadis norak itu bisa ikut, Aldi ingin menghindar dari gadis norak plus kampung itu. Tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin dirinya memkasa orang tuan gadis itu untuk ikut.
"Yaudah lo ganti baju sana! Dan lo-" tunjuk Aldi pada gadis yang terlihat sedikit lebih cantik daripada calonnya. "Lo juga ikut!"
"Hah? Gue bang?" Keyla melirik sahabatnya dengan wajah bingung. Tapi Arina malah tidak bereaksi apa-apa. "Duh gimana ya, bang. Sebenarnya gue pengen banget ikut, tapi gue disuruh nemenin buat ngerias. Jadi kalian berdua aja, gue juga gak mau ganggu kalian."
Arina mencubit sahabatnya kesal dengan tatapan tajamnya. Keyla hanya bisa meringis sakit oleh cubitan Arina. Sedangkan Aldi kembali mengumpat dalam hati. Terpaksa dia harus berduaan bersama gadis norak itu.
"Buruan ganti baju."
"Eh, gue gak perlu ganti baju." Aldi melirik pakaian yang dipakai Arina. Celana jeans yang panjangnya selutut, serta sweater berwarna hijau tua yang terlihat lebih besar dari tubuh mungilnya itu.
"Yakin?" Aldi menarik sebelah alisnya seakan tidak percaya.
"Kenapa, kak?"
Aldi menggeleng. Ternyata selain norak, gadis yang akan menjadi calonnya itu benar-benar tidak memiliki selera. Beda sekali dengan Alena yang selalu terlihat cantik setiap harinya.
Tanpa banyak kata Aldi langsung berjalan menuju mobilnya. Keyla juga mendorong sahabatnya untuk segera masuk ke mobil mewah itu. Saat Arina sudah membuka pintu di bagian depan, Aldi bertanya dengan sinisnya.
"Ngapain?"
"M-mau duduk." Arina menunjuk ke tempat duduk yang berada di samping lelaki itu.
"Di belakang. Gue gak sudi deket-deket sama cewek norak kayak lo!"
"Oh..." Arina kembali menutup pintunya. Keyla yang masih di sana menatap Arina bingung. Tapi gadis itu hanya mengakat bahunya, lalu membuka pintu belakang dan akhirnya masuk.
Mobil milik Aldi meninggalkan pekarangan rumah Arina yang lumayan luas dan bisa untuk memarkirkan mobilnya itu. Sedangkan Keyla masih di sana dengan kebingungannya. Dia mempunyai firasat kalau calon dari sahabatnya itu tidak menyukai Arina.
●▪●▪●
Aldi dan Arina sedang berhadapan dengan salah satu karyawan, yang katanya kemarin juga membantu Alan dan Alena membantu mencarikan gaun. Selama 10 menit mereka di sana, Aldi belum berbicara apapun. Sedangkan Arina menunggu Aldi untuk berbicara duluan.
Karyawan itu juga merasa jengkel. Dia sudah menawarkan beberapa baju pengantin serta jasnya, tapi tidak ada respon sama sekali dari keduanya. Sampai akhirnya berkata dengan ketus.
"Jadi kalian mau gaun dan jas yang seperti apa?"
Arina yang menyadari nada ketus dari karyawan itu, langsung melirik Aldi. Lelaki itu menghela, lalu berkata. "Gaun yang kemarin dipilih seperti apa?"
Akhirnya! Karyawan itu kembali tersenyum, walaupun sedikit agak kepaksa. "Mbak Alena sudah memilih, tapi katanya gaun itu terlalu sederhana. Jadi dia meminta kami untuk menambahkan beberapa hisan. Mau liat?"
Aldi hanya mengangguk, sedangkan Arina masih diam. Dirinya merasa jika ia tidak pantas untuk memilih baju pengantinnya sendiri. Meskipun ini pernikahannya, tapi baju yang akan digunakanya nanti kan dari duit calonnya. Jadi Arina lebih menurut saja aja.
"Tunggu sebentar ya Mas, Mbak, saya ambilkan dulu."
Tak lama perempuan itu datang bersama seseorang yang mendorong manekin. Arina terkejut bukan main melihat gaun pengantin yang begitu indah dan mewah.
"Cantik banget," pekik Arina berkomentar. Aldi melirik gadis itu lewat ekor matanya. Ya benar, gaun yang dipilih Alena memang sangat mewah. Alena memang memiliki selera yang bagus.
Karyawan yang memakai blazer hitam itu tersenyum menanggapi komentar Arina. Memang benar gaun itu sudah terlihat cantik. Tapi pelanggan yang akan membeli gaun itu bilang jika gaunnya terlihat sederhana.
"Mbak, ini udah selesai kan?" tanya Arina tanpa mengalihkan pandangannya dari gaun itu.
"Belum. Rencananya kami akan memperbaikinya hari ini."
Arina mendongak dengan wajah tidak percaya. "Beneran, Mbak? Tapi gaun ini udah cantik banget loh. Emang mau diapain lagi?"
"Mbak Alena sudah memintanya untuk menambahkan beberapa mutiara dan manik-manik. Mungkin dalam dua hari sudah selesai," jelas karyawan itu. "Mbak juga mau pesan seperti Mbak Alena?"
Arina langsung menoleh pada Aldi. Ingin rasanya bilang 'iya', tapi itu bukan haknya. Calonnya yang lebih berhak di sini.
"Jangan, kasih gaun yang sederhana aja!"
Wanita yang menjadi karyawan di boutique itu menatap Aldi tidak percaya. Lalu menatap Arina yang terlihat murung sambil menatap gaun itu. Wanita itu menyuruh karyawannya untuk membawa kembali gaun itu.
"Model seperti apa yang Mas mau?"
"Sederhana." Setelah mengucapkan itu Aldi berlalu dari sana, entah kemana perginya lelaki itu.
Wanita itu mengusap bahu Arina sehingga gadis itu terkejut. Wanita itu meminta maaf, dan Arina berkata bahwa ia tidak apa-apa.
"Mbak, mau gaun seperti apa buat pernikahannya nanti?" tanya wanita itu dengan ramah.
"Seperti yang dibilang kak Aldi tadi," jawab Arina tersenyum lebar. Wanita itu pun juga ikut tersenyum, lalu membawa Arina untuk memilih gaun pengantin.
"Sebelum kalian ke sini, ada seorang wanita yang katanya suruhan dari pak Adam. Beliau bilang, gaun apa aja yang diinginkan calon menantunya tolong dikasih aja, sekalipun itu yang mahal. Beliau ingin yang terbaik untuk kalian. Jadi, pilihlah gaun yang kamu mau, ya."
Arina menggeleng. "Saya gak mau Mbak, itu bukan hak saya. Gaun semahal apapun gak akan berharga kalo ijab qobulnya gak bisa." Arina terkekeh, bermaksud untuk bercanda.
"Kamu ini ada-ada aja." Wanita itu menggelengkan kepalanya sambil tertawa pelan. "Memang benar gaun semahal apapun gak ada artinya kalo ijab kobulnya gagal. Tapi setiap orang pasti punya pernikahan imipian mereka. Kayak Mbak Alena kemarin. Dia pengen dipernikahannya dia yang menjadi queen satu-satunya. Emang kamu gak punya dream wedding?"
"Nggak. Terlalu muda buat mikirin pernikahan." Lagi-lagi Arina terkekeh sambil melihat gaun-gaun yang terpakai di manekin.
Wanita itu mengernyit. "Kok bisa?"
"Saya nikah karena terpkasa, Mbak."
"Loh?"
Arina masih saja bisa tersenyum walau apa yang dirasakan lebih sedih. "Mbak, laki-laki yang tadi itu bukan orang yang saya mau. Kami dijodohkan."
"Kalo kamu gak mau, kenapa menerima dia?" tanya wanita itu penasaran.
"Niat saya cuma mau menolong Papa kak Aldi, Mbak. Kata Babeh, beliau sudah banyak membantu keluarga kami. Ya, itung-itung ini sebagai balas budi."
Wanita itu tersenyum. "Kamu ini baik sekali. Mengorbankan kebahagian kamu demi orang lain."
"Mau gimana lagi, Mbak. Saya cuma mau nurut sama orang tua."
"Semoga kamu bisa bahagia nantinya," ucapnya dengan tulus. "Ayo ikut saya ke sana, saya akan bantu kamu cari gaun."
Arina mengangguk sambil tersenyum dan mengikuti karyawan itu masuk ke salah satu ruangan.