Chapter 11 : Pertama kali.

1023 Words
Untuk pertama kali setelah beberapa bulan Laura mengenal Keenan dan ia baru tahu bagaimana Keenan jika sudah marah dan meluapkan amarahnya. Dan saat itu juga, Laura hanya bisa diam karena ia tidak tahu harus berbuat apa selain intropeksi diri dengan apa yang membuat lelaki itu bisa marah. Setelah mengantar Laura pulang, Keenan tidak mengatakan apapun lagi dan memilih untuk langsung pergi dari pekarangan rumah Laura. Melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata pun tidak mampu meredam amarahnya. Tujuan Keenan kembali ke bar milik Angga. Di sana ia langsung memesan minuman yang paling keras agar ia bisa lupa sejenak atas ucapan Laura, gadis yang ia cinta. "Ternyata benar apa yang elo bilang." "Hah? Jadi Laura masih mengingat ucapan Jihan dan merasa kalau ucapan Jihan adalah benar?" "Gitu lah." Keenan menatap gelas yang ia genggam dengan tatapan putus asa. "Jangan menyerah lah. Ubah pola pikir Laura." "Tapi tadi gua sudah marah-marah sama dia." "Kebiasaan sih. Susah kontrol amarah." "Salah dia yang bikin gua naik pitam. Keras kepala kok dipelihara." "Daripada elo, pemarah kok dipelihara." Keenan kemudian menyodorkan gelasnya ke hadapan Angga lagi, lelaki itu mengisyaratkan agar Angga menambahkan minuman ke dalam gelasnya yang sudah kosong. "Sudah berapa gelas coba gua tanya?" "Jangan bikin gua yang tuang sendiri." Angga terpaksa menuangkan minuman lagi ke dalam gelas milik Keenan dan saat Angga memberikan gelas itu kepada Keenan, Keenan langsung menerima dan langsung meminumnya dengan sekali teguk. "Awas aja kalau sampai mabuk, gua tendang lo," gumam Angga. "20 gelas, baru gua mabuk," sahut Keenan dengan santai. ... Di sisi lain. Malam ini Laura tidak bisa tidur. Bahkan disaat jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Gadis itu masih terjaga, matanya terarah pada langit-langit kamarnya, pikirannya masih melayang pada seseorang yang beberapa jam lalu memarahinya. "Apa yang harus aku lakukan?" tanya Laura pada angin di hadapannya. Saat Laura masih berpikir bagaimana caranya agar ia bisa membujuk Keenan, gadis itu mendapat panggilan suara dari nomor Keenan. Lantas Laura langsung menggeser layar ponselnya. Namun, bukan suara Keenan yang terdengar dari sebrang sana, melainkan suara lelaki lain. "Ini siap?" "Gua Angga, temannya Keenan. Sekarang Keenan ada di bar gua dan dari tadi dia panggil nama elo. Gua mau antar dia pulang tapi dia enggak mau." "Kirim alamat, ya. Aku ke sana sekarang." "Enggak apa? Ini sudah tengah malam." "Aku akan mencari taksi online." "Gua akan cari taksi online." "Bahaya, Ra. Gua jemput elo aja, ya? Daripada Keenan di sini sampai besok pagi." "Yasudah. Aku kirim alamat melalui pesan ke Keenan, nanti kamu buka." "Oke." ... Laura segera bangkit dari kasurnya, ia segera beganti pakaian setelah mengirim alamat rumahnya kepada Keenan yang Laura tahu bahwa Angga yang akan membacanya. Tidak lama, sebuah mobil berhenti di depan rumah Laura dan membunyikan klakson. Laura segera keluar dari dalam rumah dan langsung memasuki mobil itu yang ia tahu bahwa di dalamnya ada Angga, teman Keenan. Saat Laura sudah masuk ke dalam mobilnya, Angga langsung menancapkan gasnya kembali menuju bar miliknya. "Tadi Keenan cerita banyak ke gua, tentang elo." "Keenan selalu begini kah?" "Jarang, Ra. Dia jarang bisa mabuk. Karena dia memang tahan. Tapi tadi dia minumnya banyak banget." "Sifatnya bagaimana kalau sama teman-temannya?" "Lebih kasar," Angga menjawab seraya tertawa. "Maksudku, apa dia kalau marah selalu meluapkan?" "Kalau dia merasa harus diluapkan, maka akan dia luapkan." Laura menganggukkan kepalanya tanda mengerti. "Tapi dia jarang sampai bisa begitu." "Kayaknya apapun yang terjadi dengan Keenan hari ini adalah hal yang jarang dia lakukan, ya?" "Karena Keenan benar-benar mencintai elo dengan tulus. Dari dia yang enggak pernah kasih tau gua kalau dia lagi naksir seseorang, tapi pada saat dengan elo, dia cerita banyak dan dengan bangganya." "Artinya apa kalau dia sudah begitu?" "Artinya dia benar-benar menyukai elo, Ra. Masa begitu aja enggak paham?" "Karena aku enggak pernah mengalami hal begini." "Apa?! Elo cantik loh, masa enggak ada yang naksir dengan elo?" "Mungkin karena teman-teman sekolahku tahu bagaimana hancurnya keluargaku," jawab Laura seraya terkekeh. "Tapi elo berhasil membuktikan pada teman satu sekolah elo, kalau elo tetap bisa meraih prestasi walau kedua orangtua elo sudah enggak bersama lagi." Laura hanya tersenyum. "Tapi, kata Keenan, elo punya teman cowok." "Si Stevan?" "Nah itu." "Keenan cerita apa tentang Stevan?" "Keenan jelas cemburu lah." ... "Ken, itu si Angga sudah balik," bisik Geo ke telinga Keenan. Geo sama seperti Angga, dia adalah teman baik Keenan. Keenan segera menaikkan pandangannya yang semula ia menyandarkan kepalanya ke atas meja. "Enggak usah bohong lo!" kesal Keenan ketika ia tidak menemukan adanya Angga. "Itu loh," ucap Geo seraya menaikkan dagunya. Keenan menatap ke arah di mana Geo mengarahkan pandangannya. Lelaki itu melihat tidak hanya Angga yang kembali, ada seorang gadis yang ia kenali berjalan di belakang sahabatnya itu. Keenan segera berdiri dan langsung menghampiri Angga. Geo yang tahu apa yang akan terjadi, ia segera mengejar Keenan yang berjalan dengan begitu cepat. Tebakan Geo benar, Keenan menarik kerah baju Angga dan menatap sahabatnya itu dengan tatapan marah. "Keenan, stop!" ucap gadis yang ada di belakang Angga yang tak lain adalah Laura. "Lo ngapain hah?!" marah Keenan. "Angga jemput aku karena dia bilang kalau kamu sudah mabuk dan enggak mau diantar pulang. Angga juga bilang kalau kamu manggil nama aku terus. Jadi Angga langsung jemput aku dan bawa aku ke sini," jelas Laura. Keenan melepaskan kerah baju Angga dan tubuh lelaki itu langsung merosot ke lantai, ia tidak sadarkan diri lagi. "Ini kita bawa ke UGD aja apa?" tanya Laura yang nampak khawatir. Seketika itu juga, Angga dan Geo langsung menahan tawa mereka. "Ra, gini ya. Keenan itu hanya mabuk, bukan sekarat," ucap Angga. "Kalian ini temannya Keenan atau bukan sih? Keenan sudah pingsan tapi kalian malah ketawa," kesal Laura. Angga dan Geo pun langsung memapah Keenan dan membawanya ke mobil. "Biasanya Keenan kalau mabuk gini, pulangnya ke apartemen," ucap Angga. "Lo bawa Keenan pakai mobil Keenan, gua bawa mobil gua ngikutin kalian. Biar nanti balik ke sini lagi enggak susah," ucap Geo. "Enggak ke UGD?" tanya Laura lagi. "Astaga, Ra. Orang mabuk enggak perlu dibawa ke UGD. Palingan besok sudah sadar," sahut Geo. "Lo sama Angga, pegangin Keenan di belakang. Takutnya itu anak satu malah ngeguling ke bawah," sambungnya. Laura hanya menganggukkan kepalanya dan menuruti perkataan Geo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD