Chapter 1 : Hari baik.
Hari perayaan kelulusan biasanya pasti dihadiri oleh semua orangtua murid. Namun, tidak untuk Laura. Hari bahagia ini ia rayakan seorang diri tanpa adanya orangtua. Sebab, 2 tahun yang lalu kedua orangtuanya memutuskan untuk berpisah dan menjalani hidup masing-masing. Sedangkan Laura, ia tetap tinggal di rumah peninggalan bekas pernikahan kedua orangtuanya, gadis itu tinggal sendirian. Walau terkadang, orangtuanya datang sesekali secara bergantian untuk memastikan bahwa Laura hidup dengan baik. Sudah sering diajak hidup bersama oleh Ayah maupun Ibunya. Namun Laura menolak. Menurutnya, kedua orangtuanya sudah memiliki keluarga baru dan ia enggan untuk menganggu.
Laura tersenyum seraya menatap hasil rapot akhirnya yang menampakkan bahwa hanya ada 2 mata pelajaran ia mendapatkan nilai B. Sisanya adalah nilai A.
Seseorang menepuk pundak Laura dan mengucapkan selamat kepada gadis malang ini.
"Jika kamu mau, aku bisa bilang ke Papa untuk biayayain kuliah kamu, Ra," ucap Billa yang tak lain adalah sahabat Laura sejak keduanya sama-sama duduk di bangku sekolah dasar.
Laura hanya tersenyum seraya menunjukkan sebuah surat beasiswa kepada Billa.
Billa sudah tidak heran lagi jika sahabatnya itu mendapatkan beasiswa untuk melanjukan pendidikannya. Namun, Laura mengatakan bahwa ia tidak ingin mengambil beasiswa itu sekarang. Tentu saja Billa heran dengan sikap sahabatnya itu.
"Ini adalah kesempatan emas buat kamu. Kenapa kamu malah menundanya?"
"Sepertinya aku ingin bekerja terlebih dahulu, Bil. Aku tahu bahwa kuliahku dari semester awal sampai akhir akan ditanggung pihak sekolah. Tapi, biaya hidupku pasti aku sendiri yang akan menanggungnya."
"Makanya, kamu tinggal di rumahku saja. Sekalian menemani aku kalau Papa sedang ada pekerjaan di luar kota."
"Aku sudah begitu banyak merepotkanmu, Bil."
Laura tersenyum, kemudian ia berpamitan pada Billa untuk pulang terlebih dahulu. Hari ini, Laura pulang hanya dengan berjalan kaki. Sebab, uang bulanan yang diberikan oleh Ayahnya kepadanya sudah menipis.
Saat Laura melewati sebuah kafe, ia melihat adanya papan pengumuman yang tertulis bahwa kafe itu sedang mencari seorang karyawan.
Dengan masih menggunakan seragam putih abu-abu, Laura melenggang masuk ke dalam kafe itu dan langsung menghampiri kasir untuk menanyakan apakah lowongan pekerjaan di sana masih tersedia atau sudah ada yang menempati.
Penjaga kasir itu menyuruh Laura untuk menunggu sebentar sementara ia memanggilkan Boss-nya.
Tidak lama, seorang wanita yang terlihat elegan keluar dari sebuah ruangan yang terletak di belakang meja kasir itu.
"Apa kamu sedang mencari saya?" tanya wanita itu dengan penuh wibawa.
"Apa Ibu adalah pemilik kafe ini?" tanya Laura dengan sopan.
Wanita itu menganggukkan kepalanya dtanda membenarkan pertanyaan Laura.
"Perkenalkan, Bu. Saya Laura,." Laura memperkenalkan dirinya.
"Saya Hanna," ucapnya menyahuti Laura.
Hanna pun mengajak Laura untuk duduk di sebuah bangku yang masih kosong. Keduanya duduk besebrangan saat itu.
"Apa Ibu masih mencari karyawan?" tanya Laura dengan harapan bahwa ia adalah orang pertama yang datang untuk menanyakan hal itu.
"Benar. Saya sedang mencari seorang pelayan di sini," jawab Hanna.
"Apa boleh jika saya bekerja untuk Ibu?" tanya Laura.
"Apa kamu baru lulus sekolah?" tanya Hanna seraya menatap seragam putih abu-abu yang masih melekat pada tubuh Laura.
"Iya, Bu. Tapi saya berjanji jika saya akan bekerja dengan baik di sini," ucap Laura meyakinkan.
"Apa saya boleh melihat kartu tanpa pengenal kamu?" tanya Hanna.
Laura pun langsung membuka ransel biru tua miliknya dan ia mengambil sebuah kartu tanda pengenal dan kartu pelajar miliknya. Kemudian, gadis itu memberikan 2 kartu miliknya kepada Hanna.
"Datang ke sini besok dan kapanpun kamu bisa. Karena sistem bekerja di sini adalah paruh waktu. Semakin baik dan rajin, semakin banyak gaji yang akan saya berikan. Kalau dalam seminggu pekerjaan kamu saya rasa bisa masuk ke dalam kriteria yang saya cari, maka kamu akan saya jadikan karyawan tetap di sini," pungkas Hanna.
Laura tersenyum dengan sangat senang saat mendengar kata itu yang Hanna ucapkan. Kemudian, Laura mengucapkan terima kasih banyak kepada Hanna.
...
Keesokan harinya.
Waktu baru menunjukkan pukul 8 pagi. Namun Laura sudah siap dengan pakaian yang akan ia kenakan untuk bekerja hari ini. Kaos polos berwarna biru muda ia padukan dengan rok setengah paha berwarna hitam. Sepatu kets putih dan jaket jeans berwarna pink sebagai pelengkap.
Gadis itu terlihat semakin manis ketika ia menjepit sebagian rambut panjang hitamnya dengan jepitan rambut kecil. Kemudian, ia juga memoles sedikit liptint ke bibir mungilnya.
Dengan membawa selembar roti dan sekotak s**u full cream kesukaannya, Laura langsung berjalan keluar rumah untuk berangkat bekerja.
"Selamat pagi, Pak," sapa Laura kepada satpam yang berjaga di depan komplek perumahannya.
"Pagi, Dek," sahut satpam itu.
Begitulah rutinitas Laura di pagi hari, ia memang sering menyapa satpam komplek. atau terkadang jika ia bertemu dengan salah seorang warga yang tinggal satu komplek dengannya, ia juga menyapa.
...
Hanya membutuhkan waktu 15 menit menaiki sebuah angkutan umum, Laura pun sampai di kafe yang kemarin ia datangi. Di sana, ia melihat Hanna yang baru saja mengganti papan tanda tutup ke buka.
"Pagi, Bu," sapa Laura seraya tersenyum ke arah Hanna.
"Eh, Laura? Pagi sekali datangnya," ucap Hanna yang sedikit terkejut. Sebab, sebelumnya tidak ada karyawannya yang datang sepagi ini.
"Ibu bilang kalau kafe buka dari jam 9 pagi. Jadi aku pikir akan lebih baik kalau aku datang lebih awal untuk membantu membereskan kafe sebelum buka," sahut Laura.
Hanna tersenyum puas ketika ia mendengar kata itu yang keluar dari mulut Laura. Hanna juga senang ketika melihat kegigihan yang luar biasa dari dalam diri seorang gadis yang baru menginjak usia 18 tahun. Sembari berharap jika kegigihan Laura akan terus berlanjut.
Dengan mendapatkan posisi sebagai pelayan kafe, bukan berarti Laura hanya akan mengantar dan mengambil pesanan pembeli. Laura tidak tinggal diam ketika ada seseorang yang menginginkan take away.
"Machiato 1," ucap seseorang yang sudah berdiri di hadapan Laura.
"Ada tambahan?" tanya Laura.
"Itu saja," jawab orang itu. "Mohon tunggu sebentar," ucap Laura seraya tersenyum menatap laki-laki yang berdiri di hadapannya.
"Rin, macchiato 1 cup, ya," ucap Laura pada Karin, sang barista kafe.
"Siap, Ra," sahut Karin sebelum ia menyiapkan.
"Karyawan baru?" tanya pria itu pada Laura.
"Iya, Mas," jawab Laura dengan sopan.
"Loh, Keenan? Pantesan tadi kayak kenal dengan suaranya," ucap Karin ketika ia menyadari bahwa orang itu adalah Keenan, salah satu pelanggan kafe.
"Biasanya jam segini aku memang ke sini. 'kan?" sahut Keenan.
Karin hanya tertawa sebelum ia menyerahkan 1 cup machiato kepada Keenan.
Sebelum pergi, Keenan membayar kopinya terlebih dahulu.
Sepeninggal Keenan, Laura pun bertanya kepada Karin tentang siapa Keenan.
"Dia langganan sini, ya?"
"Iya, Ra. Kenapa memangnya?"
"Tadi dia lihatin aku kayak bukan orang asing."
"Mungkin wajah kamu pasaran, Ra." Karin tertawa sendiri dengan lelucon yang ia buat.
Sedangkan Laura, ia hanya mendatarkan ekspresinya.
"Aku becanda, Ra. Jangan ambil hati," ucap Karin.