Chapter 2 : Kegigihan.

1151 Words
Hari ini tepat satu minggu untuk Laura bekerja di kafe milik Hanna - dan Laura pun sudah resmi menjadi bagian dalam tim yang Hanna buat untuk mengurus kafe miliknya. Atas pengumuman kabar baik itu, tentu saja membuat rasa hati Laura sangat senang. Pada akhirnya ia berpikir bahwa ia tidak mengharapkan hidupnya dengan kedua orangtuanya lagi. "Seperti kemarin," ucap Keenan saat ia berdiri di hadapan Laura. "Macchiato 1 cup, ya?" tanya Laura seraya tersenyum menatap laki-laki di hadapannya. Keenan menganggukkan kepalanya tanda membenarkan. Kemudian, lelaki itu berucap "Sepertinya hari ini kamu sedang bersuka hati, ya." Lagi-lagi Laura hanya melemparkan senyuman manisnya kepada Keenan. "Itu karena hari ini Laura sudah resmi menjadi bagian dalam tim kami setelah seminggu masa percobaannya," ungkap Karin. "Selamat, ya," ucap Keenan seraya terus menatap gadis di hadapannya. "Terima kasih," ucap Laura pelan. "Laura, bisa bantu saya sebentar?" tanya Hanna yang sudah berdiri di depan pintu masuk kafe. "Iya, Bu," jawab Laura sebelum ia berjalan menghampiri Hanna. "Anak mana dia?" tanya Keenan pada Karin. "Tumben kamu tanya. Biasanya selalu cuek dengan orang baru," heran Karin. "Dia terlihat sangar bersemangat dan ceria. Tapi aku yakin kalau itu semua ia nampakkan untuk menutupi kesedihannya," ucap Keenan seraya menatap Laura yang sedang membantu Hanna di luar. "Yang aku dengar dari ibu Hanna, Laura itu korban perceraian kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya hidup dengan keluarga baru mereka masing-masing dan Laura memilih untuk hidup sendiri di rumah peninggalan orangtuanya," ungkap Karin. Seketika itu juga, Keenan langsung merasa kasihan pada gadis itu. "Ada nomor kontaknya nggak?" tanya Keenan. "Modus banget," gumam Karin. "Ayolah. Kamu pasti punya, 'kan?" ucap Keenan dengan nada paksaan. "Eh, ada Keenan?" ucap Hanna ketika ia baru melihat Keenan yang berdiri di depan meja kaasir. "Pagi, Na," sapa Keenan. "Tumben enggak langsung pergi," heran Hanna seraya menatap cup kopi yang sudah ada di tangan Keenan. Sebelum berucap, Keenan menatap sekitarnya terlebih dahulu untuk memastikan bahwa Laura tidak ada di sekitar sana. "Ada apa?" tanya Hanna yang penasaran dengan tingkah Keenan hari ini. "Kamu pasti simpan nomor kontak Laura, 'kan?" tanya Keenan. Tanya Keenan dengan nada pelan. "Apa boleh membaginya denganku?" 'Ada sih. Tapi ya harus izin dulu dengan orangnya juga. Aku enggak mau kasih nomor orang lain tanpa persetujuan pemililknya," sahut Hanna. "Kalau aku minta langsung ke orangnya, apa akan di kasih?" tanya Keenan lagi. "Kalau kamu enggak coba, kamu enggak akan tahu apa jawabannya," sahut Hanna sebelum ia berjalan menuju ruang kerjanya. Setelah itu, Keenan langsung pergi dari hadapan Karin. Saat lelaki itu sampai di depan pintu kafe, ia bertemu dengan Laura. Mulanya Keenan ragu, namun ia mencoba untuk meyakinkan dirinya untuk bisa mendapatkan nomor kontak Laura. "Ra," panggil Keenan yang membuat Laura menatapnya. "Apa boleh minta nomor telfon kamu?" tanyanya. Mendengar pertanyaan itu, sontak membuat Laura menaikkan alis sebelah kanannya. Bola matanya menatap lelaki yang melontaknya pertanyaan itu kepadanya, dengan tatapan yang aneh. "Aku hanya memiliki satu nomor kontak. Jika aku memberikannya kepada kamu, lalu nomornya sudah enggak ada lagi dong," ucap Laura. "Penampilan kamu kelihatan bahwa kamu dari kalangan atas, masa nomor kontak aja enggak bisa beli? Di ponsel banyak kok yang jual," sambungnya sebelum ia meninggalkan Keenan. Keenan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku yang bodoh atau dia yang bodoh?" gumam Keenan. "Tapi, aku belum pernah mendapat perlakuan seperti ini dari seorang gadis," sambungnya. ... Sore hari sudah tiba. Billa datang ke kafe tempat Laura bekerja. Gadis itu datang untuk melihat sahabatnya dan untuk memastikan kalau ucapan sang sahabat adalah benar bahwa ia diperlakukan dengan baik di dalam tim kerjanya. "Pesan apa, Bil?" tanya Laura yang bersikap seolah ia sedang melayani pelanggannya seperti biasanya. "Jangan memakai nada bicara itu denganku. Karena itu membuatku merasa bahwa aku adalah orang asing bagimu," ucap Billa tidak terima. "Billa, sahabatku yang cantiknya mengalahkan Mimi Peri ini mau pesan apa?" tanya Laura. Billa yang mendengarnya hanya memutar bola matanya dengan malas. Kemudian gadis itu meminta 1 gelas latte ice kepada sahabatnya sebelum ia pergi ke salah satu table untuk duduk. Laura segera meminta pada Karin untuk menyiapkan pesanan milik Billa. "Kamu kenal dengan dia, Ra?" tanya Karin seraya menatap Billa yang sedang membuka laptop di salah satu meja pengunjung. Laura menganggukkan kepalanya dan mengatakan bahwa Billa adalah sahabatnya. Setelah pesanan milik Billa selesai dibuat, Laura langsung mengantarkannya ke meja tempat Billa duduk. "Aku tinggal, ya?" ucap Laura setelah ia meletakkan gelas berisi latte ice milik Billa. "Iya," jawab Billa singkat. Billa yang saat ini sedang mengerjakan tugas kampusnya di kafe tempat Laura bekerja. Sesekali gadis itu memperhatikan Laura yang sedang sibuk dengan banyaknya pelanggan yang datang silih berganti. Namun, sore ini berbeda dengan sore sebelumnya. Karena di hari sebelumnya Keenan tidak datang namun sore ini lelaki itu datang. Tapi. Laura tidak ingin memperlakukan Keenan dengan tidak baik karena ia juga tidak ingin membuat Hanna kecewa dengan perlakuan tidak baiknya kepada pelanggan. "Pesan apa, Mas?" tanya Laura pada Keenan. "Kalau aku borong semuanya, apa aku akan dapat bonus?" tanya Keenan. "B-bonus?" tanya Laura heran. "Nomor telfonmu saja, sudah cukup," sahut Keenan. Laura hanya terkekeh pelan. Kemudian ia berkata "Mohon maaf sekali, Mas. Perihal itu saya tidak bisa." Melihat orang yang mulai mengantre di belakangnya, Keenan pun memutuskan untuk memesan apa yang biasanya ia pesan. Dari jarak beberapa meter, Billa memperhatikan hal itu dengan tatapan bingung. "Siapa dia? Kenapa terlihat begitu asing di mataku, namun terlihat akrab dengan Laura?" Billa membatin. ... Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Namun Keenan masih saja duduk di bangku pengunjung yang tersedia di luar kafe. Laura dan Hanna yang hendak menutup kafe pun merasa bingung dengan adanya Keenan. "Bu, sekarang Keenan jadi satpam kafe, ya?" tanya Laura pada Hanna. Hanna hanya terkekeh ketika pertanyaan itu diajukan oleh Laura kepadanya. "Keenan itu sangat jarang seperti ini ke orang lain. Kalau dia bersikap berbeda dengan salah seorang, itu artinya orang itu spesial," ucap Hanna. "Sana hampiri, saya duluan." Hanna pergi begitu saja. Dengan berat hati, Laura menghampiri Keenan yang sudah hampir tertidur di kursi. "Sepertinya kamu enggak ada capeknya, ya?" "Untuk mendapatkan nomor kontak kamu, apapun akan aku lakukan. Dan seandainya Hanna setuju, mungkin malam ini, kafe ini sudah menjadi milik kamu." Laura yang sudah benar-benar lelah setelah bekerja seharian penuh, ia pun meraih ponsel milik Keenan yang sengaja Keenan letakkan di atas meja. Laura langsung menekan 12 digit angka dan menamai nomor kontaknya hanya dengan 1 huruf, yaitu; L. "Sekarang kamu pulang dan istirahat. Aku enggak mau kalau besok aku dengar kabar kalau kamu sakit," ucap Laura. Gadis ini meletakkan ponsel milik Keenan kembali ke tempat semula sebelum ia pergi dari hadapan lelaki itu. Keenan tersenyum puas karena ia sudah mendapatkan nomor kontak serta perhatian dari gadis yang ia suka. ... "Yaaa... Gua sudah berhasil mendapatkan nomor kontaknya," ucap Keenan pada Angga, sang sahabat. "Elo kan memang begitu. Selalu mencari cara untuk mendapatkan apa yang elo mau. Karena moto hidup elo adalah; apa yang elo mau, harus elo dapat," sahut Angga yang masih sibuk menyiapkan wine yang dipesan oleh sahabatnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD