Chapter 3 : Kesalahan.

1000 Words
Puluhan notifikasi yang masuk dan membuat suara bising di kamar milik Laura, membuat pemiliknya mendengus kesal dan terpaksa harus membuka matanya padahal ia masih ingin tidur. Laura menatap nama yang tertera pada bar notifikasi pelaku spam chat padanya. Saat ia mengetahui siapa pelaku yang membuatnya terpaksa bangun dari mimpi indahnya, Laura segera membuat agar pesan itu masuk tanpa suara lagi. Setelah itu, Laura kembali memeluk guling dan menarik selimutnya. Gadis itu kembali tidur. Namun, baru beberapa menit Laura merasa tenang, beberapa nada dering yang menandakan bahwa nomor ponselnya telah ditelfon oleh seseorang. Dengusan kesal kembali keluar dari mulut gadis itu. Laura meraih ponselnya kembali dan menggeser layar ponselnya sebelum meletakkan ke daun telinganya. Saat Laura mendengar suara dari seberang sana, ia segera mematikan sambungan panggilan suara dan melempar ponselnya ke sampingnya. "Kurang kerjaan!" umpat Laura kesal. Laura menatap jam dinding yang ada di kamarnya. Jarum jamnya masih menunjukkan pukul 6 pagi lewat 5 menit. Laura menggerutu kesal karena tidurnya benar-benar diusik hari ini. Mau tidak mau, Laura harus turun dari ranjang tidurnya karena rasa kantuknya sudah pudar. Gadis itu berjalan menuju kamar mandi dan menjalankan ritual mandinya, ia akan bersiap untuk pergi bekerja hari ini. Gadis itu bersiap dengan santai karena waktunya masih banyak. "Kenapa juga aku kasih nomorku ke dia?' sungutnya. ... Dengan badan yang lesu namun berusaha ia tutupi dengan senyuman, Laura datang ke kafe. Di sana seperti hari kemarin ia membantu Hanna untuk membersihkan dan merapikan kafe sebelum buka. Sesekali Hanna melirik ke arah Laura yang terlihat berbeda hari ini. Dengan ragu, Hanna menanyakan pada Laura apa yang terjadi pada gadis itu. Laura hanya menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan bahwa ia sedang baik-baik saja, walau sebenarnya tidak. Hanna tahu bahwa Laura sedang berbohong padanya, karena Hanna pandai menebak ekspresi seseorang. "Enggak mau cerita dengan sayaa?" tanya Hanna seolah ia tahu permasalahan yang sedang Laura hadapi. "Semalam aku kasih nomorku pada Keenan. Karena memang itu tujuan Keenan ada di sini sampai kafe tutup. Aku kasih karena aku pikir kalau enggak aku kasih, Keenan akan tetap duduk di depan kafe sampai pagi ini," ungkap Laura. "Lalu, masalahnya di mana?" tanya Hanna bingung. "Keenan spam chat dan telfonin aku berkali-kali, Bu. Padahal hari masih pagi buta," jawab Laura. Hanna mengembuskan napasnya dengan panjang, wanita ini tidak menyangka jika Keenan sebegitu gigihnya untuk mendapatkan hati Laura. "Kalau kamu merasa terganggu, blokir saja nomornya," ucap Hanna memberikan solusi pada Laura. Laura baru teringat, kenapa ia tidak melakukan hal itu tadi pagi. Gadis itu menjadi ceria lagi setelah ia mendapatkan solusi atas masalahnya dan ia juga berterima kasih kepada sang pemberi solusi. "Semangat kerjanya," ucap Hanna menyemangati. Laura menganggukkan kepalanya seraya tersenyum menatap Hanna. ... Pada jam yang sama dengan sebelumnya, Keenan kembali datang ke kafe untuk membeli kopi yang biasa ia beli di kafe itu. "Kenapa tadi telfonku kamu matikan? padahal aku belum selesai berbicara," ucap Keenan seraya menunggu kopinya siap. "Kamu pikirlah, untuk apa kamu telfon sepagi itu?" tanya Lura. "Mengganggu saja," sungutnya. "Untuk membangunkan kamu, supaya kamu enggak terlambat berangkat kerja," jawab Keenan dengan percaya diri. "Aku punya alarm, Keenan," ucap Laura. "Anggap saja kalau aku pengganti alarm kamu," sahut Keenan lagi. "Sebelumnya aku mau ucapkan terima kasih," ucap Laura. "Sama-sama," jawab Keenan seraya menyunggingkan senyumannya. "Terima kasih sudah mengganggu waktu tidurku," ucap Laura ketus, seraya meletakkan cup kopi milik Keenan di atas meja. Seketika itu juga, senyuman Keenan langsung pudar. "Maksudmu apa?" tanyanya. "Biasanya aku bangun jam 7 pagi, Ken. Tapi berkat kamu, aku bangun pukul 6 pagi hari ini," ucap Laura sebelum ia pergi dari hadapan Keenan. Keenan menatap Laura yang sibuk membersihkan meja sehabis ditinggalkan pembeli. Keenan menatap gadis itu dengan tatapan bersalah, ia merasa bersalah pada gadis itu karena ia pikir pasti Laura masih mengantuk namun harus tetap bekerja. Karin menatap Keenan dan menanyakan apa yang terjadi, namun Keenan enggan menjawab dan lebih memilih untuk pergi dari kafe itu. ... Pekerjaan Keenan menjadi sedikit terhambat karena ia terus memikirkan Laura. Saat lelaki itu tengah berpikir bagaimana caranya agar Laura tidak marah lagi padanya, ia teringat akan Hanna, wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Keenan menelfon Hanna dan meminta agar Hanna makan siang bersamanya nanti. Untungnya Hanna langsung menyetujui dan Keenan memiliki harapan saat mendapat persetujuan dari Hanna. ... Di kafe... "Ra, nanti siang saya ada pertemuan dengan seseorang. Kamu temani saya, ya?" pinta Hanna. "Baik, Bu," jawab Laura menyetujui. Setelah mengatakan itu, Hanna kembali masuk ke dalam ruangan yang ia pakai untuk bekerja. "Ada apa, Ra?" tanya Karin yang baru saja keluar dari kamar kecil. "Ibu minta aku untuk temani dia siang ini," jawab Laura. "Ke mana?" tanya Karin penasaran. "Enggak tahu, aku enggak ada tanya," jawab Laura. "Kenapa Ibu minta temani, ya?" heran Karin. "Jaman sekarang, kejahatan sangat rentan, Rin. Apalagi kalau sama wanita, paling banyak kasus sekarang. Mungkin Ibu minta temani untuk mencegah hal buruk terjadi," pungkas Laura. Karin hanya meng angguk-anggukan kepalanya tanda bahwa ia paham dengan ucapan Laura. ... Siang harinya... Hanna dan Laura baru saja sampai di sebuah restoran. Keduanya berjalan memasuki restoran itu dengan berdampingan. Namun, saat mereka baru sampai di dalam restoran, Hanna menghentikan langkahnya dan mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang. Laura yang melihatnya, ia pun juga mengedarkan pandangannya dan matanya menangkap seseorang yang sangat ia kenali. "Itu dia," ucap Hanna. Hanna melambaikan tangannya kepada orang itu, orang itu juga melambaikan tangannya kepada Hanna. Keduanya saling tersenyum, namun ketika orang itu melihat Laura, senyumannya menjadi pudar. "Ayok, Ra," ajak Hanna seraya menarik tangan Laura untuk menghampiri orang itu. Sejujurnya, Laura sangat ingin pergi dari sana. Namun ia tidak ingin meninggalkan Hanna juga. Dengan berat hati, gadis itu mengikuti boss-nya. "Keenan," gumam Laura. Iya, orang yang dimaksud Hanna adalah Keenan. Kini mereka bertiga duduk di hadapan meja yang sama. Laura dan Keenan duduk berdampingan dan Hanna duduk di sebrang keduanya. "Di sini, bertemunya kalian berdua bukan karena Keenan yang meminta saya dan bukan karena Laura yang tahu bahwa saya akan bertemu dengan Keenan. Melainkan karena inisiatif saya yang ingin mempertemukan kalian berdua untuk menyelesaikan permasalahan kalian," pungkas Hanna panjang lebar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD