Chapter 4 : Permintaan Maaf.

1017 Words
Laura dan Keenan saling menatap satu sama lain, kemudian keduanya kembali berpaling. “Kalian ini anak SMA, ya?” tanya Hanna kesal. Laura dan Keenan kembali diam, keduanya tidak ada yang berbicara. “Apa kalian akan menyelesaikan masalah dengan diam? Apa masalah akan selesai hanya dengan diam? Enggak, ‘kan?” tanya Hanna. “Kamu, Keenan. Usia kamu sudah 25 tahun. Kamu sudah dewasa dan sudah seharusnya kamu memiliki cara untuk menyelesaikan masalah ini,” sambungnya. Keenan pun menatap Laura yang masih tidak ingin menatap lelaki itu. “Aku minta maaf, ya? Aku akuin kalau aku salah. Seharusnya aku bertanya lebih dulu, jam berapa kamu biasanya bangun tidur sehingga aku enggak mengganggu waktu tidur kamu,” ucap Keenan. Laura tidak ingin kalah, ia pun membalas tatapan Keenan. Kemudian gadis ini berkata “Aku juga salah. Enggak seharusnya aku mempermasalahkan hal sepele ini.” Keduanya saling mengulurkan tangan dan berjabat satu sama lain. Jalur damai sudah mereka tempuh hari itu juga. “Gitu dong. Jangan perang dingin,” ucap Hanna. Laura dan Keenan bersikap seolah bahwa hanya ada mereka berdua di sana. Hal itu membuat rasa kesal kembali hadir dalam diri Hanna. "Hey, apa kalian sedang mengabaikan saya?" tanya Hanna dengan nada yang terdengar jelas bahwa ia sedang kesal dengan kedua manusia di hadapannya. Laura dan Keenan sama-sama diam, bertatapan satu sama lain dan melemparkan senyuman kepada satu sama lain. Hanna yang melihatnya, ia pun berdiri. "Eh, mau ke mana, Na?" tanya Keenan. "Baru sadar kalau ada saya di sini?" tanya Hanna. "Keenan tuh Bu. Dia isyaratkan ke aku supaya aku juga ikut mengabaikan Ibu," tuduh Laura. Tangan Hanna seketika menjadi gatal. Ia menjewer daun telinga Keenan seperti sedang menjewer telinga kucing. "Baru saja saya bantu kamu untuk bujuk Laura, apa ini balasan untuk saya?" tanya Hanna. "Aduhhh, ini kuping aku lepasin dulu, Na," ucap Keenan yang menahan sakit karena daun telinganya sudah terasa seperti ingin lepas. Hanna melepaskan jewerannya, ia mendengus dengan kesal. "Terima kasih, ya, Na. Berkat kamu, aku sudah bisa berbaikan dengan Laura lagi," ucap Keenan dengan nada suaranya yang dibuat manis. "Jangan sok manis, Ken. Saya jijik mendengarnya," ucap Hanna. Laura yang melihat Keenan dan Hanna yang sudah seperti adik-kakak itu, ia hanya tersenyum seraya menundukkan kepalanya. "Sampai Laura ketawa tuh," ucap Hanna. "Enggak apa-apa. Supaya Laura juga tahu kalau aku bisa berbicara dengan nada yang manis," sahut Keenan. ... 1 Bulan berlalu sejak hari itu. Keenan dan Laura menjadi semakin dekat. Setiap harinya, Keenan selalu berusaha untuk mengantar jemput Laura dan sesekali membawa Laura berkeliling kota untuk melepas penat setelah seharian penuh bergelut dengan banyaknya pekerjaan. "Mungkin apa yang saya lakukan bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan segala yang dilakukan Keenan untuk mengukir senyuman itu selalu terhias di bibir manis kamu, Ra," ucap Hanna dengan lirih ketika ia melihat Laura tersenyum sangat cerah seraya menatap mobil Keenan yang baru saja keluar dari area parkir kafe. "Saya pesan hot Latte 1 cup, take away, ya," pinta seorang perempuan yang sudah berdiri di balik meja kasir. "Ada tambahan, Kak?" tanya Laura yang saat itu kebetulan sedang menjaga kasir. "Itu saja," sahutnya. Laura meminta Karin untuk membuatkannya. Saat tengah menunggu, gadis itu menanyakan sesuatu kepada Laura. "Kamu kenal baik dengan Keenan?" "Iya, saya dan Keenan berteman dengan baik." "Hanya berteman saja?" Laura menganggukkan kepalanya. "Saya sarankan agar kamu menjauhinya. Jika kamu terus berada dekat dengannya, kamu seperti seorang benalu yang hanya numpang hidup dengannya. Seharusnya kamu bisa menyadari perbedaan yang nampak jauh diantara kalian berdua. Keenan yang hidup mapan sedangkan kamu ... Hanya seorang pekerja paruh waktu." Laura hanya menundukkan kepalanya, ia tidak tahu harus mengatakan apa saat itu. Karin yang mendengarnya pun, ia ingin membela Laura, namun orang yang hendak dibela malah menahannya. "Totalnya 23 ribu," ucap Laura sembari menyerahkan 1 cup latte panas kepada wanita itu. Wanita itu membayarnya sebelum pergi membawa hot latte miliknya. "Kenapa kamu tahan aku, Ra?" "Aku enggak mau adanya keributan di sini. Dari yang aku lihat, dia sepertinya orang yang sangat berpengaruh. Lihat saja pakaian dan kendaraan yang dibawanya. Dan pastinya, dia pasti kenal dengan Keenan." Karin diam, dalam benaknya ia berpikir bahwa akan melaporkan kejadian tadi kepada Keenan. ... Malam harinya... Keenan dan Laura sedang dalam perjalanan menuju rumah Laura. "Ada apa, Ra? Apa ada masalah?" tanya Keenan yang heran karena sedari gadis itu masuk ke dalam mobilnya, ia hanya diam. Laura menggelengkan kepalanya yang menunduk, menatap jari-jemarinya yang sengaja ia mainkan. "Ra, apa kamu sedang menggunakan earphone?" tanya Keenan lagi. Laura menggelengkan kepalanya. Keenan yang merasa ganjil dengan sikap Laura, ia menepikan mobilnya, menarik rem tangan kemudian menatap Laura yang masih menunduk. Lelaki ini menarik dagu gadis di sampingnya agar ia bisa menatap wajah gadis itu. "Ingin bercerita atau ingin menangis sebelum bercerita?" tanya Keenan seraya menatap bola mata Laura yang terlihat sudah penuh dengan air mata. Laura menumpahkan air matanya, Keenan pun langsung memeluk gadis itu, ia tidak menyuruh Laura agar menghentikan tangisannya, melainkan lelaki itu menyuruh Laura untuk mengeluarkan rasa jengkel dalam hatinya sampai tuntas. Laura membutuhkan waktu hampir 15 menit sampai ia merasa lega. Gadis ini sesegukan, ia melepas dekapannya yang memeluk tubuh Keenan, wajahnya yang terlihat sembab itu menengadah untuk menatap wajah Keenan. "Apa sudah lega?" tanya Keenan yang disahuti anggukan kepala oleh Laura. "Apa ingin menceritakannya hari ini atau besok saja?" tanya Keenan lagi. Laura terlihat sedang berpikir, ia masih ragu untuk menceritakan hal yang membuatnya menangis itu kepada Keenan. "Tadi ada cewek yang datang ke kafe. Dia menanyakan perihal apa hubungan kita. Aku jawab apa adanya dan dia malah membandingkan aku dan kamu. Lalu, dia juga suruh aku untuk jauhi kamu karena adanya aku hanyalah akan menjadi benalu dalam hidup kamu. Ucapannya ada benarnya, 'kan?" pungkas Laura. Keenan yang mendengar itu, ia langsung mencakup pipi gadis itu. "Ra, dengerin aku bak-baik, ya?" pinta Keenan. "Aku dan kamu itu enggak ada perbedaan. Kita sama-sama bernapas dengan oksigen yang disediakan oleh Tuhan. Aku dan kamu sama-sama dilahirkan dari rahim seorang ibu. Aku dan kamu sama-sama punya tangan, kaki dan anggota tubuh yang lengkap. Aku dan kamu..." "Kamu dan aku berbeda, Ken! Kamu dari kalangan berada, sedangkan aku dari seseorang yang sangat rendah!" potong Laura.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD