Waktu masih menunjukkan pukul 9 pagi, itu artinya kafe baru saja buka. Namun, Keenan sudah bertanggang ke sana. Dengan wajah yang nampak bahwa ia sedang dikuasai amarah. Keenan langsung menanyakan di mana keberadaan Hanna.
"Keenan, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Laura yang masih menahan Keenan agar tidak masuk ke dalam ruang kerja Hanna.
"Aku ingin melihat CCTV untuk tahu siapa yang sudah memakimu kemarin," jawab Keenan kemudian ia menerobos masuk ke dalam ruang kerja Hanna.
Pintu dibuka oleh Keenan tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Hanna yang tadinya duduk dengan santai, ia langsung berdiri dan menatap Keenan.
"Bisa minta tolong?" tanya Keenan.
Laura yang baru sampai, ia meminta maaf kepada Hanna karena kelancangan Keenan yang masuk ke ruang kerja Boss-nya itu tanpa adanya ketukan pintu.
"Tolong apa?" tanya Hanna pada Keenan.
"Aku mau lihat rekaman CCTV kemarin," jawab Hanna.
Hanna menyuruh Keenan untuk duduk, kemudian Hanna memutarkan sebuah rekaman CCTV kemarin. Hanna tahu tujuan Keenan, ia mempercepat rekaman itu dan Keenan langsung menyuruh Hanna agar memperlambat ketika ia sudah menemukan tujuannya.
"Sudah gua duga kalau elo pelakunya," gumam Keenan dengan mengepalkan tangannya.
"Aku permisi, Bu," ucap Laura sebelum ia keluar dari ruang kerja Hanna.
Sepeninggal Laura, Hanna mencercai Keenan dengan banyak pertanyaan.
"Kenapa dia bisa tahu kalau kamu dan Laura sedang dalam masa pendekatan?"
"Aku juga heran, Na. Entah dapat informasi dari mana dia. Kemarin sore aja, untungnya Karin kasih info ke aku kalau ada yang maki Laura, aku tanya ke Laura dan Laura nangis. Aku enggak tega melihatnya."
"Kamu tegur tuh mantan kamu. Sudah jadi mantan kok belagu."
"Aku saja sudah enggak paham dengan jalan pikirannya, Na. Selalu membuat masalah kalau mendengar kabar aku sedang dekat dengan perempuan."
"Mungkin teguran kamu kurang tegas. Coba ancam dia sesekali. Jangan sampai kamu kehilangan Laura."
"Iya, Na. Aku akan memikirkan cara agar dia bisa menjauhiku dan tidak mengusik kehidupanku lagi."
...
Setelah selesai berdiskusi dengan Hanna, Keenan pun keluar dari ruang kerja Hanna. Lelaki itu menghampiri Karin dan menanyakan di mana keberadaan Laura. Sebab, saat itu ia tidak melihat adanya Laura di dalam kafe.
"Tadi dia antar pesanan ke depan," jawab Karin.
Keenan pun langsung berjalan menuju depan kafe, benar saja bahwa Laura ada di sana.
"Ra, ayok bicara sebentar," ajak Keenan.
"Aku sedang bekerja, Ken. Nanti saja, ya?" pinta Laura.
"Aku sudah izin dengan Hanna," sahut Keenan kemudian ia menarik tangan Laura. Lelaki itu membawa Laura ke mobilnya.
Di dalam mobil, Keenan tidak menyalakan mesin mobilnya, ia hanya butuh ruang berdua dengan Laura untuk membicarakan tentang permasalahan yang menimpa Laura kemarin.
"Dia adalah Jihan, mantan aku 5 tahun yang lalu. Papanya memang seorang pebisnis yang terbilang sukses. Dia diperlakukan layaknya tuan putri dalam keluarganya. Itu sebabnya dia memiliki sifat membangkang, apa yang dia mau harus dia dapat. Aku pacaran dengan dia pun hanya bertahan sampai sebulan. Namun, dia enggak pernah terima kalau aku mau mengakhiri hubungan dengannya. Beberapa kali aku dekat dengan cewek lain setelah putus dengannya, dia selalu datang untuk mengusik." ungkap Keenan panjang lebar.
"Tapi, ucapannya semalam ada benarnya, Ken." Laura berbicara dengan nada suaranya yang sangat rendah.
"Kamu lupa kalau kemarin aku marah denganmu karena kamu membandingkan ekonomi kamu denganku?!" tanya Keenan."Tahta itu enggak selamanya akan berpihak kepadaku, Ra," sambungnya.
"Dadaku masih sesak jika harus membahas hal ini lagi hari ini. Cukup semalaman aku enggak bisa tidur dengan nyenyak," ucap Laura sebelum ia memegang pintu mobil untuk keluar.
Namun, Keenan langsung mengunci pintu mobinya agar Laura tidak bisa keluar.
Laura pun mengembuskan napasnya dengan panjang. Kemudian gadis itu menatap Keenan dengan sendu.
"Aku tahu kegigihan kamu, ketekukan kamu, kerajinan kamu dan ketabahan hati kamu. Mungkin berat jika harus berhadapan dengan orang yang bisanya hanya membandingkan satu manusia dengan manusia lainnya. Tanpa menyadari bahwa satu manusia dengan manusia lainnya pasti memiliki perbedaan. Jangan sedih lagi dan jangan berpikir untuk menjauhi aku, ya?" ucap Keenan panjang lebar.
Laura langsung memeluk Keenan dengan erat, gadis ini meminta maaf kepada laki-laki yang ia peluk. Ia menyesali perkataannya semalam yang membuat amarah Keenan semakin memuncak.
...
"Bang, aku beneran sudah kehabisan akal dengan apa yang diperbuat oleh Jihan."
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan kali ini?"
"Aku ingin memberikan efek jera yang berlaku selamanya. Agar dia enggak mengusik hidupku lagi."
"Kenapa enggak dari dulu kamu melakukannya?"
"Dulu aku merasa bahwa sikap Jihan masih bisa ditoleransi, tapi sekarang aku merasa kalau dia sudah di luar batas."
Kavin menatap wajah adiknya itu, amarah tak henti-hentinya menghiasi wajah Keenan. Menjadi korban obsesi seseorang, selalu diusik kehidupannya oleh seseorang, tentu saja Keenan merasakan sangan geram dalam hatinya.
...
Malam ini, kafe tutup lebih awal atas keinginan Hanna sendiri.
"Apa kamu sudah menghubungi Keenan untuk menjemputmu lebih awal?" tanya Hanna pada Laura.
"Aku enggak mau jika setiap hari harus mengandalkannya, Bu. Sesekali aku akan pulang sendiri seperti sebelum aku mengenalnya dengan baik," sahut Laura.
"Mau saya antar?" tawar Hanna.
"Enggak usah, Bu. Merepotkan saja," jawab Laura.
"Enggak apa, supaya saya juga tahu di mana rumah kamu," jawab Hanna.
Hanna pun mengantar Laura untuk pulang malam itu. Keduanya mengobrol ringan selama perjalanan ke rumah Laura.
"Saya yakin kalau Keenan enggak main-main dengan kamu. Saya juga melihat keseriusan dalam dirinya saat bersama dengan kamu," ungkap Hanna. "Sebelumnya, Keenan enggak pernah se serius ini dengan perempuan," sambungnya.
"Yang aku takutkan, bukan hanya perempuan kemarin yang menentang, tapi keluarga Keenan juga," ucap Laura. "Apa keluarganya akan menerima aku yang kehidupannya seperti ini?" tanyanya.
"Keluarga Keenan itu baik, saya saja diperlakukan mereka layaknya anak oleh mereka," sahut Hanna.
"Itu karena Ibu dan keluarga Keenan memiliki derajat yang sama," ucap Laura.
"Kamu boleh memikirkan kemungkinan buruknya. Tapi, jangan sampai kamu terpuruk dengan kemungkinan buruk itu," sahut Hanna.
...
Setelah Hanna mengantar Laura pulang, ia langsung pergi karena mendadak mendapatkan telfon. Laura hanya berdiri di depan rumahnya seraya menatap mobil Hanna yang melaju meninggalkan pekarangan rumahnya sampai mobil itu hilang di persimpangan, barulah Laura memasuki rumahnya.
Saat Laura baru saja hendak melepas semua pakaiannya dan mandi, sebuah panggilan suara masuk ke ponsel miliknya. Laura menatap nama kontak yang tertera sebelum ia menggeser layar ponselnya untuk menerima panggilan suara itu.