Wajar jika seseorang akan membela yang benar. Tidak ada salahnya jika menjadi jahat karena membela kebenaran. Hal itu disematkan oleh Keenan dalam dirinya. Sebab, Keenan tidak suka jika melihat seseorang yang tidak menyukai seseorang lalu memilih untuk membully-nya.
"Bahkan jika orang memandangku sebagai pria pengecut karena melawan wanita, maka aku akan baik-baik saja. Karena menurutku, lebih baik aku menjadi orang jahat karena melawan kejahatan daripada aku menjadi jahat karena membiarkan kejahatan terjadi." Keenan berujar.
...
Berbagai cara sudah dirancang Keenan matang-matang, kali ini ia akan main cantik dengan Jihan, sang mantan kekasih yang belum menganggapnya sebagai mantan.
Sebelum menemui Jihan, Keenan terlebih dahulu menemui Laura yang siang ini masih berada di kafe untuk bekerja.
"Ra, bagaimana kamu? Apa kepalamu masih sakit?" tanya Keenan seraya menatap wajah Laura. Sebab, saat Keenan menelfon Laura kemarin malam, Laura menutup telfon dengan alasan bahwa ia sedang sakit kepala.
"Aku sudah baik-baik saja," jawab Laura.
"Kenapa enggak istirahat saja hari ini?" tanya Keenan lagi.
Aku sudah baik-baik saja, Keenan. Kalau kepalaku masih sakit, barulah aku enggak masuk kerja hari ini," sahut Laura ketus.
Saat Laura dan Keenan sedang berbincang, Hanna datang di antara mereka berdua.
"Kemarin kenapa tutup lebih awal?" tanya Keenan kepada Hanna.
"Saya ada urusan mendadak, kasian juga kalau saya suruh Laura jaga sampai jam tutup biasanya," jawab Hanna.
"Kemarin malam, kamu yang antar Laura pulang?" tanya Keenan lagi.
"Iya. Saya antar Laura sampai depan rumahnya kok. Enggak cuman sampai depan komplek," jawab Hanna.
"Terima kasih, ya," ucap Keenan.
Hanna menganggukkan kepalanya seraya tersenyum menatap Keenan.
"Aku tinggal, Bu," ucap Laura ketika ia melihat beberapa pengunjung meninggalkan meja yang berantakan.
Hanna menganggukkan kepalanya, barulah Laura pergi untuk membereskan meja itu.
"Bu, sedari tadi pagi, aku perhatikan Laura, dia kelihatan lemas banget," ungkap Karin.
"Semalam pas aku telfon Laura, dia bilang kalau dia sedang sakit kepala," timpal Keenan.
"Kalian yakin baru hari ini lihat Laura yang sikapnya berbeda dari sebelumnya?" tanya Hanna. "Saya perhatikan, sedari Jihan datang dan menghampiri Laura, sejak saat itu Laura sering kelihatan murung," ungkapnya.
Keenan dan Karin sama-sama mengarahkan pandangan mereka kepada Laura, nampak jelas di wajah keduanya bahwa mereka sedang khawatir dengan kesehatan Laura.
...
"Lo pilih aja, mau usaha keluarga lo hancur berantakan atau lo mau berhenti mengusik kehidupan gua?" tanya Keenan dengan penuh penekanan.
"Jadi, kamu mau bertemu dengan aku hanya untuk menanyakan hal itu?" tanya wanita yang ada di hadapan Keenan, yang tak lain adalah Jihan.
"Jelas lah. Gua sudah muak dengan apa yang elo lakukan selama ini," sahut Keenan.
"Kamu setega itu sama aku, Ken?" tanya Jihan.
"Lo aja tega banget sampai selalu usik kehidupan guaa. Setiap gua kasih peringatan, sepertinya selalu elo abaikan. Jadi gua pikir, kenapa enggak gua balas aja, 'kan?" sahut Keenan.
"Seandainya kamu mau menuruti perkataan aku untuk hanya menjadi milikku saja, maka aku enggak akan menjadi seperti ini, Ken," ucap Jihan lagi.
"Cepatlah, lo pilih apa yang gua jadikan pilihan tadi," desak Keenan.
"Kalau aku pilih hidup dengan kamu, bagaimana?" tanya Jihan dengan santai.
"Berarti elo mau kalau bisnis keluarga elo yang sudah sangat besar itu menjadi hancur, tanpa tersisa," ancam Keenan.
"Aku enggak masalah kalau mereka bangkrut, asalkan aku bisa hidup bahagia dengan kamu," sahut Jihan.
"Tapi gua enggak ada memberi pilihan itu, Jihan," ucap Keenan.
"Ayolah, Ken. Apa sulit jika harus hidup bahagia denganku?" rengek Jihan.
"Apa? Bahagia?" ucap Keenan. "Bahkan pada saat menjalin kasih dengan elo dulu, gua enggak pernah merasakan yang namanya bahagia," sambungnya.
Jihan menundukkan kepalanya, ia menginginkan belas kasihan dari lelaki yang ada di hadapannya saat ini. Namun lelaki di hadapannya sudah tidak memiliki respect terhadap Jihan, menurutnya Jihan sudah terlalu jahat padanya.
"Dalam hitungan ke tiga, kalau elo masih membelit perkataan elo, maka gua anggap kalau elo memilih keduanya," ucap Keenan.
"Baiklah, aku akan memilih untuk menjauhi dan tidak mengusik hidupmu lagi," ucap Jihan, menyerah. "Walau berat," lirihnya.
Keenan tersenyum senang, ia sangat bersuka hati karena rencananya sudah berhasil sekarang.
...
"Sekarang, aku sudah enggak khawatir kalau Laura akan diusik lagi. Karena aku sudah berhasil membuat Jihan menyerah," ucap Keenan seraya menatap Hanna yang sedang duduk menatap layar komputernya.
"Kenapa enggak dari dulu kamu lakukan? Kalau kamu melakukannya dari dulu, kamu enggak akan menyandang status jomblo bertahun-tahun, Ken," sahut Hanna.
"Entah kenapa aku berpikir bahwa saat ini aku harus mengambil tindakan tegas atas Jihan. Mungkin karena perempuannya adalah Laura," ucap Keenan.
Hanna menggeleng-gelengkan kepalanya, perempuan ini masih tidak menyangka jika lelaki yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu telah dimabuk cinta.
"Bu, ada yang antar stok kopi," ucap Laura ketika ia sudah memasuki ruang kerja Hanna.
"Terima aja, ini biayanya," sahut Hanna seraya memberikan sejumlah uang kepada Laura.
Laura menerima itu dan ia kembali keluar dari ruang kerja Hanna. Sebelum pergi, Laura menatap Keenan dan tersenyum terlebih dahulu.
"Kenapa kalian ini? Selalu saja menganggap bahwa saya tidak ada kalau kalian sedang bersama," gumam Hanna.
...
Malam harinya, saat Keenan dan Laura sedang dalam perjalanan yang Laura kira bahwa Keenan akan mengantarnya pulang, namun ternyata Laura salah. Keenan membawa gadis itu ke sebuah tempat, di mana Keenan rasa bahwa tempat itu akan membuat Laura terhibur.
"Kamu enggak perlu membawaku ke mana-mana, Keenan."
"Ini sudah keharusan bagi aku, Ra. Membuatmu senang dengan kehidupan yang hanya akan kamu jalani. Karena hidup hanya sekali, kecuali kalau kamu mati suri."
Mendengar sahutan itu yang keluar dari mulut Keenan, Laura tertawa.
"Apa yang lucu?"
"Kata-kata kamu yang terakhir."
Keenan menyadari hal itu juga, namun menurutnya kalau kata-kata itu ada benarnya, bukan hanya sekadar lelucon.
"Aku senang bisa melihatmu tertawa lagi. Karena tawamu, aku tahu bahwa kamu sedang bahagia."
"Keenan, aku berharap bahwa kamu adalah kebahagiaanku. Tapi aku sadar siapa aku dan siapa kamu. Cukup berteman saja, ya?" Laura membatin.
...
Sampai keduanya tiba di sebuah pinggiran sungai yang nampak seperti tempat wisata karena air sungai yang jernih dan pinggiran sungai yang dibuat adanya jalanan agar semua orang bisa berjalan dengan nyaman di sana. Serta beberapa bangku juga diletakkan menghadap sungai itu.
Keenan membawa Laura untuk duduk di sebuah bangku, keduanya kini menikmati semilir angin yang berembus menerobos tubuh mereka. Sesekali Laura bergidik karena baginya angin itu sudah masuk sampai ke tulangnya.
keenan yang menyadarinya, ia pun melepaskan jaket yang ia pakai dan menautkannya ke pundak Laura.
Laura tertegun kemudian ia menatap Keenan.
"Pakai saja. Aku enggak mau kalau kamu sampai sakit besok," ucap Keenan.