Chapter 7 : Kebahagiaan.

1006 Words
"Jika aku mengatakan bahwa kamu adalah kebahagiaanku, maka apa yang akan kamu katakan?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Keenan yang membuat Laura menatapnya dalam-dalam. "Kalau aku menginginkan kita bersama tanpa ada kata cinta, bagaimana?" tanya Laura kembali. Keenan menundukkan pandangannya seraya terkekeh. Pertanyaan yang tidak ia inginkan itu malah keluar dari mulut Laura. "Mari pulang. Sudah terlalu lama kita duduk di sini," ajak Keenan. Laura dan Keenan pun berdiri dan mereka berjalan meninggalkan pinggiran sungai itu. Di daam mobil, Laura menyandarkan kepalanya ke jok mobil, gadis itu lantas memejamkan matanya. Keenan yang belum melajukan mobil, ia pun menurunkan kursi yang diduduki oleh Laura agar Laura bisa tidur dengan nyaman. "Kamu tidur aja. Nanti kalau sudah sampai rumah, aku bangunin kamu," ucap Keenan. Laura menganggukkan kepalanya, ia benar-benar merasa sangat mengantuk saat itu. ... Pagi harinya... Saat Laura terbangun dari tidurnya, ia mendapati dirinya bukan sedang berada di dalam kamarnya. Gadis itu merasa asing dengan kamar yang ia tempati. Kemudian, Laura beranjak dari kasur dan berjalan keluar kamar. Sebuah apartemen yang terbilang mewah karena luas dan semua perabotan yang lengkap membuat Laura terperangah. "Sudah bangun?" Pertanyaan itu membuat Laura mengarahkan pandangannya ke area dapur karena Laura mendengar sumber suara itu berasal dari sana. "Keenan?" "Semalam kamu tidur dengan nyenyak di mobilku, jadi aku memutuskan untuk membawamu ke apartemenku saja," ungkap Keenan. "Aku harus pulang," ucap Laura. "Setelah sarapan, aku akan mengantarmu pulang," jawab Keenan. Keenan menarik sebuah bangku dan mengisyaratkan pada Laura agar gadis itu duduk di sana. Laura menuruti Keenan, ia duduk dan Keenan menyajikan panekuk dan s**u hangat untuk Laura. "Habiskan," perintah Keenan. Keenan duduk di samping Laura dan ia juga menyantap sarapannya. "Aku enggak menyangka kalau kamu bisa memasak," puji Laura ketika ia memasukkan sesuap panekuk buatan Keenan. "Sedikit demi sedikit aku belajar memasak. Karena saat aku memiliki istri nanti, aku enggak mau jika hanya akan mengandalkan istriku yang di dapur," jawab Keenan. "Pasti istrimu nanti adalah orang yang beruntung, karena memiliki pasangan seperti kamu," ucap Laura lagi. Keenan hanya tersenyum, dalam hatinya berkata "Kamu lah yang akan menjadi istriku nanti, Ra. Aku menginginkan itu." ... "Maaf, Bu. Aku terlambat masuk hari ini," ucap Laura ketika ia baru saja sampai di kafe. "Terlambat dari mana? Bahkan temanmu yang lain belum datang, Ra," sahut Hanna. "Tapi, biasanya aku datang 15 menit sebelum sekarang," ucap Laura lagi. "Sudahlah, enggak apa-apa," sahut Hanna. "Na, Laura itu enggak kamu kasih libur, ya? Aku lihat dari awal Laura kerja dengan kamu, dia setiap hari selalu ada di sini," ucap Keenan. "Maaf, Pak. Kafe belum buka, jadi anda dilarang masuk," ucap Hanna. "Pengin aku beli kafenya," sahut Keenan. "Kafenya atau karyawannya?" goda Hanna. "Orangnya mana bisa dibeli. Dinikahin baru bisa," jawab Keenan sebelum ia menurunkan bangku dan duduk. "Bener-bener seenaknya, ya," kesal Hanna. "Laura jadi susah beresinnya kalau kamu duduk di sana," sambungnya. Keenan pun membawa bangkunya ke pojok kafe. "Keenan!" tegur Hanna lagi. "Biarkan aja, Bu. Palingan nanti aku blokir lagi nomornya," timpal Laura. Mendengar ucapan Laura, Keenan langsung beranjak dari tempat duduknya dan ia langsung berjalan keluar kafe. Seketika itu juga, Hanna dan Laura saling bertatapan dan tertawa. Menertawakan laki-laki yang tengah dimabuk cinta itu. ... Malam harinya, sebelum menjemput Laura, Keenan terlebih dahulu berkunjung ke bar milik sahabatnya. Lelaki itu duduk di salah satu bangku seraya menunggu sahabatnya selesai membuatkan minuman untuknya. "Jangan kebanyakan, Ngga. Gua harus jemput tuan puteri soalnya," ucap Keenan. "Siapa tuan puteri? Laura?" tanyaa Angga. Keenan menganggukkan kepalanya yang membuat Angga tertawa karena hal itu. Sebab, baru kali ini Keenan bersikap semanis ini kepada perempuan, selama Angga mengenal Keenan dengan baik. Angga meletakkan segelas minuman ke hadapan Keenan. "Jadi, Jihan sudah janji kalau dia enggak akan ganggu hidup elo lagi?" tanya Angga. "Kemarin sih janjinya begitu. Tapi, kalau dia mencoba ingkar, gua akan benar-benar akan menghancurkan kehidupannya," jawab Keenan. "Kenapa enggak dari dulu aja elo bertindak seperti sekarang?" tanya Angga. Seketika itu, Keenan langsung menatap wajah Angga dan ia berucap "Lo sama aja dengan bang Kavin. Bahkan pertanyaan kalian sama." "Benar, 'kan? Seandainya elo dulu bertindak seperti sekarang, mungkin detik ini elo sudah menikah, Ken," ucap Angga. "Entah kenapa, sekarang gua merasa kalau gua harus lindungin Laura. Padahal, dulu gua enggak pernah merasakan hal seberlebihan ini ke cewek," ungkap Keenan. "Lo harus bedakan, mana rasa cinta dan mana rasa kasihan," sahut Angga. ... Sebelum pulang, Laura meminta pada Karin untuk mengajarkan menyeduh kopi. Laura memilih kapucino sebagai seduhan pertamanya. Karin pun mengajarkan Laura dengan telaten. "Ternyata mengajarkan kamu sangat mudah," ucap Karin. "Karena aku sering perhatikan kamu pas lagi seduh kopi," jawab Laura. "Wihhh, Laura belajar seduh kopi?" tanya Hanna yang baru saja keluar dari ruang kerjanya. "Iya, Bu. Nanti bayarnya potong gaji aku aja," sahut Laura. "Apaan? Hanya segelas, buat kamu aja," jawab Hanna. "Aku enggak dikasih, Bu?" tanya Karin. "Kalian ini. Kan dari awal saya sudah mengatakan, jika kalian menginginkan sesuatu dari sini, ambil aja. Jangan sungkan untuk mencoba," ucap Hanna. "Jarang-jarang ada boss seperti Ibu," ucap Karin. "Jangan pansos, Rin," timpal Aldi, salah satu karyawan kafe itu juga. Hanna hanya tertawa melihat sikap para karyawan yang sudah ia anggap seperti anak-anaknya itu. "Saya duluan, ya? Nanti kunci kafenya Laura saja yang pegang. Besok saya akan datang siang," ucap Hanna. Laura pun menganggukkan kepalanya. "Ra, enggak mau bikin kopi buat aku?" tanya Aldi. "Bikin sendiri," sahut Laura sebelum ia memberikan 1 cup kopi buatannya kepada Karin. "Aku kira kamu bikin buat Keenan," ucap Karin. "Keenan bisa beli nanti kalau dia mau," sahut Laura. ... Setelah memastikan bahwa kafe dikunci dengan baik, Laura pun segera berjalan menuju mobil milik Keenan yang sudah terparkir di area parkir kafe. Kemudian gadis itu langsung masuk ke dalamnya. "Kenapa?" tanya Laura yang melihat wajah Keenan nampak tidak bersemangat. "Tadi aku lihat instastory Karin." "Terus?" "Dia post foto kopi dengan tulisan bahwa kopi itu kamu yang seduh." "Masalahnya?" Keenan mengembuskan napasnya dengan panjang, kemudian ia berkata "Kenapa bikinnya buat Karin? Kenapa bukan buat aku?" Seketika itu juga, Laura tertawa namun berusaha ia tutupi dari Keenan. "Ken, umur kamu ini berapa tahun sih? Bisa-bisanya iri dengan hal sepele."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD