"Semuanya akan berakhir menyakitkan, Ken," ucap Laura seraya menatap foto Keenan yang baru beberapa hari lalu ia ambil diam-diam saat keduanya tengah duduk di pinggir sungai.
Laura hari ini memilih untuk tidak masuk kerja. Sebab, gadis itu merasa jika kepalanya sudah hampir pecah. Bahkan untuk bangkit dari tempat duduk saja, rasanya ia sudah tidak mampu lagi.
Ponsel yang ia letakkan di atas meja nakas samping tempat tidurnya, ia biarkan terus berbunyi. Sesekali Laura ingin meraihnya, namun ia merasa tidak mampu lagi.
Sampai saat Laura memaksakan dirinya untuk membuka mata dan menerima sambungan telfon.
"Bisa nggak kalau kamu ke rumah? Kepalaku rasanya hampir pecah."
Laura kembali meletakkan ponselnya ke sembarang tempat. Gadis itu nampak seperti orang yang hendak meninggal.
...
Seseorang datang ke rumah, tanpa mengetuk pintu, orang itu langsung masuk ke dalam rumah Laura yang pintu depannya tidak terkunci.
"Laura?!" pekik orang itu yang tak lain adalah Billa, sang sahabat. Nampak jelas di wajah Billa bahwa saat ini ia merasa sangat khawatir dengan keadaan Laura.
Billa mengambil ponsel milik Laura dan langsung menelfon seseorang untuk ia pinta bantuan. Karena Billa merasa bahwa ia tidak akan mampu untuk membawa Laura ke rumah sakit seorang diri.
Tidak lama, seorang lelaki dengan raut wajah yang nampak cemas buru-buru masuk ke dalam rumah milik Laura. Ia langsung berjalan menuju kamar Laura dan mendapati Laura yang sedang dibantu oleh sahabatnya agar tetap sadar.
"Apa yang terjadi?"
"Sejak tadi malam, Laura enggak ada balas pesan dariku. Sampai pagi ini. Aku pikir dia sedang di kafe, tapi kata temannya, hari ini Laura belum datang ke kafe. Aku merasa khawatir dan aku memutuskan untuk menelfonnya. Berkali-kali sampai akhirnya dia menerima sambungan telfon dariku. Dia memintaku untuk datang kemari dan dia juga bilang kalau dia sakit kepala." Billa menjelaskan kepada lelaki itu se detail mungkin.
...
UGD menjadi tempat Laura setelah ia ditemukan hampir sekarat oleh sahabatnya.
"Terima kasih sudah megabariku," ucap lelaki yang tadi membantu Billa membawa Laura ke rumah sakit.
Orang itu masih nampak cemas menatap pintu ruang UGD karena dokter belum keluar dari sana.
"Aku tahu kamu karena Laura pernah cerita. Aku pikir bahwa hubungan kalian sekarang semakin dekat, itu sebabnya aku mengabarimu," sahut Billa.
Sekali lagi, lelaki itu berterima kasih kepada Billa karena sudah membuatnya merasa menjadi orang spesial dalam hidup Laura.
Tidak lama, seorang dokter keluar dari dalam ruang UGD. Billa dan lelaki yang datang bersamanya pun lantas menghampiri dokter itu.
"Dengan keluarga Laura?"
"Saya, Dok."
"Mohon maaf, kalian ini siapanya?"
"Dia calon suami Laura, Dok." Billa menimpal.
Lelaki itu seketika menatap Billa, seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan olehnya.
"Dengan siapa?"
"Saya Keenan."
"Pasien mengalami stress. Mungkin beberapa hari ini ada yang membuat pasien harus berpikir lebih keras. Dan juga, pasien kelelahan. Apa anda memantau pasien beberapa hari belakangan ini?"
"Beberapa hari ini, pekerjaan Laura memang agak banyak, Dok. Dan juga, ada hal yang membuatnya kurang bersemangat."
"Ada kemungkinan karena itu. Di usia pasien yang baru menginjak usia 20 tahun, seharusnya kalian membuatnya enjoy dengan apa yang dia jalani. Bukan malah membuatnya stress."
"Baik, Dok."
"Setelah cairan infusnya habis, anda boleh membawanya pulang."
"Terima kasih, Dok."
"Sudah tugas saya." Setelah mengatakan hal itu, Dokter itu pun pergi dari hadapan Keenan dan juga Billa.
"Kamu kalau mau pulang, pulang aja. Laura biar sama aku," ucap Keenan kepada Billa.
"Enggak apa-apa?" tanya Billa.
Keenan menganggukkan kepalanya dan Billa pun pergi dari rumah sakit.
Setelah Billa pergi, Keenan langsung berjalan memasuki ruang UGD. Dilihatnya, Laura masih memejamkan matanya di atas ranjang pesakitan. Keenan lantas menarik sebuah kursi dan duduk di samping ranjang tempat Laura berbaring. Tangannya memegang tangan Laura yang tidak dipasangi selang infus.
"Ra, apa kamu begini karena aku? Karena aku membuatmu masuk ke dalam masalahku dan membuatmu harus memikirkan semua hal yang enggak perlu kamu pikirkan?"
Saat Keenan bergumam, Laura menggerakkan tangannya yang dipegang oleh lelaki itu. Matany terbuka perlahan, lalu menatap Keenan.
"Keenan?" ucapnya dengan lirih.
"Akhirnya kamu bangun juga," ucap Keenan seraya tersenyum dengan sangat tipis.
"Bukannya tadi aku telfon Billa, ya?" tanya Laura.
"Iya, setelah Billa sampai di rumah kamu, Billa langsung nelfon aku dan kabari aku," jawab Keenan.
"Billa punya nomor kamu?" tanya Laura.
"Enggak ada. Tapi dia nelfon pakai HP kamu," jawab Keenan lagi.
Laura hanya diam dengan mata sayu menatap wajah Keenan. Entah kenapa, rasanya ia sangat nyaman ketika menatap sosok lelaki itu.
Tiba-tiba saja, sebuah panggilan masuk ke ponsel Keenan. Setelah melihat siapa yang menelfonnya, Keenan pun langsung menerima sambungan telfon itu tanpa beranjak dari tempat duduknya.
"Iya, Na? Laura lagi di rumah sakit bukan aku culik."
Sepenggal percakapan yang dilontarkan oleh Keenan itu membuat Laura terkekeh pelan.
...
"Pasti Ibu cari aku, ya?" tanya Laura setelah Keenan mengakhiri sambungan telfonnya.
"Jelas lah. Anak kesayangannya enggak nampak hari ini. Masa dia kira kalau aku culik kamu?" jawab Keenan dengan pertanyaan di akhirannya.
"Wajar sih Ibu bilang begitu. Wajah kamu kan terlihat kayak seorang penculik," ledek Laura.
"Kayak m***m-m***m gimana gitu, ya?" tanya Keenan.
"Mirip om-om p*****l," ucap Laura.
"Tapi kamu suka lihatin aku. berarti selera kamu kayak om-om?" tanya Keenan lagi.
"Menyukai itu bukan dari fisik, tapi dari hati," jawab Laura sebelum ia berbalik memunggungi Keenan dan memejamkan matanya lagi.
"Seandainya kamu tahu, bahkan aku pun ingin memilikimu. Tapi, aku yakin bahwa akan ada orang yang menentang. Dan yang aku takutkan adalah, keluargamu yang enggak akan menerima aku. Dengan latar belakangku yang seperti ini." Laura membatin.
...
Sementara itu, di kafe. Karin nampak cemas karena ia juga belum dapat kabar dari Laura. Sampai saat Hanna keluar dari ruang kerjanya.
"Bagaimana, Bu? Ada kabar dari Laura?"
"Tadi saya menelfon Keenan. Katanya Laura masuk rumah sakit."
"Kok bisa?"
"Laura menelfon temannya dan mengatakan kalau dia sedang sakit kepala. Lalu, pada saat temannya datang ke rumah Laura, dia sudah lihat Laura seperti orang sekarat. Temannya itu takut kalau terjadi hal yang enggak-enggak dengan Laura dan akhirnya dia memutuskan untuk menelfon Keenan dengan HP milik Laura. Setelah Keenan datang, Laura langsung dibawa ke rumah sakit."
"Ibu mau ke rumah sakit?"
"Saya akan ke rumah Laura. Karena setelah cairan infusnya habis, Laura sudah diperbolehkan pulang. Kamu mau ikut?"
"Kafe bagaimana?"
"Tinggal aja sebentar."