Chaper 13 : Kebenaran.

1017 Words
Semua hal yang bersifat benar akan terungkap pada waktunya. Tidak akan pernah ada yang bisa melawan sebuah kebenaran, karena kebenaran sifatnya adalah menang. Laura nampak diam membisu. Wajahnya tidak mengekspresikan apapun. Namun pada kenyataannya pikirannya sedang sangat kacau. Ia sedang memikirkan bagaimana caranya agar Keenan mau berteman saja dengannya, setelah mendengar pernyataan dari Keenan dan setelah melihat tindakan Keenan. Malam itu, Laura duduk di teras rumahnya seraya menatap ribuan bintang yang nampak indah menghiasi langit malam ini. Walau terkadang angin berembus dengan kencang, namun Laura enggan untuk beranjak dari tempatnya duduk. Sampai waktu hampir menunjukkan pukul 12 malam, barulah Laura beranjak dari tempat duduknya dan ia berjalan masuk ke dalam rumahnya. Saat gadis itu masuk ke dalam kamarnya dan melihat layar ponselnya yang sedari ia pulang kerja tadi ia letakkan di atas nakas samping tempat tidurnya guna mengisi daya baterai. Dilihatnya, ada beberapa pesan masuk di bar notifikasi dari Keenan. "Jangan lupa dimakan makannya tadi." "Apa sudah tidur?" "Mimpi indah, cantik." ... Senyuman nampak mengembang di bibir tipis milik Laura saat ia membaca pesan dari Keenan melalui bar notifikasi ponselnya. "Ken, seandainya kamu tahu bahwa aku juga mencintaimu. Namun aku juga tahu bahwa cinta enggak harus memiliki, 'kan? Secepatnya aku akan membuat rasa cintamu itu menjadi rasa benci. Karena aku yakin, kalau yang menentang hubungan kita bukan hanya Jihan, tapi pasti ada yang lainnya juga." Laura berbicara seraya menatap layar ponselnya yang sudah mati. Tanpa gadis itu duga, air matanya jatuh. ... Di sisi lain... Keenan, Angga dan Geo sedang menghabiskan malam minggu mereka di bar milik Angga. Ketiga sekawan itu tampak menikmati alunan musik yang dimainkan oleh seorang DJ. "Ayok kita taruhan. Siapa diantara kita bertiga yang akan pacaran duluan," ucap Angga membuka suara. Angga mengatakan hal itu karena mereka bertiga memiliki status yang sama. Yakni; jomblo akut. "Kalau itu enggak perlu ditaruhkan lagi, Ngga. Sudah pasti jawabannya adalah Keenan," sahut Geo. "Kalau ternyata gua yang duluan pacaran, bagaimana?" tanya Angga. "Memangnya ada yang mau sama elo?" tanya Keenan. "Si Keenan sekalinya ngomong bikin orang sakit hati," sahut Angga. Geo dan Keenan menyatukan telapak tangannya sampai berbunyi, kemudian mereka tertawa bersama. "Giliran nistain gua aja, bersatu kalian," kesal Angga. "Jadi taruhan nggak?" tanya Geo. "Nggak!" sahut Angga. "Santai, Boss. Emosi aja," goda Geo. ... "Loh, Geo? Tumben kamu yang nampak hari ini," ucap Laura ketika ia mendapati Geo bertanggang ke kafe. "Tadi gua habis dari apartemen Angga. Pas lewat sini, gua mampir aja," sahut Geo. "Hari ini hari minggu sih, ya? Makanya kamu enggak memikirkan pekerjaan," ucap Laura lagi. "Gitu deh," sahut Geo. "Pesan apa, Ge?" tanya Laura. "Arabika ada?" tanya Geo. "Bisa lihat menunya," timpal Karin. "Eh, ada Karin toh. Apa kabar,Rin?" ucap Geo. "Buruk," sahut Karin. "Pesanan gua, ya. Arabika panas 1 ember," ucap Geo. "Mengada aja, si Geo," gumam Karin. Geo hanya tertawa seraya membenarnya ucapannya "1 cup maksud gua." Karin pun mulai membuatkan pesanan Geo. Belum sempat pesanan Geo selesai, Keenan datang dan langsung menyerobot Geo yang masih menunggu. "Woylah!" kesal Geo. "Ngapain lo di sini?" tanya Keenan dengan nada suara yang terdengar kesal. "Beli bir," jawab Geo asal. "Sejak kapan kafe jual bir?" tanya Keenan. "Lo pura-pura bodoh atau beneran bodoh, Ken?" tanya Geo kembali. Kunci mobil yang tadinya ada di genggaman Keenan, kini kunci mobil itu melayang ke tubuh Geo. "Sakit!" ucap Geo. "Ngomong lagi, gua lempar ini kafe ke badan lo," sahut Keenan seraya mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di lantai. "Kalian tuh enggak ada puasnya, ya? Semalaman sama-sama juga nggak puas?" timpal Karin. "Tau. Aku curiga, Rin," ucap Laura dengan nada pelan. "Curiga apa, Ra?" tanya Karin. "Curiga kalau pada saat mereka tidur sama-sama, mereka juga adu argumen dengan mata tertutup," jawab Laura. "Wow, amazing!" sahut Karin. "Kalian!" tegur Keenan yang semakin kesal. "Marah mulu, Ken," ucap Laura. "Cepat tua nanti," sambungnya. "Kalau lihat Keenan jalan sama elo aja, udah kelihatan kalau Keenan itu lebih pantas jadi Papa elo, Ra," timpal Geo setelah ia membayar kopinya dan meraih cup kopi miliknya kemudian ia langsung berjalan dengan cepat meninggalkan kafe. "Mau marah lagi?" tanya Laura ketika ia sudah melihat Keenan mengambil napas untuk berbicara. Keenan pun menggelengkan kepalanya. ... "Menurut kamu, apa Keenan akan kembali mengatakan hal yang pernah dia katakan dulu?" tanya Laura kepada Karin ketika mereka sedang istirahat makan siang. "Pasti lah, Ra," sahut Karin. "Kalau aku memilih untuk enggak menjawab, menurut kamu, apa yang akan dia lakukan?" tanya Laura lagi. "Dia akan melakukan hal yang sama dengan apa yang pernah ia lakukan dulu," sahut Karin lagi. "Terus, aku harus apa, Rin?" tanya Laura lagi. "Seharusnya kamu menerima dia, Ra. Sebuah keberuntungan kalau elo dan dia bisa menjalin kasih. Dari yang aku lihat dan dari yang aku tahu, Keenan adalah tipe cowok yang jarang banget mencintai seseorang seperti dia mencintai elo," tutur Karin panjang lebar. "Aku masih takut kalau akan ada orang lain yang mengatakan hal yang sama dengan apa yang Jihan katakan kepada aku dulu," ucap Laura. "Jangan memikirkan hal yang hanya akan membuat kamu sakit hati. Sudah seharusnya kamu memasang earphone dan menyalakan musik sekeras-kerasnya agar ucapan orang lain enggak masuk ke dalam kuping kamu. Karena, dengan kamu terus mendengarkan perkataan orang lain, sama saja dengan kamu memasang pagar besi untuk diri kamu sendiri dan akhirnya, kamu enggak bisa ngapa-ngapain selain melihat orang yang terus berprogres di luar sana," ucap Karin panjang lebar, lagi. ... Perkataan Karin maupun Keenan yang memiliki arti sama itu membuat Laura semakin berpikir. Apakah ia akan mengikuti perkataan kedua orang itu atau dia malah hanya akan mengikuti apa kata hatinya. "Mungkin memang berat, tapi kalau aku coba dan malah membuatku sakit hati, maka akan aku akhiri." Laura membatin. Sebuah mantel tertaut di pundak gadis yang tengah berdiri di lantai 2 kafe. Hidungnya nampak memerah akibat angin yang tidak hentinya berembus karena kafe yang berada di lantai 2 mengusung konsep rooftop. Gadis itu menatap kebelakangnya dan mendapati sesosok laki-laki sedang tersenyum padanya. "Kenapa masih di sini? Aku pikir kamu sudah pulang karena lampu di bawah sudah padam semua," ucap lelaki itu. "Sesuai perintah kamu yang suruh aku tunggu. Jadinya aku tungguin aja," sahutnya. "Biasanya nunggu di depan. Kenapa sekarang di sini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD