Laura meringis beberapa kali saat lukanya disentuh oleh Kavin yang mengobati. “Gua sudah sepelan mungkin nyentuhnya, Ra,” ucap Kavin. “Perih, Bang. Sumpah!” sahut Laura. “Sebentar lagi selesai kok,” ucap Kavin. Laura hanya bisa pasrah sembari menunggu Kavin selesai mengobati lukanya, meski sesekali gadis itu terdengar meringis. “Laura!” Mendengar namanya dipanggil, Laura langsung menatap ke arah pintu dan mendapati Keenan yang baru saja datang. Tidak hanya Laura, Hanna dan juga Kavin ikut mengarahkan pandangannya ke satu objek yang sama dengan Laura. “Pasti dia akan ngomel banyak,” gumam Laura. “Kalau ucapan kamu benar, kamu tampar Kavin aja, Ra,” Sahut Hanna dengan berbisik. “Kok jadi gua?” tanya Kavin tidak terima. “Kok bisa sih?!” tanya Keenan yang sudah emosi. “Jang

