Keduanya tidak bisa menandatangani buku nikah karena buku nikah itu tertulis nama Rajendra Kamandanu dan Rinezta Meilani.
Saat penghulu datang, Panji segera menjelaskan situasi yang sedang mereka hadapi kepada petugas KUA dan mereka sepakat akan tetap menikahkan Jendra dan Mutia, lalu membuat buku nikah yang baru untuk mereka berdua.
Untungnya pernikahan ini hanyalah acara ijab qobul, rencana resepsi atau pesta pernikahan akan diadakan bulan depan. Jadi yang datang ke acara pernikahan hari ini hanyalah orang terdekat saja, itulah yang membuat Panji mantap untuk menikahkan Jendra dan Mutia.
Lebih baik malu sedikit daripada malu lebih banyak karena pernikahan sang anak semata wayang batal karena ditinggalkan si pengantin wanita.
"Lancang sekali kamu mandi di kamar mandiku!" bentak Jendra yang berdiri di depan pintu kamar mandi.
Mutia tersentak, dia refleks menundukkan kepala. "Maaf, Mas Rajendra, saya disuruh Nenek sama Ibu pindah ke sini," cicitnya dengan tubuh bergetar ketakutan.
"Nggak usah banyak alasan kamu! Dasar pelayan rendahan tak tahu diri! Seneng kan kamu habis dapat emas 100 gram? Untung aja nggak jadi ku kasih 500 gram tadi!" Perkataan Jendra benar-benar terdengar kasar.
"Maaf, Mas Rajendra, saya juga tidak menginginkan hal ini terjadi. Tapi saya tak bisa melawan kemauan Nenek dan orang tuamu," jawab Mutia yang matanya sedari tadi masih melihat ke arah lantai.
"Diam kamu! Dasar gadis kampungan! Minggir! Aku mau mandi!" bentak Jendra lagi, buru-buru Mutia keluar dari kamar mandi dan Jendra dengan cepat melangkah masuk ke kamar mandi.
Mutia menghela nafas panjang, lalu duduk di pinggir tempat tidur Jendra. "Mas Rajendra galak banget, terus bagaimana nasibku setelah ini ya Allah. Kenapa Engkau menjodohkan hamba dengan dia, apa karena Engkau mendengar ...." Belum selesai Mutia membatin, teriakan Jendra membuyarkan lamunannya.
"Heh pelayan rendahan! Lancang sekali kamu duduk di tempat tidurku, kamu berharap bisa tidur bersamaku malam ini, ya? Astaga, jangan harap! Cepat kamu pergi dan lebih baik kamu tidur di lantai!" bentak Jendra sambil berjalan mendekati ranjang.
Mutia segera berdiri, dia masih tak berani menatap wajah Jendra dan masih terus menundukkan kepala. "Maaf, Mas Rajendra. Iya, saya akan tidur di lantai, tapi saya boleh kan pinjam bed covernya."
"Terserah! Dasar pelayan, kampungan! Jangan pernah lagi menyentuh ranjangku dengan tubuh kotormu itu!" bentak Jendra lagi lalu merebahkan dirinya ke atas tempat tidur.
Mutia berjalan ke arah lemari, dia mengambil bed cover dan sprei, lalu menggelar bed cover itu di lantai. Bahkan Jendra pun tak mau berbagi batal atau guling pada Mutia.
Wanita muda itu lalu menyelimuti tubuhnya dengan sprei dan tidur meringkuk karena Jendra memasang suhu yang rendah, sedangkan Mutia tidak terbiasa tidur memakai AC.
"Ternyata tidur di dalam kamar orang kaya tuh dingin banget, kayak aku lagi ada di dalam kulkas, untung di lemari ada sprei dan bedcover. Mungkin kalau enggak aku bisa mati kedinginan," batin Mutia sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Di kamar tidur sebelumnya yang ada di rumah mewah keluarga Jendra, kamar Mutia adalah kamar ART yang hanya berukuran kecil dengan kipas angin kecil yang menggantung di dinding. Meski begitu dia lebih merasa nyaman tidur di kamar kecil itu daripada di kamar mewah dan besar milik Jendra.
Mutia menghela napas panjang, dia mengigit bibir bawahnya dan mengumpulkan keberanian. "Mas Rajendra, maaf, bisa tidak AC nya dibesarin suhunya? Aku kedinginan," tanyanya dengan nada selembut mungkin.
"Dasar pelayan rendahan, gadis kampungan!" bentak Jendra tanpa bergerak dari temannya. "Kamu mau saya kepanasan, ha? Aku nggak bisa tidur kalau nggak dingin, sudah terbiasa tidur di suhu segini! Mendingan kamu yang mati kedinginan daripada aku yang kepanasan!"
"Ya sudah. Saya minta maaf karena sudah lancang. Selamat tidur dan selamat beristirahat, Mas Rajendra," ucap Mutia dengan hati yang terasa nyeri.
Mutia membetulkan selimut dan menutupi wajahnya sambil membatin, "Tapi nggak apa-apa sih, bed cover ini masih empuk, soalnya kalau pas aku di kampung Nenek dulu, aku dulu tidur di atas tikar, belum lagi digigitin nyamuk. Semangat, Mutiara! Mungkin Mas Rajendra masih marah dan kecewa sama Mbak Inez, semoga dia bisa berubah nantinya. Boleh kan aku berharap dia bakal jatuh cinta sama aku, dia kan sekarang suamiku."
Sementara Jendra menghela napas panjang, dia menatap langit-langit sambil membatin, "Rinezta ... kamu dimana, Sayang? Kenapa kamu tega meninggalkan aku? Kenapa kamu harus pergi di detik-detik pernikahan kita yang akan berlangsung? Rinezta, tolong setidaknya kabari aku, tapi kenapa? Kamu malah milih pergi dan tanpa ada pesan satupun yang kamu tinggalkan untukku?"
Pria tampan itu lalu memiringkan tubuh, matanya dapat melihat Mutia yang sedang tidur meringkuk. "Hidupku benar-benar sial karena harus menikahi pelayan kampungan itu! Tapi tak apa lah, dia akan sering kutinggal terbang, aku akan mengambil jadwal penerbangan yang padat. Aku nggak sudi ngelihat wajah jelek kampungannya itu!"
***
"Mas Rajendra, ayo bangun! Ini sudah pagi. Ada temanmu yang datang bertamu," ucap Mutia dengan nada lembut.
Wanita muda itu masih berdiri menatap Jendra, dia tak berani menyentuh tubuh pria yang sekarang sudah berstatus menjadi suaminya. "Bagaimana ini? Mas Rajendra kok enggak bangun, sih?" batinnya gelisah sambil mengigit bibir bawah.
Dengan terpaksa dan sangat hati-hati, Mutia menyentuh lengan tangan Jendra dan menggoyangkan. "Mas Rajendra, ayo bangun! Ada tamu yang nyariin Mas. Kata Nenek, beliau adalah teman akrabnya Mas."
Jendra tersentak, melihat tubuh Mutia yang menunduk mendekat, dia refleks terduduk. "Sudah kubilang, jangan pegang aku! Tanganmu itu kotor! Dasar pelayan kampungan!"
"Ma ... maaf, maafkan aku, Mas. Saya terpaksa karena sudah ada tamu yang menunggu Mas Rajendra," cicit Mutia menundukkan wajah.
"Siapa tamu itu?" tanya Jendra penasaran dengan nada membentak. "Maksudku, siapa namanya?"
"Nenek manggil beliau Pak Dokter, saya tidak tahu nama beliau," jawab Mutia.
Jendra lalu bangkit dan masuk ke kamar mandi, sementara Mutia keluar dari kamar terlebih dahulu. Gadis itu berjalan ke ruang tamu, hendak menghampiri Harni, nenek Jendra yang sedang terlihat asik mengobrol bersama sang tamu.
"Nek, ayo masuk dulu! Ini jadwalnya Nenek minum obat," ajak Mutia lembut dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Iya." Harni mengangguk, lalu menunjuk teman Jendra yang duduk di depannya. "Mutia, kenalin, ini loh sahabat dekatnya Jendra. Namanya Madhafa, dia udah kayak saudara kalau sama Jendra."
Mutiara mengangguk dan tersenyum seraya berkata, "Salam kenal, Mas Madhafa. Nama saya Mutiara."
Baru saja Dhafa ingin membalas ucapan salam Mutia, ternyata Jendra datang dan memeluk sang sahabat yang sudah lama tidak dia temui. Kedua pria itu tampak semringah dan bercanda gurau, seakan tidak memperdulikan kehadiran Mutia dan Harni di samping mereka.
"Mana nih Bu Pramugarimu, Pak Pilot? Cie ... yang udah jadi Pak Suami," goda Dhafa menarik turunkan alisnya. "Pantes baru bangun, tadi malam lembur, ya?"
Bukan Jendra yang menjawab, tapi Harni. "Jendra kemarin enggak jadi nikah sama pramugari! Dia nikah sama Mutia ini, jadi Mutia sekarang itu cucu menantu kesayangan Nenek."
"Eh ... yang bener, Jen? Apa kamu selingkuh sama perawat nenekmu dan meninggalkan pacarmu yang pramugari itu?" tuduh Dhafa dengan mata membelalak karena terkejut.
Jendra tidak segera menjawab tuduhan Dhafa, dia mendengus kesal, menatap Mutia dengan tatapan tajam. "Heh kamu! Cepat bawa Nenek pergi dari sini, sekarang!" perintahnya dengan nada galak dan tegas.