bc

Istri Suci Sang Kapten

book_age18+
270
FOLLOW
3.6K
READ
love-triangle
family
opposites attract
arranged marriage
badboy
stepfather
doctor
blue collar
drama
tragedy
bxg
city
office/work place
childhood crush
secrets
affair
like
intro-logo
Blurb

Rajendra adalah seorang Pilot yang terpaksa menikahi perawat sang nenek gara-gara, Rinezta, pengantin wanitanya kabur tepat di hari pernikahan. Perawat itu bernama Mutiara, seorang gadis cantik, yatim piatu yang berasal dari desa. Dia adalah gadis kuat dan tangguh karena menjadi tulang punggung untuk menghidupi adik laki-lakinya.Keduanya tak kuasa menolak saat hendak dinikahkan karena orang tua Rajendra mengancam mereka. Itu karena orang tua Rajendra tak ingin keluarganya diterwakan dan menjadi buah bibir baik tetangga ataupun partner bisnis mereka.Rajendra merasa jijik untuk menyentuh Mutiara, dia menganggap istrinya sebagai seorang pembantu dan gadis kampungan. Jadi, Mutiara tak pernah mendapatkan nafkah batin dari Rajendra.Tiba-tiba Rinezta datang kembali ke hadapan Rajendra, dia berupaya menghancurkan pernikahan Rajendra dan Mutiara. Wanita itu menyesal karena telah meninggalkan Rajendra.Disisi lain, Mutiara didekati oleh seorang dokter tampan bernama Madhafa yang merupakan sahabat dekat Rajendra. Madhafa yang mengetahui Mutiara masih suci membuat dia ingin merebut Mutiara dari sisi Rajendra.Bagaimana kelanjutan hubungan pernikahan Rajendra dan Mutiara? Apakah mereka memilih berpisah dan memilih orang lain?

chap-preview
Free preview
Bab 1. Pengantin Kabur
"Maaf, di mana pengantin wanitanya?" tanya Daniar, MUA yang disewa oleh kedua orang yang ingin menikah hari ini. "Loh, dia tadi ada di dalam kamar, Mbak," jawab Jendra, sang pengantin laki-laki. "Nggak ada, Mas. Saya sudah menunggu di kamar loh dari tadi. Dia tadi izin keluar, katanya mau ambil sesuatu, tapi ... dia enggak balik-balik, Mas." Wajah panik Daniar tidak bisa disembunyikan. Jendra menelan ludah. Otaknya langsung penuh dengan pikiran buruk. "Mbak, jangan bercanda! Bentar aku telfon dia." Dengan cepat dia langsung mengambil ponsel dan menekan nama Inez di layar ponselnya. Ponsel dia tempelkan di telinga, tapi itu tidak cukup untuk menghalau bisik-bisik di sekitar. Expresi laki-laki berwajah tampan itu mendadak berubah. Kening berkerut, cemas, khawatir, takut, marah, dan semua bercampur menjadi satu. "Sial, nggak aktif," umpat Jendra sambil membanting ponsel untuk melampiaskan emosi. Semua orang yang ada di dalam rumah langsung menatap ke arah Jendra karena terkejut mendengar suara ponsel yang terjatuh di lantai. Lalu, seorang gadis muda cepat-cepat mendorong kursi roda yang diduduki seorang wanita lansia. Ada juga sepasang wanita dan laki-laki yang berusia hampir setengah abad berjalan dengan wajah panik menghampiri Jendra. "Ada apa, Jen? Kenapa kamu emosi sampai membanting ponselmu? Lihat Daniar, dia sampai ketakutan," tanya Nurma, ibu Jendra. Jendra tak kunjung menjawab, dia malah duduk di sofa dan memijat pelipis karena kepalanya tiba-tiba terasa pening. Jadi pandangan semua orang kini tertuju pada Daniar, sang MUA yang Jendra dan calon istrinya sewa. Pasalnya Daniar lah yang ada di samping Jendra sebelum Jendra murka, berteriak sampai berakhir membanting ponsel. "Itu ... si calon pengantin wanita sepertinya kabur, dia pergi dari kamar setelah berpamitan dengan saya. Terus, Mas Jendra tadi coba telfon Mbak Inez, tapi ternyata nomornya udah nggak aktif," jelas Daniar dengan dengan nada santai. Pasalnya bukan sekali dua kali dia menemukan klien yang kabur di detik-detik menjelang pernikahan sang klien. "Astaga, bagaimana ini, kenapa Inez bisa kabur. Semua sudah siap, para tamu pun pasti akan datang nanti." Nurma menatap Jendra dengan iba. "Jendra, apa kamu tadi bertengkar sama Inez?" Jendra menggeleng lemah dan berkata lirih, "Tidak Mah, hubungan kami baik-baik saja, bahkan kami jarang bertengkar. Itu sebabnya aku merasa heran kenapa Inez tiba-tiba pergi meninggalkan aku di saat seperti ini." "Terus gimana ini? Papa malu sama para tamu nantinya, Jen. Kalau sampai pernikahan ini batal. Mau ditaruh mana wajah Papa dan Mama nantinya?" ucap Panji, ayah Jendra. "Kita nikahkan Jendra dengan Mutia saja," jawab wanita paruh baya yang duduk di kursi roda dengan nada yang terdengar santai sambil tersenyum. Semua orang kompak menatap ke arah Harni, nenek Jendra. Tak terkecuali Mutia yang berdiri di belakang Harni. Mutia adalah seorang perawat lansia yang bekerja di rumah Jendra, sudah setahun dia merawat Harni. Gadis cantik itu, selalu berpenampilan rapi, dia menguncir rambut dan memakai seragam nanny dari lembaga tempatnya bekerja, setelah berulang kali kejadian salah sangka — orang-orang mengira dia adalah istri Jendra — ketika dia tidak mengenakan seragam nanny. "Nenek sudah gila! Nggak mungkin aku menikahi pelayan itu!" Jendra langsung berdiri dan menunjuk ke arah Mutia. "Nggak ada pilihan lain, Jen," tolak Nurma dengan tegas. "Nenekmu benar, kita harus mencari pengantin pengganti Inez, kau harus menikahi Mutia. Lagipula dia cantik, bukannya sudah berulang kali ketika Mama dan Nenek ngajak dia jalan dan dia tidak mengenakan seragamnya semua orang mengira dia itu istrimu? Kamu tau itu kan, Jen? Bahkan kamu marah dan menyuruhnya agar terus menggunakan seragam di manapun dan kapan pun dia berada." "Ya, kamu harus menikahi Mutia, Papa nggak mau menanggung malu, lebih baik nama Rinezta diganti nama Mutiara saja daripada pernikahan kalian batal. Papa bakal nyuruh orang buat copot foto-foto prewedding dan tulisan nama kamu dan Inez!" Setelahnya, Panji memutar tumit dan hendak melangkah keluar dari rumah. "Pah, jangan, Pah!" teriak Jendra mengejar Panji, lalu memegangi tangan Panji. "Pah, lebih baik batalkan saja acara pernikahan ini." Tangan Panji melayang di udara dan mendarat di pipi anak semata wayangnya itu, meninggalkan jejak kemerahan dan rasa panas yang berdenyut nyeri. "Jika kamu tak ingin menikahi Mutia dan membatalkan pernikahan ini, Papa akan mencabut izin pilotmu, Jen! Kamu pilih jadi pilot atau mengurus perusahaan keluarga kita?!" bentak Panji. Itu adalah pilihan yang sulit untuk Jendra, jelas dia ingin tetap menjadi pilot. Itu adalah cita-citanya sejak kecil dan dia berhasil menjadi seorang pilot berkat usaha dan kerja kerasnya. Ditambah dia tidak berminat sama sekali mengurus perusahaan Panji, dia lebih senang menerbangkan pesawat dan bekerja di atas awan. "Oke, aku akan menikahi dia, tapi jangan pernah cabut ijin terbangku, Pah," jawab Jendra menunjuk Mutia. Lalu pandangan semua orang beralih ke arah Mutia. Gadis itu hanya menundukan kepala karena merasa shock dan ketakutan. Tubuhnya bergetar dan jari lentiknya memainkan ujung seragam nanny yang dia kenakan. "Mutia, tolong ya. Menikahlah dengan Jendra," pinta Nurma dengan nada memohon yang sangat lembut, sambil memegangi pundak Mutia. "Itu ... anu ... saya ...." Mutia bingung dan gugup harus menjawab apa. Harni, yang berada di kursi roda mengengam tangan Mutia. "Jika kamu menikahi Jendra, aku pastikan keinginan terbesarmu aku kabulkan, Mutia. Tapi ... jika kamu tidak mau, kamu akan aku pecat dan aku jamin tidak akan ada lagi agency perawat yang mau menerima kamu." Mata Mutia membelalak menatap Harni dengan tatapan tak percaya. "Tapi ... Nek?" Harni tak menghiraukan Mutia, dia menatap Daniar, mengangguk dan tersenyum. "Daniar, cepat bawa Mutia ke kamar dan dandani dia!" Mau tak mau Daniar segera menarik tangan Mutia masuk ke dalam kamar pengantin. "Ayo aku dandani kamu, kita ke kamar sekarang! Waktu sudah dekat, aku enggak mau jika hasil makeup-ku tidak maksimal." Daniar menatap wajah Mutia yang sudah duduk di depan meja rias. "Padahal lebih cantik kamu daripada si Inez, cuma emang tubuhmu kan mungil, ya. Inez kan tinggi gitu karena dia pramugari. Kapten salah pilih pramugari ternyata, pramugarinya kabur, dasar wanita tak tau diri," umpat Daniar. Mutia tersenyum tipis, dia ingin melawan, tapi tentu saja dia tidak bisa, statusnya di sini hanyalah pelayan. Dia tak ingin dipecat karena Mutia memiliki adik laki-laki yang masih sekolah dan butuh biaya untuk kuliah. Mutia ingin adiknya bisa berkuliah agar bisa meraih cita-citanya menjadi dokter dan tidak seperti dirinya yang hanya bisa bersekolah sampai ke jenjang sekolah menengah atas. "Saya terima nikah dan kawinnya Mutiara Valentina dengan mas kawin emas 100 gram di bayar tunai." Suara Jendra terdengar lantang dan lancar, padahal dia baru tau nama lengkap Mutia yang sebenarnya. Sah! Sah! Sah! Dengan tangan yang gemetar, Mutia mencium punggung tangan Jendra. Sedari tadi dia tidak berani menatap wajah Jendra, lebih tepatnya Mutia memang tak pernah berani melihat wajah Jendra dari jarak dekat. Kepala Jendra menunduk, mendekatkan bibirnya di telinga Mutia seraya berbisik, "Ingat, aku terpaksa menikahi kamu, pelayan rendahan! Jadi, jangan bermimpi bisa menjadi istriku seutuhnya!"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
68.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook