"Owh, kalian kok sudah pulang? Cepat banget makan malamnya," ucap Nurma yang menyambut kedatangan Mutia dan Jendra.
"Iya, Mah. Itu ... Mas Jendra kasihan, dia lelah dan ngantuk karena habis pulang terbang tadi pagi," balas Mutia.
Jendra tak menghiraukan Nurma, dia memilih langsung masuk ke kamar sambil bergumam, "Dasar, kerjaannya caper mulu! Enggak sama keluargaku eh juga sama sahabatku."
Begitu sampai ke kamar, Jendra langsung merebahkan diri ke ranjang. "Udah capek fisik sekarang ditambah capek psikis gara-gara si gadis kampungan itu!" umpatnya, bahkan pria itu belum melepaskan sepatunya.
Begitu Mutia masuk ke dalam kamar, pandangan mata gadis itu langsung tertuju pada kaki Jendra. "Mas, maaf, itu sepatunya boleh saya lepasin?" tanyanya lembut.
"Hem, terserah!" jawab Jendra singkat dengan mata yang masih fokus ke arah ponsel.
Dengan cekatan Mutia melepaskan sepatu dan kaos kaki yang Jendra pakai. "Sudah selesai, Mas. Sekarang apa Mas Rajendra mau ganti baju? Saya akan ambilkan kalau Mas mau ganti baju."
"Iya, ambilkan!" Jendra masih saja fokus pada ponselnya.
Mutia dengan cekatan mengambil kaos pendek dan celana pendek dari lemari untuk Jendra. "Ini, Mas Rajendra. Silahkan dipakai."
"Pakaikan sekalian, dong!" perintah Jendra dengan nada galak.
Mata Mutia membelalak tak percaya. "Mas Rajendra yakin?"
Barulah Jendra meletakkan ponselnya dan menatap Mutia. "Enggak lah! Kamu ngarep liat aku enggak pakai baju? Lagipula najis tau badanku dipegang-pegang sama kamu."
Mutia hanya menunduk dan mengigit bibir bawahnya. "Kapan Mas Rajendra enggak menghinaku?"
Jendra lalu mengambil baju dan celananya pergi ke kamar mandi untuk berganti baju. "Bisa-bisanya tadi aku keceplosan nyuruh dia buat gantiin aku baju! Astaga otak!" batinnya sambil memukul kepalanya sendiri.
Begitu Jendra membuka pintu kamar mandi, pria itu terkejut saat mendapati Mutia berdiri di hadapannya. "Astaga, kamu ngagetin aja!"
"Maaf, Mas Rajendra, saya mau bersih-bersih dan ganti baju juga," balas Mutia cepat karena takut dibentak Jendra, dia langsung masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Mutia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Aroma sabun yang lembut tercium samar, menguar memenuhi ruangan. Gaun tidurnya sederhana, berwarna putih dengan motif bunga kecil yang membuatnya terlihat anggun meski tanpa riasan di wajah.
Jendra, yang sedang sibuk dengan ponselnya, tanpa sadar mengalihkan pandangan. Matanya terpaku pada sosok Mutia yang tampak polos dan begitu alami.
"Sial, kenapa aku malah lihat gadis kampung itu sih!" Jendra mengerjapkan mata dan kembali menatap layar ponselnya.
"Dia jelek, dia boncel, dia kampungan, pokoknya dia enggak ada bagus-bagusnya!" batin Jendra berusaha menyangkal sesuatu yang mulai merayap di dalam hati.
Sementara itu, Mutia dengan cekatan mengambil dua bed cover dari lemari, seperti rutinitas biasanya, lalu membentangkannya di lantai. Namun, kali ini ada yang berbeda, Mutia membawa bantal kecil berwarna pink, berbentuk hati dan meletakkannya di atas bed cover yang sudah siap dia tiduri.
Jendra mengernyitkan dahi dan langsung bertanya, “Itu bantal dari mana? Biasanya kamu tidur tanpa bantal.”
Mutia menunduk sedikit, lalu menjawab pelan, “Ini … ini dari Mas Madhafa, Mas.”
Mata Jendra langsung membelalak. Ponsel di tangannya diletakkan di atas nakas dengan gerakan kasar. “Apa? Dhafa yang ngasih bantal itu? Kenapa dia bisa ngasih kamu bantal?”
Mutia tampak ragu untuk menjawab.
Namun, melihat tatapan tajam Jendra, dia akhirnya bicara, “Kemarin, waktu saya mengantar Nenek ke rumah sakit dan hendak pulang, tiba-tiba Mas Madhafa memanggil saya. Dia bilang bantal ini hadiah dari seorang ibu yang berhasil dia bantu saat melahirkan. Katanya, dia tidak butuh bantal ini, jadi dia berikan pada saya.”
Jendra terdiam. Matanya menatap lurus ke arah Mutia, namun tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Tangannya mengepal di bawah selimut, dan wajahnya terlihat tegang. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, dia memalingkan wajahnya dan merebahkan diri di tempat tidur.
“Sudahlah, matikan lampunya. Aku mau tidur,” ucapnya dingin.
Mutia menatap Jendra sebentar sebelum akhirnya mematikan lampu kamar. Hanya ada cahaya redup dari lampu tidur di sudut ruangan. Mutia berbaring di atas bed covernya dengan menggunakan bantal pemberian Dhafa. Matanya menerawang ke langit-langit, sementara air mata menggenang di pelupuknya.
Di sisi lain, Jendra menatap punggung Mutia dalam kegelapan. Ada sesuatu di dadanya yang terasa sesak, tapi egonya terlalu besar untuk mengakuinya. Bayangan Dhafa yang tersenyum pada Mutia terus menghantui pikirannya.
"Kenapa aku harus peduli? Toh, dia cuma gadis kampungan yang dinikahkan denganku karena paksaan keluarga," pikir Jendra sambil memejamkan matanya dengan paksa.
Namun, meski matanya terpejam, pikirannya tetap sibuk memikirkan Mutia—gadis yang selalu dia hina, yang kini tidur di lantai dengan bantal berbentuk hati pemberian pria lain.
***
Sementara di kamar lain, tampak pria tampan yang sedang tersenyum sambil memegangi guling kecil berwarna pink. Dia adalah Dhafa yang sedang mengingat kejadian kemarin dan hari ini saat bertemu Mutia.
"Bantal dari aku dipake Mutia tidur nggak ya?" tanyanya pada diri sendiri.
"Pastinya sih iya, karena Mutia kan tidur pisah ranjang dengan Jandra." Dhafa menjawab pertanyaannya sendiri sambil terkekeh pelan.
"Jendra emang bodoh! Bisa-bisanya gadis secantik Mutia diabaikan dan malah milih Inez yang ...." Dhafa bergidik ngeri saat mengingat kejadian di rumah sakit.
Saat itu dia tidak sengaja bertemu dengan Inez dan Mutia yang sedang mengobrol dengan raut wajah tegang di lorong rumah sakit. Dia langsung bersembunyi dan menajamkan telinganya karena penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Kamu seneng kan bisa nikah sama Jendra? Iya kan? Jawab!" Inez mendorong pundak Mutia dengan jari telunjuknya.
"Mana bisa saya senang Mbak? Bahkan Mas Jendra saja tak pernah menganggapku ada dan ... dia selalu berkata kasar padaku," balas Mutiara dengan mata berkaca-kaca.
"Owh ya?" Mata Inez membelalak. "Jadi kalian belum melakukan malam pertama?"
Mutia menggelengkan kepalanya. "Kami tidur pisah ranjang, Mbak. Dia bahkan jijik melihatku apalagi menyentuhku. Aku ... disuruh tidur di lantai."
Tangan Dhafa mengepal saat mendengar ucapan Mutia. 'Jendra emang pria badjingan tak berperasaan! Bisa-bisanya dia menyuruh Mutia tidur di lantai! Aku jadi pengen pukuli dia sampai mati!'
Inez terkekeh dan berkata, "Owh, tapi ... bukannya semua anggota keluarga Jendra sangat menyayangi kamu ya, Mut? Iya kan? Aku masih ingat loh saat acara keluarga dulu itu kamu malah yang diperlukan selayaknya calon menantu sama mereka, sedangkan aku cuma dikacangin."
Air mata Mutia menetes. "Menikah itu penyatuan dua orang, Mbak. Meski keluarga Mas Jendra baik padaku, tapi kalau Mas Jendra enggak pernah menganggap aku istrinya buat apa?"
"Nggak apa-apa kali, Mut. Yang penting kan kamu naik jabatan, dari pembokat jadi Nyonya Kapten Rajendra Kamandanu." Inez menepuk pelan pundak Mutia.
"Tapi, Mbak, sepertinya Mas Jendra masih cinta dan mengharapkan Mbak Inez kembali." Mutia mendongak menatap wajah Inez. "Temui Mas Jendra, Mbak. Katakan alasanmu kenapa kamu pergi, agar ... agar Mas Jendra setidaknya bisa belajar menerimaku menjadi istrinya."
"Itu sih masalahmu ya, Mut. Kamu dong yang harus meyakinkan dia dia agar mau menerima kamu menjadi istrinya." Inez lalu melayangkan tangannya ke udara. "Bye, aku pergi dulu ya, mau ketemu dokter."
Sebelum Mutia menjawab Inez berbalik dan pergi meninggalkan Mutia.
Barulah saat itu Dhafa berlari masuk ke dalam ruangannya mengambil bantal dan mengejar Mutia untuk memberikan bantal love yang merupakan hadiah dari salah satu pasiennya.
"Oke Jen, sepertinya aku sudah memutuskan. Aku akan mengambil Mutia darimu!" gumam Dhafa sebelum memejamkan mata sambil memeluk guling kecil berwarna pink yang merupakan pasangan dari bantal kecil pink yang sedang dipakai Mutia.