Saat ini Aleya dan Johan telah sampai di sekolah TK anak-anaknya, keduanya menunggu di dalam mobil karena cuaca di luar cukup terik. Orang yang paling semangat adalah Johan, pria itu itu tidak sabar untuk bertemu Altair dan Alesha.
Kerinduannya sudah tak terbendung lagi, selama beberapa hari kemarin ia hanya bisa melihat wajah anak-anaknya melalui layar video call.
"Kamu keliatan semangat sekali, Jo." Aleya berujar, ia duduk tepat di samping pria itu.
Johan menoleh menatap Aleya, ia mengembangkan senyumnya. "Tentu saja aku senang, aku akan bertemu anak-anakku, kebahagiaan apa lagi yang bisa ku dapatkan selain dari mereka."
Jawaban dari Johan membuat hati Aleya tersentuh, sebegitu sayangnya Johan terhadap anak-anaknya.
"Oh ya, Aleya. Aku pernah mendengar dari ayahmu, kamu masih ingin melanjutkan pendidikanmu yang sempat tertunda dulu, apa itu benar?" Johan bertanya dengan hati-hati, ia tidak mau menyinggung perasaan perempuan itu.
Aleya terdiam untuk beberapa saat, ia tidak menyangka jika ayahnya akan menceritakan perihal itu pada Johan. Sepertinya Hartono memang sudah cukup akrab dengan Johan, ia melupakan masa lalu, persaingan serta dendam yang pernah ada, semuanya telah berubah menjadi hubungan yang baik.
"Ya, benar." Aleya menjawab sambil menganggukkan kepala samar. Ia memang pernah ingin melanjutkan kuliahnya yang tertunda, tapi kesibukannya sebagai seorang ibu membuatnya kesulitan untuk membagi waktu.
"Kapan kamu ingin melanjutkannya, aku akan menanggung biaya pendidikanmu sampai selesai." Johan tiba-tiba saja berceletuk.
Mata indah milik Aleya sedikit membola. "Untuk apa? Aku tidak mau merepotkanmu, lagipula aku belum memikirkan hal itu lagi, kasihan Altair dan Alesha jika perhatianku terpecah."
Johan menghela napas kasar, seperti itulah Aleya, ia selalu mengutamakan anak-anaknya, tapi lupa memikirkan dirinya sendiri.
"Sekali ini saja, pikirkan juga dirimu sendiri. Altair dan Alesha sudah lebih-lebih mendapat perhatianmu, ini adalah saatnya untuk menggapai keinginanmu." jawab Johan, ia berusaha meyakinkan Aleya agar mau melanjutkan mimpinya yang sempat tertunda.
"Masih ada ayahmu dan juga orangtuaku, mereka pasti bisa membantu menjaga Altair dan Alesha selama kamu berkuliah." tambah Johan lagi.
Aleya mencerna perkataan Johan baik-baik. Selama ini ia memang hanya fokus terhadap anak-anaknya, dirinya sendiri tak pernah ia pikirkan.
"Leya, pikirkanlah matang-matang. Kapanpun kamu siap melanjutkan kuliah, aku akan mendukung segala keperluanmu."
Bahkan Hania pun sudah dapat menyelesaikan Strata satunya selama dua tahun ini, baru tiga bulan lalu gadis itu merayakan hari kelulusannya. Aleya sempat merasa ingin diposisi itu, memakai toga, menggunakan slayer, dan juga lulus dengan nilai yang bagus.
Terakhir kali ia berkuliah hanya sampai di semester lima, butuh waktu sekitar satu setengah tahun lagi untuk menyelesaikannya hingga tuntas.
Aleya menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya, matanya menyorot ke depan ke arah bangunan TK anak-anaknya, sedangkan Johan sendiri masih menunggu keputusan ibu dari anak-anaknya itu.
"Baik, aku akan memikirkannya." jawab Aleya setelah sekian lama berkutat dengan pikirannya.
Johan mengangguk pelan, setidaknya masih ada harapan agar Aleya melanjutkan kuliahnya, Johan akan terus mendorong perempuan itu agar yakin dengan keputusannya.
Tak lama berselang, suara bunyi bel terdengar, itu adalah pertanda selesainya jam pelajaran.
Johan dan Aleya pun sama-sama berdiam diri, menunggu Altair dan Alesha keluar dari gerbang berwarna hijau cerah yang membentang.
Dari arah dalam sana, terlihat Altair dan Alesha berlari menuju gerbang keluar, dengan sigap satpam pun langsung membukakan gerbang ketika ada anak-anak yang ingin pulang. Sekolah pilihan Johan ini tidak main-main kualitasnya, Johan sampai merogoh kocek yang sangat mahal hanya untuk ukuran taman kanak-kanak.
Guru-guru yang mengajar di sana memiliki sertifikat terbaik, sistem mengajar pun sudah teruji dapat membuat anak-anak senang dan tidak mudah bosan.
"Aku akan keluar, mau ikut?" Lihatlah, Johan sungguh tidak sabaran.
Aleya menggelengkan kepala. "Kamu saja."
Johan pun langsung keluar dari mobil, ia ingin menjemput anak-anaknya tepat di gerbang itu. Nampaknya Altair dan Alesha bisa melihat keberadaannya, dua kembar tak identik itu semakin kegirangan dan menambah laju larinya.
"Papa!" Alesha berteriak dengan gembira, ia berlari kencang tanpa mempedulikan sekitar.
"Ale tidak usah lari." Johan agak berteriak.
Hingga tiba-tiba, dari arah samping ada seorang anak yang juga sama larinya seperti Alesha, mata Johan membelalak terkejut.
Hingga tibalah saat tubuh kedua anak perempuan itu saling bertubrukan lalu jatuh ke tanah, Alesha sempat berguling-guling selama beberapa saat sebelum ia meringis kesakitan, dengan sigap Johan pun langsung menghampiri anaknya.
"Alesha." Johan membantu anak perempuannya untuk bangun, tubuh Alesha kotor, bahkan ada luka lecet pada dagu, siku dan juga daun telinga.
"Papa, sakit." Alesha mulai merengek, ia merasakan ngilu pada beberapa bagian tubuhnya.
Aleya yang melihat kejadian itu langsung segera menghampiri mereka, jantungnya berdegup dengan kencang seolah ingin melompat paksa. Bagaimana tidak? Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Alesha celaka.
Sedangkan Altair, anak laki-laki itu berdiri dengan mematung, ia sempat mengerjapkan mata sebelum ikut memberingsut ke dekapan sang ibu, ia takut melihat darah yang dikeluarkan saudari kembarnya.
Keadaan anak yang bertubrukan dengan Alesha sama mengenaskannya, ada luka lecet pada pipi putih dan dagunya.
"Mana yang sakit? Anaknya Papa, kita akan obati luka kamu ya." Johan begitu khawatir melihat luka yang Alesha dapatkan.
Aleya menoleh ke belakang, tak jauh dari posisinya berada ia dapat melihat seorang anak yang seumuran dengan Alesha, anak itu memegangi pipinya yang terluka.
"Jo, sebentar!" Aleya berseru, ia menghentikan langkah Johan saat ingin menggendong putrinya.
Johan menuruti Aleya, ia menatap ke mana arah perempuan itu melangkah.
"Kamu juga terluka, ayo Tante bantu." Aleya mendekati ke arah anak yang bertubrukan dengan Alesha tadi, ia tidak tega melihatnya.
Anak itu terlihat ketakutan, ia bahkan memberingsut mundur.
"Jangan takut, Sayang. Tante tidak akan memarahimu, sini." ujar Aleya lagi, bagaimana pun juga kejadian tadi adalah kecelakaan yang biasa anak-anak dapatkan, Aleya tidak ingin memarahi anak sekecil itu.
Johan mendengus tidak suka, ia mendekat ke arah Aleya dan melemparkan tatapan tajamnya pada anak yang tidak tahu terimakasih itu.
"Lain kali kalau berlari lihat-lihat, jangan sembarangan. Akibat ulahmu itu, anakku jadi terluka." Johan berujar dengan nada tajamnya.
Alesha memeluk leher sang ayah, ia cukup takut mendengar nada tinggi Johan.
Mendengar ucapan Johan membuat Aleya mengernyit tidak suka, pria itu malah memarahi anak sekecil ini.
"Jo, jangan marah-marah, dia hanya anak kecil. Dua-duanya salah, Alesha juga berlari tadi." Aleya merupakan perempuan yang bijak, ia tidak ingin menyalahkan orang lain selagi anaknya sendiri juga berbuat salah.
Johan menghembuskan napas kasar, ia paling benci melihat anak-anaknya disakiti, ia adalah orang pertama yang akan mengamuk.
"Ayo, bangun ya, kita obati lukamu." Aleya berujar dengan nada selembut mungkin untuk membujuk anak itu, ia melirik ke arah name-tag yang bertengger.
Jenina Yodie.
"Jenin, jangan takut." Aleya mengulurkan tangannya.
Dengan penuh keraguan Jenina menerima uluran tangan Aleya meski dalam hatinya ia merasa was-was, ia takut dimarahi, apalagi saat melihat tatapan Johan yang super mengerikan tadi.
Namun, saat ia melihat pancaran ketulusan dari mata Aleya, Jenin langsung luluh.
"Anak pintar." ujar Aleya, ia pun membantu Jenin untuk berdiri.
"Ashh...." Jenin meringis saat kakinya ia gunakan untuk berdiri.
Aleya memeriksanya, ternyata betis Jenin juga berdarah.
"M-mama, hiks, sakit." Suara tangisan Alesha terdengar, ia masih takut dengan ayahnya yang sempat marah-marah.
"Sama Mama, Alesha mau sama Mama." tambahnya.
Johan meraup wajahnya kasar, Alesha takut pada dirinya.
"Ya sudah, sini sama Mama." Aleya mengambil Alesha dari gendongan Johan, ia menepuk-nepuk pelan punggung anaknya.
Usia Alesha yang menginjak lima tahun bukanlah anak kecil lagi, tubuhnya sudah cukup berat, Aleya harus menyisihkan tenaga ekstra untuk menggendongnya.
Jenin menatap interaksi antara ibu dan anak itu, ia menunduk dan memilin-milin jarinya.
Altair menatap Jenin dengan pandangan menelisik, ia seperti tidak asing dengan wajah itu.
"Jo, gendong Jenin ke mobil, kita akan membawanya ke rumah dan diobati. Sepertinya orangtuanya belum menjemput." ujar Aleya.
Johan mendelik tidak suka. "Aku?"
"Ya, siapa lagi jika bukan kamu. Di sini hanya ada kamu dan Altair yang sedang bebas, jika bukan kamu, lalu siapa lagi?" sungut Aleya.
Dengan berat hati Johan pun mengikuti perintah perempuan itu, sebenarnya Johan masih merasa geram dengan Jenin karena telah melukai buah hatinya.
Saat Johan ingin menggendongnya, Jenin memberingsut mundur.
"Jangan takut, kita akan mengobatimu." ujar Aleya dengan nada yang paling lembut.
Jenin pun mengangguk, akhirnya ia mau digendong oleh Johan dan akan diobati.