7 : Saviero Yodie

2500 Words
Aleya dan Johan sudah sampai di rumah, dengan sigap Aleya langsung mengambilkan kotak obat guna mengobati Alesha dan Jenin. Hartono yang melihat sang anak terburu-buru pun mengernyitkan dahi bingung. "Ada apa?" tanyanya. Aleya menghentikan laju kakinya, ia menoleh ke arah sang ayah. "Alesha jatuh di sekolah, Leya mau mengobatinya." Mendengar penuturan Aleya sontak saja membuat Hartono terkejut sembari membelalakkan mata, cucunya jatuh. "Ada di mana cucuku? kenapa bisa sampai jatuh?" tanya Hartono beruntun. "Alesha ada di depan, sama temannya yang juga jatuh tadi." Hartono mengangguk singkat, ia pun buru-buru menghampiri Alesha di ruang tamu. Benar saja, di sana ada Alesha yang sedang meringis kesakitan dengan Johan yang berada disebelahnya menenangkan. Hartono buru-buru mendekat ke arah cucunya, melihat kedatangan pria baya itu membuat Johan menggeserkan tubuhnya, ia bisa melihat raut cemas di wajah orang tua itu. "Kenapa bisa jadi seperti ini?" Hartono memperhatikan luka lecet pada dagu Alesha, anak itu meringis. "Sakit, Kakek." ujar Alesha mengadu. "Tunggu sebentar, Mamamu sedang mengambilkan obat." Hartono berusaha menenangkan cucunya. Sementara itu, Aleya datang tergopoh-gopoh dengan membawa kotak obat ditangannya. "Jo, tolong gantikan Altair baju." ujar Aleya pada Johan. Johan mengangguk cepat, ia segera membawa putranya ke dalam kamar guna menggantikannya baju. Aleya juga telah menyiapkan air hangat dan junga kain kompres, pertama-tama ia mendekat ke arah Alesha terlebih dulu, selanjutnya ia memfokuskan pandangannya pada luka anak itu. "Tahan sebentar ya, Mama obati dulu." ujar Aleya, ia mengarahkan dagu sang anak. Kain kompres yang telah dicelup dengan air hangat pun langsung bersentuhan dengan luka Alesha di dagu, anak itu meringis kesakitan merasakan perih yang menjalar. "Ash, sakit." gumamnya, ia bisa merasakan sensasi rasa perih bercampur ngilu. Aleya segera menyelesaikan pekerjaannya, setelah dirasa tak ada lagi kotoran yang bersarang diluka itu, ibu dari dua anak tersebut langsung mengoleskan obat merah dan menutupnya dengan kasa. "Mama, sudah." ujar Alesha lagi, ia sudah tidak tahan. "Masih ada luka di siku sama telingamu, Nak. Tahan sedikit saja ya, biar cepat sembuh." Aleya harus ekstra bersabar menghadapi putrinya, sejujurnya ia sendiri juga tidak tega mendengar rintihan kesakitan anak itu. Alesha dengan berat hati hanya mengangguk lemah, ia ingin sesegera mungkin lepas dari rasa sakit itu. Sementara tak jauh dari posisi duduk mereka, ada anak perempuan yang usianya sebaya dengan Alesha, itu adalah Jenin. Jenin memperhatikan bagaimana Alesha mendapatkan perawatan dari sang ibu, Aleya terlihat sangat perhatian dan menyayangi anaknya, Jenin menunduk dalam, ia merindukan ibunya. Andai saja yang berada diposisi Alesha adalah dirinya, ia pasti sudah senang sekali. "Kamu temannya Alesha, ya?" Hartono mendekati anak itu. Jenin mendongak sebentar lalu menunduk lagi, ia adalah sosok anak yang pendiam dan tertutup, ia tidak terbiasa berkomunikasi dengan orang asing. Ayahnya selalu menekan Jenin untuk menjaga jarak dengan siapapun, anak itu juga pemalu. Namun, merasa tidak enak hati hati karena mengabaikan pria baya itu, Jenin pun mengangguk kaku. "Biar Kakek obati ya." tawar Hartono, ia kasihan melihat luka anak itu yang sama parahnya dengan sang cucu. Jenin menggelengkan kepala pelan. Melihat hal itu membuat Hartono menghela napas panjang, anak kecil memang sulit untuk dibujuk. Sementara itu Aleya yang sudah selesai mengobati Alesha pun meletakkan kain bekasnya pada bawah lantai, ia tersenyum lega melihat luka sang anak sudah tertutup dengan baik. "Sudah, jangan menangis lagi, semoga saja beberapa hari ke depan sudah kering lukanya." Alesha mengangguk, tatapan matanya bergulir ke arah Jenin. Ia pernah berpapasan dengan anak itu beberapa kali, tapi Alesha tidak terlalu mengenalnya karena mereka tidak dalam satu kelas yang sama. Ada rasa sebal yang mengganjal dalam hatinya, kalau saja anak itu tidak berlari saat itu juga, sudah pasti Alesha bisa berlari-larian dengan riang dan bermain dengan sang Papa sekarang. Bukan malah terduduk di sofa sambil menahan rasa sakit, Alesha mengerucutkan bibirnya sebal. Aleya bisa menangkap ada tatapan tak suka yang dilayangkan Alesha pada Jenin, ia mendesah pelan. "Jenin, Tante obati ya." ujar Aleya, ia membawa dua kain bersih, satunya lagi untuk anak perempuan itu. Mendengar tawaran dari Aleya membuat Jenin tiba-tiba b*******h, ia merindukan sosok ibu, ia ingin diperhatikan selayaknya Alesha tadi. "Anak pintar." puji Aleya saat melihat Jenin menganggukkan kepala setuju. Sebelum membawa Jenin ke rumah, Aleya sudah terlebih dulu berpesan pada satpam TK, ia menitipkan alamat rumahnya jika orangtua Jenin mencari sang anak. "Mama!" Alesha berseru sambil menggelengkan kepala, ia menarik-narik ujung baju Aleya, tidak suka jika sang ibu mengobati anak yang telah mencelakai dirinya. Aleya berusaha memberikan pengertian pada anaknya, Alesha tidak boleh tumbuh dengan rasa kebencian seperti itu. Gen Johan memang tiada lawan! "Alesha tidak boleh seperti itu, Jenin juga terluka sama seperti Ale. Kalian adalah teman, Alesha kan anak Mama yang baik." Aleya berujar dengan penuh kelembutan. Ia mengikat rambut panjang Alesha yang sempat terurai tak beraturan, Aleya sangat memperhatikan detail putri kecilnya. "Iya, Mama." Mau tak mau Alesha pun luluh, ia paling tidak bisa menolak permintaan ibunya. "Bagus, Alesha anak baik." Aleya mengecup pipi gembul anaknya, masih beraroma harum bedak anak-anak. Aleya berdiri untuk berpindah posisi, tak lupa ia juga membawa baskom air dan juga kain yang masih baru. Dilihatnya luka Jenin yang ada dibetis dan pipinya, Aleya meringis pelan, luka itu lebih parah daripada milik sang anak. Nampaknya Jenin sempat tertusuk ranting kayu atau entah apa, sehingga membuat lukanya semakin menganga dan terlihat daging segar berwarna merah. "Jenin tahan ya, Tante obati." Aleya memberi peringatan terlebih dulu. Jenin hanya diam, tapi ia menutup matanya dengan erat-erat sembari menahan rasa sakit saat kain basah yang Aleya pegang mulai menyentuh lukanya. Jenin tidak mengeluarkan suara sedikit pun, anak itu hanya fokus memejamkan mata agar tidak berteriak kesakitan. Kain yang semula berwarna putih bersih pun langsung berwarna merah seketika bercampur dengan luka Jenin, ada pula sisa-sisa ranting kecil yang ikut terangkat. Aleya bisa membayangkan bagaimana sakitnya, tapi Jenin dengan kuatnya mampu menahan tangis atau rengekan. Aleya juga melakukan hal yang sama pada pipi putih Jenin, sayang sekali pipi bersih itu harus ternoda karena luka. Setelah membersihkan luka-luka itu, kini Aleya membubuhkan obat merah, lalu yang terakhir adalah kasa untuk menutup luka. Namun, dari arah depan rumah tiba-tiba saja terdengar deru mobil yang berhenti, tak lama kemudian disusul dengan langkah kaki yang tergesa-gesa. Belum sempat Hartono berdiri untuk sekedar menengok siapa tamu yang datang, tapi orang itu lebih dulu berlari ke arah pintu rumah. "Jenin?!" ujarnya dengan nada panik yang amat kentara. Seorang pria berstelan jas lengkap dengan sepatu hitam mengkilap sedang berdiri di ambang pintu dengan raut khawatir yang sangat jelas, peluh menetes dari dahi menuju ke leher, deru napasnya juga tersengal-sengal akibat terburu-buru berlari ke arah rumah itu. Aleya menoleh ke arah pintu, begitu juga dengan Jenin. "Papi!" serunya. Aleya melihat tatapan berbinar dari sorot mata Jenin. Dengan segera pria itu melangkah masuk dan memeluk anaknya, Aleya bahkan harus menggeserkan tubuhnya ke samping agar tidak berhimpitan dengan pria itu. Jenin dan ayahnya saling berpelukan untuk waktu yang lama, seolah melupakan keberadaan orang-orang disekitar mereka. Hingga tiba-tiba saja suara deheman menghentikan kegiatan antara ayah dan anak itu, Johan berdiri di ambang pintu penghubung ruang tengah dan juga ruang depan, ia melihat pria itu dengan tatapan datar khas andalannya. Seketika itu pula ayah dari Jenin melepaskan pelukan keduanya, ia menatap satu per satu orang di ruang tamu itu. "Maaf, saya terlalu cemas dengan Jenin sehingga melupakan tata krama." ujarnya dengan nada tidak enak hati, ia masuk ke rumah orang tanpa permisi, belum lagi sepatunya yang masih ia pakai. "Tidak apa-apa, saya mengerti kekhawatiran Anda." jawab Aleya, ia berada paling dekat dengan pria itu. "Terimakasih. Sebenarnya apa yang terjadi dengan anak saya?" pria itu mengernyitkan dahi, ia bisa melihat luka Jenin yang masih segar dengan bubuhan obat merah. "Anak Anda menubruk anak saya hingga jatuh dan terluka." celetuk Johan tiba-tiba, pria itu masih mengandalkan wajah datarnya untuk bersikap dengan orang asing. Aleya yang mendengar hal itu langsung memutar bola mata jengah, Johan adalah tipe pria yang angkuh dan keras kepala. Diam-diam Aleya mendelik tajam pada Johan, pria itu yang mengetahui jika Aleya sedang menegurnya pun memilih mengabaikan saja. Ayah dari Jenin membulatkan matanya terkejut. "Begitu? Maafkan anak saya, Jenin memang ceroboh dan kurang berhati-hati." Mendengar penuturan sang ayah membuat Jenin menundukkan kepala dalam-dalam, Aleya bisa menyadarinya. "Tidak, anak kami juga melakukan hal yang sama. Sejujurnya Jenin dan Alesha sama-sama berlari saat itu, hingga keduanya saling bertubrukan dan jatuh ke tanah." Aleya mencoba untuk berkata dengan jelas dan detail, bagaimana pun juga Alesha turut bersalah, kasihan jika hanya Jenin yang disalahkan. Johan merengut tidak suka, padahal tadi adalah kesempatannya untuk memojokkan ayah dari anak yang telah mencelakai putrinya, tapi Aleya justru menggagalkan rencananya. Namun, ada rasa berbunga-bunga dalam hatinya saat menyebutkan kalimat 'anak kami'. Ya, anak kami. Anak keduanya, buah dari percintaan Aleya dan Johan kala itu. Pria itu menghela napas kasar, ia menatap putrinya lekat-lekat, ada luka pada beberapa bagian anggota tubuh Jenin. "Saya Saviero Yodie, Papi dari Jenin." ujarnya untuk memperkenalkan diri. Aleya dan Hartono menyambutnya dengan senyuman ramah, tapi tidak dengan Johan yang masih bersikap angkuh. "Lukanya belum sepenuhnya saya obati." ujar Aleya. Tanpa menunggu lama lagi, Aleya mengambil kasa dan plester, ia mengerjakannya dengan hati-hati dan teliti. Perempuan dari dua anak itu mendekat ke arah Jenin, tapi tubuh kekar Saviero cukup menghalangi, akhirnya keduanya pun berdesakan didekat Jenin. "Maaf." ujar Aleya. "Tidak apa-apa." balas Saviero, ia pun menggeser tubuhnya ke arah lain untuk memberikan ruang bagi Aleya. Aleya memasangkan kasa dan plester pada pipi dan juga betis Jenin, ia melakukannya dengan telaten. Jenin memperhatikan raut Aleya yang bersungguh-sungguh, sikap keibuan milik Aleya sangat menyentuh hatinya. "Tahan sebentar ya, Jenin. Kurang sedikit lagi..." Aleya bergumam, ia memotong kain kasa setelah membelitnya. Perhatian Saviero juga tidak luput dari sikap perempuan itu, Aleya terlihat sangat perhatian. Dalam jarak sedekat ini ia bisa melihat pancaran kasih sayang yang tulus, ekspresi polos Aleya juga tampak menarik dimatanya. "Nah, sudah selesai. Jenin anak cantik, tidak nangis ya sayang ya." Aleya berujar dengan gembira, kain kasa sudah terbalut dengan rapi di atas luka itu. "Terimakasih, Tante--" Jenin yang semula pendiam pun kini mulai mengutarakan suaranya. "Tante Aleya, kamu bisa memanggil seperti itu." jawab Aleya cepat. "Ya, terimakasih, Tante Aleya." ulangnya. Aleya mengelus dahi anak itu dengan lembut sembari melempar senyuman indahnya. "Sama-sama, Cantik. Cepat sembuh ya." Jenin mengangguk kuat-kuat. Saviero bisa melihat interaksi keduanya yang cukup akrab, meski Jenin tergolong anak yang pendiam. Menghirup napas dalam-dalam, Saviero bisa merasakan jika anaknya merindukan sosok seorang ibu. Sayang sekali, kasih sayang yang seharusnya anak itu rasakan, tak pernah ia dapatkan. "Terimakasih, Nyonya Aleya. Sekali lagi saya meminta maaf pada kalian karena Jenin telah merepotkan." Saviero berujar. Mulut Johan sudah ingin berceletuk, tapi Aleya lebih dulu memotongnya, perempuan itu sudah tahu apa yang akan pria itu lontarkan, apa lagi jika bukan kalimat-kalimat pedas dan tajamnya? "Sama-sama, Pak Saviero. Jenin sama sekali tidak merepotkan, ia anak yang manis." Aleya memuji Jenin, ia memang menyukai karakter anak itu meski baru saja bertemu. Jenin adalah sosok yang pendiam, tapi juga pemberani. Saviero bisa melihat pancaran ketulusan dari suara dan tatapan Aleya, tanpa sadar ia mengembangkan senyumnya. Johan mendengus pelan, ini lah yang tidak ia sukai saat ada laki-laki lain datang dan mendekat pada Aleya. Tatapan Saviero, sungguh penuh dengan kekaguman, sesama pria Johan bisa menerjemahkan arti tatapan tersebut. Ingat, Johan takut tersaingi! Sudah bertahun-tahun ia mengharapkan perempuan itu, tapi Aleya tak kunjung bisa ia dapatkan. Johan takut jika Aleya tertarik dengan pria lain dan mengabaikannya, Johan tidak rela. "Mereka -- anak-anak Anda?" tanya Saviero saat ia mengitari setiap orang yang ada di ruang itu. "Ya, mereka adalah anak-anak kami." Bukan Aleya yang menjawab, melainkan Johan. Aleya hanya bisa berharap agar ususnya panjang dalam menghadapi Johan yang kekanakan. Johan menatap Saviero dengan pandangan tak suka, ia cemburu? Saviero menganggukkan kepala pelan, pantas jika kedua anak itu adalah anak mereka, wajah Altair dan Alesha memang perpaduan antara Johan dan Aleya. "Altair dan Alesha satu sekolah sama Jenin ya." "Ya, Mama, tapi tidak sekelas." Altair yang menjawab, anak itu sedari tadi berdiri di sisi sang ayah sambil memperhatikan kegiatan didepannya. Altair tak henti-hentinya memutuskan pandangan ke arah Jenin, anak itu menatapnya dnegan pandangan yang entah sulit diartikan. "Ohh, begitu. Jadi, kalian bisa berteman dong." sahut Aleya. Saviero dan Jenin tampak berekspresi murung. "Sebenarnya Jenin adalah anak yang pendiam, ia belum pernah memiliki teman sebelumnya." jawab Saviero. Aleya tersentak, malang sekali nasib anak itu. "Baiklah kalau begitu, Altair sama Alesha biar jadi teman pertama buat Jenin ya. Jenin mau 'kan?" Alesha menatap Jenin dengan pandangan ramahnya. Jenin melirik ke arah Alesha dan Altair terlebih dulu, ia takut jika anak-anak itu tidak mau main dengannya. Melihat hal itu membuat Aleya berbalik bertanya pada anak-anaknya. "Sayang, Duo Al. Kalian mau menjadi temannya Jenin kan?" Aleya menatap putra dan putrinya secara bergantian. "Ya, mau Ma." Itu suara Altair yang menjawab, Aleya tersenyum senang. Lalu pandangannya beralih pada Alesha, anak perempuan itu tampak keberatan. Namun, apapun itu, selagi Aleya yang memintanya maka ia takkan dapat menolak. "Alesha mau." Meski dengan berat hati, Alesha menyanggupinya. "Wah, pintarnya anak Mama. Teman kalian bertambah." Tatapan Aleya beralih pada Jenin. "Nah, sekarang Jenin sudah punya teman, Altair dan Alesha." Jenin mengembangkan senyumnya. "Terimakasih, Jenin punya teman." Saviero yang melihat interaksi itu tak dapat menahan air matanya, ia berkaca-kaca, bagaimana melihat raut bahagia sang putri dapat meluluhkan hatinya. "Saya amat berterimakasih pada Anda, Nyonya Aleya." "Sama-sama, sebagai orangtua dari anak kecil, sudah seharusnya kita mengajarkan hal-hal positif pada mereka." jawab Aleya. Hati Johan semakin panas saja melihat pemandangan itu. "Baiklah jika begitu, kami akan undur diri. Jam sudah terlalu siang, kami juga amat merepotkan kalian. Sekali lagi saya minta maaf atas kekacauan yang terjadi hari ini." Saviero berujar. "Baik, silahkan." Saviero mengajak putrinya untuk bangkit berdiri dari sofa, selanjutnya sang ayah pun menggendongnya. "Kami permisi. Nyonya dan Tuan." Saviero menatap ke arah Hartono dan juga Johan. "Silahkan, hati-hati." jawab Hartono dengan nada ramahnya. Sedangkan Johan? Pria itu mengangguk sekali dengan ekspresi jutek yang amat menyebalkan. Saviero membawa Jenin keluar rumah, pria itu mulai memasuki kendaraannya dan memacu mobilnya. Aleya menghela napas lega, drama anak-anak membuat otaknya harus berpikir keras supaya tidak terjadi kesalah pahaman. Belum lagi bagaimana menyebalkannya sikap Johan tadi, rasa-rasanya Aleya ingin menenggelamkan pria itu di rawa-rawa. "Ayah pergi ke belakang dulu." ucap Hartono. "Iya, Ayah." balas Aleya. Sepeninggalan Hartono, Johan pun segera mendekat ke arah anak-anaknya dan juga Aleya, ia mendudukkan dirinya di sofa sambil mengusap wajahnya dengan kasar. "Kamu perhatian sekali sama orang asing." Johan tiba-tiba berceletuk. Aleya yang saat itu sedang merapikan kain bekas kompresan pun menautkan keningnya bingung. "Memangnya kenapa? Kan sudah menjadi kewajiban untuk saling tolong menolong." jawab Aleya. "Bukan itu." jawab Johan sambil berdecak. "Lalu?" Aleya yang tidak mengerti apapun lanjut bertanya. Johan gemas sekali dengan jawaban Aleya, apakah perempuan itu tidak menyadari arti tatapan Saviero yang terlihat tertarik padanya. "Sudahlah, lupakan saja! Aku malas berdebat denganmu." jawab Johan setelahnya. Oh ayolah! Seseorang bantu dirinya untuk mengatakan kecemburuannya. Johan cemburu, ia sangat cemburu. "Dasar, aneh! Lain kali kalau ada orang bersikaplah yang sopan." Aleya menasehati Johan. Ia masih kesal dengan Johan yang tidak bersahabat dengan tamu. Johan memutar bola matanya malas, untuk apa bersikap sopan dengan calon saingannya? Tak mendapatkan jawaban dari Johan membuat Aleya mendengus sebal, entah ada apa dengan pria satu ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD