8 : Danial - Daniel

2000 Words
Pria berwajah tampan tapi menyeramkan itu berjalan dengan tegap dan raut tak bersahabatnya, ia mengabaikan sapaan dari orang-orang disekitarnya. Tujuan Danial di sini hanya satu, yakni menggantikan Johan selama pria tidak bertanggung jawab itu pulang dan menikmati waktunya dengan anak-anak. Kemarin, secara mendadak Johan menghubunginya dan memintanya untuk menggantikan pada pertemuan kerjasama perusahaan. See, Johan memang tidak bertanggung jawab. Padahal saat itu Danial sedang menikmati liburan di pantai dan menyendiri di sana, tapi dering ponselnya sangat mengganggu telinga sehingga mau tak mau Danial pun menjawab panggilan itu. Johan merusak liburan Danial, dengan menyuruhnya pergi ke kota ini dan menjadi penggantinya selama beberapa hari. "Johan sialan!" Geramnya pelan. Danial menghirup napas panjang-panjang lalu membuangnya, ia sedikit merapikan jas mahalnya sebelum memasuki sebuah ruang yang biasanya selalu digunakan Johan sebagai ruang utama. Hanya Danial yang diperbolehkan menggunakan itu, karyawan lain tidak ada yang boleh mendekatinya. Namun, Danial masih ingat bagaimana cerewetnya Johan saat memberinya titah. Sebelum memasuki ruangan itu, Danial harus bersih tanpa debu, Johan tidak ingin ruangannya kotor dan acak-acakan. Danial yang terbiasa berkubang dengan cairan pekat dan juga kondisi-kondisi kotor pun sangat geram dibuatnya. Sudah menyuruh, banyak aturan pula. Pintu ruangan Johan terbuka lebar, memperlihatkan setiap detail ruang yang cukup lebar. Danial melangkahkan kakinya masuk ke ruangan itu, ia mengitari sudut demi sudut untuk menilai dan menimbang bagaimana tempat kerjanya selama beberapa hari ke depan. Tak dapat ia pungkiri, ruang itu memang sangat rapi dan juga bersih. Vas bunga, guci, serta kursi dan mejanya juga terlihat mengkilap. Danial mendesah pelan, ia adalah sosok pria yang merasa abai dengan kebersihan sedetail itu. "Jo memang ingin membunuhku secara perlahan!" Danial bergumam lagi. Ruangan kerja milik Johan didominasi warna abu-abu cerah, ada garis berwarna hijau daun yang menjulur ke setiap dindingnya. Meja dan kursi ditata rapi tepat tengah ruangan, rak buku juga berdiri dengan gagah di belakang kursi kebesaran Johan. Meski pria itu jarang mengunjungi perusahaannya yang bercabang di sini, tapi Johan sangat mengutamakan kebersihan kantornya. Ia tidak mau ada sedikit pun debu yang masuk, bahkan pekerjanya pun harus bersih saat memasuki ruangan itu. "Dia hanya sok bersih jika ada di kantor, kalau di rumah dan berkumpul dengan anak-anaknya pasti juga bermain kotor-kotoran." Danial menggerutu lagi, ia sudah seperti ibu-ibu kompleks yang suka menggunjing. Itu memang benar, Johan hanya bisa menerapkan kebersihan di kantornya saja, jika di luar ia tak dapat melakukannya. Benar-benar pria yang pemilih, bukan? Danial mendudukkan bokongnya pada kursi kebesaran milik Johan, rasanya sangat empuk dan nyaman. Bagaimana tidak? Johan adalah pemegang saham terbesar di perusahaan ini, meski bukan sepenuhnya miliknya. Namun, pria itu cukup memiliki nama dan kuasa. Semua yang Johan butuhkan harus sempurna, terbaik dan juga berkualitas. Danial melirik ke arah tumpukan kertas yang melambai-lambai meminta untuk dikerjakan, sekumpulan dokumen itu sangat penuh. Danial masih sama seperti dulu, jiwa liarnya masih ada di dalam dirinya. Ia masih suka bermain-main dengan cairan pekat berwarna merah, mendengar erangan kesakitan dari korbannya dan juga melakukan hal ekstrim lainnya. Akan tetapi, Peter dan Davika berusaha untuk memberikan Danial kesibukan lain agar tidak terus menerus melakukan hobi gilanya. Ini adalah salah satu contohnya, dengan memberikan dirinya pekerjaan di kantor, maka Danial tidak akan sempat berpikiran untuk mencari 'korban' yang akan dieksekusi. Suara ketukan pintu terdengar pelan, tapi Danial mampu menangkapnya dengan baik, pria itu melirik ke arah pintu luar. Di sana, ia bisa melihat sepasang kaki jenjang sedang berdiri tepat di luar pintu, menunggu dirinya untuk mempersilahkan masuk. Tapi, tampaknya si pemilik kaki merasa tidak nyaman. Kaki-kaki itu saling bergerak satu sama lain guna menghilangkan kegelisahan, mungkin? Danial sudah berpengalaman mengenai ekspresi dan juga tingkah laku seseorang, ia mempelajarinya dari korban-korbannya.  Perempuan, ya? Danial tersenyum miring. "Masuk!" ujarnya dengan nada agak tinggi. Sontak saja perempuan yang masih berdiri di luar pintu pun tersentak dan semakin ketakutan. Dari semua petinggi-petinggi perusahaan ini, ia paling takut dengan sosok Danial Zachari. Entahlah, ia merasa bahwa pria itu memiliki aura yang mengerikan dan juga kejam, melebihi Johan sendiri yang notabennya sebagai pemegang saham dan pemilik posisi tertinggi. Perempuan itu menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya, ia harus menemui Danial untuk membicarakan masalah kerjanya, ia tidak mau berlama-lama mengulur waktu sehingga dapat membuat sosok itu mengamuk nantinya. Pintu terbuka secara perlahan-lahan, seorang perempuan berpakaian rapi dan sopan terlihat menunduk dengan hati-hati. Bisa Danial lihat, perempuan yang memakai kemeja lengan panjang serta rok tiga perempat memasuki ruangannya, mata Danial terus melihat tanpa mengalihkan tatapannya sedikit pun. "S-selamat pagi, Tuan Danial." Perempuan itu menyapa Danial terlebih dulu, sekedar berbasa-basi dan formalitas. Danial menaikkan sebelah alisnya, perempuan itu terlihat takut saat menghadapnya. Apa Danial semenakutkan itu? Oh ayolah, padahal ia sudah rapi dengan jas mahal dan juga kemeja yang rapi, apa tampang killer-nya masih amat kentara? Hawa ruangan tiba-tiba menjadi sangat dingin, padahal AC itu belum dihidupkan.  Dealova Asmaranti. Danial justru ingin bermain-main dengan gadis itu, sedikit membuatnya ketakutan tidak masalah kan? "Dealova?!" Tiba-tiba saja Danial berseru, ia tidak membalas ucapan selamat pagi yang Dealova lontarkan. Mendengar namanya dipanggil, Dealova pun mendongakkan kepala dan matanya menatap tepat ke dalam kornea milik pria itu. Dalam hati ia merutuki kebodohannya, tentu saja Danial tahu namanya dari name-tag yang ia kenakan. "Ya, Tuan?" Dealova menjawab panggilan dari Danial. "Kamu karyawan baru di sini?" tanya Danial lagi, ia mulai menikmati ekspesi wajah Dealova yang mulai kebingungan. "Ya, saya bekerja di perusahaan ini baru satu bulan." Dealova masih berusaha untuk tenang, meski tatapan menghunus milik Danial mulai membuat bulu kuduknya meremang. Ia memang baru bekerja di sini, bahkan tiga hari lalu baru saja menerima gaji pertamanya. Namun, ia sudah pernah berpapasan dengan para petinggi perusahaan, dan ini kali keduanya ia melihat Danial hingga berada di jarak sedekat ini. Benar apa yang dikatakan rekan kerjanya, Danial memiliki aura yang menyeramkan dan berbeda dari kebanyakan orang. T-tunggu dulu, apakah Danial benar-benar manusia? Seketika itu pikiran Dealova dibayangi oleh hal-hal mistis. "Dealova, nanti malam hangatkan ranjangku, kita akan menghabiskan malam dengan penuh kenikmatan." Danial berucap dengan nada sensualnya, ia bahkan menjilat bibir seksinya dengan penuh naffsu, berusaha untuk menggoda iman gadis itu. Seketika itu mata Dealova membelalak terkejut, apa-apaan atasannya ini? Meskipun ia merupakan orang tak punya, tapi Dealova tidak mau menukar harga dirinya dengan apapun. Dealova adalah gadis baik-baik, ia dibesarkan dengan penuh tata krama dan budaya ketimuran yang kental. Bahkan menjalin romansa dengan pria pun ia tidak pernah, apalagi harus melakukan hal mengerikan itu. Melihat ekspresi terkejut dari gadis itu membuat Danial ingin tertawa, tapi sekeras mungkin ia menahannya. Dealova mengepalkan tangannya dengan erat, ia mengatur napasnya yang terengah-engah karena terpancing oleh emosi. "Maaf, tapi saya tidak mau. Silahkan Anda mencari perempuan lain, saya tidak tertarik sama sekali." Dealova mencoba untuk memberanikan diri melawan Danial. Selain memiliki kepribadian yang buruk, Danial ternyata sangat messum dan playboy. Dealova menyumpah serapahi Danial dalam hati, ini pertama kalinya ia mendapatkan pelecehan. Danial membelalakkan matanya seolah terkejut. "Wah, aku merasa terhina. Sebelumnya tidak ada perempuan yang berani menolakku, mentalmu kuat sekali, Nona Asmaranti." Apa yang dikatakan Danial memang benar adanya, selama ini tidak ada yang pernah menolak jika ia ajak ke ranjang kehangatan. Bahkan sekalipun ia menampilkan wajah garangnya, tapi perempuan-perempuan lain tidak akan gentar untuk menggodanya. Dealova memejamkan matanya dengan erat, sekali lagi ia berusaha untuk bersabar dengan sungguh-sungguh. Ia menahan kepalan tangannya agar tidak melayang ke arah wajah bernafsu Danial. Tahan, Lova. Tahan! Dalam hati, Danial terkekeh geli melihat pemandangan dihadapannya. Dealova mati-matian menahan amarahnya, Danial cukup kagum dengan karyawan baru itu. "Saya adalah saya, bukan perempuan lain diluaran sana. Saya ada di sini untuk bekerja dengan bersungguh-sungguh, tidak tertarik dengan tawaran Anda." Danial semakin tersenyum mendengar jawaban Dealova yang cukup berani. Bagi Dealova, tidak perlu rasa respek pada seseorang yang berniat melecehkannya, justru ia akan berusaha melawannya. Darahnya berdesir, ia ingin menangis karena dianggap serendah itu. Namun, sekuat tenaga Dealova tidak mau mengeluarkan air matanya, ia tidak mau dianggap lemah. Danial terdiam, ia mengamati ekspresi wajah Dealova. Wajahnya memang terlihat biasa-biasa saja, tapi saat Danial menatap ke arah mata indah itu, seketika hatinya berdenyut nyeri. Dealova sedang menahan air matanya dipelupuk, apakah kali ini ia sangat keterlaluan? Dealova mengalihkan tatapan saat Danial bangkit berdiri dari duduknya, seketika itu ia memberingsut menjauh, menjaga jarak aman jika nantinya Danial ingin melakukan hal macam-macam. Danial berjalan mendekat ke arah Dealova, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, matanya terus menerawang pada gadis itu. Dealova memiliki rambut sebahu berwarna hitam legam, senada dengan bola matanya. Tubuh yang tak terlalu tinggi, kulit kuning langsat, serta fisik yang cukup kurus. Merasa diperhatikan sejeli itu membuat Dealova bergerak tidak nyaman, ia merasa ditelanjangi. Ia mengartikan bahwa tatapan Danial padanya merupakan tatapan kekurangajaran. Dealova semakin takut saja, diruangan ini hanya ada dirinya dan Danial. Namun, pria itu masih menatapnya sambil berdiam diri dan mematung. Gadis itu meneguk ludahnya susah payah, ia mulai antisipasi jika saja Danial ingin menerkamnya. Danial diam bukan karena hawa naffsunya, tapi ia sedang berpikir. Gadis itu cantik, tapi kenapa menolak dirinya? Biasanya ia selalu digilai oleh gadis-gadis cantik, tapi yang satu ini justru ketakutan padanya. Harga diri Danial jatuh ke dasar paling bawah seketika, sepertinya kadar ketampanan dan juga pesonanya telah luntur. Ahh, mulai sekarang ia harus rajin membasuh wajahnya dengan cairan kental berwarna merah yang ia hasilkan dari korbannya, sebagai skin-care tentunya. Danial gila! "Pergilah." Setelah sekian lama terdiam, akhirnya Danial membuka suaranya, terdengar berat dan terburu-buru. Dealova tersentak kaget, sejujurnya ia senang-senang saja keluar dari ruangan itu. Namun, perintah Johan yang sebelumnya meminta dirinya untuk saling bertanggung jawab masalah pekerjaan dengan Danial membuatnya kebingungan. Jika sampai Johan tahu bahwa ia lalai dalam bekerja dan tak bisa menjalin kerjasama dengan Danial, maka tamatlah riwayatnya, ia bisa dipecat. "T-tapi, Tuan. Saya diminta oleh Tuan Johan untuk menjabarkan rencana pertemuan yang akan datang, beliau --" Dealova belum menyelesaikan ucapannya, Danial lebih dulu menyela. "Diam!" Danial berseru agak keras. Seketika itu nyali Dealova semakin menciut, ia menelan ludahnya bagai sekam ditenggorokan. Danial dengan mata berkabut menatapnya tajam, mau tak mau Dealova pun memundurkan langkahnya. Pria itu tampak mengerikan, sudah tidak ada raut wajah messum yang pura-pura ia tunjukkan tadi. Danial seperti berubah, berubah menjadi sosok lain yang bersemayam di dalam tubuhnya. "Pergi dari sini, kembalilah ke sini nanti." lanjut Danial. Ia mati-matian menahan gejolak mengerikan itu, gejolak yang haus akan darah. Sosok Daniel-nya mulai memberontak ingin menguasai tubuh itu. Suara Danial terdengar menggeram, Dealova pun segera merapikan berkas-berkasnya dan keluar dari sana. Untuk sejenak, Dealova menghentikan langkah kakinya saat ia berada di ambang pintu, ia menoleh ke belakang, menatap Danial yang menggeram, sejujurnya ia mencemaskan keadaan atasannya. Ada yang aneh dengan atasannya itu, Danial memang berbeda dari petinggi-petinggi lain. Merasa ada yang menatapnya, Danial pun menatap balik ke arah Dealova. Saat itu juga Dealova semakin terkejut, manik mata Danial tampak kemerahan dan menajam. Apa benar, Danial bukan manusia? Melainkan iblis yang sedang menyamar. Tiba-tiba saja sekelebat pikiran tak masuk akal menghantui otak gadis cantik itu. Tidak ingin berpikir macam-macam dan berlama-lama di sana, Dealova memutuskan untuk segera keluar ruangan mengerikan itu. Saat ia sudah berhasil mencapai lantai luar, saat itu pula hawa menjadi lebih hidup dan tenang, tidak semengerikan saat berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Danial Zachari. Dealova memegang ke arah jantung, di sana degupan kencang terdengar mengusik telinga, ia benar-benar dalam mode ketakutan. Danial aneh, sungguh manusia teraneh yang ia temukan selama hidup. Sedangkan di dalam sana Danial sudah menggelepar ke lantai, bukan-bukan, lebih tepatnya adalah Daniel. Sosok alternya yang bersemayam di dalam raga yang sama, meskipun Danial berusaha susah payah untuk menahan kepribadian settan itu, tapi segalanya tidak berhasil. Daniel sudah menguasainya, celaka! Bahkan tadi, saat detik-detik terakhir Dealova ingin keluar ruangan, gadis itu bisa melihat sosok Daniel yang menyeramkan. Daniel tersenyum miring, ia bangkit dari bersimpuhnya, ia menegapkan badan dengan sempurna. Sudah lama rasanya ia tidak menguasai tubuh ini, selama keluarga Zachari berusaha untuk membuat pikiran Danial tenang, maka Daniel pun tidak akan muncul. Namun, saat ini entah karena apa, tiba-tiba saja sosok gelap dari diri Danial muncul. Daniel mengedarkan pandangan ke arah pintu, ia ingat saat detik-detik pergantian jiwa tadi, ia menangkap sepasang mata indah yang menatapnya dengan kekhawatiran. "Gadis itu, aku menginginkannya." Sosok Daniel menyeringai tipis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD